Anda di halaman 1dari 34

TRAUMA LAHIR

Dr. dr. Rocky Wilar, Sp.A(K)


Pendahuluan

Trauma lahir merupakan salah


satu penyebab utama dari
morbiditas dan mortalitas
neonatus
Trauma lahir merupakan trauma
yang paling dapat dicegah.
Faktor-Faktor Predisposisi
Faktor Ibu: Faktor janin
Primigravida Presentasi abnormal
Disproporsi Sungsang, presentasi
cepalopelvik, muka
Ibu bertubuh BBLR atau BBLSR
pendek, Makrosomia janin
Kelainan panggul Kepala janin besar
ibu Kelainan janin
Partus lama atau partus Intervensi obstetrik
presipitatus Pemakaian forsep letak
Distosia tinggi atau ekstraksi vakum
Oligohidraminion Versi dan ekstraksi
Jenis-Jenis Trauma

KEPALA
Ekstrakranial
Kranial
Intrakranial
Syaraf
Wajah
Tulang
Intra abdomen
Kaput Suksedaneum Hematoma sefal

Trauma Ekstrakranial
Perdarahan subgaleal dengan fraktur tengkorak
Kaput Suksedaneum

Paling sering ditemukan


Tekanan pada kulit kepala
terhadap serviks
Akumulasi darah/serum
subkutan, ekstraperiosteal Komplikasi
Langka
Melintasi garis sutura
Kaput hemorargik
Menghilang dalam beberapa
Infeksi
hari
Ikterus
TIDAK diperlukan terapi
Anemia
DB-hematoma sefal
Kaput suksedaneum
Kulit
Epikranial
aponeuroses

Periosteum
Tengkorak
Hematoma Sefal

Perdarahan sub periosteal akibat


ruptur pembuluh darah antara
tengkorak dan periosteum.
Benturan kepala janin dengan
pelvis Komplikasi
Tidak ada perluasan melintasi Ikterus, anemia
garis sutura Infeksi: aspirasi diagnostik
Paling umum terlihat di parietal
Sembuh dalam waktu 2-8
tetapi kadang-kadang terjadi pada
tulang occipital minggu
Ukurannya bertambah sejalan Kalsifikasi mungkin bertahan
dengan bertambahnya waktu selama > 1 tahun
5-18% berhubungan dengan
fraktur tengkorak foto rontgen
Forsep atau vakum
Kaput suksedaneum
Kulit Hematoma sefal
Epikranial
aponeurose
s

Periosteum

Tengkorak
Darah di bawah galea apneurosis
Mid-forceps dan vakum
Pembengkakan kulit kepala,
ekimoses
Mungkin meluas ke daerah

Perdarahan periorbital dan leher


Subgaleal Seringkali berkaitan dengan trauma
kepala (40%)
Perdarahan intrakranial atau
Fraktur tengkorak
Adanya gambaran ini tidak berkorelasi
dengan beratnya perdarahan
Anemia/hipovolemia/syok
Diagnosis umumnya bersifat klinis:
Massa padat berair yang berkembang
di kepala
Berkembang secara bertahap dalam
waktu 12-72 jam
Hematoma menyebar di selruruh
kalvarium
Perdarahan Pembengkakan melintasi garis sutura
Penatalaksanaan: suportif
Subgaleal
Observasi ketat untuk mendeteksi
kemajuan
Memantau hematokrit
Memantau hiperbilirubinemia
Pemeriksaan untuk koagulopati
mungkin diindikasikan
Kulit Caput Hematoma sefal
Epicranial
aponeuroses Perdarahan subgaleal
Perdarahan
extradural
Periosteum

Tengkorak

Dura
Lesi Pembengkakan Melintasi ke-
eksternal setelah garis hilanga
lahir sutura n darah
akut

Caput Lunak tidak ya tidak


succedaneum

Hematoma Padat, tegang ya tidak tidak


sefal
Hematoma Padat, berair ya ya ya
subgaleal
Fraktur Tengkorak
Tidak umum terjadi karena
tengkorak dapat ditekan &
sutura terbuka
Forsep/partus lama
Linear/terdepresi
Biasanya tanpa gejala
Perdarahan intrakranial
mungkin menyebabkan
gejala
Fraktur Tengkorak

