Anda di halaman 1dari 17

Kelompok IV :

Heria Yulinas
Indrayani
Eldilla Vevilina
Nelda Deswira
Sudarianto
Putri Maya Iryuzza
Nindi Paramita Sari
Deriska Afni
Eka Maizalni
Di Indonesia secara historis peraturan keselamatan dan
kesehatan kerja telah ada sejak pemerintahan Hindia
Belanda.
Peraturan yang mengatur tentang keselamatan dan
kesehatan kerja adalah Undang-Undang Keselamatan
Kerja No.1 Tahun 1970.
Bagaimana pengenalan potensi bahaya di
tempat kerja dan apa yang dimaksud dengan
bahaya psikologis-sosial
Memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Mengetahui lebih jauh tentang K3 dan
Mengetahui tentang bahaya Psikososial dalam
K3
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah
suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja
maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan
(preventif) timbulnya kecelakaan kerja dan
penyakit akibat hubungan kerja dalam
lingkungan kerja dengan cara mengenali hal-hal
yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja
dan penyakit akibat hubungan kerja, dan
tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian.
Bahaya Psychosocial adalah suatu bahaya non
fisik yang timbul karena adanya interaksi dari
aspek-aspek job description, disain kerja dan
organisasi serta managemen di tempat kerja
serta konteks lingkungan sosial yang
berpotensi menimbulkan ganggua fisik, sosial
dan psikologi.
Bahaya Psychosocial dan Stress Kerja dapat
ditinjau dari dua faktor yaitu :
Dari aspek Kesehatan adalah untuk mencegah
terjadinya gangguan kesehatan yang timbul
karena faktor-faktor yang ada di tempat kerja,
Dari aspek Keselamatan adalah untuk
mencegah terjadinya kecelakaan karena orang
yang terkena stress memiliki risiko yang lebih
besar untuk terjadinya kecelakaan.
Beban Kerja.
Rutinitas Kerja.
Masalah Organisasi suasana kerja yang buruk.
Konflik antara pekerja maupun pekerja dengan
pimpinan.
Faktor Psikososial:
Penyebab : Organisasi kerja (type kepemimpinan,
Hubungan kerja, Komunikasi, keamanan,
Type kerja (monoton, berulang-ulang, kerja
berlebihan, kerja kurang, kerja shif, terpencil)

Akibat : stress, psikosomatis, somatis.


Kepuasan kerja rendah
Kinerja yang menurun
Komunikasih yang tidak lancar.
Pengambilan keputusan jelek.
Kreaktifitas dan inovasi kurang.
Bergulat pada tugas-tugas yang tidak produktif.
Secara umum, potensi bahaya lingkungan kerja dapat
berasal atau bersumber dari berbagai faktor, antara lain :
Faktor teknis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau
terdapat pada peralatan kerja yang digunakan atau dari
pekerjaan itu sendiri;
Faktor lingkungan, yaitu potensi bahaya yang berasal
dari atau berada di dalam lingkungan,;
Faktor manusia, merupakan potensi bahaya yang cukup
besar terutama apabila manusia yang melakukan
pekerjaan tersebut tidak berada dalam kondisi kesehatan
yang prima baik fisik maupun psikis.
Yaitu potensi bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh
kondisi aspek-aspek psikologis ketenaga kerjaan yang
kurang baik atau kurang mendapatkan perhatian seperti :
penempatan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan bakat,
minat, kepribadian, motivasi, temperamen atau
pendidikannya, sistem seleksi dan klasifikasi tenaga kerja
yang tidak sesuai, kurangnya keterampilan tenaga kerja
dalam melakukan pekerjaannya sebagai akibat
kurangnya latihan kerja yang diperoleh, serta hubungan
antara individu yang tidak harmoni dan tidak serasi
dalam organisasi kerja. Kesemuanya tersebut akan
menyebabkan terjadinya stress akibat kerja.
Faktor psikososial utama yang berperan adalah
stress, dimana stressor kerja dapat berupa
hubungan antar pekerja maupun beban kerja
(secara kuantitatif atau kualitatif).
Hasil studi di Jepang menunjukkan bahwa:
Kelelahan fisik akibat kerja sebesar 70 74%

Kelelahan mental akibat kerja sebesar 73 75%


(lebih tinggi)
Penderita jantung koroner memiliki waktu
kerja lebih dari 60 jam per minggu (tinggi)
Stress merupakan suatu sindrom berupa respon
non-spesifik dari organisme terhadap rangsangan
dari luar dirinya. Sementara itu, stress kerja
merupakan reaksi terhadap suatu stressor
(pemicu/sumber stress) yang ada di tempat kerja,
umumnya merupakan hasil akumulasi.
Di Indonesia, stress akibat kerja juga dapat
menimbulkan berbagai gangguan kesehatan,
seperti jantung koroner, gangguan mental
emosional, gangguan haid, gangguan tidur,
abortus, dsb
Yang dapat menjadi sumber stress di pekerjaan antara lain:
Lama waktu bekerja (sekian tahun), posisi (jabatan), tugas,
kewajiban, tanggung jawab sebagai pengawas, dsb.
Faktor intrinsik dalam pekerjaan: kesesuaian
lingkungan/orang dan kepuasan kerja, peralatan, pelatihan,
shift kerja, kerja overload atau underload, bahaya fisik,
harga diri terkait pekerjaan
Peranan dalam organisasi: ambiguitas peran, konflik peran,
tanggung jawab orang-orang, batas-batas organisasional
Perkembangan karir: dipromosikan/tidak, kurangnya
keamanan kerja, ambiguitas pekerjaan di masa yang akan
datang, status congruency, kepuasan terhadap bayaran
Hubungan / dukungan sosial: dengan kolega, supervisor,
bawahan
Struktur dan iklim organisasional: politik,
konsultasi/komunikasi, partisipasi dalam membuat
keputusan, dsb.
Kesimpulan
kesehatan dan keselamatan kerja khususnya
pada perusahan sangat penting dilakukan,
karena dapat meningkatkan kesejahtraan,
kesehatan dan terutama keselamatan kerja
karyawan atau pekerja.
Saran
Kecelakaan pada saat bekerja merupakan
resiko yang merupakan bagian dari pekerjaan,
untuk perusahaan hendaknya mencegah dalam
hal ini melakukan perlindungan berupa
kompensasi, baik langsung maupun tidak
langsung, yang harus diberikan oleh
perusahaan kepada pekerja.

Anda mungkin juga menyukai