Anda di halaman 1dari 46

DASAR – DASAR

KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA (K3)
Jakarta, 23 Februari 2012
WAKTU ACARA

08.00 – 08.30 Registrasi

08.30 – 08.35 Safety Induction + Pembukaan

08.35 – 09.00 Pengenalan Program PT Jamsostek (Persero)

09.00 – 09.15 Coffee Break

09.15 – 10.45 Sesi I Pengenalan Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

10.45 – 12.00 Sesi II Peraturan Perundangan K3

12.00 – 13.00 Ishoma

13.00 – 14.30 Sesi III Keselamatan Kerja

14.30 – 16.00 Sesi IV Kesehatan dan Lingkungan Kerja

16.00 – 16.15 Sholat

16.15 – 17.30 Sesi V Sistem Manajemen K3

17.30 – 17.45 Penutupan


Selamat Datang
• Perkenalkan diri Anda dan tim Anda
Perkenalan
• Melakukan ice-breaker sehingga
peserta bisa saling mengenal
• Peserta dibuat perkelompok 5-7 orang
• Masing-masing kelompok menunjuk ketua dan
ketua memperkenalkan anggotanya dan
harapan untuk mengikuti pelatihan ini
Peserta diharapkan mampu :
• Mengetahui sejarah Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3);
• Mengetahui teori kecelakaan kerja;
• Memahami pelaksanaan identifikasi bahaya
dan penilaian risiko;
• Mengetahui Alat Pelindung Diri (APD)
1. Apa yang anda ketahui mengenai K3?
2. Apa manfaat K3 bagi perusahaan dan bagi
pekerja?
*masing-masing 3 hal
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Philosophy
Upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan
tenaga kerja dan manusia pada
umumnya, hasil karya dan
budayanya menuju masyarakat
yang adil dan sejahtera.
12/23/2017 DOC. LENA K/SEJARAH K3 7
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Suatu ilmu pengetahuan dan


Keilmuan penerapannya dalam upaya
mencegah kecelakaan,
kebakaran, peledakan,
pencemaran, penyakit akibat
kerja , dll

“ACCIDENT PREVENTION”
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Pedoman Segala kegiatan untuk


Kemnakertrans menjamin dan melindungi
keselamatan dan kesehatan
tenaga kerja melalui upaya
pencegahan kecelakaan kerja
dan penyakit akibat kerja

“ACCIDENT PREVENTION”
Sekitar tahun 80 M, Plinius seorang ahli ensiklopedi
bangsa Roma mensyaratkan agar para pekerja
tambang diharuskan memakai tutup hidung.

Tahun 1450 Dominicoz Fontana diserahi tugas


membangun obelisk ditengah lapangan St. Pieter
Roma. Ia selalu mensyaratkan agar para pekerja
memakai topi baja.

Abad 18  Revolusi Industri

Pekerjaan dilakukan
secara perorangan/
kelompok kecil REVOLUSI
Usaha pencegahan INDUSTRI
kecelakaan tidak
terlalu sulit
• Tahun 1919 Amerika Serikat memberlakukan “Work
Compensation Law”
“….tidak memandang apakah kecelakaan tersebut terjadi
akibat kesalahan si korban atau tidak, yang bersangkutan
akan mendapat ganti rugi jika terjadi dalam pekerjaan”
• Di Inggris  harus dibuktikan bahwa kecelakaan tersebut
bukanlah terjadi karena kesalahan si korban.
• H. W Heinrich  titik awal, keselamatan kerja
yang terorganisir secara terarah, prinsip-
prinsip yang dikemukakan Heinrich di tahun
1931 di bukunya “Industrial Accident
Prevention”, merupakan unsur dasar bagi
program keselamatan kerja saat ini.
1. Peraturan K3 Periode Tahun 1847 s.d 12 januari 1970
• Tahun 1847 , Hindia Belanda melakukan pengawasan
penggunaan mesin uap, keselamatan ditujukan pada K3 belum
pada rakyat Indonesia.

• 28 Pebruari 1852 Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan


staatblad no. 20 tentang Keselamatan kerja pemakaian mesin
uap.

• Veiligheid Reglement (VR) tahun 1910 Staatblad No 406 tentang


keselamatan kerja pemakaian diesel dan listrik di industri
pengolahan.

• Stoom Ordonantie dan stoom Verordening Tahun 1930 (Stbl No.


