Anda di halaman 1dari 35

IMPLEMENTASI PROGRAM

JAMINAN PENSIUN BERDASARKAN


SISTEM JAMINAN SOSIAL
NASIONAL
OLEH
SRI ASTUTI

SOSIALISASI PENERAPAN PENGAWASAN NORMA JAMSOSTEK SEBAGAI IMPLEMENTASI SJSN


GRAND ZURI HOTEL TANGERANG, 23 NOPEMBER 2015
LATAR BELAKANG
PASAL 28 H AYAT (3) UUD 1945
Article 22 Universal Declaration of Human Right
UU NO.40 TH 2004 TTG SJSN
UU NO.24 TH 2011 TENTANG BPJS
PP NO 45 TH 2015 TTG PENYELENGGARAAN
PROGRAM JAMINAN PENSIUN
PERMENAKER NO. 29 TAHUN 2015 TENTANG TATA
CARA PENDAFTARAN KEPESERTAAN,
PEMBAYARAN DAN PENGHENTIAN MANFAAT
JAMINAN PENSIUN
Program a. Pasal 41 ayat (8)
Ketentuan mengenai manfaat Pensiun diatur

Jaminan Pensiun lebih lanjut dalam Peraturan Presiden

b. Pasal 42 ayat (2)


Ketentuan besarnya iuran jaminan pensiun untuk
peserta penerima upah diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Pemerintah

Penyeleng
garaan Penggabungan Program Iuran dan Manfaat
Jaminan Efektif Legislasi
Pensiun

Prinsip Jaminan Penisun:


a. Asuransi Sosial/Tabungan Wajib
b. Mempertahankan derajat kehidupan yang layak
saat peserta kehilangan pekerjaan/ berkurang
penghasilan karena pensiun (dapat memenuhi
kebutuhan pokok pekerja & keluarga)
c. Manfaat pasti (terdapat batasan minimum dan
maksimum manfaat yang akan diterima)
d. Masa iur minimal 15 tahun (psl 41 ayat (2))
e. Formula Jaminan Pensiun ditetapkan masa kerja
dan upah terakhir (Penjelasan psl 41 ayat 3)
Program Jaminan Pensiun

Pasal 39 Ayat (3):


Jaminan pensiun diselenggarakan Berdasarkan
manfaat pasti.
yang dimaksud dengan Manfaat Pasti ?
Penjelasan pasal 39 ayat (3)
Yang dimaksud dengan Manfaat Pasti adalah
terdapat batas minimum dan maksimum
manfaat yang akan diterima peserta.

4
Prinsip-prinsip Manfaat Pensiun
dalam UU SJSN
Manfaat Harus Dapat Memenuhi Kebutuhan Pokok
Pekerja Dan Keluarganya (Penjelasan Pasal 39 Ayat (2)).
Terdapat Batasan Minimum Dan Maksimum Manfaat
Yang Akan Diterima Peserta (Penjelasan Pasal 39 Ayat (3).
Masa Iur Minimal 15 Tahun (Pasal 41 Ayat (2)).
Formula Jaminan Pensiun Ditetapkan Berdasarkan
Masa Kerja Dan Upah terakhir (Penjelasan Pasal 41 Ayat (3)).

5
TUJUAN JAMINAN PENSIUN

Untuk mempertahankan derajat kehidupan


yang layak bagi peserta dan / atau ahli
warisnya dengan memberikan penghasilan
setelah peserta memasuki usia pensiun,
mengalami cacat total tetap atau meninggal
dunia
MANFAAT
Berupa sejumlah uang yang dibayarkan setiap
bulan kepada peserta yang memasuki usia
pensiun, mengalami cacat total tetap atau
kepada ahli waris bagi peserta yang meninggal
dunia
KEPESERTAAN
Penerima upah yang bekerja pada Pemberi
Kerja Selain Penyelenggara Negara
Pemberi Kerja wajib mendaftarkan pekerjanya
dalam program jaminan pensiun
Penahapan kepesertaan (PERPRES NO.109/ 2013)

