Anda di halaman 1dari 18

Teknik Uretrocystografi

KELOMPOK 6:

1. HALFA HANS MARRIN


2. M. PANGGIH. P
3. MOEH. ADITIYA
Pengertian
Urethrocystografi merupakan suatu teknik pemeriksaan
radiografi dari vesica urinaria dan urethra dengan
menggunakan bahan kontras media positif melalui
urethra.
Urethrocystografi bipolar merupakan teknik pemeriksaan
urethrocystografi dengan pemasukan kontras media yang
dilakukan dari arah atas melalui cateter suprapubis dan
dari arah bawah melalui urethra.
Anatomi Fisiologi
INDIKASI PEMERIKSAAN
STRIKTURA URETHRA
OBSTRUKSI PADA URETHRA
MASSA PADA VESICA URINARIA
RUPTUR URETHRA

Kontra Indikasi
Post operasi cateterisasi urethra
PERSIAPAN PASIEN

Pada umunya tidak ada persiapan khusus,


karena pasien yang akan diperiksa adalah
dari bagian urologi.
Pasien diharuskan unutuk mengosongkan
kandung kencing
ALAT DAN BAHAN
BAGIAN ATAS (STERIL) dengan aquadestilata.
TERDIRI DARI : BAGIAN BAWAH (NON
- Cateter Foley, STERIL) TERDIRI DARI :
- Spuit 50 100 cc, - Desinfektan,
- Gallipot, - Minyak pelumas (vaselin),
- Handuk, - Bahan kontras urografin 60 %,
- Kain kasa, - Aquadestilata.
- Gunting klem, Media Kontras
- Mangkuk tempat Larutan Ionik (sodium atau
menyampur bahan kontras meglumine diatrizoat)
Larutan non-ionik
TEKNIK PEMASUKKAN BAHAN
KONTRAS
Sebelum pemasukkan bahan kontras, dilakukan plan foto (BNO polos)
Cara biasa, dilakukan bila tidak terjadi obtruksi total pada urethra
Pasien diposisikan supine, dengan kedua lutut diangkat dan sedikit fleksi
Cateter dimasukkan ke dalam urethra. Setelah cateter dirasa sudah
cukup masuk, lalu ujung urethra difixasi dengan plester. Ujung cateter yang
lain dihubungkan dengan spuit yang berisi kontras media
penyuntikkan bahan kontras dilakukan secara perlahan
pasien sebelumnya diinstruksikan untuk memberikan isyarat bila kandung
kencingnya terasa penuh (ada keinginan untuk mixie)
Pasien diinstruksikan untuk menahan sebentar rasa ingin mixie kemudian
di eksposi
TEKNIK PEMERIKSAAN
A. Abdomen plain
Tujuan pemeriksaan yaitu dilakukan foto pendahuluan bertujuan untuk melihat
persiapan pasien serta menentukan faktor eksposi selanjutnya.
Film : 24 x 30 cm melintang
Posisi pasien: supine diatas meja pemeriksaan dengan kedua lengan difleksikan
di atas dada.
Posisi objek : msp pada pertengahan meja pemeriksaan. Pastikan tidak ada
rotasi dari pelvis. SIAS berjarak sama terhadap meja pemeriksaan.
Central point : 2 inchi dibawah sias.
Central ray : tegak lurus terhadap kaset.
TEKNIK PEMERIKSAAN
B. AP axial
Tujuan pemeriksaan : dilakukan foto proyeksi AP axial bertujuan agar symphisis
pubis terlempar dan tidak superposisi dengan vesica urinaria.
Film : 24 x 30 cm
Posisi pasien : supine
Posisi objek : MSP berada dipertengahan meja. Sesuaikan bahu pasien dan
pinggul sehingga berjarak sama dari film,lalu tempatkan lengan pasien dimana
mereka tidak akan melemparkan bayangan ke film. Kaki pasien di fleksikan.
Central point : 2 inchi di atas symphisis pubis.
Central ray : 10 15 derajat caudally.
TEKNIK PEMERIKSAAN
C. Oblique bilateral
Tujuan pemeriksaan : dilakukan foto oblique bilateral bertujuan agar
dapat melihat suatu indikasi secara lebih jelas.
Film : 24x 30 cm
Posisi pasien : supine
Posisi objek : pasien dirotasikan 30 40 derajat rpo dan lpo. Atur
pasien sehingga arcus pubis paling dekat dengan meja dan sejajar di
atas garis tengah. Menjauhkan paha paling atas secukupnya untuk
menghindari terjadinya superimposisi pada daerah kandung kemih.
Central point : 2 3 inchi symphisis pubis.
Central ray : tegak lurus horizontal.
TEKNIK PEMERIKSAAN
D. Voiding cystouretrografi (VCUG)
Tujuan pemeriksaan : dilakukan foto VCUG bertujuan untuk melihat
lancar tidaknya aliran bahan kontras dari vesica urinaria yang melalui
urethra.
Kaset : 24 x 30 cm
Posisi pasien : supine
Posisi objek : MSP berada dipertengahan meja. Sesuaikan bahu pasien
dan pinggul sehingga berjarak sama. Klem kateter dibuka kemudian
lakukan eksposi ketika kontras media keluar dari vesica urinaria.
Central point : 2 3 inchi symphisis pubis.
Central ray : tegak lurus.
TEKNIK PEMERIKSAAN

E. Post void
Post void dilakukan ketika bahan kontras media
sudah dikeluarkan dari vesica urinaria dan uretra.
Biasanya dilakukan pemotretan pelvis proyeksi AP
dengan menggunakan kaset dan film 24x30 cm
melintang. Tujuan dari postvoid ini untuk melihat apakah
masih ada bahan kontras yang berada di vesica urinaria
dan urethra.
KESIMPULAN

Cystouretrografi merupakan pemeriksaan radiografi


yang dilakukan untuk mengevaluasi verica urinaria (
kandung kemih ) dan uretra saat kandung kemih terisi
dan saat pengosogan kontras media. Kandung kemih di
penuhi dengan kontras media sampai pasien terasa
ingin miksi, gambar radiografi biasanya di ambil
sebelum, selama dan setelah pasien miksi.
Pasien biasanya buang air kecil terlebih dahulu dan
kemudia pengambilan foto pendahuluan pelvis sebelum
nantinya diberikan kontras media untuk pemotretan
cystouretrografi.
DAFTAR PUSTAKA

Ballinger Phillips W, 2003 Merills Atlas of radiographic and


procedures volume two, Tenth edition, Mosby Co,
Toronto.
Clack C. K. M.B.E. Positioning in Radiography : EIGHTH
EDITION, London, Wm HEINEMAN MEDICAL BOOKS LTD.
Evelyn C. Pearce, 1993 Anatomi Dan Fisiologi Untuk
Paramedis, Jakarta, Gramedia.
Ganong W. F. Fisiologi Kedokteran, 1995 CV. EGC. Jakarta.
Radiologi Diagnostik FKUI.
Sumarno Markam, Kamus Istilah Kedokteran, 1997, FKUI
Jakarta.
Syaifuddin Drs. H. B.Ac. Anatomi Fisilogi Untuk Siswa
Perawat : Edisi 2, 1997. EGC. Jakarta.