225 dan Stbl N0. 225) tentang keselamatan pemakaian pesawat
uap ( sampai saat ini diterjemahkan menjadi UndangUndang dan
Peraturan Uap).
• Undang-Undang Penimbunan dan Penyimpan Minyak tanah
dan bahan-bahan cair lainnya yang mudah menyala (stbl
1927 No. 99)
• Ordonantie menyangkut minyak tanah tahun 1927 (Stbl 1927
No. 214)

• Loodwit Ordonnantie, Stbl No. 509 tahun 1931, yang


mengatur pengawsan terhadap bahan yang mengandung
racun (pabrik cat, accu, percetakan dll)

• Vuurwerk Ordonantie dan Vuurwerk Verordening Stbl. No.


143 dan no. 10 tahun 1932 dan tahun 1933, mengatur
pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan
peraturan petasan.
14
• Industrienbaan Ordonantie dan Industriebaan Verordening
Stbl. No. 595 dan No. 29 Tahun 1938 dan tahun 1939 tentang
pengawasan terhadap jalan kereta api, loko dan gerbongnya
yang diginakan sebagai alat angkut selain PJKA.

• Retribusi Ordonantie Stbl No. 424 tahun 1940 dan Retributie


Vorerdening Stbl No. 425 tahun 1940.

• Undang No. 10 Tahun 1961 tentang Penetapan Peraturan


pemerintah pengganti Unndang No. 1 thaun 1962 Tentang
barang (Lembaran Negara No. 251 tahun 1961)

• Peraturan Khusus (peraturan pemberlakuan peraturan


Belanda di Indonesia)
15
2. Peraturan K3 periode 12 Januari 1970 s.d. sekarang
UU no. 1 tahun 1970 menggantikan VR 1910
• Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 1973 tentang
pengaturan dan pengawasan keselamatan kerja di
bidang pertambangan
• PP No. 07 Tahun 1973 tentang pengawasan atas
peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida.
• PP No. 11 tahun 1975 tentang keselamatan dan
kesehatan kerja radiasi
• PP No. 11 tahun 1979 tentang keselamatan kerja
pada pemurnian dan pengolahan miyak dan gas
bumi.
• Peraturan Pelaksana UU No. 1 tahun 1970
• Peraturan-Peraturan dan Keputusan Menteri
Tenaga Kerja.
• Kerugian akibat kecelakaan kerja

Kerugian langsung Kerugian tak langsung :


• Penderitaan pribadi • Kerusakan material
• Rasa kehilangan keluarga • Hilangnya peralatan
korban • Biaya akibat
berhentinya produksi

• Teori Gunung Es :
 Kerugian yang timbul akibat adanya kecelakaan ada yang terlihat jelas ada juga yang tidak
jelas terlihat
 Jenis kerugian diibaratkan gunung es, yang mana kerugian yang jelas / dapat dihitung
merupakan hanya puncak gunung es yang terlihat di permukaan laut, sedangkan kerugian
yang tidak tampak yang tersembunyi dalam air, justru melebih puncaknya, dan terus
membesar sampai dasar gunung,.
 Pada kenyataannya, kerugian yang terbesar yang merupakan kerugian yang tidak tergantikan
adalah dampak / kerugian yang tak jelas terlihat namun berdampak jelas pada perusahaan,
karena jenis kerugian ini adalah sesuatu resiko yang tidak dapat dialihkan ke perusahaan
asuransi. Seperti hilangnya kepercayaan masyarakat dan pencemaran nama baik.
What do accidents cost your company?
Slide
Slide
Direct -
Insured Costs
Unseen costs can sink
the ship! “Just the tip of the iceberg”
Oregon average to close a claim = $10,000

1. Biaya kompensasi tenaga kerja


2. Biaya Kesehatan ( dokter, Rs, obat, ambulance, helikopter dan biaya pelayan kesehatan lainnya)

Indirect - Uninsured, hidden Costs - Out of pocket


Oregon estimated average = $18,000
Biaya perusahaan adalah biaya yg tidak diasuransikan berupa :
• Nilai uang akibat hilangnya waktu kerja bagi pekerja yang tidak terluka Average
Average direct
direct and
and indirect
indirect accident
accident costs
costs
• Waktu terbuang untuk investigasi & pelaporan
• Pemberian P3K Lost $28,000
Lost time
time injury:
injury: $28,000
• Produksi terhenti Fatality: Slide
$980,000
• Pelatihan bagi pekerja pengganti
Fatality: Slide
$980,000
• Biaya tambahan untuk lembur
Using
Using National
National Safety
Safety Council
Council average
average costs
costs for
for 2000,
2000, includes
includes both
both direct
direct and
and
indirect
indirect costs,
costs, excludes
excludes property
property damage.
damage.