a. Usaha Skala Besar & menengah wajib JKK,


JKM, JHT & JP
b. Usaha Skala kecil wajib JKK, JKM & JHT
c. Usaha mikro wajib JKK & JKM
d. Untuk skala usaha besar, menengah, kecil & mikro yg
bergerak disektor usaha jasa konstruksi wajib JKK & JKM
Kewajiban Pemberi Kerja Selain Penyelenggara Negara untuk
mendaftarkan pekerjanya kepada BPJS Ketenagakerjaan
PALING LAMBAT TANGGAL 1 JULI 2015.
KRITERIA SKALA USAHA
A. BESAR
Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 10 M tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau
Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 50
M
B. MENENGAH
Memiliki kekayaan lebih dari Rp. 500 juta sampai
paling sedikit Rp. 10 M tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha; atau
Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2,5
M sampai dengan paling banyak Rp. 50 M
C. KECIL
Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50 juta
sampai dengan paling banyak Rp. 500 juta tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp, 300
juta sampai dengan paling banyak Rp. 2,5 M
D. MIKRO
Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50 juta
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;
atau
Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp.
300 juta
PESERTA BUKAN PENERIMA UPAH :
PEMBERI KERJA Wajib mengikuti Program JKK, JKM
DAN JHT Paling lambat tanggal 1 JULI 2015, juga dapat
mengikuti PROGRAM JP SECARA SUKARELA.
PEKERJA LHK ATAU PEKERJA MANDIRI DAN PEKERJA
YG TIDAK TERMASUK LHK DAN PEKERJA MANDIRI :
Wajib mengikuti program JKK DAN JKM, paling lambat
TANGGAL 1 JULI 2015, juga dapat mengikuti program
JHT DAN JP SECARA SUKA RELA.
Iuran dan Formula Manfaat
Program Jaminan Pensiun
(UU N0. 40 Tahun 2004 tt SJSN).

Iuran 3%
(1% dibayar peserta pekerja & pemebri kerja 2 %) & ditinjau secara berkala.

PP No. 45 Tahun 2015


Besar manfaat dihitung dengan formula tertentu
Konsep berdasarkan masa kerja yang diperhitungkan dengan
Manfaat Pensiun pembayaran iuran (masa iur) dan rata-rata penghasilan
dasar selama mengiur
a. Manfaat Pensiun Hari Tua (MPHT)
b. Manfaat pensiun Cacat (MPC)
Jenis Manfaat c. Manfaat Pensiun Janda/duda (MPJD)
d. Manafaat Pensiun Anak (MPA)
e. Manfaat Pensiun Orangtua (MPO)
Accrual rate (1%) X ( masa iur/12 Bulan) X (rata upah
Formula Manfaat tertimbang selama mengiur/12 bulan)
pensiun berkala Cat : Accrual rate 0.7 % s.d. 1 % tahun masa iur.
MANFAAT JAMINAN PENSIUN
PP No. 45 Tahun 2015

56 tahun, dan direview secara periodik


Usia Pensiun
dengan memperhatikan usia harapan hidup

a. Batas bawah Rp.1,2 juta (UMP terendah)


Batasan Upah b. Batas atas Rp.7 juta
sebagai dasar c. Batas bawah dan batas atas tersebut
perhitungan direview secara periodik dengan
Penghasilan Dasar memperhatikan rata-rata upah peserta
Pensiun nasional, situasi ekonomi dan perhitungan
Aktuaris
a. Minimum sebesar Rp300.000,- dari batas
Batasan Manfaat atas upah
Pensiun Berkala b. Maksimum sebesar Rp3.600.00,- dari batas
atas upah
MANFAAT JAMINAN PENSIUN
PP No. 45 Tahun 2015
a. Manfaat Pensiun (MP) diberikan setelah peserta
mencapai usia pensiun
Manfaat b. MP Berkala diberikan jika peserta tersebut memiliki masa
Pensiun Hari iur paling sedikit 15 (lima belas) tahun yang setara 180
(seratus delapan puluh) bulan
Tua c. MP Berkala diberikan sampai pensiunan hari tua
meninggal dunia sesuai dengan formula pensiun
a. MP diberikan apabila peserta mengalami cacat total
tetap sejak 1 bulan pertama mengiur, dihitung sesuai
formula manfaat pensiun.
b. MP diberikan apabila peserta mengalami cacat total
Manfaat tetap, untuk 1 tahun selanjutnya, dihitung formula
Pensiun manfaat pensiun dikali faktor indeksasi.
Cacat c. Diberikan setelah penetapan mengalami cacat total
melalui pemeriksaan medis/mekanisme penentuan cacat.
d. MP berkala diberikan sampai pensiunan cacat meninggal
dunia
MANFAAT JAMINAN PENSIUN
PP No. 45 Tahun 2015

