Anda di halaman 1dari 10

PERBANDINGAN ANTARA KODE ETIK

BERDASARKAN KONSEP HOMO


SPIRITUS DENGAN KODE ETIK IAI

Oleh :
Anas Isnaeni dan Didik Prasetiyo
Kode Etik IAI
Kode Etik Akuntan Profesional Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI) merupakan adopsi dari Handbook of
the Code of Ethics for Professional Accountants
2016 Edition yang dikeluarkan oleh International
Ethics Standards Board for Accountants of The
International Federation of Accountants (IESBA-
IFAC)
Kode Etik ini terdiri atas tiga bagian yaitu: prinsip
Dasar Etika (bagian A), Akuntan Profesional di
Praktik Publik (bagian B). Akuntan Profesional di
Bisnis (bagian C).
Prinsip dasar etika yang dipakai adalah integritas,
objektivitas, profesional, kompetensi dan kehati-
hatian, kerahasiaan, perilaku profesional
Kode Etik Berdasarkan Homo Spiritus
Homo economicus : manusia dikenali sebagai
individu yang digerakkan oleh rasionalitas
ekonomi dan ketertarikan atas kepentingan
pribadi (self-interest).
Homo sociologicus : mengetengahkan tentang
perhatian pada lingkungan sosial, kebutuhan
psikologis manusia, dan adanya barang publik
Homo spiritus : mengenalkan tentang
spiritualitas manusia dengan Tuhan dan
manusia memiliki empat elemen metafisik,
yaitu nafsu, akal, perasaan, dan hati nurani.
Kode Etik Berdasarkan Homo Spiritus
Berangkat dari konsep manusia sebagai
homo spiritus, kode etik akuntan perlu
dilakukan desain ulang
Kesadaran rasional (dengan prinsip dasar
etika yang sudah ada) untuk elemen nafsu
dan akal
Kesadaran psiko-spiritual untuk elemen
perasaan (meliputi ketulusan dan cinta)
Kesadaran Ilahi untuk elemen hati nurani
Kode Etik Berdasarkan Homo Spiritus
Untuk dapat membentuk akuntan yang
sempurna dengan pemahaman etika yang
mumpuni, cara yang dapat dilakukan adalah
dengan sertifikasi akuntan di bidang etika.
Akuntan profesional akan dilatih untuk
bersikap etis serta mengembangkan kesadaran
rasional, kesadaran psiko-spiritual, dan
kesadaran ilahi melalui sertifikasi.
Pencapaian kesadaran ilahi adalah kunci untuk
membangunkan hati nurani di dalam sebagai
kualitas akuntan etis yang dapat dibentuk
dengan sertifikasi
Kelebihan Kode Etik Homo Spiritus
Lebih bersifat universal
Memiliki cakupan ruang lingkup yang luas
Memiliki derajat kebenaran yang lebih tinggi
Digunakannya keberadaan ruh sebagai God
Spot
Tidak perlu dilakukannya pembaruan kode
etik
Kelemahan Kode Etik Homo Spiritus
Penyusunan naskah kode etik yang lebih sulit
Pelatihan spiritualitas akan sangat sulit
dilakukan untuk memandu pemahaman
kode etik.
Sulit dilakukan sanksi atau pengawasan.
Akuntansi mempunyai hubungan yang erat
dengan materialistik.
Etika ini sangat terkait dengan nilai-nilai
agama.
Kekuatan Kode Etik IAI
Kode etik memiliki ruang lingkup yang jelas.
Mudah dirumuskan dalam bentuk tertulis dan
dilegalkan dalam aturan.
Pengawasan mudah dilakukan atas tindakan dari
para anggotanya.
Memudahkan setiap individu untuk memahami
atas kode etik yang ada.
Kode etik IAI mempunyai keseragaman dengan
kode etik akuntan yang berlaku secara
internasional.
Kelemahan Kode Etik IAI
Ukuran kebenaran etika tersebut hanya
didasarkan pada nilai kebenaran rasionalitas dan
materialistis.
Tidak mengakomodasi perbedaan nilai kebenaran
di suatu tempat dengan tempat yang lain.
Tidak diperhatikannya hubungan manusia dengan
lingkungan.
Dibutuhkannya pembaruan kode etik
menyesuaikan perkembangan terkini.
Kode etik tidak dapat menjadi rujukan untuk kasus
etika terkini yang belum dibahas dalam kode etik.
Kesimpulan
Kode etik yang disusun oleh asosiasi profesi saat ini masih memiliki
kekurangan dengan membatasi bahasan terkait peran manusia
sebagai homo economicus dan dibentuk dengan kesadaran rasional
semata.
Konsep homo spiritus diperlukan untuk dapat menyesuaikan kode
etik menjadi lebih sempurna dan mencakup bahasan tentang
spiritualitas yang mengantarkan manusia pada tindakan etis.
Konsepsi yang masih abstrak dan diperlukannya penyeragaman
untuk semua kalangan akan menjadikan kode etik berdasarkan
homo spiritus sulit dibuat untuk mengakomodasi penyatuan
manusia dengan Tuhan
Selain diperlukannya penyempurnaan kode etik dengan
memasukkan elemen perasaan dan hati nurani,
sertifikasi/pelatihan yang dilakukan memerlukan penjabaran yang
spesifik dan komprehensif sehingga terbentuk akuntan profesional
yang bertindak etis