Anda di halaman 1dari 37

Laporan kasus

Dept. Ilmu Kedokteran Jiwa

GANGGGUAN
PERKEMBANGAN BAHASA
Penyaji : dr. Mahyarani Dalimunthe
Pembimbing : Prof. dr. H M Joesoef Simbolon, SpKJ(K)
Moderator : dr. M Surya Husada, MKed.KJ, SpKJ
Hari/Tanggal : Selasa/ 28 November 2017
Pendahuluan

Gangguan perkembangan bahasa adalah ketidakmampuan


atau keterbatasan dalam menggunakan simbol linguistik
untuk berkomunikasi secara verbal atau keterlambatan
kemampuan perkembangan bicara dan bahasa anak sesuai
kelompok umur, jenis kelamin, adat istiadat, dan
kecerdasannya.
Beberapa data menunjukkan angka kejadian anak dengan
keterlambatan bicara cukup tinggi 8% dari seluruh anak.
Pendahuluan

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi-IV


(DSM-IV) mengklasifikasikan gangguan perkembangan
bahasa menjadi 4 kelompok yaitu:
1. Ganggaun bahasa ekspresif
2. Campuran gangguan reseptif-ekspresif
3. Gangguan fonologi
4. Gagap
Pendahuluan

Gangguan bicara berhubungan erat dengan kelainan retardasi


mental, Attention Defisit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan
autisme.
Gangguan perkembangan bahasa mempengaruhi berbagai
fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak diterapi dengan
tepat gangguan kemampuan membaca, kemampuan
verbal, perilaku, penyesuaian psikososial dan kemampuan
akademis yang buruk.
Pada tulisan ini akan dilaporkan sebuah kasus
gangguan perkembangan bahasa pada seorang
anak laki-laki usia 9 tahun 11 bulan.
Definisi

Gangguan perkembangan bahasa adalah ketidakmampuan


atau keterbatasan dalam menggunakan simbol linguistik
untuk berkomunikasi secara verbal atau keterlambatan
kemampuan perkembangan bicara dan bahasa anak sesuai
kelompok umur, jenis kelamin, adat istiadat, dan
kecerdasannya.
Komorbiditas

Gangguan perkembangan bahasa dapat menjadi faktor resiko


spesifik untuk kejadian kelainan mental.
Gangguan bahasa pada anak usia prasekolah dapat
menimbulkan frustasi, cemas, antisosial bahkan bersikap
agresif.
Gangguan emosional dan tingkah laku yang menetap pada
anak dengan gangguan perkembangan bahasa memiliki
hubungan yang kuat.
Epidemiologi

Prevalensi keterlambatan perkembangan berbahasa di


Indonesia belum pernah diteliti secara luas.
Di Poliklinik Tumbuh Kembang Anak RSUP Dr. Kariadi selama
tahun 2007 100 anak dari 436 kunjungan baru (22,9 %)
memiliki keluhan gangguan bicara dan berbahasa.
Sekitar 8% anak usia prasekolah gangguan perkembangan
bahasa. Hampir 20% anak usia 2 tahun mengalami
keterlambatan bicara. Sedangkan 19% anak usia 5 tahun
teridentifikasi mengalami gangguan perkembangan bahasa.
Insiden: anak laki-laki dua kali lebih banyak dibandingkan
anak perempuan.
Etiologi
Genetik Prenatal
Lokus kromosom 16 penampilan Lahir dari ibu yang mengalami
buruk pada tes repetisi kata dan anemia, preeklampsi/eklamsi, infeksi
memori jangka pendek. toxoplasma, perdarahan serta
Lokus kromosom 19 penampilan mengkonsumsi obat-obatan selama
buruk pada tes bahasa ekspresif. hamil

Faktor Risiko

Natal
Asfiksia neonatorum, Perinatal
hiperbilirubinemia berat, bayi berat
Anak dengan riwayat kejang
badan lahir rendah dan mengalami
infeksi selama periode neonatal
Gejala klinis

