Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Problem kesehatan mental  memerlukan perhatian di
tingkat global, nasional, lokal
Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007  1 dari 9 penduduk
indonesia memiliki gangguan kesehatan mental umum
seperti depresi, kecemasan, somatoform

Gangguan somatoform  suatu kelompok gangguan yang


memiliki gejala fisik dimana tidak dapat ditemukan
penjelasan medis yang adekuat.
Departemen kesehatan RI  gangguan somatoform
termasuk salah satu gangguan kesehatan mental yang perlu
mendapat perhatian lebih.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi

Gangguan somatoform
• Gangguan yang meliputi gejala fisik (misalnya
nyeri, mual, dan pening) dimana tidak dapat
ditemukan penjelasan secara medis.
• Terjadi pada individu yang mengeluhkan gejala-
gejala gangguan fisik, yang terkadang
berlebihan, tetapi pada dasarnya tidak terdapat
gangguan fisiologis (Kaplan dan Sadock, 2010).
Etiologi
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab antara lain
(Nevid, dkk, 2005):

Faktor-faktor Biologis
Faktor Lingkungan Sosial
Faktor Perilaku
Psikoneuroimunologi
Faktor Emosi dan Kognitif
Epidemiologi
• Gangguan somatoform sering didapatkan sekitar 2-20 dari
1000 penduduk;

• Lebih banyak pada wanita;

• Riwayat keluhan fisik yang banyak;

• Awal mulai sejak usia 30 tahun;

• Banyak mendapat diagnosis, makan banyak obat, dan


banyak menderita alergi;
• terus mencari penerangan medis dengan berbagai test
medis, pembedahan, uji klinik, dan hasil tidak signifikan
(Spratt, 2012)
Klasifikasi Gangguan Somatoform

• F.45.0 Gangguan somatisasi


• F.45.1 Gangguan somatoform tak
terperinci
• F.45.2 Gangguan hipokondriasis
Gangguan Somatoform
berdasarkan PPDGJ III • F.45.3 Disfungsi otonomik somatoform
• F.45.4 Gangguan nyeri somatoform
menetap
• F.45.8 Gangguan somatoform lainnya
• F.45.9 Gangguan somayoform YTT
DSM-IV ada tujuh kelompok, sesuai 5 dari
PPDGJ, ditambah :
•Gangguan konversi
•Gangguan dismorfik tubuh
F. 45.0 Gangguan Somatisasi

Gangguan dengan karakteristik berbagai keluhan atau gejala


somatik yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat dengan
menggunakan hasil pemeriksaan fisik maupun laboratorium.
Gejala-gejala yang muncul antara lain :
• Empat simtom nyeri pada lokasi yang berbeda (misalnya
kepala, pundak, lutut, kaki).
• Dua simtom gastrointestinal (misalnya diare, mual)
• Satu simtom seksual yang berbeda dan rasa sakit/ nyeri
(misalnya ketidakmampuan ereksi)
• Satu simtom pseudoneurologis seperti pada gangguan
konversi,
Pedoman Diagnostik

Diagnosis • Banyak keluhan-keluhan fisik yang tidak dapat


dijelaskan atas dasar adanya kelainan fisik, yang
pasti, sudah berlangsung sedikitnya 2 tahun;
• Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari

beberapa beberapa dokter bahwa tidak ada kelainan fisik


yang dapat menjelaskan keluhan-keluhannya;
• Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat
hal dan keluarga, yang berkaitan dengan sifat keluhan-
keluhannya dan dampak dari perilakunya.

berikut:
2. F. 45.1 Gangguan Somatoform Tak Terperinci

• Keluhan-keluhan fisik bersifat multipel,


bervariasi, dan menetap, akan tetapi
gambaran klinis yang khas dan lengkap
Pedoman dari gangguan somatisasi tidak
terpenuhi;
Diagnostik • Kemungkinan ada ataupun tidak faktor
penyebab psikologis belum jelas, akan
tetapi tidak boleh ada penyebab fisik
dari keluhan-keluhannya.
3. F. 45.2 Hipokondriasis
Definisi : Kondisi kecemasan yang kronis dimana penderita
selalu merasa ketakutan yang patologik terhadap
kesehatannya sendiri.