a. Manfaat pensiun (MP) diberikan kepada


janda/duda ahli waris peserta yang meninggal
dunia sebelum memasuki usia pensiun, atau
janda/duda ahli waris pensiunan hari tua atau
pensiunan cacat total yang meninggal dunia
b. MP berkala diberikan sampai pensiunan
Manfaat Pensiun janda/duda meninggal dunia atau menikah kembali.
Janda/Duda c. 50% dari formula manfaat pensiun hari tua sebelum
menerima manfaat pensiun peserta
d. 50 % dari manfaat pensiun cacat setelah menerima
manfaat pensiun peserta.

Telah menjadi peserta peserta paling singkat 1 tahun


(kepadatan iuran 80 % )
MANFAAT JAMINAN PENSIUN
PP No. 45 Tahun 2015

a. Manfaat pensiun (MP) diberikan kepada anak ahli waris


peserta yang meninggal dunia sebelum memasuki usia
pensiun dan tidak memiliki janda/duda, atau pensiunan
cacat total yang meninggal dunia
b. MP berkala diberikan sampai anak mencapai usia 23
tahun, menikah, bekerja.
c. Jumlah maksimal anak yang ditanggung 2 orang
d. 50% dari formula manfaat pensiun untuk peserta sebelum
Manfaat Pensiun menerima manfaat pensiun dan tidak memiliki janda dan
duda
Anak e. 50 % dari manfaat pensiun tua atau manfaat cacat peserta
setelah menerima manfaat pensiun peserta dan tidak
memiliki janda dan duda.
f. 50 % dari manfaat pensiun janda atau duda untuk janda
atau duda yang meninggal dunia atau menikah lagi.

Telah menjadi peserta peserta paling singkat 1 tahun


(kepadatan iuran 80 %)
MANFAAT JAMINAN PENSIUN
PP No. 45 Tahun 2015

a. Manfaat pensiun (MP) diberikan kepada ayah/ibu peserta


lajang yang meninggal dunia sebelum memasuki usia
pensiun, atau ayah/ibu peserta lanjang yang meninggal
dunia telah menerima manfaat pensiun
b. MP berkala diberikan sampai pensiunan orang tua
tersebut meninggal dunia.
Manfaat c. 20 % dari formula manfaat pensiun untuk peserta yang
Pensiun meninggal dunia sebelum menerima manfaat pensiun.
d. 20 % dari formula manfaat pensiun tua atau manfaat
Orangtua cacat untuk peserta yang meninggal dunia setelah
menerima manfaat pensiun.

Orang tua dapat menerima manfaat pensiun peserta


mengiur paling singkat 1 tahun ( dengan kepadatan iuran
80 % )
PENGHENTIAN MANFAAT PENSIUN

Manfaat pensiun dihentikan pembayarannya dalam hal :


