Anda di halaman 1dari 64

PARACETAMOL

NAMA ANGGOTA KELOMPOK


LAURA MAYANG LESTARI (201510410311122)
KHAIRIL RAMADHANI (201510410311123)
NENCYLIA MAHMINTARI (201510410311130)
UMMA ISTIQOMAH DWIPUTRI (201510410311136)
RIAN NORAHMAN (201510410311133)
BIAS INTANIA PUTRI (201510410311146)
PARACETAMOL

Jenis obat Analgesik


Golongan Obat bebas
Manfaat Meredakan rasa sakit dan demam
Dikonsumsi oleh Dewasa dan anak-anak
Nama lain Acetaminophen
Tablet, kapsul, obat larut, cairan yang diminum, supositoria, suntik dan
Bentuk obat
infus
PARACETAMOL

Parasetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik/analgesik. Parasetamol utamanya
digunakan untuk menurunkan demam yang disebabkan oleh karena infeksi atau sebab yang lainnya. Disamping itu,
parasetamol juga dapat digunakan untuk meringankan gejala nyeri dengan intensitas ringan sampai sedang. Ia aman
dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi.
PARACETAMOL

Sifat analgesik dari parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Dalam golongan obat analgetik,
parasetamol memiliki khasiat sama seperti aspirin atau obat-obat non steroid antiinflamatory drug (NSAID) lainnya.
Seperti aspirin, parasetamol berefek menghambat prostaglandin (mediator nyeri) di otak. Sementara itu, sifat
antipiretiknya disebabkan oleh gugus aminobenzen yang dikandungnya.

Parecatamol merupakan obat analgetika perifer (non-narkotik). Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat
Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem
susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat
Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan
Obat Analgetika jenis Analgetik Narkotik).
PARACETAMOL

Parasetamol mengalami reaksi deasetilasi dengan asam arachidonat membentuk N-arachidonoylfenolamin, Adanya N-
arachidonoylfenolamin ini menghambat enzim siklooksigenase yang memproduksi prostaglandin. Parasetamol
menghambat kerja COX. Kemampuan menghambat kerja enzim COX membuat paracetamol dapat mengurangi rasa
sakit kepala dan dapat menurunkan demam tanpa menyebabkan efek samping,tidak seperti analgesik-analgesik lainnya
MEKANISME PARACETAMOL
MEKANISME PARACETAMOL

Di membran sel ada yang namanya Phosphatidylcholine dan Phosphatidylinositol. Saat terjadi luka, membran tersebut
akan terkena dampaknya juga. Phosphatidylcholine dan phosphatidylinositol diubah menjadi asam arakidonat dengan
bantuan dengan bantuan enzim phospoliphase A2. Asam arakidonat nantinya bercabang menjadi dua: jalur
siklooksigenasi (COX) dan jalur lipooksigenase.
Pada jalur COX ini terbentuk Prostaglandin dan thromboxane. Sedangkan pada jalur lipooksigenase terbentuk
leukotrin.
Selain prostaglandin, ada hasil-hasil yang lain dan memiliki peran berbeda:
1. Prostaglandin: mediator inflamasi dan nyeri. Juga menyebabkan vasodilatasi dan edema (pembengkakan)
2. Thromboxane: menyebabkan vasokonstriksi dan agregasi (penggumpalan) platelet
3. Leukotriene: menyebabkan vasokontriksi, bronkokonstriksi
COX ada 2 macam secara garis besar: COX-1 dan COX-2. COX-1 fungsinya menghasilkan prostaglandin yang esensial
bagi tubuh, misal di lambung dan ginjal. Sedangkan COX-2 ada jika ada reaksi inflamasi
DOSIS PARACETAMOL

Umur Dosis Paracetamol


3 bulan – 1 tahun 60-120 mg
1-5 tahun 120-250 mg
6-12 tahun 250-500 mg
Dewasa 500 mg – 1 g

Dosis ini boleh diulang tiap 4 – 6 jam bila diperlukan (maksimum sebanyak 4 dosis dalam 24 jam)
ADME PARACETAMOL
ABSORBSI

Absorbsi merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses
tersebut. Absorbs kebanyakan obat melalui saluran cerna pada umumnya terjadi secara difusi pasif, karena itu absorbsi
mudah terjadi bila obat dalam bentuk non ion dan mudah larut dalam lemak.