Contoh :
1. Hilangnya waktu kerja dari pekerja yang terluka Direct
Direct to
to Indirect
Indirect Accident
Accident Cost
Cost Ratios
Ratios
2. Hilangnya waktu kerja dari teman pekerja tersebut Direct
Direct cost
cost of
of claim
claim Ratio
Ratio of
of indirect
indirect to
to direct
direct
3. Hilangnya efisiensi akibat pekerja2 lain terhenti costs
costs
4. Hilangnya waktu kerja supervisor
5. Biaya Pelatihan untuk pekerja baru/pengganti $0-2,999
$0-2,999 4.5
4.5
$3,000
$3,000 -- 4,999
4,999 1.6
1.6
6. Kerusakan peralatan
$5,000
$5,000 -- 9,999
9,999 1.2
1.2
7. Waktu perbaikan peralatan $10,000
$10,000 or more
or more 1.1
1.1
8. Memperingati hari kejadian (produksi terhenti)
9. Kerusakan akibat kecelakaan : kebakaran, air, kimia, peledakan dll. Studies
Studies show
show that
thatthe
theratio
ratioof
of indirect
indirect to
todirect
direct costs
costs can
canvary
vary widely,
widely, from
from aa high
high of
of 20:1
20:1 to
toaalow
low
of
of 1:1.
1:1. Source:
Source: Business
Business Roundtable,
Roundtable, 1982.
1982.
10. Kegagalan memenuhi target/pesanan
11. Biaya tambhan akibat pekerjaan terganggu
12. dll

Unknown Costs - 1. Tragedi kemanusian


2. Mora
2
3. Reputasi
1. Mengamankan tempat kejadian (Secure the
accident scene)
2. Mengumpulkan fakta / informasi (Collect facts
about what happened)
3. Menentukan urutan kejadian (Determine the
sequence of events)
4. Menentukan penyebab (Determine the causes)
Metode Menentukan Penyebab Kecelakaan

The Three Basic Causes


Poor Management Safety Policy & Decisions
Personal Factors Basic Causes
Environmental Factors

Unsafe
Unsafe Act Indirect Causes Condition

ACCIDENT
Personal Injury
Unplanned release of
Property Damage
Energy and/or
Hazardous material
Cause
Direct

Tiga penyebab dasar kecelakaan (The Three Basic Causes)


Metode Menentukan Penyebab Kecelakaan

( ILCI model - Bird & German, 1985 )

Lack of Basic Immediate


Insident Loss
Control Causes Causes

Inadequate
Program Personal Substandar
Factors Contact People
d Acts With
Inadequate Property
Standard Job Substandar Energy or Process
Factors d Substance
Inadequate (Profit)
Conditions
Compliance

Loss Causation Model (ILCI Model – Bird & German , 1985)


5. Membuat rekomendasi perbaikan (Recommend
improvements)
6. Menyusun laporan (Write the report)
Contoh blanko laporan terdapat pada lampiran Permenaker
No. 03/Men/1998
Kegiatan untuk menemukan, mengenali, dan
mendeskripsikan potensi bahaya dari alat, bahan,
lingkungan kerja, cara kerja, sifat pekerjaan, proses
produksi.
Ada tiga pertanyaan yang dapat dipakai sebagai panduan

Sumber/kondisi apa yang dapat menimbulkan


cidera/loss ?
Apa / siapa yang terexposure/korban/Target ?
Jenis kerugian / type kecelakaan yang mungkin
terjadi ?
 Kesempatan untuk terjadinya cedera/kerugian dari suatu bahaya,
atau kombinasi dari kemungkinan dan akibat risiko
 Mempunyai 2 dimensi/parameter yaitu Probability / frekwensi dan
Konsekuensi
 Risiko = Probability x Konsekuensi
 Risiko = frekwensi x Konsekuensi
 Risiko = ProbabilityxFrekwensixKonsekuensi
 Probability : kemungkinan yg berupa rasio dari outcome thd
total kemungkinan outcome (1 : 100) atau 10 %
 Frekwensi : jumlah kejadian dalam kurun waktu tertentu ( 3
kali/minggu; 1 kali/tahun)
 Konsekuensi : akibat / dampak dari suatu kejadian
Hazard : suatu kondisi yang dapat menyebabkan kerugian/
gangguan/kecelakaan