a. Hak atas manfaat pensiun hari tua berakhir pada saat peserta
meninggal dunia
b. Hak atas manfaat pensiun cacat berakhir pada saat peserta meninggal
dunia atau tidak lagi memenuhi definisi cacat total tetap atau bekerja
kembali
c. Hak atas manfaat pensiun janda/duda berakhir pada saat janda/duda
meninggal dunia atau menikah lagi
d. Hak atas manfaat pensiun anak berakhir pada saat anak mencapai usia
23 tahun, bekerja atau menikah
e. Hak atas manfaat pensiun orang tua berakhir pada saat orang tua
meninggal dunia
Perbandingan Manfaat Jaminan Pensiun
(Dana Pensiun & Jaminan Pensiun)
Dana Pensiun Jaminan Pensiun
(Dana Pensiun Pemberi Kerja /DPPK) BPJS Ketenagakerjaan
Dana pensiun: Manfaat JP :
1. Iuran +_8,3 % ditanggung Pemberi 1. Iuran 3 % (pekerja 1 % dan pemberi
Kerja kerja 2 %)
2. Mafaat pasti dan iuran pasti 2. Manfaat Pasti
3. Mencapai Usia 55 tahun 3. Mencapai usia pensiun 56 tahun;
4. Ada pengaturan di PP/PKB 4. Mengalami cacat total tetap;
5. Dapat dikompresikan dengan 5. Meninggal dunia; atau
Pesangon, Penghargaan 6. Minimal manfaat Rp300.000,-dan
6. Dikelola oleh Dana Pensiun (UU no. 11 Maksimun manfaat Rp3.600.000,-
Tahun 1992 ttg Dana Pensiun) 7. Peserta Wajib
7. bila di PHK krn memasuki usia pensiun
bila pekerja telah diikutkan dlm
program pensiun, maka pekerja tdk
berhak atas pesangon, penghargaan,
tetapi berhak atas uang penggantian
hak (psl 167 UU 13/2003)
Indonesia Memiliki 3 Program Jamsos
Multi Pilar Model System

Pilar III
Jamsos Sukarela Tabungan Individu Pensiun Sukarela (Mnfaat Pasti atau
JKK Sukarela Iuran Pasti)
JKm Sukarela lainnya DPPK
DPLK
Pilar II Program Pensiun Sukarela
Program Sukarela lainnya

Program SJSN merupakan


program Wajib : Program SJSN merupakan
JKK program Wajib dengan
Pilar I
JKm mempertimbangkan
Program Wajib (SJSN)
Integrasi JP dan JHT
Reformasi Program
Pesangon

20
Multi Pilar Model System

Pilar III
Sebagai penyangga paling
Tabungan Individu
dasar, peserta yang merasa
kurang dengan manfaat yang
Pilar II diberikan oleh SJSN dapat
Program Jamsos Sukarela mengikuti program Jamsos
yang diselenggarakan oleh
Dana Pensiun, Asuransi
Pilar I
Program Jamsos Wajib Swasta secara sukarela
sebagai ON Top
21
PENGAWASAN DALAM
PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL
(BERDASARKAN UU 24/ 2011)

DALAM UU NO.24 TH 2011 TTG BPJS, HANYA MENGATUR PENGAWASAN INTERNAL DAN
EKSTERNAL TERHADAP BPJS, SEDANGKAN PENGAWASAN TERHADAP KEPATUHAN
DALAM PENERAPAN NORMA JAMINAN SOSIAL DIATUR LEBIH LANJUT DALAM PP.

DALAM PP NO.86 TH 2013 TTG TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRATIF ,


MENGATUR PENGAWASAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PEMBERI KERJA SELAIN
PENYELENGGARA NEGARA DAN SETIAP ORANG SELAIN PEMBERI KERJA, PEKERJA DAN
PBI, DIMANA PENGAWASAN ATAS KEPATUHAN TERSEBUT DILAKUKAN OLEH PETUGAS
PEMERIKSA PADA BPJS KESEHATAN DAN BPJS KETENAGAKERJAAN.

DALAM HAL BPJS TELAH MEMBERIKAN SANKSI ADMINISTRATIF, TETAPI PEMBERI KERJA
TETAP TIDAK PATUH, BPJS WAJIB MELAPORKAN KETIDAKPATUHAN TSB KEPADA
INSTANSI YG BERTANGGUNGJAWAB DIBIDANG KETENAGGAKERJAAN SETEMPAT
(PENGAWAS KETENAGAKERJAAN) UNTUK DITINDAKLANJUTI SESUAI KETENTUAN
PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN.
SANKSI ADMINISTRATIF

BERDASARKAN PP NO.86 TAHUN 2013, SANKSI ADMINISTRATIF MELIPUTI :


- TEGURAN TERTULIS
- DENDA
- TIDAK MENDAPAT PELAYANAN PUBLIK TERTENTU.