Parasetamol yang diberikan secara oral diserap secara cepat dan mencapai kadar serum puncak dalam
waktu 30 - 120 menit. Adanya makanan dalam lambung akan sedikit memperlambat penyerapan
sediaan parasetamol lepas lambat.
DISTRIBUSI

Obat didistribusikan ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga
ditentukan oleh sifat fisikokimianya. Distribusi obat dibedakan atas dua fase berdasarkan penyebarannya di dalam
tubuh. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik misalnya :
jantung, hati, ginjal, dan otak. Selanjutnya, distribusi fase dua jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya
tidak sebaik organ pada distribusi fase pertama misalnya : otot, visera, kulit, dan jaringan lemak. Distribusi ini baru
mencapai kesetimbangan setelah waktu yang lama.

Parasetamol terdistribusi dengan cepat pada hampir seluruh jaringan tubuh. Lebih kurang 25%
parasetamol dalam darah terikat pada protein plasma.
METABOLISME

Parasetamol berikatan dengan sulfat dan glukuronida terjadi di hati. Metabolisme utamanya meliputi senyawa sulfat
yang tidak aktif dan konjugat glukoronida yang dikeluarkan lewat ginjal. Sedangkan sebagian kecil, dimetabolismekan
dengan bantuan enzim sitokrom P450. Hanya sedikit jumlah parasetamol yang bertanggung jawab terhadap efek toksik
(racun) yang diakibatkan oleh metabolit NAPQI (N-asetil-p- benzo-kuinon imina). Bila pasien mengkonsumsi
parasetamol pada dosis normal, metabolit toksik NAPQI ini segera didetoksifikasi menjadi konjugat yang tidak toksik
dan segera dikeluarkan melalui ginjal. Perlu diketahui bahwa sebagian kecil dimetabolisme cytochrome P450 (CYP)
atau N-acetyl-p-benzo-quinone-imine (NAPQI) bereaksi dengan sulfidril.
ELIMINASI

Eliminasi sebagian besar obat dari tubuh terdiri dari dua proses yaitu metabolisme (biotransfromasi) dan ekskresi.
Seperti halnya biotransformasi, ekskresi suatu obat dan metabolitnya menyebabkan penurunan konsentrasi bahan
berkhasiat dalam tubuh. Ekskresi dapat terjadi tergantung pada sifat fisiokimia (bobot molekul, harga pKa, kelarutan,
dan tekanan uap).

Parasetamol diekskresikan melalui urin sebagai metabolitnya, yaitu asetaminofen glukoronoid,


asetaminofen sulfat, merkaptat dan bentuk yang tidak berubah.
MENGAPA PARACETAMOL MENYEBABKAN TOKSISITAS ?

Pasien mengkonsumsi parasetamol pada dosis tinggi, konsentrasi metabolit ini menjadi jenuh sehingga menyebabkan
kerusakan hati. Pada dosis normal bereaksi dengan sulfhidril pada glutation metabolit non-toxic diekskresi oleh ginjal.
Ket : A (normal), B (overdosis)
MENGAPA PARACETAMOL MENYEBABKAN TOKSISITAS ?
MENGAPA PARACETAMOL MENYEBABKAN TOKSISITAS ?
MENGAPA PARACETAMOL MENYEBABKAN TOKSISITAS

Dalam kondisi overdosis, jumlah GSH jauh lebih rendah daripada NAPQI. Pada kondisi overdosis metabolisme dengan
glukoronidasi dan sulfatasi suatu saat akan menjadi jenuh. Hal ini karena jumlah glukoronidasi dan sulfatasi terbatas.
Dimana suatu saat jumlah glukoronidasi dan sulfat akan habis dan metabolisme parasetamol akan dibebankan pada
jalur CYP 2E1. Jika jumlah parasetamol yang lewat jalur CYP 2E1 meningkat, maka jumlah NAPQI juga meningkat.
Kelanjutannya, jumlah NAPQI akan terlalu banyak bagi GSH. GSH yang ada akan berusaha menetralkan NAPQI
dengan semua kemampuannya. Namun jumlah GSH semakin lama semakin sedikit dan dapat habis karena
biosintesisnya lambat. Jika GSH habis bagaimana nasib sisa NAPQI? NAPQI yang tersisa akan berusaha mencari
tempat ikatan, sehingga dia berikatan dengan protein-protein di hati. Oleh Karena itu, fungsi hati dapat terganggu dan
jiks kondisi ini dibiarkan/jumlah NAPQI akan banyak dan menumpuk maka dapat terjadi kerusakan dan nekrosis hati
DOSIS TOXIC

