Anda di halaman 1dari 54

TUJUAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS

DAN KEBIJAKAN-RENCANA-PROGRAM

• KLHS dalam konteks Kebijakan Rencana Program (KRP)


• Jaminan keberlanjutan Pembangunan (prinsip2 keseimbangan,
keterkaitan, dan keadilan)
• Harmonisasi dan sinkronisasi (nasional vs daerah, daerah vs sektoral)
• Konsistensi antara konsep Visi, Misi, Tujuan, Prioritas pembangunan
dan Strategi (20, 5, 1 tahunan)
• Alternatif pembangunan Wilayah yg lebih optimal dan rendah resiko
kumulatif dan sistemik (SDA dan LH dlm setiap tahapan alternatif
pembangunan). Antisipasi mitigasi dan adaptasi (konteks tahapan
pembangunan)

Triarko Nurlambang
Pusat Penelitian Geografi Terapan UI
triarko@yahoo.com
0812978287
KLHS alam konteks Kebijakan-
Rencana-Program (KRP)
PENGERTIAN KLHS

Definisi KLHS

“Rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh,


dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip
pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar
dan terintegrasi dalam pembangunan suatu
wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau
program”

Pasal 1, UU 32/2009 tentang Perlindungan


dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
KLHS dan KRP (Kebijakan-Rencana-Program)

Source: Partidario, 2000


BEDA KLHS DENGAN AMDAL
Manfaat KLHS
• Merupakan instrumen proaktif dan sarana pendukung pengambilan
keputusan,
• Mengidentifikasi dan mempertimbangkan peluang-peluang baru melalui
pengkajian sistematis dan cermat atas opsi pembangunan yang tersedia,
• Mempertimbangkan aspek lingkungan hidup secara lebih sistematis pada
jenjang pengambilan keputusan yang lebih tinggi,
• Mencegah kesalahan investasi dengan berkat teridentifikasinya peluang
pembangunan yang tidak berkelanjutan sejak dini
• Tata pengaturan (governance) yang lebih baik berkat keterlibatan para pihak
(stakeholders) dalam proses pengambilan keputusan melalui proses konsultasi
dan partisipasi
• Melindungi asset-asset sumberdaya alam dan lingkungan hidup guna
menjamin berlangsungnya pembangunan berkelanjutan,
• Memfasilitasi kerjasama lintas batas untuk mencegah konflik, berbagi
pemanfaatan sumberdaya alam, dan menangani masalah kumulatif dampak
lingkungan.
PEMANFAATAN KLHS DI DUNIA
KLHS sampai saat ini secara luas dimanfaatkan untuk
bidang-bidang, diantaranya:
• Perjanjian internasional
• Privatisasi
• Program Operasi Terstruktur
• Anggaran Nasional
• Rencana Investasi Jangka Panjang
• Proposal legislatif
• Kebijakan Global dan Sektoral
• Kebijakan Strategi Pengentasan Kemiskinan
• penataan Ruang dan Perencanaan Tata Guna Tanah
• Perencanaan Sektoral (pertanian, pariwisata,
pertambangan, infrastruktur, dll)
Proses KLHS;
Membantu Pergeseran Orientasi Kebijakan Pembangunan

Instrumen Kajian
Ekonomi

Ekon. Ekon. Ekon.

KLHS LH LH LH

Sos. Sos. Sos.

Instrumen
Kajian Sosial

Meningkatkan perhatian pada integrasi LH – Sosial - Ekonomi

RTRW & Sebelum Perda Penetapan Perda Pelaksanaan KLHS Pelaksanaan Monitoringn dan
RPJMD tentang RTRW tentang RTRW & RTRW dan RPJMD pengendalian RTRW dan RPJMD
dan RPJMD RPJMD

Bantuan teknis Tim KLHS Dirjen Peran Stakeholders semakin


Bangda kuat
Evolusi KLHS di Eropah ….. dan juga
diadopsi/berlaku di Indonesia
Fase 1 Fase 2 Fase 3
Aplikasi AMDAL untuk tingkat • AMDAL untuk tingkat proyek • AMDAL untuk tingkat proyek
proyek • KLHS untuk program dan • KLHS untuk program dan
perencanaan perencanaan
• KLHS untuk kebijakan
Tujuan Informasi • Informasi dan • Informasi dan
• Dialog • Dialog dan
• Perubahan politik
Fokus Lingkungan hidup • Lingkungan hidup • Lingkungan hidup
• Sosial • Sosial
• Ekonomi
Proses Proses sendiri Berhubungan dengan proses Terintegrasi dalam proses
perencanaan perencanaan
integrasi
Prosedur KLHS = /mengikuti KLHS memperbaiki prosedur KLHS berperan sebagai ‘safety net’
prosedur perencanaan perencanaan bagi prosedur perencanaan