SANKSI TEGURAN TERTULIS DAN DENDA DIJATUHKAN OLEH BPJS


KETENAGAKERJAAN DAN BPJS KESEHATAN.

SANKSI TIDAK MENDAPAT PELAYANAN PUBLIK TERTENTU DIJATUHKAN OLEH


UNIT PELAYANAN PUBLIK TERTENTU PADA INSTANSI PEMERINTAH PUSAT,
PROVINSI, KABUPATEN/ KOTA.
SANKSI TEGURAN TERTULIS DAN DENDA DILAKUKAN OLEH BPJS
KESEHATAN DAN KETENAGAKERJAAN, KEPADA :

A. PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA , APABILA


MELANGGAR KETENTUAN PASAL 3 AYAT (1) HURUF a PP NO.86/ 2013 :
TIDAK MENDAFTARKAN DIRINYA DAN PEKERJANYA SEBAGAI PESERTA KEPADA
BPJS SECARA BERTAHAP SESUAI PROGRAM JAMINAN SOSIAL YG DI IKUTINYA
TIDAK MEMBERIKAN DATA DIRINYA DAN PEKERJANYA BERIKUT ANGGOTA
KELUARGANYA KEPADA BPJS SECARA LENGKAP DAN BENAR.

B. SETIAP ORANG SELAIN PEMBERI KERJA, PEKERJA DAN PBI, APABILA


MELANGGAR KETENTUAN PASAL 4 AYAT (1) HURUF a :
TIDAK MENDAFTARKAN DIRINYA DAN ANGGOTA KELUARGANYA SEBAGAI
PESERTA KEPADA BPJS
TIDAK MEMBERIKAN DATA DIRINYA DAN ANGGOTA KELUARGANYA SECARA
LENGKAP DAN BENAR KEPADA BPJS
SANKSI TIDAK MENDAPAT PELAYANAN PUBLIK TERTENTU DILAKUKAN OLEH
PEMERINTAH, PEMDA PROV, PEMDA KAB/ KOTA KEPADA :

A. PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA APABILA MELANGGAR


KETENTUAN :
- PASAL 3 AYAT (1) HURUF a PP NO.86/ 2013 : TIDAK MENDAFTARKAN DIRINYA
DAN PEKERJANYA SBG PESERTA KPD BPJS SECARA BERTAHAP SESUAI PROGRAM
YG DI IKUTINYA.

B. SETIAP ORANG APABILA MELANGGAR KETENTUAN :


- PASAL 4 AYAT (1) HURUF a : TIDAK MENDAFTARKAN DIRINYA DAN ANGGOTA
KELUARGANYA SEBAGAI PESERTA KEPADA BPJS.

SANKSI INI DIBERIKAN DG MENSYARATKAN KEPADA PEMBERI KERJA ATAU SETIAP


ORANG YG AKAN MENDAPATKAN PELAYANAN PUBLIK TERTENTU UTK MELENGKAPI
BUKTI BAHWA SELURUH PEKERJANYA ATAU DIRINYA TELAH IKUT DALAM PROGRAM
JAMINAN SOSIAL PADA BPJS KESEHATAN DAN BPJS KETENAGAKERJAAN
(SANKSI INI DIBERIKAN SECARA OTOMATIS TANPA MENUNGGU ADANYA PERMINTAAN
DARI BPJS)
SANKSI TIDAK MENDAPAT PELAYANAN PUBLIK TERTENTU DILAKUKAN OLEH
PEMERINTAH, PEMDA PROV, PEMDA KAB/ KOTA KEPADA :

A. PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA APABILA


MELANGGAR KETENTUAN :
- PASAL 3 AYAT (1) HURUF b : TIDAK MEMBERIKAN DATA DIRINYA , DATA
PEKERJANYA DAN DATA ANGGOTA KELUARGANYA SECARA LENGKAP DAN
BENAR KEPADA BPJS.
B. SETIAP ORANG APABILA MELANGGAR KETENTUAN :
- PASAL 4 AYAT (1) HURUF b : TIDAK MEMBERIKAN DATA DIRINYA DAN ANGGOTA
KELUARGANYA SECARA LENGKAP DAN BENAR KEPADA BPJS.