A. Mengonsumsi lebih dari 150-200 mg / kg pada anak-anak atau 6-7 g pada orang dewasa berpotensi
hepatotoksik.
Anak-anak yang berusia kurang dari 10-12 tahun kurang rentan terhadapnya hepatotoksisitas karena kontribusi
sitokrom P-450 untuk metabolisme asetaminofen lebih kecil.
B. Toksisitas kronis telah dilaporkan setelah konsumsi supratherapeutik setiap hari (lebih dari 4-6 g / hari) oleh
pasien alkoholik. Toksisitas anak-anak meningkat setelah menerima dosis 60-150 mg / kg / hari selama 2-8 hari
MENGAPA PARACETAMOL MENYEBABKAN TOKSISITAS

Sulfat dan glukuronida pada liver tersaturasi

paracetamol lebih banyak ke CYP -> NAPQI bertambah -> suplai glutation tidak mencukupi

NAPQI bereaksi dengan membran sel

Hepatosit rusak -> nekrosis


KASUS

Seorang ibu, Mandy mengalami patah hati setelah tahu bahwa anaknya, Charllote Yousaf mengalami overdosis
paracetamol. Setelah mengalami overdosis, remaja berusia 19 tahun tersebut ditemukan pingsan beberapa hari
kemudian dan dilarikan ke Rumah Sakit Blackpool Victoria, yang mana setelah beberapa hari meninggal. “Paracetamol
Challenge” yang mana mereka menyalahgunakan obat penghilang rasa nyeri ini dengan meminum sebanyak yang
mereka bias. Kasus pertama dari remaja yang menjadi korban hal gila ini terjadi di Ayrshire, Skotlandia, yang juga
dikabarkan meninggal di rumah sakit. Mandy mengatakan bahwa dokter menyampaikan jika sebenarnya anak
pertamanya dapat diselamatkan jika lebih cepat dibawa ke rumah sakit dan mungkin membutuhkan transplantasi hati.
Gejala yang timbul dari adanya overdosis paracetamol ini yaitu: kerusakan hati, kulit menguning, mata
pucat, kehilangan koordinasi, gula darah menurun
GEJALA YANG TIMBUL

 Muntah
 Sariawan
 Kehilangan koordinasi (kaki goyah)
 Mata pucat
 Kerusakan hati
 Kulit menguning
 Gula darah menurun
MUNTAH
MUNTAH

Sintesis
Mukosa lambung
Paracetamol Menghambat COX prostaglandin Reseptor 5HT
menurun
terhambat

Merangsang syaraf Mengaktifkan pusat


Tekanan diafragma CTZ Serotonin
hipoglossus (XII) mual muntah

↑ kontraksi
duodenum dan refluks cairan ke
Respirasi ↓ tekanan abdomen ↑ Muntah
relaksasi bulbus lambung
duodenum
MUNTAH

Saluran pencernaan mengaktifkan pusat muntah oleh stimulasi kemoreseptor pada glossopharyngeal atau aferen vagal
(saraf kranial IX dan X) atau dengan pelepasan serotonin dari sel-sel usus enterochromaffin, yang pada gilirannya
merangsang reseptor serotonin (5-HT3) pada aferen vagal. Reseptor Histamin (H1) dan Asetilkolin M1 muncul pada
aferen vestibular. Racun endogen atau eksogen yang melalui darah dapat mengaktifkan kemoreseptor di postrema
lantai ventrikel keempat melalui jenis reseptor dopamin 2. Akhirnya, pusat SSP yang lebih tinggi dapat mengaktifkan
atau menghambat pusat muntah. Selain itu, aktivasi langsung reseptor H1 pada meninges sekunder untuk
meningkatkan tekanan intrakranial sehingga terjadi rangsangan muntah seiring inspirasi sfingter esofagus dan relaksasi,
laring dan palatum mole terangkat, dan glotis menutup.Selanjutnya diafragma akan berkontrasi dan menurun, dan
dinding perut juga berkontraksimengakibatkan suatu tekanan pada lambung, sehingga isinya dimuntahkan.