Sumber: diadopsi dari Verheem dan Dusik, 2011


Jaminan Pembangunan
Keberlanjutan
KERANGKA TEORI DAN KONSEP

Institusi
(Formal dan Informal)

Lingkungan
Hidup

Sosial Ekonomi

Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan digerakkan oleh Formasi Institusi (Institutional


Arrangement) – UNDP (1997), Peet (1991), Mc Connell (1981)
It finds that while the role of local institutions is crucial for economic development and as a means of determining the returns of
regional development policies, generating an institution-based general regional development strategy is likely to be undermined by
the lack of definition of what are adequate, solid, and efficient institutions. Problems related to the measurement of institutions, to
their space and time variability, to the difficulties for establishing the right mix of formal and informal institutions, and to the
endogeneity between institutions and economic development make one-size-fits-all approaches to operationalizing institutions within
regional development possibly unfeasible (Pose, 2009)
Prinsip PeMBANGUNAN BERKELANJUTAN
1. Interdependancy (saling ketergantungan/keterkaitan)
• Antar wilayah
• Antar sektor
• Antar tingkat pemerintahan
• Antar pemangku kepentingan
2. Equilibrium (keseimbangan)
• Antara kepentingan ekonomi, sosial budaya, lingkungan
3. Justice (keadilan)
• Antar kelompok masyarakat
• Antar generasi
ENERGI CAMPURAN NASIONAL (2010)

Suplai energi nasional


masih tergantung pada
bahan bakar fosil
(sekitar 95.21%)

Sumber: Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM)


Direktorat Jenderal Konservasi Energi dan Energi Terbarukan
PRODUKSI, EKSPOR, PENJUALAN DOMESTIK
BATUBARA INDONESIA DAN PREDIKSI HINGGA
TAHUN 2025*)
(Skenario berdasarkan bussiness as usual)

Pertumbuhan rata2 produksi: 7.00%


Pertumbuhan rata2 domestik thn 2010-2015: 12.87%
Pertumbuhan rata2 domestik thn 2016-2025: 9.00%
Keterkaitan Kegiatan Tambang Bara dengan Aspek-Aspek lainnya;
Institusi selain sekaligus menjelaskan sektor pembangunan lainnya
pertambangan yang terkait
sesuai dengan permasalahan
batu bara:

BMKG

Kehutanan

Industri

Perhubungan

Pekerjaan Umum

Perumahan

KLH

Pertanahan

Pemda

Sumber: Mamurekli, 2010


Permasalahan Utama Industri
Batu Bara Indonesia

Sumber: Hadiyanto
Keterkaitan Masyarakat, Ekonomi dan Ekologi
Tambang Batu bara

Ekonomi Institusi
Masyarakat • Pendapatan (devisa)
• Peluang kerja meningkat dari pemanfaatan
• Pergeseran mata tambang batu bara
• Pertumbuhan pencaharian (negara. Propinsi,
penduduk • Timbul norma sosial/ kabupaten, dan per
• terkonsentrasi di budaya baru/ pusat baru capital)
sekitar kawasan • angka kesakitan meningkat • Dampak berantai
• Migrasi manfaat ekonomis
• Norma sosial/budaya (multipier effects)
• Umur ekonomi kegiatan
pertambangan (livability) • Batu bara sebagai
• Konsentrasi / sumber energi
Kluster/difusi kehidupan
baru
• alih fungsi • Laju deplesi
lahan SDA/batu bara
• daya dukung • Biaya pemulihan
/ reklamasi

• perubahan bentang alam (landscape)


• perubahan ekosistem dan biodiversitas
• polusi (fly-ash, bottom ash, air asam, CO2)
• reklamasi post-tambang
Ilustrasi ini dapat dijadikan
• lemahnya good-mining practices (PETI) dasar bagi perumusan model
keterkaitan antar elemen atau
komponen Pembangunan
Ekologi/SDA Berkelanjutan
Identifikasi Permasalahan/Isu-
isu Pokok Tambang Batu Bara
ISU LINGKUNGAN:
1. Pembukaan lahan untuk eksploitasi tambang batubara oleh perusahaan (IUP/tambang rakyat) belum
mempertimbangkan prinsip good mining practices, sehingga berpotensi untuk menurunkan
keanekaragaman hayati
2. Pengelolaan lahan bekas tambang belum didasarkan pada asas reklamasi, terutama perusahaan kecil
dan pertambangan rakyat, sehingga berdampak pada penurunan daya dukung lahan
3. Maraknya aktivitas pertambangan tanpa ijin (PETI), sehingga menimbulkan kemerosotan lingkungan
4. Limbah hasil penambangan batubara dan pembakaran batubara (air asam tambang, emisi CO2, fly
ash, bottom ash), sehingga dapat menimbulkan pencemaran air, tanah, udara

