Anda di halaman 1dari 123

PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

– P3 (Perkebunan, Perhutanan, Pertambangan)


NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
UNDANG-UNDANG

UU RI NOMOR 12 TAHUN 1985


sebagaimana telah diubah terakhir dengan
(s.t.d.t.d.) UU RI NO 12 TAHUN 1994
tentang PAJAK BUMI DAN BANGUNAN untuk
P3 (Pertambangan, Perhutanan,
Perkebunan)

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Latar Belakang

Berlakunya UU PDRD
Perubahan Definisi Nomor 28 Tahun 2009 untuk
Objek Pajak PBB PBB Sektor P 2
Sektor P3

Penerapan PMK
Nomor 139/PMK.03/2014
tentang Klasifikasi dan Penetapan NJOP Sebagai
Dasar Pengenaan PBB

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Dasar Hukum
• PER-64/PJ/2010 tentang Pengenaan PBB Sektor Perkebunan
Sektor • SE-149/PJ/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur
Perkebunan Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010

Sektor • PER-36/PJ/2011 tentang Pengenaan PBB Sektor Perhutanan


• SE-89/PJ/2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan PER-36/PJ/2011
Perhutanan

• SE-47/PJ.6/1999 tentang Penyempurnaan Tata Cara Pengenaan PBB


Sektor Sektor Pertambangan Non Migas Selain Pertambangan Energi Panas
Bumi dan Galian C Sebagaimana diatur dengan SE-26/PJ.6.1999;
Pertambangan • SE-48/PJ/2011 tentang Tata Cara Pengenaan PBB Sektor Pertambangan
Minerba PBB Sektor Pertambangan Non Migas selain Pertambangan Energi Panas
Bumi dan Galian C.

Sektor • PMK15/PMK.03/2012 tentang Penatausahaan dan Pemindahbukuan PBB


Pertambangan Migas dan Panas Bumi
• PER-11/PJ/2012 tentang Tata Cara Pengenaan PBB Migas dan Panas
Migas dan Bumi
Pabum • SE-21/PJ/2012 tentang Tata Cara Penatausahaan PBB Migas dan Panas
Bumi

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Pengertian PAJAK

 Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara


yang terutang oleh orang pribadi atau badan
yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-
Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan
secara langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. (Pasal 1 angka 1 UU
Nomor 28 Tahun 2007 tentang KUP)

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


PAJAK BUMI DAN BANGUNAN P-3
ADALAH

PAJAK KEBENDAAN ATAS


K BUMI DAN/ATAU BANGUNAN
A
R
A
K
T
E PAJAK OBJEKTIF
R
I
S PAJAK PUSAT – PBB P3
T
I
K PAJAK LANGSUNG

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Contoh SPPT

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M. 7


OBYEK PAJAK

BUMI BANGUNAN

PERMUKAAN BUMI
YG MELIPUTI TANAH KONSTRUKSI TEKNIK
DAN PERAIRAN YANG DITANAM ATAU
PEDALAMAN SERTA LAUT DILEKATKAN SECARA
WILAYAH INDONESIA, TETAP PADA TANAH
DAN TUBUH BUMI DAN/ATAU PERAIRAN
YANG ADA DI BAWAHNYA

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


BUMI Ps. 1

 Adalah
permukaan
bumi dan
TUBUH tubuh bumi
yang ada di
bawahnya.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Hutan

Kebun
Desa
Usaha Bidang
Kota
Perikanan
Tambang

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


OBJEK PAJAK
BANGUNAN

TERMASUK DALAM PENGERTIAN BANGUNAN ADALAH :


•Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan
seperti hotel, pabrik dan emplasemennya, dan lain-lain yang merupakan
satu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut
•Jalan tol
•Kolam renang
•Pagar mewah
•Tempat olah raga
•Galangan kapal, dermaga
•Taman mewah
•Tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak
•Fasilitas lain yang memberikan manfaat

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Bukan Objek Pajak PBB
Obyek Pajak yang tidak dikenakan PBB adalah obyek
pajak yang :
a. Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di
bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan
nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh
keuntungan;
b. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang
sejenis dengan itu;
c. Merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan
wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang
dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani
suatu hak;
d. Digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan
asas perlakuan timbal balik;
e. Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi
internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.
Pasal 3 ayat (1)
UU PBB NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
TAMAN MEMORIAL GRAHA SENTOSA
MAKAM MODERN PEMBAWA SEJAHTERA

Bila selama ini yang dijajakan rumah, apartemen, mal, trade center, vila
dan sejenisnya, Taman Memorial Graha Sentosa (200 ha) menawarkan
rumah masa depan alias pemakaman. Lokasi di jalan Raya Teluk Jambe,
Desa Wanajaya, Kec Teluk Jambe, Kab Karawang, Jawa Barat. Menurut
pengembangnya, PT Permata Bumi Kencana (PBK), ini proyek
pemakaman modern pertama yang ditata berdasarkan feng shui.
Perancangnya Grand master Feng shui Yap Cheng Hai (60-an) dan murid
seniornya Sidhi Wiguna Teh.

“Punya makam dengan feng shui yang baik akan memberikan efek besar
terhadap kesuksesan kesejahteraan dan kebahagiaan anak cucu”, kata
Sidhi. Tahap pertama akan dikembangkan 50 ha dengan kaveling 11.000
unit. Mulai dipasarkan sejak Januari 2004, proyek ditargetkan sudah bisa
dihuni Juni 2004. Harga bervariasi mulai dari Rp 11.5 juta untuk tipe
single dengan ukuran 10 m2 hingga Rp 1 Milyar untuk tipe royal family
dengan luas 864 m2.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


“Sampai kini sudah laku 50 kaveling”, ujar Gunawan Wijaya, General
Manager Marketing PT PBK. Agar penghuni dan pengunjung makam
nyaman, pemakaman dikembangkan dengan konsep taman sekaligus
areal wisata. Hanya 60% dari seluruh tanah yang dibangun untuk
makam, sesanya danau dikelilingi taman hijau. Fasilitasnya komplet,
ada gereja, mushola, vihara dan restoran. Pemakaman dijaga 24jam
layaknya perumahan elit. Jadi saatnya tiba, Anda boleh tenang
beristirahat di dalamnya.
Sumber : Tabloid Properti Vol. 1, No. 014, 1 April – 1 Mei 2004

TPU ini didesain sesuai dengan standar International Cemetery and


Funeral Association – sebuah organisasi yang menjadi standar
internasional di bidang industri pemakaman, konsumen dijamin bisa
menempati kavelingnya (Hak Pakai) selama 30 tahun.
Biaya tanah tersebut masih harus ditambah biaya jalan dan pembatas
jalan sesuai dengan tipe, antara Rp 1 Juta dan Rp 48 juta, dana abadi
perawatan antara Rp 500.000 dam Rp 43.2 juta serta pajak
Sumber : Kompas, 24 Juni 2004, hal. 1 kolom 7.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


