Anda di halaman 1dari 14

DIPHTERIA

Nur Farhana Amani binti Che Wan Ahmad


Definisi

Difteri adalah

Penyakit infeksi akut yang terjadi secara lokal pada mukosa saluran pern
afasan atau kulit yang disebabkan oleh basil gram positif Cornybacterium
diphtheriae, ditandai oleh terbentuknya eksudat yang berbentuk membr
an pada tempat infeksi , dan diikuti oleh gejala-gejala umum yang ditimb
ulakn oleh eksotoxin yang diproduksi oleh basil ini.

The Power of PowerPoint | thepopp.com 2


Klasifikasi

Infeksi Berat Terjadi sumbatan nafas yang berat da


n adanya gejala-gejala yang ditimbulka
n oleh eksotoksin seperti miokarditis,
paralisis dan nefritis.

Infeksi Sedang Pseudomembrane telah menyerang sa


mpai faring dan laring sehigga pasien t
erlihat lesu dan agak sesak.

Infeksi Ringan Pseudomembrane hanya terdapat pad


a mukosa hidung dengan gejala hanya
pilek dan nyeri waktu menelan

3
TIPE DIFTERI
Menurut lokasi terjadi infeksi pertama

3.Difteri fausial(farink 6. Difteri Kulit


1. Difteri nasal s)
anterior
4. Difteri Laring
eal
7. Difteri vulva/v
5. Difteri konju agina
2. Difteri nasal ngtiva
posterior

4
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis tergantung kepada

1. Lokasi Infeksi

2.Imunitas penderitanya

3. Ada/tidaknya toksin difteri yang bereder dalam sirkulasi darah

The Power of PowerPoint | thepopp.com 5


Keluhan-keluhan pertama
Waktu Inkubasi: 2-5 hari, difteri kutan: 7 hari setelah infeksi primer pada kulit

1. Demam yang tidak tinggi, sekitar 38ºC


2. Nyeri tenggorokan dan suara parau
3. Perasaaan tidak enak, mual,muntah dan lesu
4. Sakit kepala
5. Rinorea , berlendir kadang-kadang bercampur darah

6
Tipe Difteri

Mirip common cold, tetapi mempunyai karekteristik adanya cairan mukopurulen keluar da
ri hidung yang berisi lendir, pus, darah-/+,dan membran putih pada daerah septum nasal.
Difteri Nasal Anterior
Biasanya bersifat ringan, dapat sembuh antibiotik dan antitoksin

Gejala pertama: lesu, sakit menelan, anoreksia, demam yang tidak begitu ti
Difteri Tonsil dan Faring nggi. Dalam waktu 2-3 hari, terbentuk pseudomembran yang bisa menyeba
bkan sumbatan pernafasan. Pada kondisi berat, pasien kelihatan pucat, tak
ikardi, stupor, bisa meninggal dalam 6-10 hari. “Bull neck appearance”

Suara parau, batuk-batuk hebat dan membran bisa menimbulkan


Difteri Laring sumbatan aliran pernafasan dan menimbulkan kematian.

Sering terjadi pada gelandangan. Umumnya


Difteri Kulit jenis penyakit ini adalah nonsitogenik.

7
Diagnosis
Sebaiknya ditegakkan sedini mungkin berdasarkan manifestasi k
linis yang khas, karena keterlambatan diagnosis dapat menyeba
bkan penyakit bertambah lanjut, berat dan fatal..

8
Diagnosis awal dan cepat
Pemeriksaan langsung menggunakan pewarnaan: methylene blue, pewarnaan gram, imunoflouresens

Basil gram positif, berkelompo Dengan pewarnaan gram jara


k, tidak bergerak, tidak berkap ng diketemukan klaster basil
sul

9
Diagnosis definitif dan identifikasi basil

Diagnosis pasti Kultur Shick Test


Pemeriksaan serum terhadap a
Tes kultur Membedakan 3 tipe koloni ntibodi
Ditemukan c. diphteria pada p Kultur dan tes sensitifit pada saaat sebelu Tujuan: menentukan +/- antibodi ter
emeriksaan kultur dari lesi yan m dan sesudah pengobatan untuk memas hadap difteria(antitoksin). Diagnosis
g dicurigai. tikan tidak terjadi resistensi antibiotik. difteri ringan, kasus kontak sehingga
bisa diobati sempurna. Namun tidak
untuk tujuan deteksi dini