Terhambatnya sintesis prostaglandin diakibatkan oleh paracetamol yang memblok jalur COX. Hal ini menyebabkan
menurunnya mukosa lambung. Penurunan mukosa lambung ini merangsang reseptor 5HT untuk mengeksresi
serotonin yang kemudian diterima oleh CTZ, sehingga menimbulkan muntah.
SARIAWAN
SARIAWAN

Sintesis
Menghambat
Paracetamol prostaglandin
COX
terhambat

Regenerasi Cairan
Epitel mukosa
mukosa mukosa
rusak
terhambat menurun

Epitel tipis dan


terjadi ulkus
SARIAWAN
Sariawan akibat konsumsi paracetamol adalah dikarenakan paracetamol menghambat jalur COX 1 dan COX 2, dimana
COX 1 bertanggung jawab terhadap sekresi cairan mukus dan diferensiasi sel. Lapisan terluar mukosa dilindungi oleh epitel
skuamosa berlapis. Jaringan epitel pada rongga mulut selalu bergenerasi melalui pembelahan sel. Faktor yang menstimulasi
pembelahan adalah infiltrasi ringan sel inflamasi subepitel. Pembelahan sel terjadi pada lapisan germina yang paling dekat
dengan basalis.Yang selanjutnyanya sel akan meninggalkan basalis dan masuk ke tahap diferensiasi. Namun ketika terjadi
inflamasi berat, aktivitas proliferasi sel epitel menurun. Proliferasi sel adalah tahap dimana dihasilkan sel baru yang dapat
menggantikan sel di lapisan permukaan yang hilang atau rusak. Proliferasi sel epitel distimulasi oleh peptide growth
factor yang disebut sitokin, yaitu epidermal growth factor (EGF),transforming growth factor-β(TGF-β), platelet derived
growth factor (PDGF) dan interleukin 1 (IL-1). TGF-β merupakan molekul yang dibutuhkan oleh sel dalam melakukan
proliferasi sel di lambung, usus, kulit, rongga mulut, dan mekanisme penyembuhan luka. Jadi, ketika terjadi inflamasi berat
akibat terlalu banyak mengkonsumsi parasetamol maka menurunkan proliferasi sel menurun sehingga mukosa menjadi lebih
tipis dan mudah terjadi ulkus.
Penghambatan COX juga menyebabkan PGE2 tidak dapat menstimulasi sekresi mukus dan bikarbonat yang menjaga aliran
darah mukosa dan berpartisipasi dalam pertumbuhan sel-sel epitelial dalam penyembuhan luka serta membuat pH mulut
menjadi lebih asam karena terhambatnya sekresi bikarbonat. Prostaglandin (PGE2) juga agen penting dalam saliva yang
mempunyai peran melindungi mukosa mulut. Jadi, ketika terjadi inflamasi berat akibat terlalu banyak mengkonsumsi
parasetamol maka menurunkan proliferasi sel menurun sehingga mukosa menjadi lebih tipis dan mudah terjadi ulkus
KERUSAKAN HATI
KERUSAKAN HATI

Berikatan
ROS dan JNK Apoptosis dan
paracetamol NAPQI dengan makro
meningkat nukreosis
molekul

Mediator
Caspase 1 inflamsi NFKB TLR9 DAMP
nonaktif

Kerusakan
Mediator
Hyperinflamasi jaringan
inflamasi aktif
meluas
KERUSAKAN HATI

Paracetamol yang diubah oleh cytocrom p450 menjadi NAPQI dapat berikatan dengan makro molekul yang lain yang
menyebabkan kerusakan sel hati. Tingkat keparan kerusakan sel hati dipicu oleh ROS dan JNK yang meninkat sehingga
apoptosis yang terjadi tidak terkontrol dan nukreosis meningkat. Sel-sel yang mati mengeluarkan sinyal yang disebut
DAMP. DAMP merupakan protein HMGB 1. Acetaminophen memberikan sinyal kepada HMGB 1 untuk menghasilkan
TLR9. TLR9 menghasilkan NFKB. NFKB ini mengaktifkan transkripsi mediator inflamasi yang belum aktif (pro IL-18
dan pro IL-1B) sehingga tidak dapat keluar dari sitosol sel. Untuk dapat teraktifasi menjadi bentuk aktifnya
memerlukan peran dari caspase 1. caspase 1 diaktifkan dari procaspase 1 oleh inflamasom. Sehingga mediator
inflamasi tersebut menjadi aktif (IL-18 dan IL-1B). Hal ini dalam kondisi hyperinflamasi menyebabkan kerusakan
jaringan yang luas.
KEHILANGAN KOORDINASI (KAKI GOYAH)
KEHILANGAN KOORDINASI (KAKI GOYAH)

Aktin dan Tidak ada


ATP kurang myosin tidak pergeseran
terikat filamen

Kehilangan
Tidak ada
koordinasi
kontraksi otot
(kaki goyah)
KEHILANGAN KOORDINASI