Saat seorang anak sehat datang ke klinik dengan keluhan


gangguan kemampuan bahasa, evaluasi perkembangan
bahasa harus dilakukan secara spesifik mengacu kepada
milestone perkembangan bahasa normal pada anak dan
observasi dari tingkah laku anak.
Gangguan komunikasi merupakan manifestasi klinis utama,
namun juga ditemukan gangguan kognitif maupun disfungsi
motorik.
Milestones normal perkembangan bahasa anak
Umur Kemampuan Reseptif Kemampuan Ekspresif
Lahir Melirik ke sumber suara Menangis
Memperlihatkan ketertarikan terhadap suara
2-4 bulan Tertawa dan mengoceh tanpa arti
6 bulan Memberi respon jika namanya dipanggil Mengeluarkan suara yang merupakan kombinasi huruf hidup
(vokal) dan huruf mati (konsonan)
9 bulan Mengerti kata-kata yang rutin didengar (da- Mengucapkan ma-ma, pa-pa, da-da
da)
12 bulan Memahami dan menuruti perintah sederhana Bergumam
Mengucapkan satu kata
15 bulan Menunjuk anggota tubuh Mempelajari kata-kata dengan perlahan
18-24 bulan Mengerti kalimat Menggunakan/merangkai dua kata
24-36 bulan Menjawab pertanyaan Mengikuti 2 langkah Frase 50% dapat dimengerti
perintah Membentuk 3 (atau lebih) kalimat
Menanyakan apa
36-48 bulan Mengerti banyak apa yang diucapkan Menanyakan mengapa
Kalimat 76% dapat dimengerti, bahasa sudah mulai
jelas, menggunakan lebih dari 4 kata dalam satu
kalimat
48-60 bulan Mengerti banyak apa yang dikatakan, Menyusun kalimat dengan baik
sepadan dengan fungsi kognitif Bercerita Kalimat 100% dapat dimengerti
6 tahun Pengucapan lebih jelas
Diagnosis

Anak dengan gangguan perkembangan bahasa harus


dievaluasi secara menyeluruh termasuk kemampuan kognitif
dan kemampuan aktifitas sehari-hari.
Evaluasi multidisiplin seharusnya dilakukan, minimal evaluasi
psikologi, penilaian neurologis serta penilaian kemampuan
berbahasa.
DSM-IV Diagnostic criteria for communication disorder
Expressive Language Disorder
A. The scores obtained from standardized individually administered measures of expressive language development are
substantially below those obtained from standardized measures of both nonverbal intellectual capacity and receptive
language development. The disturbance may be manifest clinically by symptoms that include having a markedly
limited vocabulary, making errors in tense, or having difficulty recalling words or producing sentences with
developmentally appropriate length or complexity.

B. The difficulties with expressive language interfere with academic or occupational achievement or with social
communication.

C. Criteria are not met for Mixed Receptive-Expressive Language Disorder or a Pervasive Developmental Disorder.

D. If Mental Retardation, a speech-motor or sensory deficit, or environmental deprivation is present, the language
difficulties are in excess of those usually associated with these problems.
Coding note: If a speech-motor or sensory deficit or a neurological condition is present, code the condition on Axis III.
DSM-IV Diagnostic criteria for communication disorder
Mixed Receptive-Expressive Language Disorder
A.The scores obtained from a battery of standardized individually administered measures of both receptive and
expressive language development are substantially below those obtained from standardized measures of nonverbal
intellectual capacity. Symptoms include those for Expressive Language Disorder as well as difficulty understanding
words, sentences, or specific types of words, such as spatial terms.

B.The difficulties with receptive and expressive language significantly interfere with academic or occupational
achievement or with social communication.

C.Criteria are not met for a Pervasive Developmental Disorder.

D.If Mental Retardation, a speech-motor or sensory deficit, or environmental deprivation is present, the language
difficulties are in excess of those usually associated with these problems.
Coding note: If a speech-motor or sensory deficit or a neurological condition is present, code the condition on Axis III.
DSM-IV Diagnostic criteria for communication disorder
Phonological Disorder
A. Failure to use developmentally expected speech sounds that are appropriate for age and dialect (e.g., errors in sound
production, use, representation, or organization such as, but not limited to, substitutions of one sound for another
[use of /t/ for target /k/ sound] or omissions of sounds such as final consonants).

B. The difficulties in speech sound production interfere with academic or occupational achievement or with social
communication.