SANKSI INI DILAKUKAN SETELAH MENDAPAT SURAT PERMOHONAN


PENGENAAN SANKSI PENGHENTIAN PELAYANAN PUBLIK TERTENTU DARI BPJS
KETENAGAKERJAAN ATAU BPJS KESEHATAN ( SANKSI DIBERIKAN ATAS
PERMINTAAN BPJS)
SANKSI TIDAK MENDAPAT PELAYANAN PUBLIK TERTENTU DIBERIKAN OLEH
PEMERINTAH, PEMDA PROVINSI DAN PEMDA KAB/ KOTA, KEPADA :

A. PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA, BERUPA :


- PERIZINAN TERKAIT USAHA
- IZIN YANG DIPERLUKAN DALAM MENGIKUTI TENDER PROYEK
- IZIN MEMPEKERJAKAN TENAGA KERJA ASING (IMTA)
- IZIN PERUSAHAAN PENYEDIA JASA PEKERJA/ BURUH
- IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN (IMB)
B. SETIAP ORANG SELAIN PEMBERI KERJA, PEKERJA DAN PBI BERUPA :
- IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN (IMB)
- SURAT IZIN MENGEMUDI (SIM)
- SERTIFIKAT TANAH
- PASPOR
- SURAT TANDA NOMOR KENDARAAN (STNK)
TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRATIF

1. APABILA PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA MELANGGAR


PASAL 3 AYAT (1) HURUF a DAN HURUF b DAN SETIAP ORANG MELANGGAR
PASAL 4 AYAT (1) HURUF a DAN HURUF b PP NO.86/ 2013, BPJS
MEMBERIKAN TEGURAN TERTULIS PERTAMA UTK JANGKA WAKTU
PALING LAMA 10 HARI.

2. BILA SAMPAI BERAKHIRNYA JANGKA WAKTU YG DITETAPKAN, PEMBERI


KERJA TDK MELAKSANAKAN KEWAJIBANNYA, BPJS MEMBERIKAN TEGURAN
TERTULIS KEDUA. UNTUK JANGKA WAKTU PALING LAMA 10 HARI.

3. BILA SAMPAI BERAKHIRNYA JANGKA WAKTU YG DITETAPKAN PEMBERI


KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA TETAP TIDAK MELAKSANAKAN
KEWAJIBANNYA, MAKA BPJS MEMBERIKAN SANKSI DENDA SEBESAR 0,1 %
SETIAP BULAN DARI IURAN YG HARUS DI BAYAR TERHITUNG SEJAK
TEGURAN TERTULIS KEDUA BERAKHIR.
TATA CARA PENGENAAN SANKSI........................

4. SANKSI DENDA DIBERIKAN KEPADA PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA


NEGARA, UNTUK JANGKA WAKTU PALING LAMA 30 HARI SEJAK PENGENAAN
SANKSI TEGURAN TERTULIS KEDUA BERAKHIR DAN DISETOR KEPADA BPJS
BERSAMAAN DG PEMBAYARAN IURAN BULAN BERIKUTNYA.

5. BILA DENDA TIDAK DISETOR LUNAS PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA


NEGARA DIKENAKAN SANKSI TIDAK MENDAPAT PELAYANAN PUBLIK
TERTENTU.