ISU SOSIAL:
1. Tingginya konflik sosial, mulai dari ijin, perencanaan, pelaksanaan hingga pasca tambang
2. Banyak masyarakat yang terkena penyakit gangguan saluran pernapasan
3. Menggusur masyarakat, menghilangkan sumber kehidupan masyarakat lokal, masyarakat tidak
memperoleh keuntungan ekonomi, infrastruktur publik terganggu

ISU EKONOMI:
1. Berubahnya paradigma Batubara dari Komoditas Devisa menjadi Sumber Energi Primer

ISU KELEMBAGAAN:
1. Tumpang tindih wilayah
Pengaruh Institusi Terhadap Perilaku
Pembangunan Berkelanjutan; masalah institusional
dalam tambang batu bara
Institusi
(Formal dan Informal)
Masalah institusi:
Tumpang tindih
pengelolaan kawasan
atau wilayah
Lingkungan
Hidup pembangunan; tidak
sinkron dan harmonis

Sosial Ekonomi

Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan digerakkan oleh Formasi Institusi (Institutional


Arrangement) – UNDP (1997), Peet (1991), Mc Connell (1981)
It finds that while the role of local institutions is crucial for economic development and as a means of determining the returns of
regional development policies, generating an institution-based general regional development strategy is likely to be undermined by
the lack of definition of what are adequate, solid, and efficient institutions. Problems related to the measurement of institutions, to
their space and time variability, to the difficulties for establishing the right mix of formal and informal institutions, and to the
endogeneity between institutions and economic development make one-size-fits-all approaches to operationalizing institutions within
regional development possibly unfeasible (Pose, 2009)
KRP Dalam Sektor Batu Bara Yang Dikaji

KRP BATUBARA
Program: Pembinaan dan pengusahaan mineral dan batubara.
Kegiatan: Penyusunan kebijakan pengelolaan dan pengusahaan pertambangan
Indikator Keberhasilan: 1. Jumlah perencanaan produksi batubara
2. Jumlah rencana pasokan batubara untuk kebutuhan
dalam negeri
3. Peningkatan produksi briket batubara

Rencana Stratejik Pembangunan Batu Bara:


Berubahnya paradigma Batubara dari Komoditas Devisa menjadi
Sumber Energi Primer
Kondisi Krisis Ekologi dan Pembangunan

B
A Kondisi Pembangunan
e Tidak Layak sudah kritis  Kegiatan
k
r untuk t
Pembangu Utama perlu Tingkat A
Kondisi dibekukan/ dihentikan Pembangunan
b melanjutkan i Pembangunan
k
Banjar baru t
a kegiatan f mengarah kritis
 perlu i
s pembangunan i
perlakuan khusus f
t
i a i
Tingkat t
s Krisis Ekologi s Pembangunan
P a
Ambang batas Banjarbaru Ambang batas s
e
m M
R b a
e a s
Layak untuk n y
g melanjutkan a
g Kondisi
i kegiatan u Tingkat pembangunan
r
o yg aman  a
pembangunan n Pembangunan
a perlu/ dapat k
n banjarbaru
(menjamin n dipertahankan a
a kelangusnganny t
Pembangunan a
l Berkelanjuatn)

Waktu

Sumber: Triarko N, 2006


Implikasi KRP Terhadap Pembangunan Berkelanjutan
(dari perspektif KLHS) Contoh

Contoh Sosial/budaya

Prov.
Kalbar

Kab. Terkoreksi oleh


KLHS
Pontianak

Kab. Kubu Raya


(berdasarkan draft
RPJM 2009-2014)
Kota
Pontianak

Ekonomi LH/SDA
Catatan:
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa orientasi pada ekonomi regional sangat dipentingkan dalam dokumen KRP sebelum
dilakukan KLHS
Contoh lain untuk pertimbangan Pembangunan Berkelanjutan:
SA/SEA reports suggest that Core Strategies have social & economic benefits, but
neutral or slightly negative environmental effects

