Anda di halaman 1dari 25

PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA

(PMRI)
PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) adalah
adaptasi dari RME dalam Konteks Indonesia: Budaya,
Alam, Sistem Sosial, dll.
PMRI bukan suatu proyek tetapi suatu gerakan.
PMRI mengembangkan suatu teori pembelajaran matematika
yang santun, terbuka dan komunikatif.
RME adalah teori pembelajaran matematika yang
dikembangkan di Belanda sejak sekitar 35- 40 tahun yang
lalu sampai sekarang.
RME diadaptasisi di banyak negara: AS, Afrika Selatan,
Beberapa Negara Eropa, Asia dan Amerika Latin.

1
LANDASAN FILOSOFI PMRI
RME merupakan teori pembelajaran matematika yang
berangkat dari pendapat Freudenthal bahwa
matematika merupakan aktivitas insani dan harus
dikaitkan dengan realitas. Pembelajaran matematika
tidak dapat dipisahkan dari sifat matematika
seseorang dalam memecahkan masalah, mencari
masalah, dan mengorganisasi atau matematisasi
materi pelajaran (Gravemeijer dalam Sutarto Hadi
2003: 1).
Freudenthal berpendapat bahwa siswa tidak dapat
dipandang sebagai penerima pasif matematika yang
sudah jadi. Pendidikan matematika harus diarahkan
pada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan
yang memungkinkan siswa menemukan kembali
(reinvention) matematika berdasarkan usaha 2
LANDASAN FILOSOFI PMRI

Dalam RME, dunia nyata digunakan sebagai titik awal


untuk pengembangan ide dan konsep matematika.
Menurut Blum & Niss, dunia nyata adalah segala
sesuatu di luar matematika, seperti mata pelajaran
lain selain matematika, atau kehidupan sehari-hari
dan lingkungan sekitar kita.
Sementara itu, De Lange mendefinisikan dunia nyata
sebagai suatu dunia nyata yang kongkret, yang
disampaikan kepada siswa melalui aplikasi
matematika (Sutarto Hadi, 2005:19).

3
LANDASAN FILOSOFI PMRI
Treffers membedakan dua macam matematisasi, yaitu
vertikal dan horisontal (Sutarto Hadi, 2005: 20).
Digambarkan oleh Gravemeijer (1994) sebagai
proses penemuan kembali (reinvention process),
seperti ditunjukkan gambar berikut.

4
LANDASAN FILOSOFI PMRI
Dalam matematisasi horisontal, siswa mulai dari soal-
soal kontekstual, mencoba menguraikan dengan
bahasa dan simbol yang dibuat sendiri, kemudian
menyelesaikan soal tersebut. Dalam proses ini, setiap
orang dapat menggunakan cara mereka sendiri yang
mungkin berbeda dengan orang lain.

Dalam matematisasi vertikal, kita juga mulai dari soal-


soal kontekstual, tetapi dalam jangka panjang kita
dapat menyusun prosedur tertentu yang dapat
digunakan untuk menyelesaikan soal-soal sejenis
secara langsung, tanpa bantuan konteks.
5
DEFINISI PMRI
Secara garis besar PMRI atau RME adalah suatu teori
pembelajaran yang telah dikembangkan khusus untuk
matematika. Konsep matematika realistik ini sejalan
dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan
matematika di Indonesia yang didominasi oleh
persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman
siswa tentang matematika dan mengembangkan daya
nalar.

6
KARAKTERISTIK PMRI
Menurut Paul Cobb (dalam de Lange, 1996)
pembelajaran matematika memiliki karakteritik
sebagai berikut:
1. Mulai dengan sesuatu yang dapat dibayangkan
siswa sebagai sesuatu yang real.
2. Aktif mereinvensi: dari hal yang informal ke
formal (re-invention),
3. Mengutamakan proses matematisasi:
horizontal and vertikal,
4. Bersifat interaktif.
5. Materi berkaitan satu sama lain (intertwining)

7
Karakteristik RME, menurut de Lange (1987) dan
Gravemeijer (1994), sebagai penjabaran dari ketiga
level Van Hiele, Fenomenologi Didaktik Freudenthal
dan Matematisasi Progresif Treffers (1991) adalah
sbb.:
1. penggunaan konteks dalam eksplorasi secara
fenomenologis (mathematics as human activity and
the use of context);
2. penggunaan model atau penghubung sebagai
jembatan untuk mengkonstruksi konsep:
matematisai horizontal dan vertikal;
3. penggunaan kreasi dan kontribusi siswa;

4. sifat interaktif proses pembelajaran;

5. dan saling-berkait antara aspek-aspek atau unit-unit


8
matematika (intertwinement).
KARAKTERISTIK PMRI (MENURUT
MARPAUNG)
1. Siswa aktif dalam pembelajaran;
2. Pembelajaran dimulai dari masalah
kontekstual/realistik bagi siswa;
3. Siswa berusaha menemukan strategi sendiri;
4. Interaksi dan negosiasi;
5. Pendekatan SANI;
6. Intertwinment/saling terkait;
7. Berpusat pada siswa;
8. Tutwuri Handayani;
9. Empatik
10. Tepa slira 9
B: PEMBELAJARAN DENGAN PMRI:
1. MURID AKTIF, GURU AKTIF
Hans Freudenthal: a. Matematika sbg Aktivitas Manusia
b. Belajar : mereinvensi

10
2. PEMBELAJARAN SEDAPAT MUNGKIN DIMULAI
DENGAN MENYAJIKAN MASALAH KONTEKS-
TUAL/REALISTIK

Masalah kontekstual/realistik atau dapat dibayangkan oleh


siswa

11
3. BERIKAN KESEMPATAN PADA SISWA
MENYELESAIKAN MASALAH DENGAN CARA SENDIRI
Memahami masalah * Melaksanakan
Melakukan explorasi * Mengevaluasi
Menemukan strategi

12
4. Materi diusahakan saling berkaitan
Siswa bekerja sama, diskusi.
Melakukan penimbangan, mengamati dan mencatat hasil.

