Anda di halaman 1dari 14

Pneumonia

1. Ika Fatikhatun Nasikha 20144130A


2. Nuraini Maudini 20144141A
3. Miraziza Amanda 20144169A
4. Widiyasanti 20144191A
Definisi
Pneumonia merupakan infeksi di ujung bronkhiol dan alveoli
yang dapat disebabkan oleh berbagai patogen seperti bakteri,
jamur, virus dan parasit.
Pneumonia menjadi penyebab kematian tertinggi pada balita
dan bayi serta menjadi penyebab penyakit umum terbanyak.
Pneumonia dapat terjadi sepanjang tahun dan dapat melanda
semua usia. Manifestasi klinik menjadi sangat berat pada
pasien dengan usia sangat muda, manula serta pada pasien
dengan kondisi kritis.
Tanda dan gejala
Tanda serta gejala yang lazim dijumpai pada
pneumonia adalah demam, tachypnea, takikardia,
batuk yang produktif, serta perubahan sputum baik
dari jumlah maupun karakteristiknya. Selain itu
pasien akan merasa nyeri dada seperti ditusuk
pisau, inspirasi yang tertinggal pada pengamatan
naik-turunnya dada sebelah kanan pada saat
bernafas
Faktor Resiko
Usia tua atau anak-anak
Merokok
Adanya penyakit paru yang menyertai
Infeksi Saluran Pernapasan yang disebabkan oleh virus
Splenektomi (Pneumococcal Pneumonia)
Obstruksi Bronkhial
Immunocompromise atau mendapat obat Immunosupressive
seperti - kortikosteroid
Perubahan kesadaran (predisposisi untuk pneumonia aspirasi)
Klasifikasi
Pneumonia anaerobik
Pneumonia mikoplasma
Pneumonia virus
Pneumonia nosokomial
Kasus
Tn. DA (55 th, 60 kg, 158 cm) yang sedang dirawat di bangsal dengan stroke

bleeding, pada hari ke-5 mengeluh nyeri dada sebelah kanan disertai

demam, menggigil, kemudian sesak napas. Setelah dilakukan uji kultur,

diketahui bahwa pasien terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus sehingga

di diagnose menderita Pneumonia Nosokomial.

Pasien mendapat terapi dengan meropenem 3x1 g iv, paracetamol 3 x 1 flask

iv, Aminofusin 2 flask, Futrolit 2 fl.

Hasil observasi TTV pada hari ke-5:

TD : 140/80 mmHg

HR : 106 x/min (normal = 100)

RR : 32x/min (takipnea >20)

T : 38,2oC (demam)
Hasil lab hari ke-5:

AL : 18.600

PMN : 88% (50% - 65%)

Bands : 10% (0% - 12%)

Limfosit : 2% (15% - 45%)

Pada hari ke-8 sesak pasien semakin meningkat sehingga harus diberikan kanul oksigen

dengan masker oksigen. Kesadaran pasien menurun dan suhu pasien terukur 37,5oC.

Setelah diperiksa lebih detail ternyata pneumonia pasien belum teratasi.

Pertanyaan:

Sebagai farmasis, bagaimanakah rekomendasi terapi yang tepat untuk menyelesaikan

kasus pneumonia yang dialamipasien di RS tersebut. Sertakan guideline terapinya.


Subjektif
Nama : Tn. DA
Umur : 55 th
BB / TB : 60 kg / 158 cm
Riwayat obat:
meropenem 3x1 g iv,
paracetamol 3 x 1 flask iv,
Aminofusin 2 flask,
Futrolit 2 fl.
Keluhan : pada hari ke-5 mengeluh nyeri dada sebelah
kanan disertai demam, menggigil, kemudian sesak napas.
Subjektif
Hasil observasi TTV pada hari ke-5:

TD : 140/80 mmHg

HR : 106 x/min

RR : 32x/min

T : 38,2oC

Hasil lab hari ke-5:

AL : 18.600

PMN : 88%

Bands : 10%

Limfosit : 2%

Uji kultur : bakteri Staphylococcus aureus

Keluhan : Pada hari ke-8 sesak pasien semakin meningkat, Kesadaran pasien

menurun dan suhu pasien terukur 37,5oC


Asessment
Problem Subjek Objek Nama Obat Analisis

Pneumonia Pct (bila perlu) Parasetamol digunakan bila


panas saja karena suhu
badan pasien sudah mulai
turun
Seftriakson 1 x meropenem diganti dengan
1 inj seftriakson karena pada
pemeriksaan hari ke 8
pneumonia pasien belum
teratasi jadi diganti dg
firstline terapi p.nasokomial.

Aminofusin Tetap diberikan karena


untuk menjaga nutrisi
pasien
Futrolit Tetap diberikan karena
untuk menjaga kebutuhan
elektrolit pasien
Planning
Pada kasus ini pasien meropenem diganti dengan antibiotik
seftriakson, karena penggunaan meropenem pneumonia belum
dapat teratasi dan seftriakson merupakan firstline terapi untuk p.
nosokomial .setelah 2-3 hari pemberian kemudian dilakukan
pemeriksaan kultur bakterinya dan nilai respon klinis pasien dan
dilihat hasilnya untuk terapi selanjutnya.

Untuk parasetamol digunakan bila panas saja karena suhu badan


pasien sudah mulai turun (37,5oC).

Aminofusin dan futrolit tetap digunakan karena untuk menjaga


nutrisi & kebutuhan elektrolit pasien.
Non-farmakologi
Mengoptimalkan pertahan tubuh pasien
Menjaga kebersihan pasien agar terhindar dari
penyebaran virus.
Pola makan sehat
Istirahat yang cukup
Hindari asap rokok.
monitoring
Monitoring data lab pasien
Monitoring hasil pemeriksaan bakteri
Monitoring penggunaan antibitotik pada pasien