Social Environmental Economic


Accessibility 1.27 Air -0.21 Econ. growth 1.18
Crime 0.59 Biodiversity 0.26 Employment 1.17
Equity 1.16 Climate ch. 0.09 Skills 0.68
Health 1.04 Landsc./hist. 0.67
Housing 1.23 Resources 0.20 Other
Water -0.04 Flooding -0.30
Waste -0.34 Land use 1.04
Conclusions of 45 SA/SEA reports about impacts of their plans

Sumber: Pelatihan KLHS oleh GTZ, 2011


Pengembangan Rumusan Indikator Pembangunan Berkelanjutan
di Indonesia
(Deputi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Bappenas, 2011)
• Menggunakan pendekatan perhitungan Genuine Saving (GS)
• Genuine Saving merupakan salah satu turunan dari pendekatan modal
yang menghitung selisih antara Produk Domestik Bruto (PDB) dengan
konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, depresiasi modal, deplesi
sumberdaya alam, dan degradasi lingkungan, kemudian ditambah dengan
investasi / modal manusia berupa belanja publik untuk pendidikan dan
kesehatan.

Secara matematik dapat dilihat pada persamaan berikut ini :

GS = GDP – CH – CG – DK – DN – ED + CEDU + CHLT

GDP : Gross Domestic Product DN : Depletion of Natural Resources


CH : Household Consumption ED : Environmental Degradation
CG : Government Consumption CEDU : Spending on Education
DK : Depreciation of Man-Made Capital CHLT : Spending on Health
Harmonisasi dan Sinkronisasi KRP
HUBUNGAN DOKUMEN RENCANA TATA RUANG
DAN RENCANA PEMBANGUNAN
Perencanaan Pembangunan Penataan Ruang
(UU 25/2004 dan
PERENCANAAN 32/2004)
PEMBANGUNAN (UU 26/2007 dan Permen PU no.RUANG
PENATAAN 15, 16, 17 /PRT/M/2009)
Berdasarkan UU No. 24/2005 dan UU 32/2004 berdasarkan UU No. 26/2007 dan Permen 15, 16, dan 17/PRT/M/2009
diacu
NASIONAL
1 4 4
Renstra Renja
2, 3, 4A · RTR Pulau
1. PRESIDEN & pedoman
MENTERI
RPJP KL KL RTRW
Nasional (Dep. PU, Dep. (Dep. PU, Dep.
Nasional
2. BAPPENAS Pertanian, dll) Pertanian, dll)
· RTR Kawasan Strategis Nasional
3. BKPRN
pedoman
semua produk
4. TIAP
DEPARTEMEN/ 2 2 rencana tata ruang
diacu pedoman RPJM dijabarkan nasional yang terkait
KEMENTERIAN
RKP diacu dipertimbangkan
A. DEP. PU Nasional
B. DEPDAGRI
C. dll
diperhatikan diserasikan melalui
musrenbang
PROVINSI
5 6 6
6,7,8A
5. GUBERNUR
RPJP RPJM dijabarkan RKP RTRW
Provinsi pedoman Provinsi Provinsi diacu · RTR Kawasan Strategis Provinsi
Provinsi
6. BAPPEDA PROV

7. BKPRD PROV pedoman diacu RENCANA TATA RUANG PROV A

8 8 diselaraskan RENCANA TATA RUANG PROV B


8. SKPD PROV Renstra Renja
A. DINAS TATA
RUANG diacu diperhatikan
SKPD SKPD
B. DINAS (Tata Ruang, (Tata Ruang, diacu
KEHUTANAN Pertanian, pedoman Pertanian,
C. dll Kehutanan, dll) Kehutanan, dll)
diserasikan melalui
KAB/KOTA musrenbang 10,11,12A
9 10 10
RTRW · RDTR Kabupaten
Rencana Tata Ruang
9. WALIKOTA/BUPATI RPJP RPJM dijabarkan RKP
Kab/Kota pedoman Kab/Kota Kab/Kota Kabupat
RTRW Kota
diacu
10. BAPPEDA KAB/ en · RTR Kawasan Strategis Kabupaten
Daerah
KOTA
pedoman
11. BKPRD KAB/ · RDTR Kota
KOTA 12 12 RTRW
RTRW
Renstra Renja Kabupaten
Kota · RTR Kawasan Strategis Kota
12. SKPD KAB/KOTA SKPD SKPD
A. DINAS TATA (Tata Ruang, (Tata Ruang,
RUANG pedoman RENCANA TATA RUANG KAB A.1
Pertanian, Pertanian,
B. DINAS
Kehutanan, dll) Kehutanan, dll) diselaraskan RENCANA TATA RUANG KAB A.2
KEHUTANAN
C. dll
diacu
Keterangan : Diacu Diturunkan Diselaraskan 26
SASARAN KERJASAMA DALAM PENATAAN RUANG
WILAYAH
Hierarki RTRW (administratif)