C. If Mental Retardation, a speech-motor or sensory deficit, or environmental deprivation is present, the speech
difficulties are in excess of those usually associated with these problems.
Coding note: If a speech-motor or sensory deficit or a neurological condition is present, code the condition on Axis III.
DSM-IV Diagnostic criteria for communication disorder
Stuttering
A. Disturbance in the normal fluency and time patterning of speech (inappropriate for the individual's age),
characterized by frequent occurrences of one or more of the following:

(1) sound and syllable repetitions

(2) sound prolongations

(3) interjections

(4) broken words (e.g., pauses within a word)

(5) audible or silent blocking (filled or unfilled pauses in speech)

(6) circumlocutions (word substitutions to avoid problematic words)

(7) words produced with an excess of physical tension

(8) monosyllabic whole-word repetitions (e.g., "I-I-I-I see him")

B. The disturbance in fluency interferes with academic or occupational achievement or with social communication.

C. If a speech-motor or sensory deficit is present, the speech difficulties are in excess of those usually associated with
these problems.
Coding note: If a speech-motor or sensory deficit or a neurological condition is present, code the condition on Axis III.
DSM-IV Diagnostic criteria for communication disorder
Communication Disorder Not Otherwise Specified
This category is for disorders in communication that do not meet criteria for any specific Communication Disorder; for
example, a voice disorder (i.e., an abnormality of vocal pitch, loudness, quality, tone, or resonance).
Terapi

Terapi bicara
Gangguan berat penggunaan simbol dalam bahasa,
penggunaan gambar (Picture Exchange Communication
System-PECS) dan sistem komputerisasi.
Individuals with Disabilities Education Act (IDEA)
menganjurkan sekolah menyediakan pendidikan khusus untuk
anak yang mengalami gangguan belajar termasuk anak-anak
dengan gangguan perkembangan bahasa. Pelayanan ini
disediakan untuk anak-anak dari lahir hingga usia 21 tahun.
Prognosis

Walaupun sebagian besar mengalami peningkatan


kemampuan berkomunikasi, namun 50-80% anak usia
prasekolah dengan keterlambatan bicara dan normal
kemampuan nonverbalnya akan tetap mengalami gangguan
bahasa hingga usia 20 tahun sejak didiagnosis.
Sekitar 50% anak yang mengalami gangguan bahasa yang
onsetnya cepat akan mengalami gangguan membaca.
Terdapat hubungan yang kuat antara gangguan bahasa
dengan kemampuan kognitif, sehingga diagnosis awal dan
tatalaksana cepat memungkinkan anak mencapai fungsi
kognitif yang lebih baik.
LAPORAN KASUS
A. ANAMNESIS PSIKIATRIK

1. Identitas pasien:
DMHP, laki-laki, usia 9 tahun 11 bulan, anak tunggal, suku Batak,
agama Kristen Protestan, bersekolah di SLB, BB: 35 kg, TB: 129
cm. Alamat: Jalan Limau Manis Tanjung Morawa, Taman Anugerah
Permai Medan. Datang dibawa orang tuanya ke Bagian Poliklinik
psikiatri RSHAM Medan, tanggal 03 Juli 2017 yang dikonsulkan
oleh bagian Poliklinik Pediatri Sosial dan Tumbuh Kembang anak
RSHAM.
Alloanamnesis: Ibu penderita TS, usia 46 tahun, pekerjaan ibu
rumah tangga, pendidikan SLTA, akrab dengan penderita, kesan
dapat dipercaya.
A. ANAMNESIS PSIKIATRIK
2. Keluhan utama:
Belum bisa berbicara
3. Riwayat perjalanan penyakit sekarang:
Hal ini dialami pasien sejak bayi.
Saat ini pasien sudah bisa menyebut mama, papa sejak usia 2 tahun
tetapi tidak sempurna. Pasien mengerti apa yang diperintahkan oleh
mama dan papa-nya, namun dia tidak bisa menyebut atau menjawab
dengan kata-kata.
Menurut pengakuan ibu pasien, pasien kalau dipanggil menoleh namun
konsentrasinya mudah terpecah.
Pasien juga sangat hiperaktif, tidak bisa diam, hal ini dialami pasien
sejak pasien berusia 3 tahun saat pasien bisa berjalan.
Saat ini pasien tinggal dengan orang tua angkat yang mengadopsi
pasien saat pasien berusia 1 hari.
A. ANAMNESIS PSIKIATRIK

