Anda di halaman 1dari 16

Review Masterplan Komplek

Perkantoran Kabupaten Pringsewu

000000000000000000 00000000000000000 0000000000000 000000000000000

Konsultan Perencana

00000000000000
Kawasan Rencana Komplek Perkantoran PEMKAB. Pringsewu tahun 2010
Metodologi Dan Pendekatan
Kawasan pemerintahan merupakan tempat untuk melaksanakan segala sesuatu hal yang
berkaitan dengan pemerintahan, baik itu kegiatan politik dan administratif, serta segala
kegiatan yang berkaitan dengan hal-hal mengenai politik dan pemerintahan. Salah satu tujuan
dari direncanakannya kawasan tersebut yaitu untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi
masyarakat dimana hal itu tidak dapat dilepaskan dari peran pemerintah sendiri dalam
melaksanakannya (Purba, 2005).
Kawasan yang dipilih sebagai ibu kota Kabupaten selain mempunyai kemampuan untuk
berkembang, juga : 1) Masih dapat dikembangkan lagi sehingga nantinya dapat menahan arus
migrasi penduduk di sekitarnya, 2) Kota dan wilayah sekitarnya memiliki hubungan
komplementer, dimana kota yang dipilih harus punya kekuatan yang dapat meningkatkan
pembangunan daerah. Kota yang terpilih harus bisa menjalankan fungsi utama dari sebuah ibu
kota yaitu :
•Pusat administrasi pemerintah,
•Pusat pelayanan masyarakat,
•Pusat pengembangan wilayah sekitarnya (Mc Gee dalam Rosanno, 1997:24).
A. Kajian umum teknis kawasan yang mempengaruhi pengembangan pusat pemerintahan,
diantaranya:
1. Kondisi geografis, topografi, hidrologi serta potensi bencana.
2. Ketersediaan infrastruktur dan fasilitas publik.
3. Kondisi perekonomian wilayah.
4. Ketersediaan lahan dan cadangan pengembangan.
5. Aksesibilitas antar kawasan.
6. Pola pergerakan sirkulasi di dalam kawasan atau menuju serta keluar dari kawasan pusat
pemerintahan.

B. Kajian detail teknis kawasan yang mempengaruhi dalam pengembangan


pusat pemerintahan terdiri meliputi :
- Konsep tematik pengembangan kawasan, seperti pola sirkulasi bangunan dan pola sirkulasi
pergerakan dalam kawasan, aksesibilitas antar bangunan, kualitas visual kawasan serta
keterpaduan dengan fungsi kawasan lain disekitarnya;

- Pembagian zoning area pengembangan berdasarkan fungsi dan kegiatan pemerintahan,


termasuk kawasan ruang terbuka publik maupun ruang terbuka hijau
- Bentuk dan orientasi bangunan;
- Konsep perancangan bangunan sesuai dengan fungsi pelayanan kepada masyarakat
termasuk bentuk struktur bangunan dan atap yang mengadopsi adat budaya setempat;

- Peningkatan pelayanan sarana dan prasarana kawasan, meliputi peningkatan kualitas dan
keterpaduan jaringan air bersih, air kotor dan sanitasi kawasan, manajemen pengelolaan
persampahan dan air limbah, serta pengembangan utilitas jaringan listrik, telekomunikasi
dan drainase yang terpadu serta pengembangan jaringan teknologi informasi yang
menjangkau seluruh kawasan pusat pemerintahan.

C. Melakukan perancangan tapak kawasan, diantaranya:


- Konsep perancangan bangunan.
- Bentuk dan orientasi bangunan.
- Bentuk struktur bangunan dan atap yang mengadopsi adat budaya setempat.
- Ruang terbuka dan landmark kawasan.
- Rencana pembangunan fasilitas dan utilitas kawasan.