KUBURAN TAK HARUS ANGKER
Malah sebaliknya, mengunjungi makam keluarga sama asyiknya
dengan berekreasi. Karena di kompleks pemakaman elit bernama
SANDIEGO HILLS MEMORIAL PARK AND FUNERAL HOMES
seluas 500 ha (5.000 m2) di Karawang itu dilengkapi kalom renang,
restoran, sarana bermain dan sarana olah raga. Kolam renang
berukuran olimpic size bisa menampung 500 pengunjung sekaligus.
Dan di restoran ada pizza dan masakan italian food lainnya, serta menu
tradisional. Restoran ini bisa menampung 200 tamu sekaligus.
Proyek 10 Trilyun
Untuk mewujudkan kompleks pemakaman terbesar, termegah dan
termodern di dunia itu, Mochtar Riady, bos Lippo Group,
menghabiskan modal Rp 10 Trilyun.
“Di sini udara segar, anginnya banyak, mudah dijangkau dari arah
manapun, karena terletak di pinggir jalan tol, tidak mengalami macet.
Tempatnya sangat luas, aman dan nyaman. Tidak ada betor ,suka
meminta-minta, pada pengunjung makam. Jadi, orang yang datang ke
sini tidak terasa seperti datang ke kompleks pemakaman. Jauh dari
kesan angker,” jelas Suziany Japardy, Associate Director Sandiego
Hills Memorial Park.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Semua Agama
Dalam kompleks pemakaman Sandiego Hills ini, semua penganut agama
dan orang dari semua suku bisa ditampung. Baik mereka yang beragama
Islam, Kristen, Hindu, Budha maupun Khonghutju. Demikian pula bagi mereka
berdarah Truyan dan berdarah sasak yang punya adat meletakkan jenazah di
permukaan tanah.
Bagi mereka yang beragama Islam, mereka dimakamkan di kompleks
yang bernama Heavenly Garden (Taman Surga). Dikompleks ini makamnya
sudah diarahkan ke Kiblat. Bagi jenazah yang beragama Kristen, mereka
ditempatkan di kompleks yang bernama Garden of Creation . Di sini keluarga
bisa melakukan kreasi membangun kuburan anggota keluarganya sesuai
selera asal tidak bertentangan dengan peraturan kompleks pemakaman.
Sedangkan bagi WNI keturunan Cina, mereka dimakamkan di kompleks
Garden of Properity and Joy (Taman Kebahagiaan dan Kesenangan). Di
atas makam, biasanya keluarga akan membangun gapura tempat
persembahan (Bong Pay) . Bagi warga yang berasal dari suku Sasak dan
Truyan yang mempunyai budaya meletakkan jenazah dipermukaan tanah, di
Sandiego Hills juga ada makam tipe Mausoleum. Peti jenazah disimpan dalam
kotak-kotak yang terbuat dari beton. Bagi warga keturunan Cina dan penganut
Hindu Bali yang mempunyai kebiasaan membakar jenazah hingga menjadi abu,
di

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Sandiego Hills juga ada rumah untuk menyimpan guci-guci yang berisi abu
jenazah. Makam seperti ini disebut tipe Columbarium.
Persiapan Makam Sendiri
Tanah makam di sini, harganya berkisar Rp 3.000.000 sampai Rp
30.000.000 per m 2. Peminat bisa memesan tempat dan mengangsur
hingga 50 kali bayar. “Tidak ada kan makam bisa dikredit. Di sini pembeli
juga cukup sekali bayar, tidak ada biaya pajak tiap tahun, tidak ada biaya
perawatan maupun kebersihan, “ terang Suzie.
Peristiwa kematian merupakan hal ynag tidak diketahui kapan akan
terjadi. Tapi semua orang pasti akan mati. Biasanya disaat ada anggota
keluarga yang meninggal, keluarga yang sedang ditimpa musibah
mengalami kepanikan, sering tidak sempat mengurus tanah pemakaman.
Akhirnya anggota keluarga mereka dimakamkan ditempat yang
sedapatnya. Padahal almarhum semasa hidupnya punya banyak uang, tapi
kan dia tidak bisa membeli sendiri tanah tempat dia dimakamkan bila telah
meninggal. Tentu akan lebih baik di saat hidup, kita persiapkan sendiri
tanah pemakaman kita, sehingga tidak merepotkan anggota keluarga ketika
meninggal, “saran Suzie.
(Sumber : Tabloid Wanita No. 895, 29 Januari-4 Februari 2007)

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


SEKTOR
KEP DIRJEN Nomor 16/PJ.6/1998

• P3 (dikelola Ditjen Pajak sesuai UU


no. 12 tahun 1994
1. Perkebunan
2. Kehutanan
3. Pertambangan
• P2 (dikelola Pemda sesuai UU no.
28 tahun 2009)
1. Pedesaan
2. Perkotaan
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
SUBYEK PAJAK
Memperoleh manfaat Memperoleh manfaat
atas bangunan atas bumi

ORANG PRIBADI/BADAN

Memiliki, menguasai Mempunyai suatu hak


bangunan atas bumi

SUBJEK Dikenakan kewajiban WAJIB


PAJAK Membayar pajak PAJAK

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


SIMPULAN SUBJEK PAJAK
 Subjek PBB Berdasarkan Pasal 4 adalah
orang atau badan yang secara nyata
1. Mempunyai suatu hak atas bumi dan/atau
2. Memperoleh manfaat atas bumi dan/atau
3. Memiliki
4. Menguasai, dan/atau
5. Memperoleh manfaat atas bangunan
 Subjek pajak berdasarkan Pasal 1 angka
4 adalah SPOP (Surat Pemberitahuan
Objek Pajak) adalah
1. Pemilik
2. Penyewa
3. Pengelola
4. Pemakai
5. Sengketa
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
SPPT Bukan Bukti
Kepemilikan
 PETUK pajak bumi (Putusan Mahkamah Agung
tgl. 3-2-1960 No. K/Sip/1960)
 LETTER C/catatan buku desa (Putusan
Mahkamah Agung tgl. 25-6-1973 No. 84
K/Sip/1973)
 Bukti Kepemilikan adalan SERTIPIKAT
sebagaimana di atur UU Nomor 5 tahun 1960
tentang Pokok-Pokok Agraria

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


NOMOR OBJEK PAJAK (NOP)
A A b b c c c d d d e e e f f f f g

a = 2 digit kode propinsi (DATI I)


b = 2 digit kode kabupaten/kota (DATI
II)
c = 3 digit kode kecamatan
d = 3 digit kode kelurahan/desa
e = 3 digit Nomor Blok
f = 4 digit nomor urut obyek
g = 1 digit kode khusus
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
BLOK
002

AB

AD

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


DASAR PENGENAAN
NJOP
(Nilai Jual Objek Pajak)

Adalah harga rata-rata yang diperoleh dari


transaksi jual beli yang terjadi secara wajar (1)

Bilamana tidak terdapat transaksi jual beli, Nilai Jual Objek Pajak
Ditentukan melalui :
 perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis (2), atau
 nilai perolehan baru (3), atau
 Nilai Jual Objek Pajak pengganti (4)

NJOP ditetapkan setiap tiga tahun oleh Menteri Keuangan, kecuali


untuk daerah tertentu ditetapkan setiap tahun sesuai perkembangan daerahnya
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
WAJAR?
Pembeli yang berminat membeli
Penjual yang berminat menjual
Transaksi bebas ikatan
Penawarannya dilakukan secara layak
Masing-masing pihak mengetahui dan bertindak hati-
hati
Tanpa paksaan

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


TRANSAKSI WAJAR?

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Penilaian NJOP
1. Harga rata-rata transaksi jual beli wajar
2. Perbandingan harga objek lain sejenis (market
data approach)
3. Nilai perolehan baru (cost approach)
4. NJOP pengganti ( income approach)

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


NJOP PENGGANTI
 Tidak dijual beli, Tak ada Biaya
 Areal Produktif = Hasil produksi x angka
kapitalisasi
 Termasuk
 Kehutanan non HTI
 Pertambangan
 Usaha bidang perikanan laut
 Areal PLTA

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


ANGKA KAPITALISASI
 Migas, Energi Panas Bumi : 9,5
 Non Migas, Non Galian C : 9,5
 Galian C : Angka tertentu

 Areal Penangkapan Ikan : 10


 Areal Budidaya ikan :8
 Genangan PLTA : 10 x 10%
 Hutan non HTI : 8,5

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


PENENTUAN NJOP

PENILAIAN OBJEK PBB

PENDEKATAN PENILAIAN :
• Pendekatan Data Pasar (Market Data Approach)
• Pendekatan Biaya (Cost Approach)
• Pendekatan pendapatan (Income Approach)

CARA PENILAIAN :
• Penilaian Massal
• Penilaian Individual

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


NJOP
(Nilai Jual Objek Pajak)

BUMI BANGUNAN
• Letak • Bahan bangunan
• Peruntukan • Rekayasa
•Pemanfaatan • Letak
•Kondisi lingkungan • Kondisi Lingkungan