4. Riwayat penyakit terdahulu:


Pasien sering mengalami gastroenteritis sejak usia 2 bulan dan
berulang kali diopname. Pasien pernah dirawat di ICU saat usia 2
tahun dengan diagnosis DSS selama 8 hari.
Riwayat gangguan mental emosional sebelumnya: tidak ada
Riwayat gangguan psikosomatik: tidak ada
Riwayat gangguan neurologik: tidak ada
Riwayat gangguan medik lainnya: tidak ada
A. ANAMNESIS PSIKIATRIK

5. Riwayat kehidupan pribadi:


Riwayat prenatal
Kehamilan yang tidak diinginkan.
Ibu kandung pasien pernah mencoba untuk menggugurkan pasien
dengan cara minum obat namun tidak berhasil. Hal ini dilakukan
karena ibu kandung pasien ditinggal oleh ayah kandung pasien.
Pasien lahir di klinik, ditolong bidan, cukup bulan, lahir secara
spontan, segera menangis, dengan berat badan lahir 3200 gr,
panjang badan lahir 50 cm dan skor apgar?.
A. ANAMNESIS PSIKIATRIK
Riwayat masa bayi, balita dan kanak-kanak
Pasien minum susu formula sejak lahir. Usia 4 bulan tambahan bubur
saring. Usia 9 bulan nasi tim + susu formula. Usia 3 tahun
makanan biasa (makanan keluarga). Sejak usia tersebut pasien mulai
makan nasi biasa dengan lauk pauk, sayur dan buah-buahan. Kualitas
dan kuantitas makanan kesan cukup.
Usia 2 bulan tengkurap, balik terlentang. Duduk usia 6 bulan,
merangkak usia 1 tahun, berjalan tanpa bantuan usia 3 tahun.
Tersenyum usia 2 bulan, mengucapkan kata mama, papa, dada
usia 1 tahun, meniru kata-kata namun artikulasi tidak jelas usia 8 tahun,
dan saat saat ini belum bisa bicara bermakna. Sejak lahir pasien dirawat
kedua orang tua angkatnya yang sangat menyayanginya.
Riwayat imunisasi : Kesan tidak lengkap.
Riwayat pendidikan: Pasien sekolah di SLB
A. ANAMNESIS PSIKIATRIK
6. Riwayat keluarga
Identitas orang tua
Ayah: suku Batak, agama Kristen Protestan, pendidikan terakhir SMA,
bekerja sebagai pedagang. Ayah dekat dan sayang dengan pasien.
Ibu: suku Batak, agama Kristen Protestan, pendidikan terakhir SMA,
pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Ibu ramah, dekat dan sayang
dengan pasien.
Kepribadian orang tua: ayah dan ibu pasien seorang yang perhatian,
ramah dan sayang terhadap pasien
Riwayat gangguan mental dalam keluarga: tidak ada
Kondisi sosial ekonomi: cukup
7. Stressor psikososial: tidak ada
8. Riwayat bunuh diri: tidak ada
B. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
PEMERIKSAAN PSIKIATRIK
1. Penampilan:
Berat badan dan tinggi badan pasien sesuai dengan usianya, wajah
bersih dan berpakaian bersih, aktifitas motorik aktif. Selama dalam
wawancara pasien kadang kooperatif dan kadang tidak. Pasien
sangat banyak bergerak.
2. Pikiran
Isi dan bentuk pikiran : tidak dijumpai gangguan
3. Mood, afek dan emosi
Afek : stabil
Mood : distorik
Emosi lainnya : tidak dijumpai
B. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
PEMERIKSAAN PSIKIATRIK

4. Sensorium
Alertness : kompos mentis
Orientasi Waktu : sulit dinilai
Orientasi Tempat : sulit dinilai
Orientasi Personal : baik
Konsentrasi dan Kalkulasi: buruk
Memori : sulit dinilai
B. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
PEMERIKSAAN PSIKIATRIK
5. Mekanisme coping : tidak ada
6. Judgment sosial : baik
Judgment personal : baik
7. Proses berpikir dan verbalisasi
Sulit dinilai, pasien sering menunjuk atau menuju langsung kepada
sesuatu yang dia mau. Verbalisasi tidak jelas.
8. Fantasi : sulit dinilai
9. Super ego : sulit dinilai
10. Konsep diri : sulit dinilai
11. Perkiraan IQ : kurang
PEMERIKSAAN FISIK
Status generalisata : sensorium GCS 15 (E4V5M6), suhu: 37,10C BB: 35 kg,
TB: 129 cm. Anemis (-), sesak napas (-), biru (-), edema (-), kuning (-)
Status lokalisata
Kepala : simetris, Lingkar kepala: 49 cm (<2SD)
Lainnya : normal