RTRW NASIONAL

Kerjasama SINKRON

RTRW PROVINSI RTRW PROVINSI


YANG HARMONISASI RTRW PADUSERASI YANG
BERBATASAN PROVINSI BERBATASAN

Kerjasama SINERGI

RTRW KAB/KOTA RTRW KAB/KOTA


YANG HARMONISASI RTRW PADUSERASI YANG
BERBATASAN KAB/KOTA BERBATASAN

Sumber: Dit. Pembinaan Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, 2007


MENGAPA KEDUA DOKUMEN TERSEBUT
HARUS TERINTEGRASI? (1)

UU No. 26 Tahun 2007


Pasal 25 (1) : Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten mengacu pada:
a. …….; b…….;
c. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah.
Pasal 26 (2) : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten menjadi pedoman untuk:
a. Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah;
b. Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah;
c. ……

PP No. 08 Tahun 2008


Pasal 29 (1) : Dokumen rencana pembangunan daerah disusun dengan menggunakan data
dan informasi serta rencana tata ruang
Pasal 3 : Rencana tata ruang merupakan syarat dan acuan utama penyusunan dokumen
rencana pembangunan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan
28
KETERKAITAN MUATAN ANTARA RPJPD-RTRWP-DENGAN RPJMD

RPJPD RPJMD RTRWP


Pendahuluan Pendahuluan Pendahuluan

Dasar Hukum Penyusunan RTRWP

Gambaran Umum Gambaran Umum Kondisi Profil Wilayah Provinsi


Kondisi Daerah Daerah Isu-Isu Strategis
Peta-Peta

Gambaran Pengelolaan
Analisis Isu-Isu Strategis Keuangan Daerah Tujuan Penataan Ruang
Kebijakan dan Strategi Penataan
Visi dan Misi Daerah Analisis Isu-Isu Strategis Ruang Wilayah

Arah Kebijakan Visi, Misi, Tujuan, Sasaran Rencana Struktur Ruang


Tahapan & Prioritas
Pembangunan
Strategi & Arah Kebijakan Rencana Pola Ruang

Kebijakan Umum & Program


Kaidah Pelaksanaan Pembangunan Daerah
Penetapan Kawasan Strategis Prov.

Indikasi Rencana Prog. Prioritas Arahan Pemanfaatan Ruang


+ Kebutuhan Pendanaan (Indikasi Program Utama 5 Tahunan)

Penetapan Indikator Kinerja Arahan Pengendalian


Daerah Pemanfaatan Ruang

Pedoman Transisi dan


Kaidah Pelaksanaan
Keterangan:  Arah Keterkaitan 29
Sumber: (1) PP No. 08/2008; (2) Permendagri No. 54/2010; (3) Permen PU No. 15/PRT/M/2009, Lampiran 5
Situasi STRATEGY FORMULATION STRATEGY IMPLEMENTATION EVALUATION
lingkun
gan Visi
Misi

Ekstern Tujuan
al
Strategi
Kebijakan
Program
Inter
Keg. & Anggaran
nal
Prosedur
Performance

F E E D B A C K
Sumber: Bappenas, 2009
Sumber: Bappenas, 2009
Sumber: Bappenas, 2009
Permasalahan Riel Pengambilan keputusan KRP;
munculnya “Black-Box”*)

RPJP Black RTRW 20 thn.an


Box
Pengam
bilan
Keputus
Kampanye Gub./ an
Bupati/ Arah kebijakan (5
Walikota terpilih RPJM thn.an)
5 thn.an

Rencana Strategi SKPD

Rencana Tahunan SKPD dan Rencana Detail 1 thn.an


Tata Ruang (RDTR)

*) politik-ekonomi
- transaksional
Penyelenggaraan Pembangunan
Pemetaan Model Kebijakan
Suasana Konflik
Politician’s Stakeholders driven
driven

Fokus dalam
Politis Deliberatif proses KLHS

Cakupan terbatas Cakupan luas

Yang umumnya
dilakukan dalam
menyusun KRP dan Teknis Strategis
AMDAL

Administrator’s/ Policy analyst


Bureucrat’s/ driven
Technocrat’s driven Suasana Stabil

Sumber: Nugroho, 2009


Delapan Tingkatan Peranserta Masyarakat
Sumber: Arstein, (1969)

