Anda di halaman 1dari 13

TOPIK KONTEMPORER

KONTRAK KONSTRUKSI
OLEH :

M. IVAN ( 01116060 )
RIKO ( 01114037 )
DEMIN NATALIA ( 01114016 )
LAYYIN SA’ADAH ( 01114074 )
NUR LAILI ( 01114035 )
Pengertian
Istilah kontrak kerja konstruksi merupakan
terjemahan dari construction contract. Kontrak kerja
konstruksi merupakan kontrak yang dikenal dalam
pelaksanaan konstruksi bangunan, baik yang
dilaksanakan oleh Pemerintah maupun pihak swasta.
Umum
Dalam kontrak konstruksi, sebagaimana kontrak pada
umumnya akan menimbulkan hubungan hukum
maupun akibat hukum antara para pihak yang
membuat perjanjian. Hubungan hukum merupakan
hubungan antara pengguna jasa dan penyedia jasa
yang menimbulkan akibat hukum dalam bidang
konstruksi. Akibat hukum, yaitu timbulnya hak dan
kewajiban diantara para pihak. Momentum timbulnya
akibat itu adalah sejak ditandatanganinya kontrak
konstruksi oleh pengguna jasa dan penyedia jasa.
Unsur – Unsur
Adanya subjek, yaitu pengguna jasa dan penyedia jasa;
Adanya objek, yaitu konstruksi;
Adanya dokumen yang mengatur hubungan antara
pengguna jasa dan penyedia jasa.
Hak & Kewajiban
1. Hak pengguna jasa konstruksi adalah memperoleh hasil
pekerjaan konstruksi, sesuai dengan klasifikasi dan
kualitas yang diperjanjiakan. Dalam Pasal 18 ayat (1) UUJK,
kewajiban pengguna jasa dalam suatu kontrak mencakup:
Menerbitkan dokumen tentang pemilihan penyedia jasa
yang memuat ketentuan-ketentuan secara lengkap, jelas
dan benar serta dapat dipahami;
Menetapkan penyedia jasa secara tertulis sebagai hasil
pelaksanaan pemilihan;
Memenuhi ketentuan yang diperjanjikan dalam kontrak
kerja konstruksi.
Hak & Kewajiban
2. Adapun kewajiban dari penyedia jasa konstruksi
adalah mencakup :
Menyusun dokumen penawaran berdasarkan prinsip
keahlian untuk disampaikan kepada pengguna jasa;
Melaksanakan pekerjaan konstruksi sebagaimana
yang telah diperjanjikan.
Dalam kontrak pengadaan barang/ jasa oleh
Pemerintah, kontrak tersebut merupakan perikatan
antara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dengan
penyedia barang/jasa. Jika mengacu pada rumusan ini
maka pejabat yang mewakili pemerintah dan
karenanya berwenang menandatangani kontrak
pengadaan adalah PPK. Pejabat inilah yang
bertanggung jawab atas akibat hukum dari kontrak
yang ditandatangani.
Terdapat dua metode akuntansi yang digunakan untuk kontrak konstruksi yang
dikemukakan oleh Kieso et al (2011:960) yaitu:
 Metode persentase penyelesaian :
Dalam metode ini, pendapatan diakui secara progresif untuk setiap
periode sesuai dengan tingkat penyelesaian transaksi pada tanggal
pelaporan. Pendapatan kontrak dihubungkan dengan biaya kontrak
yang terjadi dalam mencapai tahap penyelesaian, sehingga beban dan
laba yang dilaporkan dapat diatribusi menurut penyelesaian pekerjaan
secara proporsional. Metode yang digunakan untuk mengukur
kemajuan kearah penyelesaian yaitu metode biaya ke biaya (cost to cost
method) dan metode unit yang dikirimkan (units delivery method).
Ukuran keluaran (dengan unit penyelesaian yang diukur dengan
jumlah ton yang diproduksi atau berapa mil jalan yang diselesaikan)
dibuat menurut hasilnya. Ukuran masukan (biaya yang terjadi, jam
kerja) dibuat sesuai dengan upah yang dicurahkan dalam suatu
kontrak.
Metode kontrak selesai
Pada metode kontrak selesai biaya-biaya dari
kontrak yang dikerjakan diakumulasikan dan tidak ada
pembebanan yang dilakukan atas rekening
pendapatan, biaya dan laba kotor sampai dengan
kontrak selesai dikerjakan (Ayu: 2015). Dengan metode
ini perusahaan kontraktor melakukan pengakuan
pendapatan secara sekaligus saat kontrak sudah
rampung, sehingga pendapatan dan beban/biaya
sudah diketahui secara pasti.
Sanksi Pemutusan Kontrak
Jaminan Pelaksanaan dicairkan;
Sisa Uang Muka harus dilunasi oleh Penyedia atau
JaminanUang Muka dicairkan (apabila diberikan);
Penyedia Barang/Jasa membayar denda
keterlambatanterhadap bagian kontrak yang terlambat
diselesaikansebagaimana ketentuan dalam kontrak,
apabila pemutusankontrak tidak dilakukan terhadap
seluruh bagian kontrak;
Penyedia dimasukkan dalam Daftar Hitam.
Dalam hal pemutusan Kontrak yang dilakukan karena
Pengguna Jasa terlibatpenyimpangan prosedur, melakukan KKN
dan/ataupelanggararan persaingan sehat dalam pelaksanaan
Pengadaan,maka Pengguna Jasa dikenakan sanksi berdasarkan
peraturanperundang-undangan. Bertitik dari prinsip
proporsionalitas seharusnya sanksi tersebut bersifat fakultatif
bukan komulatif. Prinsip proporsionalitas dalam hal ini
digunakan untuk menilai apakah kesalahan penyedia jasa secara
proporsional layak digunakan sebagai alasan dalam memutus
kontrak.
Dasar Pengakuan Pendapatan dan Biaya Kontrak Konstruksi :
PSAK 34 (Revisi 2010), Paragraf 21 menyebutkan: “Jika hasil kontrak
konstruksi dapat diestimasi secara andal, maka pendapatan kontrak
dan biaya kontrak yang berhubungan dengan kontrak konstruksi
diakui masing-masing sebagai pendapatan dan beban dengan
memerhatikan tahap penyelesaian aktivitas kontrak pada tanggal
akhir periode pelaporan. Taksiran rugi pada kontrak konstruksi
tersebut segera diakui sebagai beban.” Ada 3 kunci utama yang perlu
dipahami dari pernyataan standar ini, yaitu:
1) Pendapatan dan biaya kontrak konstruksi dapat diakui jika hasil
kontrak dapat diestimasi secara handal,
2) Pengakuan pendapatan dan biaya kontrak konstruksi
memperhatikan tahap penyelesaian aktivitas (sesuai kontrak
tentunya), dan
3) Jika diperkirakan biaya aktivitas konstruksi diperkirakan lebih
tinggi dari hasilnya, maka segera diakui sebagai biaya (atau beban).
THE END 