13
SISWA DAPAT MENYELESAIKAN MASALAH DALAM KELOMPOK
(KECIL ATAU BESAR)

Siswa belajar berbagai bangun geometri dan mengukur


dengan alat ukur

14
5. GURU
BERUSAHA MENCIPTAKAN SUASANA
PEMBELAJARAN YANG MENYENANGKAN
Guru bersikap empatik, suasana akrab, tidak angker

15
6. PEMBELAJARAN TIDAK PERLU SELALU DI KELAS (BISA DI LUAR
KELAS, DUDUK DI LANTAI, PERGI KE LUAR SEKOLAH UNTUK
MENGAMATI ATAU MENGUMPULKAN DATA)
Siswa menghitung banyak lubang kecil di dinding luar
kelas
Siswa diajak belajar di halaman sekolah.

16
7. GURU MENDORONG TERJADINYA
INTERAKSI DAN NEGOSIASI
Guru mendorong terjadi diskusi antara siswa

17
8. SISWA BEBAS MEMILIH MODUS REPRESENTASI YANG SESUAI
DENGAN STRUKTUR KOGNITIFNYA SEWAKTU
MENYELESAIKAN SUATU MASALAH (MENGGUNAKAN
MODEL)

18
9. GURU BERTINDAK SEBAGAI FASILITATOR
(TUTWURI HANDAYANI)

19
10. KALAU SISWA MEMBUAT KESALAHAN DALAM
MENYELESAIKAN MASALAH JANGAN
DIMARAHI TETAPI DIBANTU MELALUI
PERTANYAAN-PERTANYAAN  MOTIVASI.

20
MATEMATISASI

21
MATEMATISASI
Matematisasi horizontal adalah proses
penyelesaian soal-soal kontekstual
dari dunia nyata. Dalam matematika
horizontal, siswa mencoba
menyelesaikan soal-soal dari dunia
nyata dengan cara mereka sendiri,
dan menggunakan bahasa dan
simbol mereka sendiri.
Sedangkan matematisasi vertikal
adalah proses formalisasi konsep
matematika. Dalam matematisasi
vertikal, siswa mencoba menyusun
prosedur umum yang dapat
digunakan untuk menyelesaikan
soal-soal sejenis secara langsung
tanpa bantuan konteks. 22
MATEMATISASI
Dalam istilah Freudenthal (dalam van den
Heuvel-Panhuisen, 1996) matematisasi
horizontal bergerak dari dunia nyata ke
dalam dunia simbol, sedangkan
matematisasi vertikal bergerak di dalam
dunia simbol itu sendiri.
Dengan kata lain, menghasilkan konsep,
prinsip, atau model matematika dari
masalah kontekstual sehari-hari
termasuk matematisasi horizontal,
sedangkan menghasilkan konsep,
prinsip, atau model matematika dari
matematika sendiri termasuk
matematisasi vertikal. Matematisasi
horizontal digambarkan sebagai panah
garis, sedangkan matematisasi vertikal 23
sebagai panah blok.
KONSEPSI TENTANG SISWA
Dalam pendekatan matematika realistik, siswa dipandang sebagai
individu (subjek) yang memiliki pengetahuan dan pengalaman
sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan. Selanjutnya, dalam
pendekatan ini diyakini pula bahwa siswa memiliki potensi untuk
mengembangkan sendiri pengetahuannya, dan bila diberi
kesempatan mereka dapat mengembangkan pengetahuan dan
pemahaman mereka tentang matematika. Melalui eksplorasi
berbagai masalah, baik masalah kehidupan sehari-hari maupun
masalah matematika, siswa dapat merekonstruksi kembali temuan-
temuan dalam bidang matematika. Jadi, berdasarkan pemikiran ini
konsepsi siswa dalam pendekatan ini adalah sebagai berikut (Hadi,
2005):
Siswa memiliki seperangkat konsep alternatif tentang ide-ide
matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya;
Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk
pengetahuan itu untuk dirinya sendiri;

Siswa membentuk pengetahuan melalui proses perubahan yang 24


meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan
PERAN GURU
Pemikiran dan konsepsi di atas menggeser peran guru dalam kelas.
Kalau dalam pendekatan tradisional guru dianggap sebagai
pemegang otoritas yang mencoba memindahkan pengetahuannya
kepada siswa, maka dalam pendekatan matematika realistik ini guru
dipandang sebagai fasilitator, moderator, dan evaluator yang
menciptakan situasi dan menyediakan kesempatan bagi siswa untuk
menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan cara
mereka sendiri. Oleh karena itu, guru harus mampu menciptakan
dan mengembangkan pengalaman belajar yang mendorong siswa
untuk memiliki aktivitas baik untuk dirinya sendiri maupun bersama
siswa lain (interaktivitas). Akibatnya guru tidak boleh hanya terpaku
pada materi dalam kurikulum dan buku teks, tetapi harus terus
menerus memutakhirkan materi dengan masalah-masalah baru dan
menantang. Jadi, peran guru dalam pendekatan matematika realistik
dapat dirumuskan sebagai berikut:
Guru harus berperan sebagai fasilitator belajar;
Guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif;
Guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif memberi
25
sumbangan pada proses belajarnya;

Beri Nilai