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Perkebunan/HTI

TANAH TANAH
KOSONG KEBUN

NJOP = Rp 5.000/M2 NJOP = Rp 5.000/ M2 + SIT

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


NILAI JUAL OBJEK PAJAK
TIDAK KENA PAJAK
NJOPTKP

SEBELUM 2001
MULAI 1 Jan 2012
Rp 8.000.000 untuk setiap wajib pajak
MULAI 2001 Rp. 12.000.000 per wajb pajak Rp 24.000.000 untuk
Setiap Wajib Pajak

• Per Wajib Pajak


• Diberikan untuk bumi dan/atau bangunan
• Apabila seorang Wajib Pajak mempunyai beberapa Objek Pajak,
yang diberikan NJOPTKP hanya salah satu Objek Pajak yang
nilainya terbesar

KMK No. 201/KMK.04/2000

DITENTUKAN SECARA REGIONAL

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


DASAR PENGHITUNGAN PAJAK
NILAI JUAL KENA PAJAK (NJKP) – PBB P3

1. OBJEK PAJAK PERKEBUNAN


2. OBJEK PAJAK KEHUTANAN
3. OBJEK PAJAK PERTAMBANGAN

40% X NJOP

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


TARIF
TARIF TUNGGAL SEKTOR P3

0,5
0,5%%

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


CARA MENGHITUNG PBB P3

NJOP TANAH = XXXX


NJOP BANGUNAN = XXXX
NJOP TANAH + BANGUNAN = XXXX
(NJOP SBG DSR PENGHITUNGAN)
NJOPTKP = XXXX
NJOPKP
(NJOP UNTUK PERHITUNGAN PBB) = XXXX
NJKP (40%) = XXXX
PBB TERUTANG (0.5%) = XXXX

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Contoh
• Sebuah OP sektor P3 dengan NJOP sebagai
dasar pengenaan PBB Rp 511 jt, sedang
NJOPTKP Rp 11 jt.
• Jawab
NJOP sebagai dasar pengenaan Rp 511 jt
(-) NJOPTKP Rp 11 jt -
NJOP untuk penghitungan PBB Rp 500 jt
(x) NJKP 40% Rp 200 jt
PBB terutang = x 0,5% (200 jt) Rp 1 jt

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


SAAT TERHUTANG PAJAK
ps. 8

Ajaran Material
(1 Januari)

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Ajaran Formal
 Hutang PBB baru timbul pada saat
diterbitkan SPPT atau SKP
 SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak
Terutang) adalah surat yang digunakan
oleh DJP untuk memberitahukan besarnya
pajak terhutang kepada wajib pajak (Pasal
1 angka 5 UU PBB)
 Jatuh Tempo 6 bulan sejak diterima, kalau
lewat dikenakan sanksi bunga 2% per
bulan maksimal 24 bulan (Pasal 11 ayat
(1) UU PBB
 SKP (Surat Ketetapan Pajak) Pasal 10 UU
PBB

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


TEMPAT PEMBAYARAN
 BANK PERSEPSI, KANTOR POS
YANG DITUNJUK DALAM SPPT
PBB P3

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


BANGUNAN BANYAK

 KEP-533/PJ/2000
 Menjumlahkan Nilai seluruh bangunan (SEBELUM
DIKONVERSI)
 DIBAGI LUAS SELURUH BANGUNAN
 DIKONVERSI ---Lihat Klasifikasi NJOP

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Contoh
PERHITUNGAN PBB ATAS BANGUNAN BANYAK

Tanah 5.000 m2, Rp 105.000/m2


Rumah 200 m2, Rp 2.300.000/m2
Pagar 300 m2 lumpsum Rp 51.200.000
NJOPTKP Rp 10 juta
Soal : PBB Terutang ?

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Jawab :
 Biaya Pembuatan Baru Bangunan (Cost Reproduction
New /CRN)
 Rumah
200 m2 x 2.300.000 = 460.000.000
 Pagar
300 m = 51.200.000 +
 Total = 511.200.000
 Biaya CRN per m2 = 2.556.000
(dibagi 200m2)
 Konversi 051 = 2.625.000

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


 Perhitungan PBB Terutang atas Bangunan
Banyak

NJOP Bumi 5.000 m2 x 103.000 = 515.000.000


NJOP Bangunan 200 m2 x 2.625.000 = 525.000.000
NJOP dsr pengenaan PBB =1.040.000.000
NJOPTKP = (10.000.000)
NJOPKP untuk penghitungan PBB =1.030.000.000
PBB Terutang 0.1% x 1.030.000.000 = 1.030.000
 Ket: 105.000=konversi 099 (103.000)

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


PENAGIHAN
 Dasar Penagihan PBB (Pasal 12 UU PBB)
SPPT
SKP
STP

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


SKP 1
 SPOP tidak disampaikan, berdasarkan data yang ada,
diterbitkan SKP :
 Pokok Rp 1.000.000
 Sanksi adm
25% x Rp 1.000.000 Rp 250.000 +
 Pajak Terutang (SKP) Rp 1.250.000

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


SKP 2
 Pemeriksaan / keterangan lain, pajak terutang > SPOP
yang disampaikan
 SPPT berdasarkan SPOP Rp 1.000.000
 Pemeriksaan Rp 1.500.000
 Selisih Rp 500.000
 Sanksi Adm
25% x Rp 500.000 Rp 125.000
 Pajak Terutang (SKP) Rp 625.000

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


STP
 Tidak dilunasi, saat jatuh tempo pembayaran SPPT (6
bulan sejak diterima) dan SKP (1 bulan sejak diterbitkan)
telah lewat.
 Contoh :
 SPPT
 SKP dapat dilihat pada SKP 1
SKP 1 dengan pajak terutang sebesar Rp 1.250.000.
Jika diterbitkan tanggal 1 Maret 2007 maka jatuh tempo
SKP adalah 31 Maret 2007. Apabila SKP tersebut
dilakukan setelah lewat jatuh tempo akan dikenakan
sanksi bunga 2% perbulan maksimal 24 bulan ditagih
menggunakan STP

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


KEBERATAN DAN BANDING
 Keberatan diajukan atas :
* Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)
* Surat Ketetapan Pajak (SKP)
 Jangka waktu pengajuan keberatan adalah 3 (tiga) bulan
setelah SPPT atau SKP diterima oleh Wajip Pajak,
kecuali Wajib Pajak dalam keadaan di luar
kekuasaannya
 Direktur Jendral Pajak harus memberikan keputusan
atas keberatan wajib pajak paling lama 12 bulan sejak
tanggal Surat Keberatan diterima
 Atas keberatan yang diajukan, Direktur Jendral Pajak
dapat menerima seluruhnya atau sebagian, menolak,
atau menambah jumlah pajak terutang

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Lanjutan
 Keberatan dapat diajukan dalam hal terjadi
perbedaan persepsi antara wajib pajak dan
Fiskus
 Wajib pajak dapat mengajukan banding
terhadap keputusan Direktur Jendral Pajak atas
keberatan kepada Pengadilan Pajak
 Pengajuan keberatan atau banding tidak
menunda pembayaran pajak
PENGURANGAN

Menteri Keuangan dalam hal :


•Kondisi tertentu Objek Pajak
yang ada hubungannya dengan
PAJAK TERUTANG subjek pajak/ sebab-sebab tertentu
lainnya
•Objek pajak terkena bencana alam
atau sebab lain yang luar biasa

DENDA ADMINISTRASI
Dirjen Pajak
Atas permintaan Wajib Pajak
karena hal-hal tertentu

