Anda di halaman 1dari 15

Tembang Macapat

Pengertian Tembang Macapat


Sejarah Tembang Macapat

Struktur Tembang Macapat


Macam-macam Tembang Macapat
Contoh Tembang Macapat
Pengertian Tembang Macapat
Tembang atau puisi tradisional Jawa
Konon berasal dari kata maca papat papat
(membacanya empat empat)
Artinya cara membaca terjalin tiap empat suku
kata.
Sejarah Tembang Macapat
Macapat diperkirakan muncul pada akhir
Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisongo,
namun hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi
di Jawa Tengah.
Sebab di Jawa Timur dan Bali macapat telah
dikenal sebelum datangnya Islam.
Struktur Macapat
Wilangan/Guru Wilangan : jumlah suku
kata dalam sebuah kalimat
Guru Lagu/Dhong-dhing : huruf
vokal/bunyi yang terdapat pada suku kata
terakhir pada suatu baris kalimat lagu
Gatra : jumlah kalimat/baris yang terdapat
dalam satu bait lagu
Pupuh : bait lagu
Contoh:
Megatruh
Yn Suwanda ba yayi kang kadulu (12u)
Sasrabahu kang kaksi (8i)
Yn Sasrabahu kadulu (8u)
Suwanda datan kaksi (8i)
Dn awas panunggal loro (8o)

Jumlah gatra dalam 1 pupuh: 5 gatra


Macam-macam tembang macapat
Macapat dapat digolongkankan menjadi 11
tembang, yang menggambarkan jalannya
kehidupan manusia sejak didalam kandungan
ibunda hingga meninggal.

Menceritakan sifat lahir, sifat hidup, dan sifat


mati manusia sebagai sebuah perjalanan
yang musti dilalui setiap insan
Maskumambang, melambangkan embrio yang masih
dalam kandungan ibunya, yang belum diketahui laki atau
perempuan.

Mijil, merupakan ilustrasi awal mula manusia lahir kedunia.


Tembang mijil mempunyai sifat asih dan berisi doa atau
pangajab.

Kinanthi, berasal dari kata kanthi atau menuntun, yang


artinya dituntun supaya dapat berjalan didunia ini. Tembang
Kinanthi mempunyai sifat senang dan asih.

Sinom, berarti kanoman (kemudaan/usia muda), berarti


adalah waktu luang pada masa muda untuk menimba ilmu
sebanyak banyaknya.
Asmaradana, menggambarkan masa-masa dirundung
asmara. Bisa juga menggambarkan cinta kasih yang
diberikan oleh orang tua semasa kita kecil dulu.

Gambuh, awal kata gambuh adalah jumbuh / bersatu


yang artinya komitmen untuk menyatukan cinta dalam
satu biduk rumah tangga.

Dhandanggula, menggambarkan seseorang yang


berbahagia, apa yang dicita-citakan dapat terlaksana.

Durma, berasal dari kata darma/weweh


(berdarma/memberikan sumbangan). Seseorang yang
merasa kecukupan hidupnya tergugah ingin membantu
dan memberi pertolongan kepada siapa saja.
Pangkur, Berasal dari kata mungkur (mundur)
yang berarti telah meninggalkan dan
menghindari hawa nafsu yang angkara murka.

Megatruh, berasal dari kata megat roh


(melepaskan roh), menggambarkan bahwa
manusia itu kelak akan mati.

Pocung/Pucung, manakala yang tertinggal


hanyalah jasad belaka, dibungkus dalam balutan
kain kafan , diusung dipanggul laksana raja-raja.
Contoh Tembang Macapat
Maskumambang
Gereng-gereng Gathotkaca sru anangis
Sambat mlas arsa
Luhnya marawayan mili
Gung tinamng astanira
Mijil
Jalak uren mawurahan sami, 10 i
Samadya andon woh, 6 o
Amuwuhi malad wiyadine, 10 e
Ana manuk mamatuk sasari, 10 i
Angsoka sulastri, 6 i
Ruru karya gandrung. 6 u
Sinom
Pangran Panggung saksana,
Anyangking daluwang mangsi,
Dnira manjing dahana,
Alungguh sajroning geni,
ca sarwi nenulis,
Ing jero pawaka murub.
Sumber
http://tseljatengdiy.com/genmerapi/makna-
tembang-macapat
http://macapatwungu.wordpress.com/2011/
03/23/struktur-tembang-macapat/
http://depidpu.blogspot.no/2012/02/contoh-
tembang-macapat-depids-blog.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Macapat