PEMERIKSAAN NEUROLOGI
Sensorium : GCS 15 (E4V5M6)
Nervus kraniales I-XII : normal
Sistem motorik : a. tonus otot : normotonus
b. otot : eutrofi
c. kekuatan otot : normal
Refleks biceps/triceps normal, APR/KPR : normal. Refleks patologis : negatif
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium klinik : Tidak Dilakukan


Foto thorax : Tidak dilakukan
Tes GPPH : 17 (dijumpai gangguan pemusatan konsentrasi)
Tes CBCL : Gangguan internalisasi (nilai 17)
RESUME
Telah diperiksa seorang laki-laki, usia 9 tahun 10 bulan dengan
keluhan utama belum bisa bicara. Hal ini dialami pasien sejak bayi,
saat ini pasien sudah bisa menyebut mama, papa sejak usia 2
tahun tetapi tidak sempurna. Pasien mengerti apa yang
diperintahkan, namun dia tidak bisa menyebut atau menjawab
dengan kata-kata. Pasien jika dipanggil menoleh namun
konsentrasinya mudah terpecah. Pasien juga sangat hiperaktif, tidak
bisa diam, hal ini dialami pasien sejak berusia 3 tahun saat pasien
bisa berjalan. Saat ini pasien tinggal dengan orang tua angkat yang
mengadopsi pasien saat pasien berusia 1 hari.
RESUME
Dari pemeriksaan psikiatri, pasien berpenampilan bersih, berat badan
cukup, anak kadang kooperatif dan kadang tidak, pasien bergerak
aktif, mood distorik, afek stabil, isi dan pikiran, persepsi, orientasi,
fantasi, konsep diri tidak dijumpai gangguan, proses berfikir,
verbalisalisasi, produktivitas dan perbendaharaan kata sangat
kurang. Perkiraan IQ kurang.
Dari pemeriksaan fisik, kesadaran GCS 15 (E4V5M6). Keadaan umum
sedang, keadaan penyakit sedang. Kepala mikrosefali. Frekuensi
jantung 100 kali per menit, murmur tidak dijumpai, frekuensi nafas
22 kali per menit, ronki tidak dijumpai. Pemeriksaan neurologis
dalam batas normal, pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan
darah lengkap dan radiologi tidak dilakukan.
DIAGNOSIS BANDING
Gangguan perkembangan bahasa

DIAGNOSIS MULTI AKSIAL


Aksis I : tidak ada diagnosis
Aksis II : Retardasi mental
Aksis III : tidak ada diagnosis
Aksis IV : tidak ada diagnosis
Aksis V : GAF Scale Scale 50-41 gejala berat (serious), disabilitas
berat
PENATALAKSANAAN

Edukasi kepada keluarga tentang keterlambatan bicara pada anak


Latihan pengucapan dan artikulasi
Konsul Divisi THT-KL skrining pendengaran
Konsul Divisi Rehabilitasi Medik untuk terapi bicara
DISKUSI
Telah dilaporkan kasus gangguan perkembangan bahasa pada seorang anak
laki-laki berumur 9 tahun 10 bulan, dimana gejala-gejala tersebut mulai sejak
bayi.
Diagnosis aksis I : tidak ada diagnosis
Diagnosis aksis II : Retardasi mental
Diagnosis aksis III: tidak ada diagnosis
Diagnosis aksis IV : tidak ada diagnosis
Diagnosis aksis V : GAF Scale Scale 50-41 gejala berat (serious), disabilitas
berat
Langkah pertama penatalaksanaan pasien dengan gangguan bicara
(dysphasia) berupa psikoedukasi dan implikasi jangka panjangnya.
Tatalaksana spesifik dengan terapi bicara, dan diharapkan orang tua dapat
mematuhi jadwal terapi pasien dan teratur membawa pasien terapi. Serta
orang tua diharapkan mampu mengulangi dan menerapkan kembali di rumah
hal-hal yang telah diberikan terapis terhadap pasien.
Terima kasih