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


PERBANDINGAN
KEBERATAN PENGURANGAN

Pasal 15 UU dan KEP-59/PJ/2000 Pasal 19 UU dan Kep.10/PJ.6/1999


Perbedaan penafsiran Kondisi ttt OP, sebab ttt, bencana
alam/luar biasa
Bayar tahun sekarang Bayar tahun lalu
Permohonan, Dirjen Pajak, 3, 12 Permohonan, MenKeu, 3, 3 bulan
bulan
Sepanjang ada perbedaan Tiap tahun diajukan
SPPT bisa berubah, bisa banding SPPT tidak berubah, tidak bisa
banding
Perhitungan wajib pajak: menerima 75%, max 75%, max 100%
seluruh, sebagian, menolak, tempat domisili, 1 objek pajak saja
menambah
Tertulis, Indonesia, alasan jelas, Tertulis,Indonesia, SPPT, SKP
perhitungan SPPT, SKP
pokok saja
Copy SPPT/SKP, STTS,bukti lainnya Copy SPPT/SKP, STTS, Surat
Keterangan, SPT PPh sebelumnya,
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M. laporan keuangan
PENDAFTARAN, PENAGIHAN
DAN SANKSI ADMINISTRASI
30 hr
TIDAK SKP
SPOP DIKEMBALIKAN + denda 25% dari
Pokok pajak
YA

SPPT Ternyata SPOP tdk benar SKP


(Ketetapan kurang) + denda 25% dari selisih
Pajak terutang

6 bulan
JATUH
TEMPO 1 bulan

STP 1 bulan Segera setlh 21 hr SURAT


+ bunga 2% sebulan JATUH TEGORAN
(maks 24 bln) TEMPO 7 hr PAKSA

2 x 24 jam

PERMINTAAN JADWAL SURAT PERINTAH


KLN WAKTU & TEMPAT Paling cepat MELAKUKAN
PELELANGAN PENYITAAN
14 hr
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
Pengenaan PBB
Sektor
Perkebunan

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


PENENTUAN NJOP BUMI PERKEBUNAN

Produktif Belum Produktif Emplasemen Lainnya

-Jalan Utama
- Jalan Produksi
- Jalan Kontrol

Kamis, 21 Desember 2017 55


NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
Konsep Penilaian dan Perhitungan PBB
Objek Pajak Perkebunan
Nilai Tanah

a. Areal Kebun prod = Luas X (Nilai Tanah/m2 + SIT/m2)


Total Nilai Tanah : Total Luas Tanah b. Areal Belum Produktif = Luas X Nilai Tanah/m2
c. Areal Emplasemen = Luas X Nilai Tanah/m2
d. Areal Lainnya = Luas X Nlilai Tanah/m2

Nilai Bumi/m2 Klasifikasi NJOP Bumi/m2 X Luas Bumi NJOP BUMI

(+)
Nilai Bgn/m2 Klasifikasi NJOP Bgn/m2 X Luas Bgn NJOP BGN

NJOP BUMI + BGN


Total Nilai Bgn : Total Luas Bgn
(-)
Nilai Bangunan NJOP TKP

a. Pabrik g. Sarana Olah Raga/Rekreasi


b. Perkantoran h. Bangunan Poliklinik (X)
c. Gudang i. Bangunan Sosial NJKP
d. Tangki j. Landasan Pesawat Udara
e.
f.
Pipa
Perumahan l.
k. Jalan diperkeras di lokasi perkebunan
Jeti
(X)
m. Lain-lain PBB Terhutang Tarif

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


SPOP & LSPOP
Sektor Perkebunan

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


SPOP

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
Pengenaan PBB
Sektor
Perhutanan

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


DASAR HUKUM

UU Nomor 12 Tahun 1985 Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah


diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1994

PMK Nomor 150/PMK.03/2010


tentang Klasifikasi dan Penetapan NJOP Sebagai Dasar Pengenaan PBB

PER-36/PJ/2011 Tanggal 18 Nopember 2011


Tentang Pengenaan PBB Sektor Perhutanan

SE-89/PJ/2011 Tanggal 18 Nopember 2011


Tentang Petunjuk Pelaksanaan PER-36/PJ/2011
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
ISTILAH DAN DEFINISI

Pengenaan

kegiatan menetapkan Wajib Pajak dan besarnya


pajak terutang untuk PBB Sektor Perhutanan
berdasarkan peraturan perundang-undangan PBB

Objek Pajak PBB Sektor Perhutanan

bumi dan/atau bangunan yang digunakan


untuk kegiatan usaha perhutanan yang
diberikan hak pengusahaan hutan

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


ISTILAH DAN DEFINISI

Objek Pajak PBB Sektor Perhutanan

bumi dan/atau bangunan yang digunakan


untuk kegiatan usaha perhutanan yang
diberikan hak pengusahaan hutan

Bumi Bangunan
• Areal Produktif konstruksi teknik yang ditanam
• Areal Belum Produktif atau dilekatkan secara tetap
• Areal Emplasemen pada tanah dan/atau perairan,
• Areal Lainnya yang terletak di dalam
kawasan yang diberikan hak
pengusahaan hutan.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


hak pengusahaan hutan

[Pasal 17 ayat (2) huruf c dan d


PP No. 6 Tahun 2007]
Izin Usaha Pemanfaatan dan Pemungutan Hasil Hutan
a. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK);
b. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (IUPHHBK);
c. Izin Pemungutan Hasil Hutan Kayu (IPHHK);
hak pengusahaan d. Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu (IPHHBK);
hutan e. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) ;
f. Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH)

a - d [Pasal 19 huruf c, d, e, dan f PP No. 6 Tahun 2007]


e – f [Pasal 140 huruf a PP 6 Tahun 2007]

Izin lainnya yang syah pada Hutan Produksi


antara lain berupa penugasan khusus terkait dengan usaha
pemanfaatan dan pemungutan hasil hutan pada Hutan Produksi

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


ISTILAH DAN DEFINISI

Areal Produktif
areal hutan yang telah ditanami pada Hutan Tanaman, atau
areal blok tebangan pada Hutan Alam

Areal Belum Produktif

areal yang sudah diolah tetapi belum ditanami pada Hutan Tanaman, atau
areal hutan yang dapat ditebang selain blok tebangan pada Hutan Alam

Areal Emplasemen
areal yang digunakan untuk berdirinya bangunan dan sarana
pelengkap lainnya dalam perhutanan termasuk areal jalan
yang diperkeras

Areal Lainnya
areal selain Areal Produktif, Areal Belum Produktif,
dan Areal Emplasemen
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
ISTILAH DAN DEFINISI

Izin Usaha Pemanfaatan Hasil izin usaha yang diberikan untuk memanfaatkan
1 Hutan Kayu (IUPHHK) hasil hutan berupa kayu dan/atau bukan kayu dalam
hutan alam pada hutan produksi melalui kegiatan
Izin Usaha Pemanfaatan Hasil pemanenan atau penebangan, pengayaan,
2 Hutan Bukan Kayu (IUPHHBK) pemeliharaan dan pemasaran

Izin Pemungutan Hasil Hutan izin untuk mengambil hasil hutan berupa kayu pada
3 Kayu (IPHHK) hutan produksi melalui kegiatan pemanenan,
pengangkutan, dan pemasaran untuk jangka waktu
dan volume tertentu
Izin Pemungutan Hasil Hutan
4 Bukan Kayu

izin untuk mengambil hasil hutan berupa bukan kayu pada


hutan lindung dan/atau hutan produksi
antara lain berupa rotan, madu, buah-buahan, getah-getahan,
tanaman obat-obatan, untuk jangka waktu dan volume
tertentu

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


ISTILAH DAN DEFINISI

kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi


1 Hutan Produksi hasil hutan
[Permenhut No. P69/Menhut-II/2009]

hutan produksi yang dibangun dan dimanfaatkan melalui


serangkaian kegiatan berupa penyiapan lahan, perbenihan
2 Hutan Tanaman atau pembibitan, pemeliharaan, pengamanan, pemanenan
atau penebangan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan
[Permenhut No. P03/Menhut-II/2005]

3 Hutan Alam

hutan produksi yang di dalamnya telah bertumbuhan pohon-pohon


alami dan dimanfaatkan melalui serangkaian kegiatan berupa
pemanenan atau penebangan, penanaman, pemeliharaan,
pengamanan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan
[PP 6 Th 1999 dan PP 6 Th 2007]

