Anda di halaman 1dari 136

LANDASAN HUKUM PPh

ORDONANTIE PPs.1925; ORDONANTIE PPd 1944;


U.U.PAJAK ATAS PBDR 1970

U.U.No.7 TAHUN 1983
[ 1-1-1984 ]

U.U.No.7 TAHUN 1991
[ 1-1-1992 ]

U.U.No.10 TAHUN 1994
[ 1-1-1995 ]

U.U.No.17 TAHUN 2000
[ 1-1-2001 ]

U.U.No. 36 TAHUN 2008
[ 1-1-2009 ]
1
SUBJEK PAJAK
[ Ps. 2. U.U.No. 36 Tahun 2008
]
1. ORANG PRIBADI [ DN / LN ]

2. WARISAN BELUM TERBAGI sebagai


satu kesatuan
menggantikan yang berhak.

3. BADAN yang didirikan atau bertempat kedudukan


di Indonesia >
PT; PERSEROAN KOMANDITER; PERSEROAN……
LAINNYA ; BUMN; BUMD; Fa; KONGSI; KOPERASI; DANA
PENSIUN; PERSEKUTUAN; PERKUMPULAN; YAYASAN;
ORMAS; ORSOSPOL; ORGANISASI YANG
SEJENIS; LEMBAGA; REKSA DANA;

4. BENTUK USAHA TETAP.

2
PENENTUAN SUBJEK PAJAK
DALAM NEGERI DAN LUAR
NEGERI
Psl 2 ayat (3) UU PPh Jo. Per Dirjen
Pajak No.43/PJ/2011
• Subjek Pajak Dalam Negeri adalah:
a. Orang Pribadi yang:
1) bertempat tinggal di Indonesia, atau
2) berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan
puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas)
bulan, atau
3) dalam suatu Tahun Pajak berada di Indonesia dan
mempunyai niat untuk bertempat tinggal di
Indonesia.
Bertempat Tinggal Di
Indonesia
a. Mempunyai tempat tinggal (place of
residence) di Indonesia yang digunakan untuk:
1) Kediaman tetap (permanent dwelling place)
2) Kegiatan sehari-hari (ordinary course of life
3) Menjalankan kebiasaan (place of habitual
abode), atau
b. Mempunyai tempat domisili (place of domicile)
di Indonesia, yaitu orang pribadi yang
dilahirkan di Indonesia yang masih berada di
Indonesia
WNI di LN lebih dari 183 hari
• Orang pribadi yang merupakan Warga Negara Indonesia yang
bekerja di luar negeri lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12
(dua belas) bulan merupakan subjek pajak luar negeri.
• Orang pribadi tersebut tetap merupakan subjek pajak dalam
negeri apabila tidak memiliki atau tidak dapat menunjukkan
salah satu dokumen tanda pengenal resmi yang masih berlaku
sebagai penduduk di luar negeri
• Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi
sehubungan dengan pekerjaannya di luar Indonesia dan
penghasilannya bersumber dari luar Indonesia, tidak dikenai
Pajak Penghasilan di Indonesia.
• Dalam hal orang pribadi menerima atau memperoleh
penghasilan yang bersumber dari Indonesia, penghasilan
tersebut dikenai Pajak Penghasilan sesuai ketentuan
perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku.
Pekerja Indonesia di Luar
Negeri
( PERDIRJEN PAJAK No. 2/PJ/2009 )
• Pekerja Indonesia di Luar Negeri yang bekerja di
luar negeri lebih dari 183 (seratus delapan puluh
tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas)
merupakan Subjek Pajak Luar Negeri,
• sehingga atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh Pekerja Indonesia di Luar Negeri
sehubungan dengan pekerjaannya di luar negeri
dan telah dikenai pajak di luar negeri, tidak
dikenai Pajak Penghasilan di Indonesia.
• Namun dalam hal Pekerja Indonesia di Luar
Negeri tersebut menerima atau memperoleh
penghasilan dari Indonesia maka atas
penghasilan tersebut dikenai Pajak Penghasilan
sesuai ketentuan yang berlaku.
Kewajiban SPT
• Subjek pajak orang pribadi dalam negeri yang meninggalkan
Indonesia untuk selama-lamanya dan orang pribadi Warga
Negara Indonesia yang bekerja di luar negeri lebih 183 hari
menjadi subjek pajak luar negeri sejak meninggalkan Indonesia.