8 Pengawasan masyarakat
Citizen control
7 Pendelegasian kekuasaan Tingkat kekuasaan masyarakat
Delegated power Degree of Citizen Power
6 Kemitraan
Partnership
5 Keterlibatan
Placation
4 Konsultasi Tingkat partisipasi pasif
Consultation Degree of Tokenism
3 Menginformasikan
Informing
2 Mengobati
Therapy Ketidak ikutsertaan/
1 Memberdayakan Non participation
Pemegang kekuasaan
Manipulation
Posisi Peneliti dan Politisi dalam perannya sebagai interface
untuk proses Perumusan Kebijakan Publik

Nilai-Nilai

Bias
Pelobi

Penasehat

Ilmiah murni
Bebas nillai
Argumentasi
Netral Pro-aktif
Memanfaatkan KLHS untuk
menetapkan Strategi
KLHS sebagai pendekatan strategis

Ada 3 tujuan obyektif yang biasanya dihasilkan dari pendekatan


strategis:
1. Memastikan adanya integrasi aspek LH, sosial, dan ekonomi dalam
proses penyusunan KRP;
2. Menemukan segala peluang dan resiko, dikaji dan dibandingkan untuk
membangun opsi-opsi alternatif pembangunan yang masih terbuka
untuk didiskusikan;
3. Memberikan kontribusi bagi pemantapan konteks kepentingan
pembangunan yang lebih tepat untuk merumuskan sejumlah proposal
pembangunan masa depan

• The SEA methodology described in this Guide adopts a strategic approach based on a long-term,
holistic and cross-sectoral perspective that is highly focused on few, though significant, factors of
analysis that are strategic for decision-making
• The scope of SEA includes physical, ecological, social, cultural and economic aspects, to the extent that
they are relevant in determining the quality of the context in which we live and the risks and
opportunities for sustainable development. (Sadler, 2007)
ISU STRATEGIS
1. Bersifat lintas wilayah (potensi dampaknya lebih
luas dari wilayah perencanaannya)
2. Bersifat lintas sektor
3. Berdampak negatif jangka panjang jika tidak
diselesaikan:
 Berpotensi mengganggu pelaksanaan
pembangunan
 Berdampak mengganggu penerapan konsep
pembangunan berkelanjutan
4. Potensi dampaknya kumulatif dan berefek ganda
SEA is a strategic facilitator of
sustainability process
Seven underlying principles of a strategic-based approach to SEA
1. Understand the strategy that is the object of SEA and the assessment
context
2. Ensure a long-term horizon and a holistic, cross-sectoral and integrated
perspective
3. Focus solely on critical factors for decision-making (preferentially between
3 and 8) and work with trends (processes) rather than current situations
4. Adopt an attitude that facilitates decision-making, supporting the decision-
maker and encouraging sustainable decisions
5. Regularly inform decision-making in a strategic and pragmatic manner (in
the critical decision-making windows), with the purpose of assisting
decision-making
6. Use communication strategies, consider multiple perspectives and act
through good governance
7. Ensure the tracking of decisions taken (monitoring and systematic review
of objectives)
Pengertian Kebijakan Stratejik
Pengertian Jabaran
Definisi Suatu seni menggunakan kecakapan dan sumber daya suatu
organisasi untuk mencapai sasarannya melalui hubungannya yang
efektif dengan lingkungan dalam kondisi yang menguntungkan
(McNichols)
Hakekat Pilihan stratejik dari beberapa alternatif stratejik dan dapat
direalisasi dalam satu proses stratejik.
Karakteristik 1. Tidak terstruktur
2. Berperan sentral bagi organisasi
3. Sangat kompleks (menjadi daya tarik tersendiri untuk
dipelajari)
4. Unik
5. Kompleks dan melibatkan beragam sumber daya
6. Konsekuensi yang besar bagi organisasi
Komponen 1. Dibuat oleh pembuat keputusan tingkat tinggi
penting 2. Dibuat untuk mencapai tujuan, sasaran tertentu
3. Dibuat setelah memperhitungkan kemampuan internal
4. Memperhitungkan nilai-nilai dan karakteristik pribadi
pembuat keputusan
5. Mempertimbangkan lingkungan eksternal
6. Ada relasi antara variabel eksternal dan internal
7. Pilihan berdasarkan beberapa alternatif stratejik
8. Mengandung makna persaingan/ kompetisi
Sumber: J. Salusu, 2008
Konsistensi antara konsep, visi/misi, tujuan, dan prioritas pembangunan dengan strategi sampai dengan
jabaran program pembangunan dalam satu sistem tahapan pembangunan (20 - 5 - 1 tahunan)