7. DALAM HAL TEGURAN TERTULIS KEDUA BERAKHIR, SETIAP ORANG TETAP


TIDAK MELAKSANAKAN KEWAJIBANNYA, TIDAK DIKENAKAN SANKSI DENDA,
TETAPI DIKENAKAN SANKSI TIDAK MENDAPAT PELAYANAN PUBLIK
TERTENTU.
PENCABUTAN SANKSI

PENCABUTAN SANKSI TIDAK MENDAPAT PELAYANAN PUBLIK TERTENTU


DILAKUKAN APABILA :
PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA TELAH MELAKSANAKAN
KEWAJIBANNYA SEBAGAIMANA DIMAKSUD PASAL 3 AYAT (1)HURUF a DAN
HURUF b PP NO.86 TH 2013, DENGAN MENUNJUKKAN BUKTI :
- LUNAS PEMBAYARAN IURAN DAN DENDA
- BUKTI PENDAFTARAN KEPESERTAAN
- BUKTI PELAPORAN DATA SECARA LENGKAP DAN BENAR KEPADA BPJS.

SETIAP ORANG SELAIN PEMBERI KERJA, PEKERJA DAN PBI TELAH


MELAKSANAKAN KEWAJIBANNYA SEBAGAIMANA DIMAKSUD PASAL 4 AYAT
(1) HURUF a DAN HURUF b PP NO 86 TAHUN 2013 DENGAN MENUNJUKAN
BUKTI :
- LUNAS PEMBAYARAN IURAN
- BUKTI PENDAFTARAN KEPESERTAAN
- BUKTI PELAPORAN DATA SECARA LENGKAP DAN BENAR KEPADA BPJS.
PERAN PENGAWAS KETENAGAKERJAAN
(BERDASARKAN PP NO.86/ 2013)

DALAM HAL PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA TELAH DIBERIKAN


SANKSI ADMINISTRATIF (TEGURAN TERTULIS, DENDA DAN ATAU TIDAK MENDAPAT
PELAYANAN PUBLIK TERTENTU) TETAPI PEMBERI KERJA TETAP TIDAK PATUH MEMBAYAR
IURAN DAN KEWAJIBAN LAINNYA, MAKA BPJS KET WAJIB MELAPORKAN KETIDAK
PATUHAN TSB KEPADA INSTANSI YG BERTANGGUNG JAWAB DIBIDANG
KETENAGAKERJAAN
BERDASARKAN LAPORAN BPJS, INSTANSI YG BERTANGGUNG JAWAB DIBIDANG
KETENAGAKERJAAN MELAKUKAN PEMERIKSAAN TERHADAP PEMBERI KERJA SELAIN
PENYELENGGARA NEGARA YG PELAKSANAANNYA DILAKUKAN SESUAI KETENTUAN
PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN
SELAIN BERDASARKAN LAPORAN BPJS, INSTANSI YG BERTANGGUNG JAWAB DIBIDANG
KETENAGAKERJAAN, DAPAT MELAKUKAN PEMERIKSAAN TERHADAP PEMBERI KERJA
SELAIN PENYELENGGARA NEGARA YG PELAKSANAANNYA DILAKUKAN SESUAI KETENTUAN
PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN
PERAN PENGAWAS KETENAGAKERJAAN
(BERDASARKAN PP NO.44 TAHUN 2015)

DALAM HAL PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA TELAH


DIBERIKAN SANKSI ADMINISTRATIF (TEGURAN TERTULIS, DENDA DAN ATAU
TIDAK MENDAPAT PELAYANAN PUBLIK TERTENTU) TETAPI PEMBERI KERJA
TETAP TIDAK PATUH DALAM :
- MEMBAYAR IURAN ( SANKSI PIDANA / PASAL 19 UU NO.24 TAHUN 2011 )
- DAN KEWAJIBAN LAINNYA.
MAKA BPJS KETENAGAKERJAAN WAJIB MELAPORKAN KETIDAK PATUHAN TSB
KEPADA PENGAWAS KETENAGAKERJAAN PADA INSTANSI YG
MENYELENGGARAKAN URUSAN PEMERINTAHAN DIBIDANG KETENAGAKERJAAN
SESUAI KETENTUAN PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN (UU NO.3/1951
DAN UU NO.13 /2003)
CATATAN :
- PASAL 19 AYAT (1) : PEMBERI KERJA WAJIB MEMUNGUT IURAN YANG MENJADI BEBAN PESERTA
DARI PEKERJANYA DAN MENYETORKANNYA KEPADA BPJS
- AYAT (2) : PEMBERI KERJA WAJIB MEMBAYAR DAN MENYETOR IURAN YANG MENJADI
TANGGUNG JAWABNYA KEPADA BPJS.
PERAN PENGAWAS ...........................................
(BERDASARKAN PP NO.44 TAHUN 2015)