Waktu dan media khusus In Vitro


Media selektif Loffler, media Tellurite, Agar Tindal Elek plate test, polimerase pig i
e: Tumbuh koloni c.diphteriae yang berwarna hita noculation test
m dikelilingi warna abu-abu kecoklatan

Pemeriksaan Pemeriksaan produksi toksin

10
Pengobatan Umum
• Fisioterapi pasif

• Bed rest (min 2 3 minggu) • Fisioterapi aktif bila kondisi membai


k
• Diet makanan lunak, cair
• Paralisis palatum dan faring: NGT
• Kebersihan jalan nafas dan hisap lendir

Ruangan Isolasi Paralisis

EKG Kasus berat


• Kontrol EKG secara serial 2-3 kali/minggu selama 4-6 minggu • Rawat di ruangan intensif.
• Bila terjadi miokarditis: bed rest total selama 1 minggu • Tracheostomi: bila terjadi obstruksi l
aring
• Mobilasi gradual bila tanda miokarditis menghilang

11
Pengobatan Khusus
Tujuan: 1. Membunuh basil difteri 2. Menetralisir toksin

Pemberian Antibi
Pemberian Antito
otik
ksin
a. Penisilin Prokain: 1.200.000 unit/hari (IM), 2 kali/hari, selam
a 14 hari Dosis tergantung jenis difteri, tidak dipengaruhi umur.

b. Eritromisin: 40mg/kgbb/hari, max 2g/hari(oral), 4kali/hari • Difteri nasal/fausial yang ringan diberikan 20.000-40.000
U/IV daalam waktu 60 menit
c. Preparat lain: ampisilin, rifampisin,kuinolon atau klindamisin.
• Difteri fausial sedang: 40.000-60.000U/IV
Antibiotika juga segera diberikan pada carrier yang teridentifikas • Difteri berat: (bullneck difteri): 80.000-120.000U/IV
i, kemudian lakukan pengawasan ketat, apabila timbul gejala seg
era berikan antitoksin
12
Imunisasi: Anak
Diphtheria—Primary immunization with DTP protects more than 95% of persons for at least 10 years 

• Deskripsi             :    Vaksin DTP merupakan suspensi koloidal homogen berwarna putih susu
dalam vial gelas, mengandung toksoid tetanus murni, toksoid difteri murni, dan bakteri pertu
sis yang diinaktivasi, yang teradsorbsi kedalam aluminium fosfat. Vaksin DTP merupakan jeni
s vaksin bakteri yang inaktif.
• Dosis                   :    0,5mL diberikan secara intramuskular, baik untuk imunisasi dasar maupu
n ulangan
• Kemasan              :    Vial 5 ml, dapat diberikan secara kombinasi dengan vaksin lain sebagai v
aksin tetravalent yaitu DTwP/HepB, DTaP/Hib, DTwp/Hib, DTaP/IPV, atau vaksin pentavalen D
TP/HepB/Hib, DTaP/Hib/IPV sesuai jadwal (Gambar 2.8)
• Jadwal                 :    Imunisasi dasar DTP diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan (DTP tidak boleh
diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan interval 4-8 minggu. Interval terbaik diberikan 8
minggu, jadi DTP-1 diberikan pada umur 2 bulan, DTP-2 pada umur 4 bulan, dan DTP-3 pada
umur 6 bulan. Ulangan booster DTP-4 diberikan satu tahun setelah DTP-3 yaitu pada umur 1
8-24 bulan (pada usia 18 bulan sesuai ketentuan WHO) dan DTP-5 pada saat masuk sekolah
umur 5 tahun. Vaksinasi penguat Td diberikan 2 kali sesuai program BIAS (SD kelas 2 dan 3)
13
Imunisasi: dewasa

• Vaksin difteri untuk orang dewasa menggunakan vaksin Td/Tdap, yaitu vaksin DPT
dengan reduksi antigen dan pertusis.
Menurut CDC, pemberian vaksin difteri diberikan pada usia 19-64 tahun sebanyak sat
u dosis. Berikut jadwal pemberian vaksin difteri bagi orang dewasa:
• Orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin Td atau belum lengka
p status imunisasinya, diberikan 1 dosis vaksin Tdap diikuti dengan vaksin Td seba
gai penguat setiap 10 tahun.
• Orang dewasa yang sama sekali tidak diimunisasi, diberikan dua dosis pertam
a dengan jarak 4 minggu dan dosis ketiga diberikan setelah 6 sampai 12 bulan dari
dosis kedua
• Orang dewasa yang belum menyelesaikan tiga dosis vaksin Td seri primer dib
erikan sisa dosis yang belum dipenuhi

14