Penilaian mengenai Isu Strategis


Hubungan Positif dengan Kajian dalam KLHS

Kelompok Daftar Isu Daya Kinerja Efisiensi Potensi Dampak Kerentanan


Isu Strategis Dukung & Pelayanan Pemanfaat dan dan Risiko & Kapasitas
Daya Ekosistem an Sumber Keragaman Lingkungan Adaptif
Tampung Daya Alam Biodiversit Perubahan
Lingkungan as Iklim

43
Keinginan masy.
terwujud dalam
KERANGKA RPJP

PIKIR DASAR
KERJA RPJM 4

RK 4
Tolok ukur kemajuan
pemb. 5 thn-3

PERENCANAAN
RPJM 3 Tolok ukur kemajuan pemb.
5 thn-2 Upaya yang
RK 3
dibutuhkan

RPJM 2 Tolok ukur kemajuan pemb.


5 thn.-1
RK 2

RPJM 1
Kondisi
keseluruhan saat RK 1
ini

Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai keinginan masyarakat (20


tahun)
Baseline/
mapping Roadmap
Sumber: Tim KLHS, 2000
Konsistensi antara konsep, visi/misi, tujuan, dan prioritas pembangunan dengan strategi
sampai dengan jabaran program pembangunan dalam satu sistem tahapan pembangunan (20
- 5 - 1 tahunan)

Pemda sudah matang/


Tingkat dewasa (tahap Innovasi dan kreasi
kesejahteraan, dewasa) APBD< unggulan lokal
(peremajaan) 
kemandirian dan investasi ? mempertahankan
ungulan RPJMD RPJMD keunggulan
5 thnan-1 5 thnan-2 ?
Fase Konsolidasi & Fase Pertumbuhan:
membangun fondasi : Pertumbuhan ekon.
kapasitas daerah, kelengkapan
kelembagaan dan SDM fasum/fasos,
Direct export Terjadi penurunan
membattasi eksploitasi
(External growth) SDA
kapasitas (Penuaan)

RPJMD RPJMD
Indirect export
5 thnan-3 5 thnan-4
(internal growth)
Fase Pengembangan : Fase Unggulan :
mandiri, sejjahtera, kompetensi unggulan,
lestari daya saing tinggi,
masy. Madani, LH/SDA
terkendali dan
produktif
VISI: TERDEPAN DAN
BERKUALITAS

Neraca Pembangunan Neraca Pembangunan


Berkelanjutan berbasis Berkelanjutan (berbasis SDA/LH) kapasitas
SDA/LH masih negatif positif pembangunan
berkelanjutan
Contoh teknik yang dapat digunakan untuk
menetapkan isu strategis dan prioritas dengan basis
isu/konsep secara konsisten

prioritas

Isu strategis

pendukung
Memanfaatkan KLHS untuk
menetapkan Alternatif dan Mitigasi
Apa yang dimaksud Mitigasi, Alternatif, dan Skenario
Mitigation Alternatif Scenario
Mitigation is the effort to Pilihan, cadangan, Scenario is an outline of a
natural or expected course of
reduce loss of life and property kemungkinan (Echlos dan events.
by lessening the impact of Shadily)
Kahn and Weiner:
disasters. A hypothetical sequence of
Is one that can be used instead events constructed for the
This is achieved through risk of another one (Longman purpose of focusing attention.
analysis, which results in Dictionary) Porter
information that provides a An internally consistent
view of what the future might
foundation for mitigation Something that you can turn out to be
activities that reduce risk, and choose to do or use instead of
Ringland:
flood insurance that protects something else (Longman That part of strategic
financial investment. Dictionary) planning which relates to the
tools and technologies for
managing the uncertainties of
the future
Schnaars:
Identify plausible future
environments that the firm
might face.
ALTERNATIF KRP