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


ISTILAH DAN DEFINISI

jumlah biaya tenaga kerja, bahan dan alat yang diinvestasikan


Standar Investasi
1 Tanaman (SIT)
untuk pembukaan lahan, penanaman, dan pemeliharaan
tanaman

angka yang digunakan untuk mengonversi pendapatan bersih


2 Angka Kapitalisasi setahun menjadi nilai tanah Areal Produktif pada Hutan Alam

seluruh biaya langsung yang terkait dengan kegiatan produksi


hasil hutan, sampai di log ponds/log yards untuk hasil hutan
3 Biaya Produksi kayu atau sampai di tempat pengumpulan lain untuk hasil
hutan bukan kayu, pada Hutan Alam

Rasio Biaya Produksi


4

persentase tertentu yang diperoleh dari rata-rata Biaya


Produksi setahun dibandingkan dengan rata-rata pendapatan
kotor setahun
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
ISTILAH DAN DEFINISI

harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang


terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terdapat transaksi
Nilai Jual Objek Pajak
1 (NJOP)
jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga
dengan objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru,
atau NJOP pengganti

surat yang digunakan oleh subjek pajak atau Wajib Pajak


Surat Pemberitahuan Objek
2 Pajak (SPOP)
untuk melaporkan data objek pajak sektor perhutanan ke
Direktorat Jenderal Pajak

Lampiran Surat formulir yang dipergunakan oleh subjek pajak atau Wajib
3 Pemberitahuan Objek Pajak untuk melaporkan data rinci objek pajak sektor
Pajak (LSPOP) perhutanan

Daftar Biaya Komponen


4 Bangunan (DBKB)

daftar yang dibuat untuk memudahkan perhitungan nilai bangunan


berdasarkan pendekatan biaya yang terdiri dari biaya komponen utama
dan/atau biaya komponen material bangunan dan/atau biaya komponen
fasilitas bangunan.
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
SUBJEK PAJAK DAN WAJIB PAJAK PBB SEKTOR PERHUTANAN

Subjek Pajak PBB Sektor Perhutanan

Yang dikenakan
kewajiban membayar
PBB Sektor Perhutanan
orang pribadi atau badan yang secara nyata mempunyai
menjadi Wajib Pajak
suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat
PBB Sektor Perhutanan
atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau
memperoleh manfaat atas bangunan, yang digunakan untuk
4
kegiatan usaha perhutanan yang diberikan
hak pengusahaan hutan

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


DASAR PENGENAAN PAJAK

NJOP PBB
Sektor
Perhutanan

NJOP = NJOP Bumi + NJOP Bangunan

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


KONSEP PENILAIAN DAN PERHITUNGAN PBB SEKTOR PERHUTANAN
HUTAN TANAMAN

Nilai Tanah
a. Areal Produktif = Luas x (Nilai Dasar Tanah/m2 + SIT/m2)
b. Areal Belum Produktif = Luas x Nilai Dasar Tanah/m2
Total Nilai Tanah : Total Luas Tanah
c. Areal Emplasemen = Luas x Nilai Dasar Tanah/m2
d. Areal Lainnya = Luas x Nlilai Dasar Tanah/m2

Nilai Tanah/m2 Klasifikasi NJOP Bumi/m2 x Luas Tanah NJOP BUMI

NJOP

Nilai Bgn/m2 Klasifikasi NJOP Bgn/m2 X Luas Bgn NJOP BGN

(X) (
Total Nilai Bangunan : Total Luas Bangunan Tarif NJKP X NJOP TKP

)
Nilai Bangunan

a. Pabrik/Kilang i. MCK PBB


b. Perkantoran j. Jalan diperkeras Terhutang
c. Perumahan k. Landasan Pesawat
d. Mess/Guest House l. Pelabuhan
e. Gudang m.Jembatan
f. Ruang WorkShop n. Gorong-gorong
g. Sarana Olah Raga/Rekreasi o. Bangunan Lainnya
h. Poliklinik

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


KONSEP PENILAIAN DAN PERHITUNGAN PBB SEKTOR PERHUTANAN
HUTAN ALAM

Nilai Tanah
a. Areal Produktif = Nilai Tanah Areal Produktif
b. Areal Belum Produktif = Luas x Nilai Dasar Tanah/m2
Total Nilai Tanah : Total Luas Tanah
c. Areal Emplasemen = Luas x Nilai Dasar Tanah/m2
d. Areal Lainnya = Luas x Nlilai Dasar Tanah/m2

Nilai Tanah/m2 Klasifikasi NJOP Bumi/m2 x Luas Tanah NJOP BUMI

NJOP
Nilai Bgn/m2 Klasifikasi NJOP Bgn/m2 X Luas Bgn NJOP BGN

(X
Total Nilai Bangunan : Total Luas Bangunan Tarif ) NJKP NJOP TKP

Nilai Bangunan (X)

a. Pabrik/Kilang i. MCK PBB


b. Perkantoran j. Jalan diperkeras Terhutang
c. Perumahan k. Landasan Pesawat
d. Mess/Guest House l. Pelabuhan
e. Gudang m.Jembatan
f. Ruang WorkShop n. Gorong-gorong
g. Sarana Olah Raga/Rekreasi o. Bangunan Lainnya
h. Poliklinik

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


PERHITUNGAN NILAI TANAH AREAL PRODUKTIF
HUTAN ALAM

Nilai Tanah (Areal Produktif) = Pendapatan Bersih x Angka Kapitalisasi

Pendapatan Bersih = Pendapatan Kotor – Biaya Produksi

Pendapatan Kotor = Jumlah Produksi Hasil Hutan Kayu dan Bukan


Kayu x Harga Satuan produksi

Biaya Produksi = Ratio Biaya Produksi x Pendapatan Kotor

Catatan: Angka kapitalisasi dan rasio biaya produksi ditetapkan


dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
SPOP PBB SEKTOR PERHUTANAN

 TIPE LOKASI (18)


diisi dengan tipe lokasi alamat wajib pajak, tipe lokasi yang digunakan, antara lain :
Gedung Ruko
Perumahan Rukan
Komplek Wisma
Apartemen Kawasan

 TIPE JALAN (20)


diisi dengan tipe lokasi alamat wajib pajak, yang digunakan yaitu :
JL = Jalan LR = Lorong SB = Subak
GG = Gang PS = Pasar BJ = Banjar
DS = Desa DSN = Dusun DK = Dukuh
KP = Kampung PSL = Persil
 TIPE NOMOR (22)
diisi dengan tipe nomor alamat masing-masing, seperti :
NO = Nomor
BLOK = Blok
KAV = Kaveling

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


LSPOP PBB
SEKTOR
PERHUTANAN
HUTAN TANAMAN

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


LSPOP (lanjutan)
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
LSPOP (lanjutan)
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
PERLU DIPERHATIKAN

• Izin yang dicatatkan meliputi izin usaha pengusahaan


Izin Pemanfaatan yang disebut hak pengusahaan hutan, hak guna
usaha, dan izin usaha pemanfaatan dan pemungutan
Hutan hasil hutan lainnya (IUPHHK, IUPHHBK, IPHHK,
IPHHBK, HPH, HPHH).

• Untuk jenis hasil hutan dapat berbeda-beda satuan


Produktivitas produksinya bergantung pada prosuksi yang
dihasilkan, seperti produksi kayu/rotan yang
Rata-rata per bervolume menggunakan satuan m3 sedangkan
tahun per ha untuk getah, karet, madu, dll dapat menggunakan
satuan ton.