Perbedaan Hazard & Risk :


Contoh : “seorang termakan soto basi”
Hazard : soto basi
Besar hazard yang ada tergantung dari tingkat racun pada soto
Risk : Kemungkinan orang tersebut makan soto dan
efek racun terhadap tubuhnya.

Besar risk tergantung dari :


- Nilai kemungkinan memilih soto / nilai berapa sering memilih
soto;
- efek racun terhadap tubuhnya.
Analisa Risiko/Risk Analysis
Kegiatan analisa suatu risiko dengan cara menentukan
besarnya probability/frekuensi dan tingkat keparahan dari
akibat/consequences suatu risiko

Penilaian Risiko/Risk Assessment

Penilaian suatu risiko dengan cara membandingkannya


terhadap tingkat atau karena risiko yang telah ditetapkan
Ada 3 cara dalam penilaian risiko yaitu:
 Kualitatif
 Semikuantitatif
 Kuantitatif
Metode ini menganalisa dan menilai suatu risiko dengan cara
membandingkan terhadap suatu deskripsi/uraian dari parameter
(peluang dan akibat) yang digunakan.Umumnya metode matriks
dipakai.
KEMUNGKINAN TERJADI
Sangat Jarang Jarang Mungkin Sangat Mungkin
Sedikit atau tidak Mungkin muncul kurang Kemungkinan terjadi Sering terjadi
mungkin terjadi dari 50-50 kemungkinan > 50
Minor
Tidak ada luka PEDULI PEDULI PEDULI HATI-HATI
atau luka kecil
KEPARAHAN

Sedang
TINGKAT

Tindakan medis atau PEDULI PEDULI HATI-HATI WASPADA


Hari kerja hilang atau Day
Away from Work (DAFW)
Serius
Lebih dari satu hari DAFW, PEDULI HATI-HATI WASPADA ALARM
ketidak hadiran dalam
waktu lebih dari satu hari
Major
Cacat permanen/ HATI-HATI WASPADA ALARM ALARM
kematian
Metode ini pada prinsipnya hampir sama dengan analisa kualitatif,
perbedaannya pada metode ini uraian/deskripsi dari parameter
yang ada dinyatakan dengan nilai/score tertentu.
Tingkat Keparahan Bahaya
1 2 3 4 5
Cedera yang
Cedera yang Turut serta
Cedera ringan mengakibatkan
diabaikan; ada dalam kematian beberapa
membutuhkan kecelakaan
ketidakhadiran tunggal atau kematian
penanganan P3K kehilangan
bekerja luka serius
waktu
1
Kombinasi aneh/ganjil dari faktor-faktor
yang diperlukan sehingga terjadinya 1 2 3 4 5
Kemungkinan Terjadinya

sebuah insiden
2
Kombinasi jarang dari faktor-faktor yang
diperlukan sehingga terjadinya sebuah 2 4 6 8 10
insiden
3
Dapat terjadi ketika faktor tambahan ada
tetapi jika tidak ada, tidak mungkin terjadi
3 6 9 12 15
4
Tidak yakin terjadi tetapi sebuah faktor
tambahan mungkin menyebabkan 4 8 12 16 20
ternyadinya kecelakaan
5
Hampir tidak terhindarkan yang
menybabkan insiden terjadi
5 10 15 20 25
Metode penilaian ini dilakukan dengan menentukan
nilai dari masing-masing parameter yang didapat
dari hasil analisa data-data yang representatif.
Analisa terhadap nilai
peluang atau akibat
dilakukan dengan
beberapa metode
seperti ; analisa
statistik, model
komputer, simulasi,
fault tree analysis,dll
Penentuan rekomendasi mengacu pada hirarki pengendalian/
The Hierarchy of Controls, NIOSH :

ENGINEERING
CONTROL

MANAGEMENT
CONTROL

APD PILIHAN
TERAKHIR
Hirarki Pengendalian berdasarkan Julian B. Olishifski,

ENGINEERING
CONTROL

ADMINISTRATIF
CONTROL

PILIHAN
TERAKHIR
Definisi :
Suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi
seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh
tubuh dari potensi bahaya di tempat kerja.