• Orang pribadi tsb tetap diwajibkan menyampaikan Surat


Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan untuk melaporkan
dan mempertanggungjawabkan jumlah pajak yang sebenarnya
terutang atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam
Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak terakhir dalam statusnya
sebagai subjek pajak dalam negeri sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku.

• Bagi subjek pajak orang pribadi dalam negeri yang meninggalkan


Indonesia untuk selama-lamanya harus menyampaikan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan paling lambat saat
meninggalkan Indonesia.
Subjek Pajak Badan Dalam
Negeri
Psl 2 ayat (3) UU PPh
• Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan
di Indonesia, kecuali unit tertentu dari badan
pemerintah yang memenuhi kriteria:
– pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
– pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah;
– penerimaannya dimasukkan dalam anggaran
Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah; dan
– pembukuannya diperiksa oleh Aparat pengawasan
fungsional negara; dan
Subjek Pajak Luar Negeri
• Subjek pajak luar negeri adalah orang pribadi yang tidak
bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada
di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh
tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan
badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia:
– yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
melalui bentuk usaha tetap di Indonesia; atau
– yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan
dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di
Indonesia.
• Pengertian "yang dapat menerima atau memperoleh
penghasilan dari Indonesia“ meliputi pula yang tidak
menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia.
10
BENTUK USAHA TETAP
[ Ps. 2. ( 5 )U.U.No. 36 Tahun
2008 ]

ORANG PRIBADI YANG TIDAK


BERTEMPAT TINGGAL DI
INDONESIA ATAU BERADA DI
INDONESIA TIDAK LEBIH
DARI 183 HARI DALAM
JANGKA WAKTU 12 BULAN

11
2.BADAN >
YANG TIDAK DIDIRIKAN DAN TIDAK
BERTEMPAT KEDUDUKAN DI INDONESIA ,
UNTUK MENJALANKAN USAHA ATAU
MELAKUKAN KEGIATAN DI INDONESI
YANG DAPAT BERUPA ;

* TEMPAT KEDUDUKAN MANAJEMEN

* CABANG PERUSAHAAN

* KANTOR PERWAKILAN
12
* GEDUNG KANTOR

• PABRIK ; BENGKEL

• PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN


SUMBER ALAM , WILAYAH KERJA
YANG DIGUNAKAN UNTUK
EKSPLORASI PERTAMBANGAN

• PERIKANAN , PETERNAKAN,
PERTANIAN, PERKEBUNAN ATAU
KEHUTANAN
13
* PROYEK KONSTRUKSI , INSTALASI,
ATAU PROYEK PERAKITAN ;

• PEMBERIAN JASA DALAM BENTUK


APAPUN OLEH PEGAWAI ATAU
ORANG LAIN , SEPANJANG
DILAKUKAN LEBIH DARI 60 HARI
DALAM JANGKA WAKTU 12 BULAN
[ KECUALI DITENTUKAN LAIN DALAM
TAX TREATY NEGARA YBS ]

14
• ORANG ATAU BADAN YANG
BERTINDAK SELAKU AGEN YANG
KEDUDUKANNYA TIDAK BEBAS

• AGEN ATAU PEGAWAI DARI


PERUSAHAAN ASURANSI YANG
TIDAK DIDIRIKAN ATAU TIDAK
BERTEMPAT KEDUDUKAN DI
INDONESIA YANG MENERIMA PREMI
ASURANSI ATAU MENANGGUNG
RESIKO DI INDONESIA

15
TIDAK TERMASUK SUBJEK PAJAK
[ Pasal 3 U.U.No.36 Tahun 2008 ]
• KANTOR PERWAKILAN NEGARA ASING

• PEJABAT PERWAKILAN DIPLOMATIK


• DENGAN SYARAT

• ORGANISASI INTERNASIONAL DENGAN


SYARAT

• PEJABAT PERWAKILAN ORGANISASI


INTERNASIONAL DENGAN SYARAT
16
THERE ARE ONLY TWO CER
IN LIFE; DEATH AND TAXE
PENGHASILAN ( INCOME / REVENUE )
PEREDARAN USAHA