• Kolom ini untuk memberikan penjelasan lebih detail


objek pajak yang dinilai mengenai kondisi lingkungan,
bangunan yang tidak terdapat dalam kelompok jenis
Informasi Lainnya bangunan LSPOP, atau terdapat bahan bangunan yang
tidak tecatat dalam keterangan kolom rincian data
bangunan.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


LSPOP PBB
SEKTOR
PERHUTANAN
HUTAN ALAM

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


LSPOP (lanjutan)
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
LSPOP (lanjutan)
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
ISTILAH DAN DEFINISI

FORMULIR DATA MASUKAN (FDM)


formulir yang digunakan sebagai sarana perekaman data ke dalam
aplikasi SISMIOP untuk Sektor Perhutanan

RINCIAN PERHITUNGAN NILAI (RPN)


hasil keluaran dari aplikasi SISMIOP untuk Sektor Perhutanan yang
Berisi informasi rinci perhitungan nilai tanah dan nilai bangunan

NILAI DASAR TANAH

nilai tanah areal hutan, tidak termasuk SIT

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


PENGHITUNGAN SIT

Standar Investasi Tanaman (SIT)


jumlah biaya tenaga kerja, bahan dan alat yang diinvestasikan untuk
pembukaan lahan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman

Satuan Biaya Tanaman (SBT)

satuan biaya yang diinvestasikan tiap tahun berdasarkan umur dan


jenis tanaman

Standar Biaya Pembangunan Hutan Tanaman (SBPHT)


satuan biaya tahunan per kegiatan yang meliputi kegiatan
pembukaan lahan dan penanaman (P0), pemeliharaan
tahun pertama (P1), dan seterusnya sampai pemeliharaan
tahun terakhir (Pn) untuk setiap hektar pembangunan
hutan tanaman di suatu wilayah, yang diterbitkan oleh
Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan,
Kementerian Kehutanan.
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
PENGHITUNGAN SIT

SBPHT SBT

1 Terendah-Tertinggi Median SBPHT x 72% x Index Wilayah x Indeks Tanaman

2 Per Wilayah SBPHT x 72% x Indeks Tanaman

3 Per Jenis Tanaman SBPHT x 72% x Indeks Wilayah

SIT P1 = SBT P0 + SBT P1


SIT SIT P2 = SBT P0 + SBT P1 + SBT P2
SIT Pn = SBT P(n-1) + SBT Pn

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


INDEKS WILAYAH

Wilayah I Wilayah II Wilayah III Wilayah IV

Sulawesi Selatan Kalimantan Timur Papua


Banten Papua Barat
Sulawesi Tengah Riau
Jawa Barat Maluku
Sulawesi Utara NAD
Jawa Tengah Maluku Utara
Gorontalo Kep. Riau
DIY Nusa Tenggara Timur
Sulawesi Tenggara Bangka Belitung
Jawa Timur
Kalimantan Tengah Bali
Sumatera Utara
Kalimantan Barat Nusa Tenggara Barat
Sumatera Barat
Sumatera Selatan Kalimantan Selatan
1,100
Jambi
Bengkulu 1,030
Lampung 0,970
0,900

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


SBPHT

Dalam hal SBPHT pada tahun sebelum Tahun Pajak tidak


diterbitkan, SBT ditentukan berdasarkan penyesuaian SBT
Tahun Pajak sebelumnya dengan tingkat diskonto 10%

SBTt = SBTt-1 x ( 1+i )


SBTt = SBT Tahun Pajak
SBTt-1 = SBT Tahun Pajak sebelumnya
i = tingkat diskonto (10%)

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


INDEKS TANAMAN

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


RINCIAN FASE PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


FDM Hutan Tanaman

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


FDM Hutan Alam

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


FORMAT SIT

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


RINCIAN PERHITUNGAN NILAI
SEKTOR PERHUTANAN
HUTAN TANAMAN

NOP : TAHUN PAJAK :


ALAMAT OP :
DESA/KEL : NILAI TANAH PER M2 :
KECAMATAN : NILAI BANGUNAN PER M2 :
KAB/KOTA : PBB TERUTANG :
PROVINSI :
NAMA WAJIB PAJAK :
NPWP :

I. PERHITUNGAN NILAI TANAH


NILAI DASAR PER NILAI DASAR SIT NILAI TANAH
NO. JENIS AREAL LUAS
M2 (Rp) TANAH (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5(3x4) 6 7 (5+6)
1 AREAL PRODUKTIF
2 AREAL BELUM PRODUKTIF
3 AREAL EMPLASEMEN
4 AREAL LAINNYA
a. Log Ponds
b. Log Yards
c. Areal Tidak Produktif
Tanah Hutan Blok Tebangan diluar RKT
JUMLAH

II. PERHITUNGAN NILAI BANGUNAN

NILAI BANGUNAN
NO. JENIS BANGUNAN
LUAS PER M2 NILAI BANGUNAN
(M2) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 (3x4)
1 Pabrik/Kilang
a. Bangunan Pabrik
b. Pipa
c. Tangki
d. Silo
2 Perkantoran
3 Perumahan 25/10/2007
4
5
6
Mess/Guest House
Gudang
Ruang Workshop
RPN HUTAN TANAMAN
7 Sarana Olah Raga/Rekreasi
8 PolikliniK Nur Salam
9 MCK
10 Jalan diperkeras 20/10/2007
11 Landasan Pesawat Udara/Helipad
12 Pelabuhan
13 Jembatan
14 Bangunan Lainnya Ratna Sari
JUMLAH
III. PERHITUNGAN PBB TERHUTANG
OBJEK PAJAK LUAS (M2) KELAS NJOP PER M2 TOTAL NJOP
1 2 3 4 5
BUMI
BANGUNAN
NJOP sebagai Dasar Pengenaan PBB =
NJOPTKP (NJOP Tidak Kena Pajak) =
NJOP untuk penghitungan PBB =
NJKP (Nilai Jual Kena Pajak) = 40% x
PBB yang Terutang = 0,5% x
PBB YANG HARUS DIBAYAR (Rp)

............................., ......................
Kepala Kantor

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M. Nama


NIP
RINCIAN PERHITUNGAN NILAI
SEKTOR PERHUTANAN
HUTAN ALAM

NOP : TAHUN PAJAK :


ALAMAT OP :
DESA/KEL : NILAI TANAH PER M2 :
KECAMATAN : NILAI BANGUNAN PER M2 :
KAB/KOTA : PBB TERUTANG :
PROVINSI :
NAMA WAJIB PAJAK :
NPWP :

I. PERHITUNGAN NILAI TANAH


NILAI DASAR PER NILAI TANAH
NO. JENIS AREAL LUAS
M2 (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5(3x4)
1 AREAL PRODUKTIF
2 AREAL BELUM PRODUKTIF
3 AREAL EMPLASEMEN
4 AREAL LAINNYA
a. Log Ponds
b. Log Yards
c. Areal Tidak Produktif -
Tanah Hutan Blok Tebangan diluar RKT
JUMLAH
x
NILAI TANAH AREAL PRODUKTIF
A. Pendapatan Kotor ........................................................................
(a)
:
........................................................................
B. Biaya Produksi (b)
Pendapatan Kotor x Rasio Biaya Produksi ( .... % )
C. Pendapatan Bersih ........................................................................
(c)
( a - b )
D. Angka Kapitalisasi (d) ...........
E. Nilai ........................................................................
(e)
( c - d )
F. Luas ........................................................................
(f)
G. Nilai Tanah Per M² (g)........................................................................
( e : f )

II. PERHITUNGAN NILAI BANGUNAN

NILAI BANGUNAN
NO. JENIS BANGUNAN
LUAS PER M2 NILAI BANGUNAN
(M²) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 (3x4)
1 Pabrik/Kilang

RPN HUTAN ALAM


a. Bangunan Pabrik
b. Pipa
c. Tangki
d. Silo
2 Perkantoran
3 Perumahan 25/10/2007
4 Mess/Guest House
5 Gudang
6 Ruang Workshop
7 Sarana Olah Raga/Rekreasi
8 PolikliniK Nur Salam
9 MCK
10 Jalan diperkeras 20/10/2007
11 Landasan Pesawat Udara/Helipad
12 Pelabuhan
13 Jembatan
14 Bangunan Lainnya Ratna Sari
JUMLAH
III. PERHITUNGAN PBB TERHUTANG
OBJEK PAJAK LUAS (M2) KELAS NJOP PER M2 TOTAL NJOP
1 2 3 4 5
BUMI
BANGUNAN
NJOP sebagai Dasar Pengenaan PBB =
NJOPTKP (NJOP Tidak Kena Pajak) =
NJOP untuk penghitungan PBB =
NJKP (Nilai Jual Kena Pajak) = 40% x
PBB yang Terutang = 0,5% x
PBB YANG HARUS DIBAYAR (Rp)