Terjadinya kontraksi otot dikarenakan oleh adanya pergeseran filamen-filamen aktin oleh kepala myosin. Saat
menggeser filamen, myosin memerlukan hidrolisis ATP. Pada kasus ini kehilangan koordinasi berupa kaki goyah terjadi
Karena kurangnya kontraksi pada otot, hal ini terjadi Karena kapasitas ATP yang dibutuhkan myosin kurang akibat dari
penghambatan sintesis ATP pada mitokondria oleh NAPQI.
KULIT KUNING
KULIT KUNING
KULIT KUNING
KULIT MENGUNING
Pembaruan sel
Masuk ke
darah merah yang Bilirubin terbentuk
pembuluh darah
tua atau rusak

Hati mengalami
Masuknya bilirubin
kerusakan jaringan Diteruskan ke hati
ke hati terganggu
(toksisitas pct)

Bilirubin
bertumpuk dalam
Kulit kuning
darah dan
mengendap di kulit
KULIT MENGUNING
Ikterus Hepatik adalah ikterus yang terkait dengan radang hati atau hepatitis karena menyebabkan penurunan kerja sel-sel
hati dalam fungsinya mengatur sirkulasi dan metabolisme Bilirubin. Bilirubin, yang berasal dari heme pada saat perombakan
sel darah merah, diserap oleh hati dari darah dan dikeluarkan ke empedu. Jika sel-sel hati bekerja secara normal maka kadar
Bilirubin dalam sirkulasi berkisar antara 0,1 hingga 1 mg/dl plasma darah. Penderita Ikterus atau kuning karena radang hati
biasanya memiliki kadar Bilirubin dalam plasma darah lebih dari 2,5 mg/dl atau meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan
kadar normal

Bilirubin terbentuk ketika hemoglobin terurai akibat proses pembaruan sel darah merah yang sudah tua atau telah rusak.
Setelah bilirubin terbentuk, zat ini kemudian masuk ke pembuluh darah untuk selanjutnya dibawa ke hati. Di dalam organ ini,
bilirubin kemudian bercampur dengan empedu. Bilirubin yang telah bercampur dengan empedu ini lalu dipindahkan ke
saluran pencernaan melalui saluran empedu sebelum akhirnya dibuang ke luar tubuh beserta urine dan tinja.

Jika proses di atas mengalami gangguan dan bilirubin terlambat masuk ke hati atau saluran empedu, maka zat ini akan
bertumpuk di dalam darah dan mengendap di kulit sehingga kulit menguning. Hal ini meningkatkan bilirubin tak terkonjugasi
dalam darah. Bilirubin tak terkonjugasi tidak larut dalam air, sehingga tidak dapat diekskrsikan dalam urin dan tidak terjadi
bilirubinuria. Namun demikian terjadi peningkatan pembentukan urobilinogen (akibat peningkatan beban bilirubin terhadap
hati dan peningkatan konjugasi serta ekskresi), yang selanjutnya mengakibatkan peningkatan eksresi dalam feses dan urin.
MATA PUCAT
MATA PUCAT

Adanya kerusakan sel hati menyebabkan G6PD menurun. Penurunan G6PD ini menyebabkan berkurangnya NADPH
yang dapat mengakibatkan hemolysis. Hemolisis menyebabkan Hb keluar yang mengakibatkan hemoglobinemia. Hal ini
menyebabkan O2 dalam tubuh berkurang dan terjadi vasokontriksi perifer yang mengakibatkan pucat.
GULA DARAH MENURUN
GULA DARAH MENURUN

Hati mengalami Insulin tidak dapat


Sel beta pankreas Insulin kerusakan masuk ke dalam
(toksisitas pct) hati

Pankreas
Insulin menumpuk
Masuk ke hati mengeluarkan Gula darah rendah
di darah
glikogen

Hati mengalami Tidak terjadi


Gula darah tetap
kerusakan perubahan glikogen
rendah
(toksisitas pct) menjadi glukosa
GULA DARAH MENURUN

Keracunan paracetamol dapat menyebabkan hipoglikemia karena pada awalnya telah terjadi kerusakan hati, dimana
hati adalah tempat pengaturan gula darah. Sel beta pada pankreas mengeluarkan insulin agar menjaga kadar gula darah
tetap pada keadaan normal, tetapi karena hati telah terjadi kerusakan maka insulin tidak dapat masuk kedalam liver,
dan kadar insulin dalam darah menumpuk dan dapat mengakibatkan gula darah semakin rendah, pada saat kadar gula
darah rendah sel alfa pada pankreas mengeluarkan glukagon untuk masuk kedalam hati untuk mengubah glikogen
menjadi glukosa, namun karena terjadi kerusakan hati maka glikogen tidak dapat berubah menjadi glukosa, dan pada
akhirnya kadar gula darah pasien akan tetap rendah atau terjadi hipoglikemia.
PENANGANAN TIDAK KHAS