D. Merumuskan tahapan program pembangunan kawasan berdasarkan skala prioritas berikut


investasi pendanaannya untuk jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan.
Elemen Perancangan Kota
Elemen
No. Lingkup Substansi
Perancangan Kota
1 Guna Lahan  Perlunya membangun vitalitas kawasan dan tempat
melalui promosi kegiatan yang berlangsung selama 24
jam/hari.
 Secara umum terkait dengan distribusi jenis dan
intensitas fungsi/kegiatan di wilayah kota/kawasan(=
guna lahan makro)
 Distribusi kegaitan pada skala pejalan kaki (= guna lahan
mikro)
2 Sirkulasi dan  Kesinambungan pergerakan antar modaangkutan dapat
Perpakiran membentuk dan mengontrolpola-pola kegiatan
 Sebagai elemen pembentuk struktur kawasandapat
mendefinsikan ke-khas-an kawasan danruang-ruang
kegiatan
3 Jalur Pejalan Kaki  Merupakan elemen esensial untuk untuk mendukung
kegiatan retail dan membangun vitalitas tempat.
Kesinambungan dengan moda angkutan lain sama
pentingnya dengan terdefinisinya ruang kegiatan pejalan
kaki secara jelas dan tegas.
Elemen
No. Lingkup Substansi
Perancangan Kota
4 Ruang Terbuka  Penegasan fungsi ruang-ruang terbukasebagai ruang
pergerakan, ruang sosial, danruang rekreasi
darikeseluruhan tatanankawasan.
5 Tata Bangunan  Konfigurasi dan tampilan bangunan-bangunansebagai
pendefinisi ruang-ruang terbuka dankegiatan-kegiatan
pada skala pejalan kaki dikawasan maupun ruang-ruang
terbuka.
6 Pendukung Aktifitas  Alokasi kegiatan-kegiatan yang bersifatkomplementer
terhadap kegiatan makro danmikro.
7 Tata Informasi  Penandaan tempat secara langsung maupuntidak
langsung melalui tatanan (obyek) fisikmaupun kegiatan.
8 Utilitas  Jaringan utilitas dan detil fasilitas.
Spirit of Place
Tapak kawasan pusat pemerintahan salah satunya yaitu perancangan ruang terbuka dan landmark
kawasan. Dalam kaitan landmark/identitas kawasan, teori tentang identitas tempat banyak merujuk
pada pemahaman tentang jiwa tempat atau spirit of place, yang oleh Garnham (1985) dikatakan bahwa
:
“Sense of place is not a fine art extra; it s something we can not afford to without”
Kota atau bagian kota yang memiliki jiwa tempat dengan sendirinya akan memiliki kekhas-an,
keunikan, atau identitas, yang akan membedakannya dengantempat lain.
Tiga komponen utama pembentuk identitas tempat, yaitu :
1. Tatanan dan tampilan fisik dari suatu tempat;
2. Aktivitasdan fungsi-fungsi yang dapat diobservasi yang erat terkait dengan cara-cara orang atau
pengguna memanfaatkan tempat yang ada;
3. makna yang terkait dengan pengalaman visual ketika orang berada di suatu tempat sehingga
terbentuk gambaran visual (visual image) tentang tempat tersebut.

Identitas tempat dimungkinkan ada pada skala wilayah regional sampai dengan skala bagian kota.
Pada skala bagian kota, titik-titik yang potensial menjadi bagian kota yang khas dan tidak mudah
dilupakan adalah taman kota, jalan utama di pusat kota, kawasan atau lingkungan bersejarah,
persimpangan jalan,dll.
. Komponen Pembentuk Identitas Kota/Kawasan

Gambaran Visual Waktu Kualitas Ruang Fungsi


Terkait dengan : Terkait dengan : Terkait dengan : Terkait dengan :
 Kualitas ruang  pemahaman  tingkat  bagaimanaorang-
yang spesifik, terhadapperubahan keterlingkupan orangmemanfaatka
dapat diidentifikasi atauperkembangan yangterdefinisikan ntempat yangada
melalui foto, fisikdari waktu ke lewatelemen- dalampemenuhank
sketsa, atau waktu elemenruang ebutuhandasar
berbicara dengan  events  hubungan maupunkebutuhans
orang-orang yangberlangsung antarruang osial
dariwaktu ke waktu  ketinggianbanguna  jenis
danmemberikankon n aktivitas,waktubera
tribusi  bentuk ruang ktivitas
padakeunikan  fasad bangunan
tempat
Dalam proses kegiatan Penyusunan Review Masterplan Tata Ruang Pusat pemerintahan Kabupaten
Pesisir Barat dilakukan melalui beberapa pendekatan :
1. Pendekatan normatif
Dalam proses analisis, konsep maupun rencana, akan mengacu padaperaturan-peraturan, kebijakan-
kebijakan, dan standart yang berlaku diwilayah area studi. Aturan tersebut dapat merupakan suatu
standar yang ditetapkan oleh instansi tertentu maupun landasan hukum atau lainnya.