........................., ......................
Kepala Kantor

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M. Nama


NIP
Pengenaan PBB
Sektor
Pertambangan
Minerba

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Dasar Hukum Pengenaan PBB
Pertambangan Minerba

 UU No. 12/1985 tentang PBB (sttd UU No.12/1994);


 UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara;
 PMK 150/PMK.03/2010 tentang Klasifikasi dan Penetapan NJOP Sebagai
Dasar Pengenaan PBB;
 SE-47/PJ.6/1999 tentang Penyempurnaan Tata Cara Pengenaan PBB
Sektor Pertambangan Non Migas Selain Pertambangan Energi Panas Bumi
dan Galian C Sebagaimana diatur dengan SE-26/PJ.6.1999;
 SE-48/PJ/2011 tentang Tata Cara Pengenaan PBB Sektor Pertambangan
PBB Sektor Pertambangan Non Migas selain Pertambangan Energi Panas
Bumi dan Galian C.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


OBJEK PAJAK
Pasal 1, 2 dan 3 UU PBB

“Yang menjadi Obyek Pajak adalah bumi dan/atau bangunan”


• Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada
dibawahnya.
Permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman
serta laut wilayah Indonesia.

• Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau


dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan;

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Penggunaan Tanah untuk Usaha Pertambangan
(UU Minerba)

 Hak atas WIUP, WPR, atau WIUPK tidak meliputi hak


atas tanah permukaan (Psl. 134).
 Pemegang IUP eksplorasi atau IUPK eksplorasi hanya
dapat melakukan kegiatan setelah mendapat persetujuan
dari pemegang hak atas tanah (Psl. 135).
 Hak atas IUP, IPR, atau IUPK bukan merupakan pemilikan
hak atas tanah (Psl. 138).

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Objek, Subjek, dan Wajib Pajak

• Objek PBB Pertambangan


a. Permukaan Bumi, meliputi areal di daratan dan perairan pedalaman yang terdiri atas
areal produktif, belum produktif, tidak produktif, areal emplasemen, dan areal lainnya.
b. Tubuh bumi, berdasarkan hasil produksi.
c. Bangunan, total luas bangunan yang dimiliki/dikuasai/dimanfaatkan wajib pajak.
• Subjek Pajak
orang/badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh
manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas
bangunan sesuai luas WK yang dikuasainya.
• Wajib Pajak
Subjek Pajak yang dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi Wajib Pajak PBB
Pertambangan Minerba.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


ISTILAH PERTAMBANGAN UMUM

a. Areal produktif : areal yang telah dieksploitasi/menghasilkan galian


tambang (tahap eksploitasi);
b. Areal belum produktif : areal yang belum menghasilkan tapi sewaktu-waktu
akan menghasilkan galian tambang;
c. Areal tidak produktif : areal yang sama sekali tidak menghasilkan galian
tambang;
d. Areal emplasemen : areal yang di atasnya terdapat bangunan dan atau
pekarangan;
e. Areal lainnya : areal perairan yang digunakan berkaitan untuk pelabuhan
khusus dengan usaha pertambangan;
f. Hasil bersih galian tambang : pendapatan kotor satu tahun dikurangi
dengan biaya eksploitasi atas objek dimaksud.
g. Harga patokan penjualan minerba adalah harga penjualan minerba pada
suatu titik serah penjualan (as sale point) secara (FOB) diatas kapal
pengangkut (vessel) untuk masing-masing komoditas tambang
sebagaimana ditetapkan setiap bulan oleh Kementerian ESDM.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Penentuan NJOP PBB Pertambangan Minerba

a. Areal produktif = 9,5 x hasil bersih galian tambang dalam satu tahun
sebelum tahun pajak berjalan;

b. Areal belum produktif, tidak produktif, areal emplesemen di dalam


atau di luar WKP = NJOP berupa tanah sebagaimana ditetapkan
dalam SK Kakanwil DJP a.n. Menkeu;

c. Areal perairan = luas perairan x NJOP peraiaran yang ditentukan


berdasarkan korelasi garis lurus kesmping dengan klasifikasi NJOP
permukaan bumi berupa tanah sekitarnya sebagaimana perhiitungan
pada Lamp. Va & Vb Kep. DJP No. KEP-16/PJ.6/1998 dan ditetapkan
oleh Kakanwil DJP a.n. Menkeu;

d. Objek pajak berupa bangunan = luas bangunan x NJOP bangunan


yang disusun berdasarkan DBKB sebagaimana ditetapkan dalam SK
Kakanwil DJP a.n. Menkeu.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Penentuan NJOP PBB Pertambangan Minerba
(areal belum produktif dan areal tidak produktif)
SE-47/PJ.6/1999

Pengenaan PBB atas areal belum produktif dan areal tidak produktif
dengan mempertimbangkan tahapan kegiatan penambangan sebagai
berikut:

 Penyelidikan umum, sebesar 5% luas WKP dengan NJOP berupa


tanah sebagaimana ditetapkan dalam keputusan Kakanwil DJP atas
nama menteri Keuangan.
 Eksplorasi pada tahun 1-5, masing-masing sebesar 20% dari luas
WKP dengan NJOP berupa tanah sebagaimana ditetapakn dalam
Keputusan Kakanwil atas nama Menteri Keuangan.
 Eksplorasi untuk perpanjangan I dan II, sebesar 50% dari luas areal
WKP dengan NJOP berupa tanah sebagaimana ditetapakan dalam
Keputusan Kakanwil atas nama Menteri Keuangan.
 Pembangunan fasilitas eksploitasi (konstruksi) sampai dengan
produksi adalah luas areal WKP dengan NJOP berupa tanah
sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Kakanwil atas nama
Menteri Keuangan.
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
Tata Cara Penentuan Hasil Bersih dan
NJOP Bumi Produksi
a. Hasil Produksi Galian Tambang Tahun...... =............ Ton/kg/m3 dsb

b. Harga Patokan Penjualan =Rp...................... (setelah dikonversi dari US$)

c. Total Penjualan ( a x b) =Rp......................

d. Biaya Penjualan Galian Tambang


1. Biaya Pengolahan dan Pemurnian Galian =Rp...................
Tambang
2. Biaya Pengangkutan galian Tambang =Rp...................

3. Biaya Tongkang/Ponton =Rp...................

Biaya dari ROM ke FOB (1+2+3) =Rp......................

e. Pendapatan Kotor (c-d) =Rp......................

4. Biaya Pengupasan Lapisan Tanah =Rp...................

5. Biaya Pengambilan Galian Tambang =Rp...................

f. Biaya Eksploitasi (4+5) =Rp......................

g. Hasil bersih Galian Tambang (e-f) =Rp......................

h. NJOP (9,5 x g) =Rp......................

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Pengenaan PBB
Sektor
Pertambangan
MIGAS dan
PABUM

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Dasar Hukum

 Undang-Undang No. 12 Tahun 1985 ttg Pajak Bumi dan


Bangunan jo. UU No. 12 Tahun 1994
 Undang-Undang No. 27 Tahun 2003 ttg Panas Bumi
 Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 ttg Minyak dan Gas Bumi
 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 ttg Dana
Perimbangan
 Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK15/PMK.03/2012
 Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK 150/PMK.03/2010
 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2012
 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-21/PJ/2012

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Pengertian
PBB Minyak dan Gas Bumi
PBB Migas adalah PBB atas bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam
wilayah kerja atau wilayah kuasa pertambangan minyak bumi dan gas bumi
yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh Kontraktor Kontrak
Kerja Sama

PBB Panas Bumi


PBB Panas Bumi adalah PBB atas bumi dan/atau bangunan yang berada di
dalam wilayah kerja atau sejenisnya terkait pertambangan Panas Bumi yang
diperoleh haknya, dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh Pengusaha
Panas Bumi.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Objek Pajak PBB Migas dan Pabum

Objek pajak PBB Migas adalah bumi dan/atau bangunan yang berada di
dalam wilayah kerja atau wilayah kuasa pertambangan minyak bumi dan gas
bumi yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh KKKS