 Rangsang muntah/pengosongan lambung (tindakan ini hanya efektif bila parasetamol baru ditelan atau peristiwa
tersebut terjadi kurang dari 1 jam sebelum diketahui). Dalam sedikit kasus di mana seseorang datang ke rumah
sakit beberapa menit setelah minum overdosis, dokter mungkin mencoba untuk mengosongkan perut. Hal ini
dapat dicapai dengan menginduksi muntah atau dengan menempatkan sebuah tabung besar melalui mulut
seseorang dan masuk ke perut, memasukkan cairan kedalam perut kemudian memompa keluar (gastric lavage).
 Berikan arang aktif dengan dosis 100 gram dalam 200 ml air untuk orang dewasa dan larutan 1 g/kg bb untuk anak-
anak. Arang aktif dapat diberikan melalui mulut untuk mengikat obat yang tersisa di saluran pencernaan.
PENANGANAN DENGAN ANTIDOTUM

Antidot spesifik keracunan parasetamol adalah N-acetylcystein (juga terdapat dalam obat batuk). N-acetylcystein
yang mengandung gugus sulfhidril mengisi ulang cadangan enzim glutation dalam hati yang akan berikatan dengan
NAPQI atau menyediakan sumber sulfat sehingga mencegah kerusakan hati. Pemberian N-acetylcystein dilakukan
dalam waktu tidak lebih dari 10 jam setelah konsumsi parasetamol agar hasilnya efektif.
N-asetilsistein harus diberikan secara hati-hati dengan memperhatikan kontraindikasi dan riwayat alergi pada korban,
terutama riwayat asthma bronkiale.
MEKANISME N-ACETYLCYSTEIN
MEKANISME N-ACETYLCYSTEIN
MEKANISME N-ACETYLCYSTEIN

Acetaminophen dimetabolisme oleh hati, menghasilkan N-acetylbenzoquinoneimine (NAPQI) yang menyebabkan deplesi
glutathione hepatik. Pemberian NAC mengisi lagi persediaan glutathione dan mengurangi cidera hati. Efek antioksidan
tak langsung NAC berhubungan dengan perannya sebagai precursor glutathione. Pemeliharaan kadar glutathione
intraseluler penting untuk menanggulangi efek buruk zat toksik. Glutathione memainkan peran kunci dalam pertahanan
seluler melawan kerusakan oksidatif. Tubuh memproduksi dan menyimpan glutathione paling banyak di dalam hati. N-
asetil-sistein bekerja mensubstitusi glutation serta meningkatkan sintesis glutation. Dengan pemberian NAC maka
sistein dalam tubuh akan meningkat dan demikian pula pembentukan Glutathione (GSH). Jika GSH ada banyak dan
jumlahnya mampu mengimbangi atau melebihi jumlah NAPQI maka tidak ada lagi NAPQI bebas yang akan mengikat
protein hati. NAC punya atom S dalam gugus tiolnya (S-H), menurut beberapa sumber NAC dapat menyumbangkan S
nya ini untuk digunakan dalam proses metabolisme parasetamol sulfatasi. Dengan adanya sulfat dari NAC maka
sulfatasi akan dapat berjalan lagi sehingga metabolisme di CYP dan pembentukan NAPQI akan menurun
MEKANISME N-ACETYLCYSTEINE MENJADI GLUTHATIONE
MEKANISME N-ACETYLCYSTEINE MENJADI GLUTHATIONE

Metabolisme pada manusia terutama dikatalisis oleh enzim acylase I (N-acylamino acid amidohydrolase) termasuk
kelompok enzim acylase, yaitu
enzim cytosolic yang mengkatalisis deasetilasi N-acyl-L-amino acids sehingga menghasilkan asam lemak dan asam
amino.42
Setelah dideasetilasi, NAC menjadi L-cysteine, masuk ke dalam sel dan berperan sebagai prekursor sintesis glutathione.
Cysteine yang terbentuk bergabung dengan glutamate membentuk glutamylcysteine dikatalisis oleh enzim
glutamatecysteine ligase.
Selanjutnya glutamylcysteine bergabung dengan glycine membentuk glutathione (GSH) dengan dikatalisis enzim
glutathione synthase. N-acetylcysteine bermanfaat mencegah deplesi glutathione dan atau meningkatkan tingkat
glutathione hepatik.
DOSIS N-ACETYLCYSTEIN

SEDIAAN ORAL (UNTUK MENANGANI KASUS KERACUNAN PARACETAMOL)


