Anda di halaman 1dari 29

Typhoid Fever

PETRUS IRIANTO
Bagian Penyakit Dalam
RSUD DOK II JAYAPURA
Typhoid Fever

Definisi
Adalah infeksi sistemik oleh salmonella enterica
serovar S.typhi dan S. Paratyphi A, B, dan C
Bakteri gram negatif, family Enterobacteriaceae
Memiliki antigen O9 dan O12 LPS, antigen protein
flagelar Hd (di Indonesia : Hj) dan capsular Vi
Sumber penularan:
Pasien demam tifoid
Carrier : convalescent carrier : tinja/air kemih >
1 tahun ataupun chronic carrier
Sel target

Makrofag : s.typhi/paratyphi merup


mikroorg.intarsel fakultatif, punya enzim
lisosome, berada dlm vakuole shg tahan thd
fagolisosome dan bisa hidup cukup lama dan
multiplikasi dlm makrofag.
Sel non fagositik lain (enterosit)
Plaques peyer (GAT-gut assoc lymphoid tissue)
PATOGENESIS
4
Manifestasi klinis (1)

Masa tunas : 3 21 hari (rata2 10 hari)


Manifestasi klinis bervariasi: ringan berat,
klasik atipikal dengan spektrum luas. Sering
sulit dibedakan dengan demam akut ok penyakit
lain.
Gejala prodromal : demam meningkat secara
bertangga (step ladder) pada minggu pertama,
lalu tetap tinggi (remitten atau kontinyu) minggu
selanjutnya
Disamping itu gejala tidak spesifik : lemah, sakit
kepala, pusing,batuk, sakit tenggorokan,
mialgia,mual muntah, nyeri perut (40%), rasa
perut tidak enak (kebanyakan)
Bisa diare atau konstipasi
Manifestasi klinis (2)

Minggu II: rose spot (>50% kulit putih, pd kulit


hitam sering tidak tampak) demam, gangguan
mental- apatis, delirium (10-45%) bradikardia relatif
(15-100%), typhoid tounge (sebgaian besar kasus),
hepatomegali> sering dp splenomegali,nyeri
abd.lokal atau difus, distensi-meteorismus,
peristalsis menurun
Manifestasi klinik (3)

Minggu III: IgM bertahan beb minggu,


selanjutnya diganti IgG.
Komplikasi: perdarahan, perforasi, sepsis dan
syok septik, miokarditis, DIC
Bisa terjadi kematian bila tdk diobati (15%)
Relaps (10%) bila terapi tidak adekuat
Karier (1-4%)
Minggu IV : Penyembuhan, bila terapi tepat
Manifestasi histopatologis

Minggu 1 : infeksi, inflamasi lokal Plaques Peyer


Minggu 2 : proliferasi, nekrosis, perdarahan
Minggu 3 : ulserasi (btk oval, sering single di ileum
terminalis, memanjang sumbu usus)
Bila bertahan : minggu 4 : regenerasi
Diagnosis Typhoid

Possible : (pelayanan kesehatan dasar)


Febris, gangguan sal.cerna, perubahan
bowel habit dan h-s-megali
Probable : Klinis lengkap dan Lab menyokong:
titer Widal O>=1/160 atau H>=1/160 pd satu kali
pemeriksaan
Definite : Biakan atau PCR ditemukan
s.Typhi/paratyphi. Widal : O>=1/320, H>=1/640
pada pem satu kali, atau peningkatan titer 4xlipat
pada pemeriksaan ulangan selang 5-7 hari.
Laboratorium:

Leukopenia dg neutropenia, normal,


leukositosis (tanda ada komplikasi)
SGOT, SGPT meningkat
Biakan darah: Gall Culture
Ig M anti S.typhi
Uji Widal
Profil antibodi pada Infeksi S. typhi
Interpretasi Hasil IgM anti S.Typhi

skala Interpretasi Keterangan


<2 Negatif Tdk menunjukkan infeksi demam tifoid

3 Borderline Lakukan pengambilan darah ulang 3-5


hari kemudian
4-5 Positif Indikasi infeksi Demam tifoid
6 Positif Indikasi kuat infeksi Demam Tifoid
Uji Widal

Antigen O somatic
Antigen H flagellar peritrichous
Antigen Vi capsul

Tes widal berdasarkan reaksi aglutinasi antara Ag dan Ab


Ab O muncul hari 6-8 dan Ab H pd hari 10-12
Pemeriksaan tunggal kurang bermakna, shg perlu 2x pemeriksaan dg
selang 7 10 hari
Infeksi akut : kenaikan titer >=4x, atau titer O>=1/160

Faktor-faktor yg mempengaruhi uji widal


Faktor pasien
Faktor teknis
Faktor Pasien
Keadaan umum
Perjalanan penyakit
Pengobatan dini dengan antibiotik
Penyakit tertentu yg menyertai
Obat-obat imunosupresif atau kortikosteroid
Vaksinasi
Infeksi klinis/subklinis salmonella sebelumnya
Reaksi anamnestik
Faktor teknis
Aglutinin silang
Konsentrasi suspensi antigen
Strain salmonella yg dipakai utk suspensi
antigen
Differensial Diagnosis
DHF, DF
Pneumonia
Tuberkulosis
Malaria
Shigellosis
Leukemia, limfoma maligna
Figure 3. Gastrointestinal Perforation
(usually the terminal ileum or proximal large bowel)
Komplikasi Typhoid
Intra intestinal : Perdarahan usus
Perforasi usus

Ekstraintestinal : Reaktif hepatitis


Pankreatitis tifosa
Miokarditis tifosa
Bronkhitis, pneumonia
Sistemik : Tifoid toksik
Sepsis septik syok
Anemia, DIC

