Anda di halaman 1dari 43

Difusi

Pengertian Difusi
Proses transfer massa molekul zat yang berkaitan
dengan perbedaan konsentrasi melalui suatu batas,
misalnya suatu membran polimer
Perbedaan konsentrasi (suatu zat dalam pelarut dari
bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang
berkonsentrasi rendah) yang ada pada dua larutan
disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi
hingga seluruh partikel tersebar luas secara merata
atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana
perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada
perbedaan konsentrasi.
Pengertian Difusi
Pengertian Difusi
Pengertian Difusi
Pengertian Difusi
Contoh yang sederhana adalah
pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat
laun cairan menjadi manis. Contoh lain
adalah uap air dari cerek yang berdifusi
dalam udara. Difusi yang paling sering terjadi
adalah difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika
terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan
(layer) molekul yang diam dari solid atau
fluida.
Difusi dalam Bidang Farmasetika
Transpor massa yg diterapkan dlm bidang
farmasetika meliputi pelepasan dan disolusi obat
dr tablet, serbuk, dan granul: liofilisitas,
ultrafiltrasi dan proses mekanik lainnya.
Pelepasan obat dari basis salep dan basis
supositoria, lewatnya uap air, gas, obat dan zat
tambahan pd bentuk sediaan melalui lapisan
salut, kemasan, lapisan tipis, dinding wadah
plastik, segel dan tutup, serta permeasi dan
distribusi molekul obat dlm jaringan hidup.
Difusi dalam Bidang Farmasetika
Beberapa Proses berdasarkan difusi yg penting
scr farmasetik
1. Absorpsi
2. Pelepasan Obat
3. Osmosis
4. Ultrafiltrasi dan Dialisis
Difusi dalam Bidang Farmasetika
1. Absorpsi dan eliminasi Obat
Difusi melalui membran biologis merupakan
suatu langkah penting bagi obat untuk memasuki
(absorpsi) atau meninggalkan (eliminasi) tubuh.
Difusi dpt terjadi melalui sel2 lipoid dua lapis
(lipoidal bilayer) difusi transseluler. Difusi melalui
ruang antarsel yg berdekatan (paraseluler).
Difusi menggunakan Transporter membran,
reseptor permukaan sel. Transpor aktif, difusi
terfasilitasi.
Difusi dalam Bidang Farmasetika
2. Pelepasan Obat
Plepasan obat meliputi difusi, disintegrasi,
deagregasi, dan disolusi. Pelpasan obat harus
terjadi sblm obat dpt bekerja aktif scr
farmakologis.
Difusi dalam Bidang Farmasetika
3. Osmosis
Pelarut melewati membran semipermeabel untuk
mengencerkan larutan yg mengandung zat terlarut dan
pelarut. Sistem pelepasan obat osmotik mnggunakan tekanan
osmotik sbg gaya penggerak untuk penghantaran obat
terkontrol. Suatu pompa osmotik sederhana terdiri dari inti
osmotik (mengandung obat dgn atau tanpa zat osmotik) dan
disalut dgn membran semipermeabel. Bentuk sediaan,
sesudah berkontak dgn cairan berair, menyerap airpd
kecepatan yg ditentukan oleh permeabilitas membran
terhadap cairan & tek. Osmotik dr formulasi zat inti. Imbibisi
osmorik air ini mengakibatkan tekanan hidrostatik tinggi di
dalam pompa, yg menyebabkan larutan obat mengalir melalui
lubang penghantaran.
Difusi dalam Bidang Farmasetika
4. Ultrafiltrasi dan Dialisis
Ultrafiltrasi digunakan utk memisahkan
partikel koloid dan makromolekul dgn
menggunakan membran.Tek. Hidraulik digunakan
utk mendorong pelarut melewati membran,
sedangkan membran mikroberpori mencegah
lewatnya molekul zat terlarut yg besar.
Dialisis sbg suatu proses pemisahan berdasarkan
kecepatan lewat yg tdk sama antara zat terlarut
daan pelarut melaluimembran berpori
Difusi Keadaan Tunak
Steady State
Difusi Masa Tunak
Hk. Fick I, Sejumlah M benda yg mengalir
melalui satu satuan penampang melintang, S,
dr suatu pembatas dlm satu satuan waktu t
dikenal sebagai aliran dgn simbol J.
J = dM/S dt
Aliran brbanding lurus dgn prbedaan
konsentrasi, dC/dx
J = -D dC/dx
Hukum Fick II
Hukum Fick II, perubahan Konsentrasi
terhadap waktu dalam daerah tertentu
sebanding dgn perubahan gradien konsentrasi
pada titik itu dalam sistem tersebut.
Stady state difusi
KEADAAN TUNAK ( konsentrasi yang dianggap sama
pada setiap posisi)
Pada percobaan difusi, larutan dalam
kompartemen reseptor secara konstan dikeluarkan
dan diganti dengan pelarut baru untuk menjaga
supaya konsentrasi berada pada tingkat yang
rendah kondisi sink.