Penyebab
Perhatian yang berlebihan pada fungsi-fungsi tubuh di masa kecil, entah
karena meniru orang tua atau karena pernah sakit keras sehingga menjadikan
yang bersangkutan pusat perhatian di keluarganya.

khas pada orang-orang yang haus perhatian dari orang lain.

Frustasi tertentu sebagai faktor pencetus.

Perkuatan yang diperoleh dari lingkungan sosial.


Pedoman Diagnostik

Untuk diagnosis pasti, kedua hal ini harus ada:


• Keyakinan yang menetap adanya sekurang-kurangnya satu
penyakit fisik yang serius yang melandasi keluhan-keluhannya,
meskipun pemeriksaan yang berulang-ulang tidak menunjang
adanya alasan fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi
yang menetap kemungkinan deformitas atau perubahan
bentuk penampakan fisiknya (tidak sampai waham);
• Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari
beberapa dokter bahwa tidak ditemukan penyakit atau
abnormalitas fisik yang melandasi keluhan-keluhannya.
4. F. 45.3 Gangguan Disfungsi Otonomik Somatoform

Pedoman Diagnostik
Adanya gejala-gejala bangkitan otonomik, seperti palpitasi, berkeringat, tremor,
muka panas/”flushing”, yang menetap dan mengganggu;

Gejala subjektif tambahan mengacu pada sistem atau organ


tertentu (gejala tidak khas);

Preokupasi dengan dan penderitaan (distress) mengenai kemungkinan adanya


gangguan yang serius (sering tidak begitu khas) dari sistem atau organ tertentu,
yang tidak terpengaruh oleh hasil pemeriksaan-pemeriksaan berulang, maupun
penjelasan-penjelasan dari para dokter;

Tidak terbukti adanya gangguan yang cukup berarti pada


struktur/fungsi dari sistem atau organ yang dimaksud.
4. F. 45.3 Gangguan Disfungsi Otonomik Somatoform

Karakter kelima:
• F45.30 : Jantung dan sistem kardiovaskuler
• F45.31 : Saluran pencernaan bagian atas
• F45.32 : Saluran pencernaan bagian bawah
• F45.33 : Sistem pernapasan
• F45.34 : Sistem genito-urinaria
• F45.38 : Sistem atau organ lainnya
5. F. 45.4 Gangguan Nyeri Yang Menetap

• Nyeri berat, menyiksa dan menetap,


yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya
atas dasar proses fisiologik maupun
adanya gangguan fisik.
• Nyeri timbul dalam hubungan dengan
Pedoman adanya konflik emosional atau problem
psikososial yang cukup jelas untuk dapat
Diagnostik dijadikan alasan dalam mempengaruhi
terjadinya gangguan tersebut.
• Meningkatnya perhatian dan dukungan,
baik personal maupun medis, untuk
yang bersangkutan.
6. F.45.8 Gangguan Somatoform Lainnya

• Keluhannya tidak melalui sistem saraf otonom, dan


terbatas secara spesifik pada bagian tubuh atau
Pedoman sistem tertentu.
• Ini sangat berbeda dengan Gangguan Somatisasi
Diagnostik (F45.1) yang menunjukkan keluhan yang banyak dan
berganti-ganti.
• Tidak ada kaitan dengan adanya kerusakan jaringan

Gangguan-gangguan berikut juga dimasukkan dalam kelompok ini:


• “globus hystericus” (perasaan ada benjolan di kerongkongan yang menyebabkan
disfagia) dan bentuk disfagialainnya
• Tortikolis psikogenik, dan gangguan gerakan spasmodik lainnya (kecuali sindrom
Tourette);
• Pruritus psikogenik;
• Dimenore psikogenik;
• “Teeth griding”.
Gangguan Konversi

Ada tiga kategori simtom yang di kutib dalam buku


Mengenal Perilaku Abnormal, Dr.A. Supratiknya, yakni

Simtom sensorik hilangnya kepekaan terhadap rangsang berasal


dari luar maupun dalam tubuh (anestesia); hilangnya kepekaan
terhadap rasa sakit (analgesia); rabun ayam dan sebagainya.