Alternatif KRP dirumuskan jika tidak dapat menentukan langkah-


1.
langkah mitigasinya
Alternatif KRP kemudian disandingkan dengan draf KRP untuk
2. menunjukkan kepada SKPD adanya counter programmes yang
dapat meminimalisir dampak.
Alternatif KRP dapat berupa (Therivel, 2010: Contoh Eropa):
a. Perubahan kalimat KRP
b. Menghilangkan pernyataan yang tidak “hijau” dan tidak
berkelanjutan
3.
c. Menambahkan hal yang bersifat “melindungi”
d. Menambahkan syarat membuat KRP baru untuk menggantikan
dampak yang diakibatkan oleh KRP
e. Menambahkan syarat melakukan Amdal pada beberapa KRP
CONTOH
Contoh Mitigasi Dampak Kumulatif
Dampak Kumulatif di Bagian Tengah Wilayah Kota Serang
(Draf RTRW Kota Serang 2008 – 2028)

• Akumulasi dampak aliran air permukaan akibat 70% wilayah direncanakan sebagai
paved area
• Akumulasi dampak pembebanan limbah cair di badan air akibat 70% wilayah
direncanakan sebagai kawasan perdagangan dan jasa
• Akumulasi emisi gas buang dari kendaraan bermotor yang beraktivitas di bagian
tengah kota.

MITIGASI

Pembatasan penggunaan
Pembangunan sistem
Membatasi paved area kendaraan di pusat kota dan
sanitasi kota dan Restorasi dan revitalisasi
dan pembuatan sumur pembangunan sistem
pengelolaan limbah cair Ci Banten
resapan transportasi massal di pusat
domestik secara komunal
kota
Contoh yang dimaksud Skenario, Alternatif, dan
Mitigasi
Keinginan/ Perencanaan Program - Prioritas Mitigasi
Kebijakan Skenario Proyek
Meningkatkan akses a. Peningkatan a. Bangun Butir a , segera, Tingkat kebijakan
(arus barang dan volume sampai jembatan (jalan dana konsorsium dan kelembagaan:
manusia) P. > 10 % dalam 5 raya dan rel KA) Ditetapkan Badan
Sumatera ke/dari P. tahun b. Bangun Pengelola Trans
Jawa b. Peningkatan terowongan Sumatera-Jawa (QA)
volume arus 5- c. Bangun
10% dalam 5 transportasi air Tingkat operasional:
tahun (Feri) •Exit strategy
d. Kombina (patchway)
•Program K3
•QC mode
transportasi
•Jasa asuransi

Jika tidak ada Jika tidak ada


alternatif program alternaatif mitigasi
pembangunan
Kaji ulang kelayakan
perencanaan skenario dan/atau
program-proyek
Alternatif pembangunan yang lebih optimal dan rendah resiko kumulatif serta sistemik
terhadap sumber daya dan lingkungan hidup dalam setiap (konsep) tahapan alternatif
pembangunan; sekaligus menyiapkan Mitigasi dan Adaptasi (contoh)
RPJMD
5 thnan-4
RPJMD Fase Unggulan:
Tingkat
5 thnan-3 VISI: TERDEPAN DAN BERKUALITAS (?)
kesejahteraan,
RPJMD RPJMD Fase Pengembangan :
kemandirian dan
5 thnan-1 5 thnan-2
?
ungulan
Fase Konsolidasi & Fase Pertumbuhan:
membangun fondasi
?
Berapa banyak SDA Berapa banyak SDA Berapa banyak SDA Berapa banyak SDA
yang dibutuhkan dan yang dibutuhkan dan yang dibutuhkan dan yang dibutuhkan dan
apa konsekuensi apa konsekuensi apa konsekuensi apa konsekuensi
Direct export terhadap kondisi LH terhadap kondisi LH terhadap kondisi LH terhadap kondisi LH
(External growth)

Bagaimana antisipasi Bagaimana antisipasi Bagaimana antisipasi Bagaimana antisipasi


MITIGASI dan MITIGASI dan MITIGASI dan MITIGASI dan
Indirect export ADAPTASI 5 thn-1 ADAPTASI 5 thn-2 ADAPTASI 5 thn-3 ADAPTASI 5 thn-4
(internal growth)

Jika tanpa perbaikan, diperkirakan sulit mencapai


kemandirian dan menjadi unggul serta lestari aset
SDA/LH. Keberhasilan konsolidasi dan membangun
fondasi pembangunan merupakan titik awal yang
sangat menentukan pencapaian hasil tahapan
pembangunan berikutnya

Neraca Pembangunan Neraca Pembangunan


Berkelanjutan berbasis Berkelanjutan (berbasis SDA/LH) kapasitas
SDA/LH masih negatif positif pembangunan
berkelanjutan
CONTOH INTEGRASI ALTERNATIF DAN MITIGASI DALAM KRP
Resiko
Perbedaan
Pemahaman