Dosis dewasa : Larutan 5% : Awalnya, 140 mg / kg dilanjutkan dengan 70 mg / kg setiap 4 jam.
Dosis anak : Sama seperti dosis dewasa.
SEDIAAN INTRAVENA (UNTUK MENANGANI KASUS KERACUNAN PARACETAMOL)
Dosis dewasa : Awalnya, 150 mg / kg (maks : 16.5 g) dalam 200 mL pengencer selama 60 menit, dilanjutkan dengan 50 mg / kg (maks : 5.5 g)
dalam 500 mL pengencer selama 4 jam berikutnya, kemudian 100 mg / kg ( max : 11 g) dilarutkan dalam 1 L pengencer selama 16 jam
berikutnya.
Dosis anak dengan berat badan <20 kg : Awalnya, 150 mg / kg dalam 3 mL / kg pengencer selama 60 menit, dilanjutkan dengan 50 mg / kg
dilarutkan dalam 7 mL / kg pengencer selama 4 jam, kemudian 100 mg / kg dalam 14 mL / kg pengencer selama 16 jam.
Dosis anak dengan berat badan 20-40 kg : Awalnya, 150 mg / kg dalam 100 mL pengencer selama 60 menit, dilanjutkan dengan 50 mg / kg
dalam 250 mL pengencer selama 4 jam, kemudian 100 mg / kg dalam 500 mL pengencer selama 16 jam.
Dosis anak dengan berat badan > 40 kg : Sama seperti dosis dewasa.
EFEK SAMPING N-ACETYLCYSTEIN

Efek Samping Kecil

Beberapa efek samping yang bisa terjadi dengan asetilsistein mungkin tidak memerlukan perhatian medis.
Saat tubuh Anda menyesuaikan diri dengan obat selama pengobatan, efek samping ini bisa hilang. Efek
samping ebih umum:

Mual ringan
Sakit perut
Muntah

https://www.drugs.com/sfx/acetylcysteine-side-effects.html
EFEK SAMPING N-ACETYLCYSTEIN
Umum

Efek samping yang paling umum adalah reaksi anafilaktoid, mual, muntah, pembilasan, dan ruam kulit.

Hipersensitivitas

Gejala anafilaktoid meliputi penyumbatan jalan nafas (bronkospasme), angioedema, dyspnea, hipotensi, syok, takikardia, urtikaria, dan
reaksi di tempat suntikan (termasuk ruam). Ini paling umum terjadi selama, atau pada akhir infus dosis pemuatan, dan mungkin
terkait dengan dosis. Pemantauan yang cermat dianjurkan.

Sangat umum (10% atau lebih): Reaksi anafilaktoid (18%)


Jarang (0,1% sampai 1%): Anafilaksis
Langka (kurang dari 0,1%): Sensitisasi yang didapat

Gastrointestinal

Sangat umum (10% atau lebih): Muntah NOS (12%)


Umum (1% sampai 10%): Mual
https://www.drugs.com/sfx/acetylcysteine-side-effects.html
EFEK SAMPING N-ACETYLCYSTEIN
Pernapasan

Umum (1% sampai 10%): Gejala pernapasan, radang tenggorokan, rhinorrhea, rhonchi, tenggorokan sesak

Kardiovaskular

Umum (1% sampai 10%): Takikardia


Jarang (0,1% sampai 1%): Hipotensi

Dermatologis

Biasa (1% sampai 10%): Urticaria / pembilasan wajah, ruam NOS, pruritus, pembilasan

Metabolik

Biasa (1% sampai 10%): Edema

Lain

Langka (kurang dari 0,1%): Kematian https://www.drugs.com/sfx/acetylcysteine-side-effects.html


EFEK RUTE PEMBERIAN OBAT N-ACETYLCYSTEIN

A. Acetylcysteine biasanya menyebabkan mual dan muntah bila diberikan secara oral. Jika obat dimuntahkan,
harus diulang. Perhitungan dosis dan pengenceran yang tepat (sampai 5%) harus diverifikasi (efek ini mungkin
tergantung pada dosis dan konsentrasi). Penggunaan gastric tube, perlambatan laju administrasi, dan antiemetik
kuat (misalnya metoklopramid, ondansetron) jika perlu.
B. Pemberian intravena dapat menyebabkan kemerahan, ruam, angioedema, hipotensi, dan
bronkospasme (reaksi anafilaktoid). Reaksi dapat diminimalkan dengan memberikan setiap dosis perlahan
selama 60 menit dalam larutan encer (3-4%) (efek ini tergantung dosis dan konsentrasi ) dan sangat berhati-hati
pada penderita asma (hindari penggunaan IV atau titrasikan dengan hati-hati dengan larutan yang lebih encer dan
lebih lambat pada infus).
METHIONINE