Fraktur Tengkorak Linear


Fraktur pada bagian cembung
tengkorak
Mungkin terjadi hematoma sefal
Depressed Skull Fractures
Lekukan ping-pong
Biasanya tanpa gejala
Penatalaksanaan:
Konservatif: elevasi fraktur dengan
vakum
Elevasi melalui pembedahan
Prognosis: sembuh dalam
beberapa bulan
Perdarahan Intrakranial

Epidural

Subdural

Subarachnoid
Perdarahan Epidural

JARANG :2,2% dari semua perdarahan intrakranial


Trauma pada bagian tengah arteri meningeal
Gejala klinik:
Tidak spesifik: fontanel yang menonjol
Spesifik: kejang lateralisasi, deviasi mata
Diagnosis:
CT kepala
Foto rontgen: fraktur tengkorak yang terkait dengan keadaan
perdarahan
Terapi: sebagian besar memerlukan evakuasi
secara pembedahan
Perdarahan Subdural

Paling sering: 73% dari semua perdarahan


intrakranial
Trauma pada vena dan sinus vena serta
laserasi:
Tentorium
Falx
Vena serebral superfisial
Osteodiastasis occipital
Gejala klinis (dalam 24 jam):
Respirasi: apnea, sianosis
SSP: kejang, defisit fokal, letargi, hipotonia
Fossa posterior : tekanan intrakranial:apnea,
pupil tidak simetris, deviasi mata, koma
Perdarahan Subdural (lanj.)

Diagnosis:
CT kepala
MRI: untuk melihat batas-batas
hematoma fossa posterior
Foto rontgen: yang terkait
dengan fraktur tengkorak
Terapi:
Konservatif (suportif) atau
evakuasi pembedahan
Perdarahan
Subarachnoid

Insidens: 0,1 per 1000


kelahiran
Trauma terhadap vena
penghubung pada ruang
subarachnoid Diagnosis:

Gejala klinis: CT kepala


Bisa tanpa gejala CSS: berdarah
SSP: kejang biasanya pada Terapi:
Konservatif
hari ke-2, antar kejang
terlihat normal (suportif)
Memantau
hidrosefalus pasca
perdarahan
Trauma Syaraf dan Sumsum Tulang
Belakang

Disebabkan oleh hiperekstensi,


ketegangan, dan peregangan
berlebihan yang terjadi pada rotasi
simultan
Trauma ini dapat berkisar dari
neurapraksia yang terlokalisasi hingga
transeksi syaraf lengkap atau transeksi
modula spinalis
Trauma Sumsum Tulang Belakang

Diakibatkan oleh traksi atau rotasi berlebihan


Lokasi utama cedera:
Daerah servikal bawah dan toraks atas untuk
persalinan sungsang:
Daerah servikal atas atau tengah untuk persalinan
verteks
Trauma Sumsum Tulang Belakang (lanj.)

Presentasi klinis:
Tidak adanya fungsi motorik ke arah distal:
fungsi pernafasan
Hilangnya refleks tendon dalam
Gangguan kontrol sirkulasi ketidakstabilan suhu
Konstipasi, retensi urin
Diagnosis: penilaian terhadap luasnya cedera: CT, MRI
Penatalaksanaan:
Resusitasi
Pencegahan cedera lebih lanjut
Dukungan untuk hilangnya fungsi neurologis
Nervus Palsi Fasialis

Etiologi
Kompresi syaraf tepi,
disebabkan oleh: forsep,
partus lama, kompresi in
utero Penatalaksanaan
Trauma SSP: pada fraktur Suportif: penutup mata protektif,
tulang temporal lubrikasi kornea setiap 4 jam
Manifestasi Klinis Mulai pemberian asupan
Paralisi awitan dini
Prognosis
Unilateral/bilateral
85% sembuh dalam 1 minggu
Sisi yang terkena kelainan
rata/berada di posisi lebih 90% sembuh dalam 1 tahun
turun Pembedahan jika tidak sembuh
Lebih jelas saat menangis sendiri dalam 1 tahun
Trauma Plexus
Brakialis
Etiologi
BMK >3500g pada 50-70%
kasus
Presentasi abnormal atau
persalinan disfungsional
Trauma bilateral pada 8-23%
Tanda-tanda gawat janin Lesi traumatis terkait dengan
pada 44% trauma plexus brakialis:
Distosia bahu Fraktur klavikula 10%
Persalinan sungsang
Fraktur humerus 10%
Subluksasi servikalis 5%
Trauma cervical 5-10%
Palsi fasialis (10-20%)
Palsi Erb