2. Pendekatan teoritis
Dalam tahapan proses analisis, konsep maupun rencana, juga akan menggunakan pendekatan secara
teoritis untuk mendapatkan model ataupun menyusun konsep yang ideal

3. Pendekatan empiris-substantial
Dalam tahapan identifikasi kondisi eksisting dan pengenalan permasalahanmaupun tahap analisis,
perlu pendekatan yang mempertimbangkan fakta dan realita yang ada di lapangan, sehingga ada
kesinambungan kecenderungankearah penyelesaian dan penyusunan perancangan yang lebih baik
padasetiap aspek substansi analisisnya. Sedangkan aspek substansi yang perludimasukkan dalam
pendekatan analisis empiris ini meliputi aspek sosial,kultural, ekonomi, tata ruang dan lingkungan.
4. Pendekatan substansi
Perencanaan dan tata ruang kota, mencakup kajian peranan kawasan perencanaan dalam konteks
struktur ruang Kabupaten Pesisir Barat.

5. Pendekatan survey
Pendekatan survey yang dilakukan adalah untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan
mencari suatu keterangan-keterangan secara faktual, tentang perkembangan permukiman, kondisi sosial
ekonomi, dan kondisi permukiman. Karenanya dalam penelitian survey hal yang dilakukan adalah
mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data pokok
(Sairin, 1995). Menurut Singarimbun (1989:5) kegunaan lain dari penelitian survey adalah untuk
mengadakan evaluasi.

6. Pendekatan asumtif
Pendekatan asumtif ini digunakan untuk melakukan proses penelusuran terhadap hal-hal (data/informasi)
yang tidak ada atau bersifat abstrak sehingga suatu asumsi dari pendapat ahli untuk mendukungnya.
Pendekatan ini juga bersifat perkiraan-perkiraan yang dapat digunakan sebagai data / informasi dalam
proses analisis.
7. Pendekatan substansi ekonomi
Dimaksudkan untuk memicu peningkatan perekonomian baik dalam tingkat kabupaten, propinsi, maupun
perekonomianmasyarakat yang terkait dengan pengembangan kawasan ini.
8. Pendekatan substansi sosial
Bertujuan untuk meminimalkan konflik dan kesenjangan sosial dari pelaku dan
pendukung kegiatan di lingkungan kawasan ini.

8. Pendekatan substansi budaya


Dalam rangka keberlanjutan pelestarian nilai-nilai budaya dan warisan kesejarahan.

9. Pendekatan lingkungan
Diusahakan seminimal mungkin terjadi dampak terhadap lingkungan, serta
diselaraskan dengan prinsip sustainable development.

10. Pendekatan partisipatif,


Mengikut sertakan pihak-pihak yang berpengaruh dalam proses pelaksanaan studi,
baik institusi pemerintah, kalangan profesional serta masyarakat yang terkait dalam
proyek studi.
METODOLOGI PELAKSANAAN

Metodologi penyusunan pekerjaan dapat dibagi menjadi 3 tahapan yaitu :


1. Pengumpulan Data (Survey dan Tinjauan Kondisi Eksisting)
2. Analisa Data dan Perumusan Konsep Pengendalian Kawasan, dan
3. Penyusunan Substansi Rencana Teknik Ruang/Masterplan Tata Ruang Pusat pemerintahan.
Pengumpulan Data
(Survey dan Tinjauan Kondisi Eksisting)

Hasil Survey dan


Pengukuran Kontur
kawasan Rencana
Komplek Perkantoran
PEMKAB. Pesisir
Barat
KONSEP PENGEMBANGAN
TERIMA KASIH