PENGAWAS KETENAGAKERJAAN PADA INSTANSI YG BERTANGGUNG JAWAB DIBIDANG


KETENAGAKERJAAN BERDASARKAN LAPORAN DARI BPJS KETENAGAKERJAAN
MELAKUKAN PEMERIKSAAN TERHADAP PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA
NEGARA YG PELAKSANAANNYA SESUAI KETENTUAN PERATURAN PERUNDANG
UNDANGAN.
DALAM PENJELASAN DISEBUTKAN YG DIMAKSUD DENGAN PERATURAN PERUNDANG
UNDANGAN ADALAH UU NO.3/ 51 DAN UU NO.13/ 2003, DIMANA DIDALAM KEDUA
UNDANG UNDANG TSB PENGAWAS KETENAGAKERJAAN DIBERI KEWENANGAN SEBAGAI
PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL (PPNS) YG DAPAT MELAKUKAN PENYIDIKAN DIBIDANG
KETENAGAKERJAAN.
MENGINGAT PELANGGARAN YG DILAKUKAN OLEH PEMBERI KERJA SELAIN
PENYELENGGARA NEGARA YG DILAPORKAN BPJS KETENAGAKERJAAN, SALAH SATUNYA
MERUPAKAN PELANGGARAN PIDANA SEBAGAIMANA DIMAKSUD PASAL 19 UU NO.24/
2011 ( TIDAK MEMBAYAR IURAN), MAKA PENGAWAS KETENAGAKERJAAN DAPAT
MELAKUKAN PENYIDIKAN SESUAI KEWENANGANNYA YG DIATUR DALAM UU NO.3/ 51 ;
UU NO.13/ 2003 PASAL 99 DAN UU NO.8/ 81.
PERAN PENGAWAS ...........................................
(BERDASARKAN PP NO.44 TAHUN 2015)

SELAIN BERDASARKAN LAPORAN BPJS KETENAGAKERJAAN, PENGAWAS


KETENAGAKERJAAN PADA INSTANSI YG BERTANGGUNG JAWAB DIBIDANG
KETENAGAKERJAAN, DAPAT MELAKUKAN PEMERIKSAAN TERHADAP PEMBERI KERJA
SELAIN PENYELENGGARA NEGARA YG MELANGGAR KETENTUAN PASAL 59 AYAT (1) PP
NO.44 TH 2015, YG PELAKSANAANNYA SESUAI KETENTUAN PERATURAN PERUNDANG
UNDANGAN (UU NO.3/51 DAN UU NO.13/2003)
KETENTUAN PASAL 59 AYAT (1) PP NO.44 TH 2015, ANTARA LAIN MELIPUTI PELANGGARAN :
- DALAM HAL TERJADI PDS UPAH YG MENGAKIBATKAN TERJADI KEKURANGAN PEMBAYARAN MANFAAT
JKK, PEMBERI KERJA WAJIB MEMBAYAR KEKURANGANNYA.
- DALAM HAL TERJADI PDS TK YG MENGAKIBATKAN ADA PEKERJA YG TIDAK TERDAFTAR DALAM JKK,
BILA TERJADI RESIKO TERHADAP PEKERJA, PEMBERI KERJA WAJIB MEMBAYAR HAK2 NYA SESUAI PP INI.
- DALAM HAL TERJADI PDS PROGRAM, SEHINGGA PEKERJA HANYA DIIKUTKAN PADA SEBAGIAN
PROGRAM SAJA, MAKA BILA TERJADI RESIKO TERHADAP PEKERJA, PEMBERI KERJA WAJIB MEMBAYAR
HAK2 NYA SESUAI PP INI.
- PWBD DAN LAIN LAIN................
Terima Kasih