Kompartemen sebelah kiri merupakan sumber dan


kompartemen sebelah kanan merupakan
penampung (sink).
Stady state difusi
Stady state difusi
Pada Gambar di atas menggambarkan difusi tunak
melalui suatu selaput tipis dengan ketebalan h.
Dalam hal ini, koefisien difusi dianggap konstan
karena larutan pada kedua sisi selaput encer.
Konsentrasi pada kedua sisi selaput, Cd dan Cr, dijaga
konstan dan kedua sisi diaduk dengan baik.
Difusi terjadi dengan arah dari konsentrasi yang lebih
tinggi (Cd) ke konsentrasi yang lebih rendah (Cr).
Setelah waktunya cukup, keadaan tunak dicapai dan
konsentrasi menjadi konstan pada seluruh titik dalam
selaput, seperti diperlihatkan dalam Gambar 6.
Stady state difusi
Pelepasan Obat
Penglepasan dari bentuk-bentuk sediaan dan
kemudian diabsorpsi dlm tubuh dikontrol oleh
sifat fisika-kimia dari obat dan bentuk yang
diberikan, serta sifat-sifat fisika-kimia dan fisiologi
dari sistem biologis. Konsentrasi obat, kelarutan
dalam air, ukuran molekul, betuk kristal, ikatan
protein dan pKa adalah faktor-faktor fisika kimia
yang harus dipahami untuk mendesain sistem
pemberian yg menunjukkan karakteristik
terkontrol atau karakteristik penglepasan
terkendali.
Pelepasan Obat
Pelepasan obat merupakan proses
multilangkah yang meliputi difusi, disintegrasi,
deagregasi, dan disolusi.
Contoh: pelepasan steroid (hidrokortison, dll)
dari krim dan salep topikal.
Pelepasan obat harus terjadi sebelum obat
dapat bekerja aktif secara farmakologis.
DIFUSI BIOLOGIS ABSORBSI DAN SEKRESI
OBAT DI USUS
DIFUSI BIOLOGIS ABSORBSI DAN SEKRESI
OBAT DI USUS
DIFUSI BIOLOGIS ABSORBSI DAN SEKRESI
OBAT DI USUS
ABSORBSI OBAT PADA GASTROINTESTINAL
Obat melintas melalui membran hidup mengikuti 2 kelas transpor
utama, yaitu transpor pasif dan transpor yang diperantarai pembawa.

Perpindahan pasif mencakup suatu difusi sederhana yang didorong


oleh perbedaan konsentrasi obat pada kedua sisi membran.

Dalam absorpsi usus, secara umum obat bergerak dengan cara


transpor pasif dari daerah berkonsentrasi tinggi dalam saluran
gastrointestinal menuju daerah berkonsentrasi rendah dalam sirkulasi
sistemik. Dengan menganggap bahwa obat yang diabsorpsi segera
mengalami pengenceran saat mencapai aliran darah, maka kondisi
sink dapat dipertahankan setiap saat.
ABSORBSI OBAT PADA GASTROINTESTINAL
Transpor yang diperantarai pembawa dapat digolongkan sebagai transpor
aktif (yaitu membutuhkan sumber energi) atau sebagai difusi terfasilitasi
(yaitu tidak bergantung pada sumber energi seperti adenosin trifosfat, ATP).

Pada transpor aktif, obat dapat bergerak dari daerah berkonsentrasi rendah
ke daerah berkonsentrasi tinggi melalui kerja pompa sistem transpor
biologis ini.

Difusi molekuler obat melintasi mukosa usus sudah lama diperkirakan


sebagai jalur utama untuk absorpsi obat ke dalam tubuh.

Absorpsi obat dengan cara difusi melalui sel usus (enterosit) atau di antara
sel-sel (difusi paraseluler) diatur oleh tingkat ionisasi obat, kelarutan dan
konsentrasinya dalam usus, dan permeabilitas membran obat tersebut.
ABSORBSI OBAT PADA GASTROINTESTINAL
Membran biologis umumnya bersifat lipofilik, dan obat menembus
sawar ini umumnya dalam bentuk molekul yang tidak terdisosiasi.

Brodie dkk merupakan peneliti pertama yang menerapkan prinsip


yang dikenal dengan Hipotesis partisi-pH, bahwa obat diabsorpsi
dari saluran gastrointestinal secara difusi pasif bergantung pada fraksi
obat yang tidak terdisosiasi pada pH usus.

Koefisien partisi antara membran dan cairan gastorintestinal bernilai


besar untuk spesies obat yang tidak terdisosiasi dan memudahkan
transpor bentuk molekul dari usus melalui dinding mukosa dan ke
dalam sirkulasi sistemik.