Obyek Pajak PBB Panas Bumi adalah bumi dan/atau bangunan yang berada di
dalam Wilayah Kerja atau sejenisnya terkait pertambangan Panas Bumi yang
diperoleh haknya, dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan Pengusaha Panas Bumi.

meliputi permukaan bumi dan


tubuh bumi yang ada di bawahnya Pasal 3 ayat
Permenkeu (1) dan
(2)
40 kelas
PMK 15/PMK.03/2012

meliputi konstruksi teknik


yang ditanam atau dilekatkan secara
tetap di areal daratan (onshore) atau
areal perairan lepas pantai (offshore)
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
Objek Pajak PBB Migas dan Pabum
Objek Pajak Permukaan
Bumi
Bumi
permukaan bumi meliputi areal
daratan (onshore) dan areal
perairan lepas pantai (offshore),
Bangunan yang digunakan untuk kegiatan
eksplorasi dan eksploitasi
pertambangan migas serta
pengusahaan panas bumi
OBJEK PAJAK

Areal Permukaan Bumi

Bangunan
Tubuh
Bumi
Tubuh
Bumi tubuh bumi merupakan
bagian bumi yang berada di
bawah permukaan bumi

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Objek Pajak PBB Migas dan Pabum

PERMUKAAN BUMI
PERMUKAAN BUMI
Areal PERAIRAN Lepas
Areal DARATAN
Pantai (offshore)
(onshore)

Garis pantai

TUBUH BUMI TUBUH BUMI


(PRODUKSI) (PRODUKSI)

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


SPOP PBB Migas dan Pabum
Surat Pemberitahuan Obyek Pajak
(SPOP)
Surat Pemberitahuan Obyek Pajak (SPOP) adalah surat yang
digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan data obyek
pajak menurut ketentuan UU PBB.

Lampiran
SPOP
Lampiran SPOP adalah formulir yang digunakan oleh Subyek
Pajak atau Wajib Pajak untuk melaporkan data rinci Obyek
Pajak.
SPPT

SPPT adalah surat yang digunakan oleh Direktorat Jenderal


Pajak untuk memberitahukan besarnya PBB yang terutang
kepada Wajib Pajak
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
Pengenaan PBB

Dasar Pengenaan PBB Migas dan Pabum


adalah

Nilai Jual Objek Pajak


(NJOP)

Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) adalah harga rata-


rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara
wajar, dan apabila tidak terdapat transaksi jual beli, NJOP
ditentukan melalui perbandingan harga dengan Obyek lain
yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau NJOP pengganti.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Pengenaan PBB

NJOP

Bumi Bangunan

Permukaa Tubuh
n Bumi Bumi

Tahap Tahap
Eksplorasi Eksploitasi

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Pengenaan PBB

NJOP PBB untuk


permukaan bumi

ditentukan melalui harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli
yang terjadi secara wajar atau perbandingan harga dengan objek lain yang
sejenis

NJOP PBB untuk


bangunan

ditentukan melalui nilai perolehan baru sebesar biaya


pembangunan baru (reproduction cost new) setelah dikurangi
penyusutan.

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Pengenaan PBB Migas (Tubuh Bumi)
NJOP PBB Migas untuk
tubuh bumi
(tahap eksplorasi)

ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pajak

NJOP PBB Migas untuk Angka Kapitalisasi adalah suatu faktor


tubuh bumi untuk mengkonversi hasil produksi menjadi
nilai jual objek
(tahap eksploitasi)
Hasil produksi minyak bumi yang
ditentukan melalui pendekatan digunakan sebagai dasar pengenaan pajak
nilai jual pengganti yang dihitung adalah berupa minyak bumi yang terjual
berdasarkan perkalian angka (lifting) dalam satu tahun sebelum tahun
pajak berjalan
kapitalisasi, hasil produksi, dan
harga minyak mentah Indonesia, Hasil produksi gas bumi yang
dan harga produksi gas bumi digunakan sebagai dasar pengenaan pajak
adalah berupa gas bumi yang terjual dalam
satu tahun sebelum tahun pajak berjalan

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Pengenaan PBB Pabum (Tubuh Bumi)
NJOP PBB Panas Bumi
untuk tubuh bumi
tahap eksplorasi)

ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pajak

NJOP PBB Panas Bumi


untuk tubuh bumi
(tahap eksploitasi)

ditentukan melalui pendekatan nilai jual pengganti yang


dihitung berdasarkan perkalian angka kapitalisasi, hasil
produksi uap/listrik, dan harga produksi uap/listrik
Hasil produksi panas bumi yang digunakan sebagai
dasar pengenaan pajak adalah uap dan listrik yang terjual
dalam satu tahun sebelum tahun pajak berjalan

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Perhitungan PBB

[ PBB = (NJOP - NJOPTKP) x NJKP x Tarif


]
NJOP : NJOP Bumi + NJOP Bangunan

NJOPTKP : Nilai Jual Obyek Pajak Tidak Kena Pajak

NJKP : Nilai Jual Kena Pajak


NJKP sektor pertambangan = 40% (PP 25 tahun
2002)

Tarif : 0,5% (Pasal 5 UU PBB)

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Penilaian Objek Pajak (1)
Nilai bumi per meter persegi
Areal Belum
Produktif

Areal
Emplasemen

Areal Areal
Onshore Produktif

Areal Areal Tidak


Offshore Produktif
Nilai bumi per
meter persegi Tubuh Bumi Areal
Eksplorasi Pengaman

Tubuh Bumi
Eksploitasi
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
Penilaian Objek Pajak (2)
Nilai bumi per m² - Areal Onshore
Penentuan nilai bumi per meter persegi masing-masing areal, dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
Untuk areal belum produktif dan areal emplasemen,
Areal belum melalui tahapan:
produktif 1) melakukan pengumpulan data pembanding
berupa objek sejenis,
Areal emplasemen
2) melakukan analisis terhadap data pembanding
tersebut untuk menentukan nilai bumi per
meter persegi dari masing-masing data
pembanding,
3) menentukan nilai indikasi rata-rata bumi per
meter persegi.
Areal produktif Untuk areal produktif, areal tidak produktif, dan
Areal tidak areal pengaman, ditentukan dengan cara
produktif melakukan penyesuaian terhadap nilai bumi per
meter persegi untuk areal belum produktif.
Areal pengaman NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.
Penilaian Objek Pajak (3)
Nilai bumi per m² - Areal Offshore & Tubuh Bumi Eksplorasi

Areal offshore Nilai bumi per meter persegi untuk areal offshore
dan tubuh bumi eksplorasi menggunakan nilai bumi
Tubuh bumi per meter persegi yang telah ditetapkan dalam
eksplorasi

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


Penilaian Objek Pajak (4)
Nilai bumi per m² - Tubuh Bumi Eksploitasi
nilai bumi untuk tubuh
Nilai bumi per meter persegi bumi Eksploitasi
untuk tubuh bumi Eksploitasi
luas Wilayah Kerja
Nilai bumi untuk tubuh bumi Eksploitasi tersebut ditentukan
berdasarkan hasil perkalian :

Angka Hasil Harga produksi Minyak


Kapitalisasi Produksi Bumi dan/atau Gas Bumi PBB Migas
Harga produksi uap
Angka
Kapitalisasi
Hasil
Produksi dan/atau listrik
PBB Pabum
Pembangkit listriknya dikelola
sendiri oleh Pengusaha Panas Bumi

Angka Hasil
Kapitalisasi Produksi
Harga produksi uap PBB Pabum
Pembangkit listriknya dikelola
NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M. sendiri oleh Pengusaha Panas Bumi
Penilaian Objek Pajak (5)
Nilai bangunan per m²

Nilai bangunan per meter


Total nilai bangunan
persegi
Total luas bangunan

Nilai bangunan masing-masing bangunan ditentukan sebesar


biaya pembangunan baru setelah dikurangi penyusutan

NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.


NOVI RUBIYANTI, S.E., M.M.