Simtom motorik  misalnya berupa paralisis atau kelumpuhan,


biasanya hanya pada salah satu tangan atau kaki bersifat selektif.
Lumpuh melakukan kegiatan tertentu tetapi sehat untuk kegiatan lain

Simtom viskeral (rongga dada dan perut), misalnya berupa


keluhan pusing, sesak napas, ujung tangan dan kaki dingin, dll.
Gangguan Dismorfik
Preokupasi dengan kecacatan tubuh yang tidak nyata (misalnya hidung yang
dirasakannya kurang mancung), atau keluhan yang beriebihan tentang
kekurangan tubuh yang minimal atau kecil.

Perempuan lebih fokus pada bagian kulit, dada, paha, dan kaki;

Pria lebih fokus pada tinggi badan, ukuran alat vital, atau rambut tubuh.

Beberapa pasien menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengamati


kekurangan mereka di cermin.
Agar tidak mengingatnya, terkadang mereka menyembunyikan cermin atau
menggunakan kamuflase, misalnya dengan menggunakan pakaian yang
sangat longgar.
Manifestasi Klinis
Gambaran keluhan gejala somatoform:
• Neuropsikiatri
• “kedua bagian dari otak saya tidak dapat berfungsi dengan baik”
• Saya tidak dapat menyebutkan benda disekitar rumah ketika ditanya”
• Kardiopulmonal
• “jantung saya terasa berdebar-debar... saya kira saya akan mati”
• Gastrointestinal
• “saya pernah dirawat karena sakit maag dan kandung empedu dan belum ada
dokter yang bisa menyembuhkannya”
• Genitourinaria
• “saya mengalami kesulitan dalam mengontrol BAK, sudah dilakukan
pemeriksaan namun tidak ditemukan apa-apa”
• Musculoskeletal
• “saya telah belajar untuk hidup dalam kelemahan dan kelelahan sepanjang
waktu”
• Sensoris
• “pandangan saya kabur seperti berkabut, tetapi dokter mengatakan kaca
mata tidak akan membantu”
Tatalaksana

Medikamentosa
• Gejala Kecemasan
• Anti anxietas  Diazepam (10-30 mg/hari)
• Alprazolam (0,5 mg).
• Gejala tanda Depresi
• Anti depresan  Sertralin ( 50-100, 200) 1x1
• Fluoxetin ( 20-80 mg) 1x1
• Gejala Halusinasi / tanda manik
• Haloperidol (2 mg/ 2-4 jam)
• Klonazepam (1 mg/ 4-6 jam)
Tatalaksana

Non Medikamentosa
• Dokter harus mengatur jadwal pertemuan teratur
dengan interval 1 bulan sekali dan harus
memberikan respon pada keluhan somatiknya.
• Dalam lingkungan psikoterapeutik pasien dibantu
untuk mengatasi gejalanya.
• Memfokuskan terapi secara gradual dari gejala ke
personal dan kemasalah social.

Sumber : Indarjo,S.,2009. Kesehatan Jiwa


Remaja., KEMAS 5(1). 2009. Hal 48-57
Prognosis

Gangguan • Eksaserbasi dari gejala-gejala somatik pada gangguan


somatisasi dapat terjadi apabila terdapat peningkatan
Somatisasi tekanan kehidupan

Gangguan • Semakin lama gejala gangguan konversi ini berjalan,


maka semakin buruk juga prognosisnya
konversi
• Kurang lebih sepertiga hingga setengah dari pasien
Hipokondriasis hipokondriasis mengalami perbaikan yang bermakna.

Gangguan • Munculnya gejala dari gangguan ini biasanya bertahap


dan bersifat kronis
Tubuh Dismorfik
Kesimpulan

Gangguan somatoform  kelompok gangguan dengan gejala fisik (sebagai


contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan
penjelasan medis yang adekuat.

Gangguan somatoform terdiri dari (1) gangguan somatisasi, (2) gangguan konversi, (3)
hipokondriasis, (4) gangguan dismorfik tubuh, dan (5) gangguan nyeri, serta gangguan
somatoform tak tergolongkan (undifferentiated) dan gangguan somatoform yang tidak
ditentukan (NOS; not otherwise specified)

Tatalaksana dilakukan secara medikamentosa ataupun non medikamentosa,


serta melihat kondisi pasien.

Prognosis dari gangguan ini sangat bervariasi pada setiap orang, tergantung
stressor yang dialami oleh pasien dan proses terapi pasien.