Metionin adalah asam amino esensial yang membantu proses tubuh serta untuk menghilangkan lemak. Metionin
mengandung sulfur, sebuah zat yang diperlukan untuk produksi tubuh yang paling banyak antioksidan
alami, glutathione. Tubuh kita juga membutuhkan banyak metionin untuk menghasilkan dua asam lainnya yang
mengandung sulfur amino, yaitu sistein dan taurin, yang membantu tubuh dalam menghilangkan racun, membangun
jaringan yang sehat dan kuat, serta meningkatkan kesehatan kardiovaskular. Dalam menangani kasus keracunan
paracetamol, methionine memiliki cara kerja yang sama dengan N-acetilsistein yaitu memproduksi glutathione.
SIKLUS METHIONINE MENJADI GLUTATHIONE
SIKLUS METHIONINE MENJADI GLUTATHIONE

Dalam Siklus Metionin, metionin diubah menjadi SAMe (S-Adenosil Metionin), yang merupakan donor metil
untuk berbagai reaksi. Dalam kehilangan kelompok metilnya, SAMe menjadi SAH (S-Adenosyl Homocysteine), yang
kemudian diubah menjadi homocysteine. Homocysteine diubah menjadi metionin, atau memasuki jalur transsulfurisasi
untuk membentuk asam amino sulfur lainnya.
Pada sel hati (dan hanya di sel hati) homosistein dapat secara ireversibel memasuki jalur transsulfurasi (dikatalisis
oleh Vitamin B6) untuk menghasilkan asam amino sistein. Diperkirakan bahwa 60% homocysteine dimetabolisme oleh
transsulfurasi di hati, dengan glukokortikoid meningkatkan persentase tersebut. Sistein dapat dimasukkan ke dalam
protein, dapat digunakan dalam pembentukan molekul anti-oksidan glutathione (GSH), atau dapat dioksidasi menjadi
asam amino taurine. Suatu percobaan menunjukkan peningkatan aktivitas jalur transsulfurasi, dan secara signifikan
meningkatkan glutathione hati.
MEKANISME METHIONINE

Methionine
MEKANISME METHIONINE

Pemberian methionine pada pasien keracunan paracetamol memiliki mekanisme yang sama seperti N-asetilsistein
yaitu membantu untuk peningkatan pembentukan glutathione. Seperti yang telah disampaikan, pemeliharaan kadar
glutathione intraseluler penting untuk menanggulangi efek buruk zat toksik. Glutathione memainkan peran kunci dalam
pertahanan seluler melawan kerusakan oksidatif. Dengan pemberian methionine pembentukan GSH akan meningkat,
maka GSH ini akan mampu mengeimbangi kelebihan jumlah NAPQI. Maka tidak ada lagi NAPQI yang bebas berikatan
dengan protein hati. Ini akan membantu tidak terjadinya hepatotoksik oleh NAPQI
DOSIS METIONIN

Metionin dapat digunakan jika anak sadar dan tidak muntah


umur < 6 tahun: 1 g setiap 4 jam untuk 4 dosis;
umur 6 tahun atau lebih: 2.5 g setiap 4 jam untuk 4 dosis
EFEK SAMPING

Efek Samping Kecil

Beberapa efek samping yang bisa terjadi dengan metionin mungkin tidak memerlukan perhatian medis. Saat tubuh
Anda menyesuaikan diri dengan obat selama pengobatan, efek samping ini bisa hilang.

Kantuk
mual dan muntah

https://www.drugs.com/sfx/methionine-side-effects.html
Terima kasih
PERTANYAAN PADA SAAT PRESENTASI

 Mengapa disaat insulin masuk ke hepar yang selnya telah rusak mengakibatkan gula darah rendah?

Karena adanya kerusakan sel pada hepar, maka insulin tidak dapat masuk ke dalam hati dan kadar insulin dalam
darah menumpuk, hal ini yang dapat mengakibatkan gula darah semakin rendah. Pada saat kadar gula darah rendah sel
alfa pada pankreas mengeluarkan glukagon untuk masuk kedalam hati untuk mengubah glikogen menjadi glukosa,
namun karena terjadi kerusakan hati maka glikogen tidak dapat berubah menjadi glukosa, dan pada akhirnya kadar gula
darah pasien akan tetap rendah.