Anda di halaman 1dari 16

Tata Cara Pemulasaran

JenazahOrang Dengan
HIV dan AIDS
UPT Puskesmas Kembangbahu
Lamongan
Belum semua masyarakat memahami penularan
HIV & AIDS dari satu orang ke orang lain secara benar.

Kekhawatiran masih adanya virus HIV yang


melekat pada jenazah ternyata bisa diantisipasi

Memahami mengenai tata cara perawatan jenazah


Kesiapan penggunaan alat pelindung diri dan
Penatalaksanaan peralatan
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan
kemudian menimbulkan AIDS (Depkes, 1997).
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah
kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem
kekebalan tubuh oleh HIV (Depkes, 1997).
HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang
bertugas menangkal infeksi
Cara Penularan
3 Jalur

Melalui hubungan seksual dengan seseorang yang telah


terinfeksi HIV tanpa memakai pengaman/pelindung

Melalui tranfusi darah atau alat-alat yang telah


terpapar HIV

Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada janin yang


dikandungnya pada saat persalinan atau kepada bayi
yang disusuinya
Cara Penularan
PEMULASARAAN JENAZAH ODHA

Seseorang yang meninggal disebabkan oleh penyakit menular


seperti HIV & AIDS adalah suatu kematian yang wajar, karena
kematian merupakan bagian dari siklus kehidupan; yaitu lahir,
hidup dan mati.
Masyarakat dan keluarga terdekat tidak perlu khawatir dan
takut akan terjangkit penyakit menular, termasuk HIV & AIDS.
Namun kita tetap mempertimbangkan saran dari kalangan
medis yaitu kewaspadaan universal
Prinsip Dalam Pemulasaraan
Jenazah ODHA :
1. Selalu menerapkan Kewaspadaan Universal
(memperlakukan setiap cairan tubuh, darah dan jaringan
tubuh manusia sebagai bahan yang infeksius).
2. Pastikan jenazah sudah didiamkan selama kurang lebih 4
(empat) jam sebelum dilakukan perawatan jenazah. Ini
perlu dilakukan untuk memastikan kematian seluler
(matinya seluruh sel dalam tubuh).
3. Tidak mengabaikan budaya dan agama yang dianut
keluarga.
4. Tindakan petugas mampu mencegah penularan.
Ketentuan Umum Penanganan
Jenazah :
1. Semua petugas/keluarga/masyarakat yang menangani jenazah sebaiknya
telah mendapatkan vaksinasi Hepatitis-B sebelum melaksanakan
pemulasaraan jenazah (catatan: efektivitas vaksinasi Hepatitis-B selama 5
tahun).
2. Hindari kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh lainnya.
3. Luka dan bekas suntikan pada jenazah diberikan desinfektan.
4. Semua lubang-lubang tubuh, ditutup dengan kasa absorben dan diplester
kedap air.
5. Badan jenazah harus bersih dan kering.
6. Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh di buka lagi.
7. Jenazah tidak boleh dibalsem atau disuntik untuk
pengawetan atau autopsi, kecuali oleh petugas khusus.
8. Dalam hal tertentu autopsi hanya dapat dilakukan setelah mendapat
persetujuan dari pimpinan Rumah Sakit.
Kewaspadaan Universal
meliputi :
1. Pengelolaan alat kesehatan habis pakai.
2. Cuci tangan dengan sabun guna mencegah infeksi silang.
3. Pemakaian alat pelindung diri, misalnya pemakaian sarung
tangan untuk mencegah kontak dengan darah serta cairan
infeksius yang lain.
4. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah
perlukaan.
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.
6. Desinfeksi dan sterilisasi untuk alat yang digunakan ulang.
7. Pengelolaan linen.
1. Sarung tangan latex
2. Gaun pelindung
3. Kain bersih penutup jenazah
4. Klem dan gunting
5. Plester kedap air
6. Kapas, kasa absorben dan
pembalut
7. Kantong jenazah kedap air
8. Wadah bahan infeksius
9. Wadah barang berharga
10. Brankart jenazah
Petugas/orang yang menangani jenazah harus :
1. Cuci tangan.
2. Memakai sarung tangan, gaun, masker.
3. Lepas selang infus dll, buang pada wadah infeksius.
4. Bekas luka diplester kedap air.
5. Lepaskan pakaian dan tampung pada wadah khusus
lekatkan kasa pembalut pada perineum (bagian antara
lubang dubur dan alat kelamin) dengan plester kedap air
Letakkan jenazah pada posisi terlentang.
6. Letakkan handuk kecil di belakang kepala.
7. Tutup kelopak mata dengan kapas lembab, tutup telinga
dan mulut dengan kapas/kasa.
8. Bersihkan jenazah.
9. Tutup jenazah dengan kain bersih disaksikan keluarga.
10. Pasang label sesuai kategori di pergelangan kaki/ibu jari
kaki.
11. Beritahu petugas kamar mayat, bahwa pasien
meninggal adalah penderita penyakit menular.
12. Masukkan jenazah ke dalam kantong jenazah.
13. Tempatkan jenazah ke dalam brankart tertutup dan
dibawa ke kamar mayat.
14. Cuci tangan dan lepas gaun untuk direndam pada
tempatnya, buang bahan yang sekali pakai pada tempat
khusus.
Prosedur Pemulasaraan/Perawatan di Kamar
Jenazah:

1. Siapkan larutan Klorin 0,5%.


2. Kenakan pakaian yang memenuhi standar kewaspadaan universal.
3. Pindahkan jenazah ke meja tempat memandikan jenazah, tidak diperbolehkan
memandikan jenazah dengan dipangku.
4. Lepaskan semua baju yang dikenakan jenazah.
5. Siram seluruh tubuh jenazah dengan larutan klorin 0,5% secara merata keseluruh tubuh
mulai dari selasela rambut, lubang telinga, lubang hidung, mulut, tubuh dan kaki; kemudian
tunggu hingga 10 menit.
6. Mandikan jenazah dengan sabun dan air mengalir.
7. Bilas jenazah dengan air mengalir.
8. Keringkan jenazah dengan handuk.
Lanjutan ...
9. Sumbat semua lubang tubuh jenazah yang mengeluarkan cairan dengan
kapas.
10. Bungkus jenazah dengan kain kafan atau pembungkus lain sesuai dengan
agama/kepercayaannya.
11. Selesai ritual keagamaan, jenazah dimasukkan ke dalam kantong plastik
dengan ketebalan tertentu.
12. Pindahkan jenazah langsung ke peti jenazah disaksikan pihak keluarga,
kemudian peti ditutup kembali (peti jenazah disesuaikan dengan
kemampuan dan adat istiadat masyarakat atau agama yang dianut).
13. Jenazah diangkut ke dalam mobil jenazah untuk diantarkan ke rumah
duka.
14. Siram meja tempat memandikan jenazah dengan arutan klorin 0,5% dan
bilas dengan air mengalir.
15. Lepaskan perlengkapan kewaspadaan universal (sesuai protap
pemakaian kewaspadaan universal).
Terima Kasih..
PROSEDUR PEMBUATAN
LARUTAN KLORIN 0,5%

1. Kenakan sarung tangan karet yang tebal.


2. Siapkan 25 liter air dalam bak besar.
3. Siapkan 175 gram kaporit 70% atau 200 gram kaporit 60%.
4. Letakkan kaporit di atas selembar kain berukuran 40x40 cm,bungkus
dengan kain tersebut dengan mengikat keempat ujung-ujungnya.
5. Haluskan kaporit dengan pemukul.
6. Masukkan kaporit terbungkus kain tersebut dalam air, remas remas
untuk melarutkan hingga larut rata.
7. Larutan klorin dibagi menjadi dua tempat, satu tempat untuk
memandikan jenazah dan satu tempat lainnya untuk dekontaminasi alat.

Catatan : Kaporit sebagai bahan dasar pembuatan larutan klorin ini


dapat diperoleh di toko-toko kimia.