Neuropsikiatri
Ensefalopati, psikosis, meningitis
Diagnosis komplikasi intraintestinal
Perdarahan : occult bleeding/hematoshezia
periksa feses, Hb menurun
Perforasi : gejala akut abdomen dan peritonitis, ada
gas bebas sub diaphragma kanan nampak dengan
foto polos perut dengan 3 posisi.
Crossing: Suhu turun dan nadi meningkat disertai nyeri
abdomen.
PENANGANAN TYPHOID

ANTIBIOTIKA

DIET / NUTRISI ISTIRAHAT/BED REST


Penanganan demam typhoid

Diet rendah selulose, dukungan nutrisi


Istirahat/kurangi exercise/tirah baring
Obat :
Simptomatik (KALAU PERLU)
Antibiotik (seperti dalam tabel)
Penanganan komplikasi :
Perdarahan ringan: Konservatif
Bila perforasi : tindakan bedah
T.1 Perbandingan Reda Demam (Defervescence) Typhoid
Non Komplikata thd fluorokuinolon

Nama Obat Dosis Lama Turun


Pemberian Demam

Siprofloksasin (5) 500mg BID 6 hari 3,60 hari


Ofloksasin (6) 600 mg OD 7 hari 3,40 hari
Pefloksasin (7) 400 mg OD 7 hari 3,10 hari
Fleroksasin (8) 400 mg OD 5 hari 3,40 hari
Levofloksasin (9) 500 mg OD 7 hari 2,43 hari

OD = sekali sehari, BID = dua kali sehari

RHH Nelwan, PIT 2008


T.2.Peningkatan Resistensi S,typhi terhadap
berbagai siprofloksasin selama 10 tahun di Inggris
Tahun Strai MDR Penurun Strains CPLl juga Resisten terhadap
ns no (%) an
suseptib C A Tm Ct Cf
ilitas
CPL
No(%)

1990 248 50(20) 0(0) 0 0 0 0 0


1991 226 48(21) 2(0,9) 1 1 1 0 0
1992 204 49(24) 1(0,5) 0 0 0 0 0
1993 194 49(25) 1(0,5) 1 1 1 0 0
1994 259 94(36) 5(2) 5 5 5 0 0
1995 291 100(34) 8(3) 5 5 5 0 0
1996 210 52(25) 11(7) 7 7 7 0 0
1997 174 23(13) 9(5) 6 6 6 0 0
1998 151 34(23) 32(21) 19 19 19 0 0
1999 179 47(26) 42(23) 25 25 25 0 0

MDR=multi drug resistent, C=chloramph, A=ampisilin, Tm=cotrimosazol,Cf=cefalosporin


T.3 Betalaktam untuk terapi typhoid

Betalaktam Dosis Lama


Pemberian
Ampisilin 4 x 1 gram IV/Oral Dua minggu
Amoksisilin 50-150 Dua minggu
Sefiksim mg/kgBB/hari Sepuluh hari
Seftriakson 10-15/kg BB/hari Tiga hari
4 gram/hari Empat hari
3 gram/hari Enam hari
2 gram/hari
T.4 Berbagai Jenis Antimikroba untuk demam typhoid

Antimikroba Dosis Lama Pemberian


Kloramfenikol Hari ke1 4 x 250 IV/Oral 2 minggu
Hari ke 2 4 x 500 IV/Oral

Kotrimoksazol 2 x 2 tablet Oral 2 minggu


Azitromisin 2 x 500 mg IV/Oral 1 minggu
Aztreonam 3 x 1 gram IV 1 minggu
Pengobatan Karier kronik

Ciprofloksasin 2 x 750 mg 4 minggu


Cotrimoksazole : 2 x 2 tab 3 bulan
Amoksisilin : 100 mg/kgBB/hari + probenecid
30 mg/kgBB/hari 3 bulan
Bila ada kolelithiasis kolesistektomi
Vaksin Tifoid

Tersedia 2 jenis vaksin tifoid : oral dan injeksi


Oral : Ty21AO perlu 3 dosis selama 5 hari.
Ulang tiap 5 tahun.
Vaksi Ag Vi murni, injeksi intra muskular,
dosis tunggal, diulang 3 tahun.
Modifikasi : vaksin conjugate Vi sedang
dikembangkan di Viet Nam, 92 % efektif
RINGKASAN

GEJALA DEMAM TYPHOID KLASIK SERING TIDAK


DITEMUKAN
DIAGNOSIS TYPHOID SERING SULIT BILA DATANG
DENGAN KOMPLIKASI, MISALNYA PNEUMONIA
ATAU KOLESISTITIS, SHG TANPA DISADARI
BAHWA ITU ADALAH KOMPLIKASI TYPHOID
TRILOGI PENGOBATAN DEMAM TYPHOID
MELIPUTI ISTIRAHAT, DIET/NUTRISI, DAN
ANTIMIKROBA
RINGKASAN

UNTUK DEMAM TYPHOID TOKSIK TERAPI


FLUOROKUINOLON TIDAK MEMERLUKAN
PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID, KARENA
ADANYA EFEK IMUNOMODULASI DARI
GOLONGAN OBAT INI, NAMUN
FLUOROKUINOLON TIDAK DAPAT DIBERIKAN
UNTUK WANITA HAMIL DAN RESISTENSI
SEMAKIN MENINGKAT
TELAH DIBICARAKAN BERBAGAI ANTIMIKROBA
UNTUK PENGOBATAN TYPHOID, DENGAN
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MASING-
MASING