Manifestasi Klinis
Ekstremitas yang kena
berada:
Dalam posisi aduksi
Dalam posisi pronasi dan
terotasi secara internal
Etiologi Relfleks Moro, biseps dan
Cedera akibat regangan C5-C7
radial tidak ada
(pleksus atas) Refleks genggam biasanya
90% kasus
ada
2-5% paresis nervus frenikus
Diagnosis:
ipsilateral
Pemeriksaan klinis
Postur "waiter's tip
Foto rontgen untuk
Gawat nafas jika n. frenikus
menyisihkan kemungkinan
trauma tulang juga cedera
Palsi Klumpke
Etiologi
Cedera karena regangan terhadap C8-T1 (pleksus
brakialis)
10% kasus
Diagnosis:
Pemeriksaan klinis
Foto rontgen untuk menyisihkan kemungkinan cedera
tulang
Manifestasi Klinis
Refleks genggam tidak ada
Jari berada dalam posisi seperti akan mencakar
(Clawing)
Terkait dengan:
Sindrom Horner (ptosis, myosis, anhidrosis): Trauma
terhadap serabut simpatis T1
Trauma Pleksus Brakialis: Penatalaksanaan

Pencegahan kontraktur
Untuk mencegah ketidaknyamanan: Imobilisasi
ekstremitas secara perlahan melintang di atas
perut untuk minggu pertama lalu
Mulailah latihan pasif pada semua sendi
Splint penahan pergelangan tangan
Eksplorasi pembedahan (???) jika tidak terjadi
pemulihan fungsional bermakna dalam 3 bulan
Eksplorasi setelah 6 bulan hanya memberikan
sedikit keuntungan
Trauma Pleksus Brakialis:
Prognosis

Bergantung pada berat dan luas lesi:


Regangan - 90-100% pemulihan dalam 1 tahun
Ruptur memerlukan koreksi dengan pembedahan
Avulsion - memerlukan koreksi dengan pembedahan
88% sembuh dalam waktu 4 bulan; 92% sembuh
dalam waktu 12 bulan; 93% sembuh dalam 48 bulan
Defisit residual jangka panjang
Kelainan pembentukan tulang yang progresif
Atrofi otot
Kontraktur sendi
Gangguan pertumbuhan ekstremitas
Trauma Syaraf Laringeal

Trauma terjadi akibat postur di dalam rahim atau selama


persalinan ketika kepala terotasi dan menekuk ke arah lateral
Ditemui bersamaan dengan tangisan serak atau stridor
pernafasan
Diagnosis: direct laryngoscope
Terapi: Suportif
Pemberian asupan dalam jumlah kecil dan sering ketika
bayi stabil
Meminimalkan risiko aspirasi
Bayi dengan kelainan bilateral mungkin memerlukan
pemberian asupan dengan cara sonde dan trakeotomi
Prognosis: pemulihan spontan dalam waktu 4-6 minggu,
pemulihan penuh dalam waktu 6-12 bulan
Fraktur tulang panjang
Diagnosis: Foto rontgen
Tidak umum: 0,1 per
1000 kelahiran hidup Tata laksana:
Faktor risiko: Splinting/immobilisasi dalam posisi
Sungsang aduksi
Bedah sesar Reduksi tertutup dan pemasangan
Berat lahir rendah gips jika bergeser
Klinis:
Pergerakan menurun Mengamati adanya cedera nervus
Pembengkakan dan radial
nyeri pada Pembentukan kalus terjadi dan
pergerakan pasif pemulihan lengkap diharapkan terjadi
Obgyn mungkin dalam 2-4 minggu.
merasakan atau
mendengar bunyi fraktur Dalam 8-10 hari, pembentukan kalus
pada saat persalinan cukup untuk menghentikan imobilisasi
Trauma Organ Dalam Perut
Jarang Tindakan diagnostik :
Riwayat persalinan yang sulit Foto rontgen abdomen:

Perdarahan merupakan Tidak bersifat diagnostik


komplikasi akut yang paling
Mungkin menunjukkan
cairan peritoneal bebas
serius USG: mungkin
Hati merupakan organ internal memperlihatkan hati yang
yang paling sering mengalami robek, limpa, atau ginjal
kerusakan Parasentesis bila tidak ada
USG/CT
Gejala-gejala klinis:
Terapi:
Perdarahan: fulminant (syok) atau
Penggantian volume
perlahan
Kulit abdomen di atasnya: Mengoreksi koagulopati
perubahan warna menjadi Pembedahan untuk
kebiruan mengontrol perdarahan