Jenis Jenis :

1. Alat Pelindung Kepala


Fungsi: melindungi kepala dari
benturan, terantuk benda tajam
atau benda keras, kejatuhan atau
terpukul oleh benda-benda yang
melayang atau meluncur di udara,
radiasi panas, api dan percikan
bahan-bahan kimia.
2. Alat pelindung mata dan muka
Fungsi kacamata pengaman adalah melindungi mata dari:
1. Percikan bahan-bahan korosif
2. Kemasukan debu-debu atau partikel-partikel yang
melayang di udara
3. Lemparan benda-benda kecil, panas
4. Pemajanan gas-gas atau uap-uap kimia yang dapat
menyebabkan iritasi pada mata
5. Radiasi gelombang elektromagnetik yang mengion
maupun yang tidak mengion
6. Pancaran cahaya
7. Benturan atau pukulan benda keras atau benda tajam
2. Alat pelindung mata dan muka
Jenis :
Kacamata (spectacles), Goggles, Tameng
muka (face shield)
3. Alat pelindung telinga
Fungsi: Melindungi alat pendengaran (telinga) dari kebisingan
dan melindungi telinga dari percikan api atau logam-logam
yang panas.
Jenis :
• Sumbat telinga atau ear plug
• Penutup telinga atau ear muff

4. Alat pelindung pernafasan (Respirator)


Fungsi : Memberikan perlindungan organ pernafasan akibat
pencemaran udara oleh faktor kimia seperti debu, uap, gas
fume, asap, mist, kabut dan sebagainya.
Jenis :
• Respirator untuk memurnikan udara
• Respirator untuk memasok udara
5. Pelindung Tangan
Fungsi : Melindungi tangan dan jari-jari tangan dari pajanan
api, panas, dingin, radiasi elektromagnetik, radiasi mengion
listrik, bahan kimia, benturan dan pukulan, tergores, terinfeksi.
Jenis : Sarung tangan biasa, Mitten, Hand Pad, Sleeve

6. Pelindung Kaki
Fungsi: Melindungi kaki dari timpaan benda-benda berat,
tertuang logam panas cair dan bahan kimia korosif, penyakit
kulit, tersandung , terpeleset, tergelincir.
Jenis :
• Sepatu keselamatan pada pekerjaan peleburan dan
pengecoran logam
• Sepatu keselamatan pada tempat kerja yang berpotensi
bahaya peledakan
• Sepatu keselamatan pada tempat kerja yang berpotensi
bahaya listrik
• Sepatu kerja untuk pekerja bangunan atau kontruksi
• Sepatu kerja pada tempat kerja yang basah atau licin.
• Sepatu keselamatan untuk mencegah bahaya terinjak
benda-benda runcing
• Sepatu keselamatan untuk mencegah dari kontak bahan
kimia
7. Pakaian pelindung
Fungsi: Melindungi sebagian atau seluruh bagian tubuh dari
bahaya percikan bahan-bahan kimia, radiasi, panas, bunga api
maupun api.
Jenis :
• Apron (menutup sebagian tubuh
mulai dari dada sampai lutut)
• Overalis (menutup seluruh tubuh).

8. Tali dan Sabuk pengaman


Fungsi: Digunakan untuk mengurangi resiko bahaya fisik
apabila si pemakai terjatuh.
Jenis :
• Penggantung
• Pelana atau harness
• Melakukan identifikasi bahaya dan tentukan
pengendalian pada gambar di bawah
• Ketua kelompok menjadi tuan rumah untuk
menerima masukan dari anggota kelompok
lain dan anggota kelompok berkunjung ke
kelompok lain untuk memberi masukan
• Ketua kelompok memaparkan hasil diskusi
dan kunjungan masing-masing ketua
kelompok
Gambar 1 Gambar 2
Work Sheet Latihan 1
Objek Sumber Bahaya Jenis Kecelakaan Pengendalian
yang mungin terjadi
Gambar 1

Gambar 2
• Sejarah Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3);
• Teori kecelakaan kerja;
• Pelaksanaan identifikasi bahaya dan penilaian
risiko;
• Alat Pelindung Diri (APD)