OBJEK PPh DIKECUALIKAN


OBJEK FINAL DIKECUALIKAN
4(1) SEBAGAI OBJEK DARI OBJEK
4(2)
5(1) 4 ( 1 ) HURUF K 4(3)

SESUAI  1770-III  1770- III


OVER UNDER  1770-III
U.U  1771- IV  1771- IV
 1771- IV
K/- K/- K/-
K/ - K/+
K/+ = KOREKSI FISKAL POSITIF MENAMBAH PENGHASILAN KENA PAJAK

1770-I BGN A.2 / 1771-1.5


K/- = KOREKSI FISKAL NEGATIF MENGURANGI PENGHASILAN KENA PAJAK
18
1770-I BGN A.3 / 1771-1.4 & 6
OBJEK PAJAK PENGHASILAN
[ PASAL 4 ( 1 ) ]

• SETIAP TAMBAHAN KEMAMPUAN


EKONOMIS YANG DITERIMA ( CASH
BASIS ) ATAU DIPEROLEH ( ACCRUAL
BASIS ) WAJIB PAJAK , BAIK YANG
BERASAL DARI INDONESIA MAUPUN
DARI LUAR INDONESIA, YANG DAPAT
DIPAKAI UNTUK KONSUMSI ATAU
UNTUK MENAMBAH KEKAYAAN
WAJIB PAJAK YG BERSANGKUTAN ,
DENGAN NAMA DAN DALAM BENTUK
APAPUN ;
19
a. PENGGANTIAN / IMBALAN BERKENAAN
DENGAN PEKERJAAN ATAU JASA YANG
DITERIMA ATAU DIPEROLEH;

b. HADIAH DARI UNDIAN / PEKERJAAN


ATAU KEGIATAN, PENGHARGAAN;

c. LABA USAHA;

d. KEUNTUNGAN KARENA PENJUALAN /


PENGALIHAN HARTA, TERMASUK KARENA ;

20
1. PENGALIHAN HARTA KEPADA PERSEROAN,
PERSEKUTUAN, DAN BADAN LAINNYA
SEBAGAI PENGGANTI SAHAM ATAU
PENYERTAAN MODAL ;

2. PENGALIHAN HARTA KEPADA PEMEGANG


SAHAM, SEKUTU, ATAU ANGGOTA YANG
DIPEROLEH PERSEROAN, PERSEKUTUAN,
DAN LAINNYA;

3. LIKUIDASI , PENGGABUNGAN, PELEBURAN,


PEMEKARAN, PEMECAHAN, PENGAMBILAN
USAHA ATAU REORGANISASI DENGAN
NAMA DAN DALAM BENTUK APAPUN ;

21
4 PENGALIHAN HARTA BERUPA HIBAH , BANTUAN, ATAU
SUMBANGAN, KECUALI YANG DIBERIKAN KEPADA
KELUARGA SEDARAH DALAM GARIS KETURUNAN
LURUS SATU DERAJAT DAN BADAN KEAGAMAAN,
BADAN PENDIDIKAN, BADAN SOSIAL TERMASUK
YAYASAN , KOPERASI, ATAU ORANG PRIBADI YANG
MENJALANKAN USAHA MIKRO DAN KECIL YANG
KETENTUANNYA DIATUR LEBIH LANJUT DENGAN
PERATURAN MENKEU, SEPANJANG TIDAK ADA
HUBUNGAN USAHA, PEKERJAAN, KEPEMILIKAN, ATAU
PENGUASAAN DI ANTARA PIHAK-PIHAK YBS ; DAN ;

5. PENJUALAN ATAU PENGALIHAN SEBAGIAN


ATAU SELURUH HAK PENAMBANGAN, TANDA
TURUT SERTA DLAM PEMBIAYAAN, ATAU
PERMODALAN DALAM PERUSAHAAN
PERTAMBANGAN ;

22
e. PENERIMAAN KEMBALI PEMBAYARAN PAJAK YANG
TELAH DIBEBANKAN SEBAGAI BIAYA & PEMBAYARAN
TAMBAHAN PENGEMBALIAN PAJAK ;

f. BUNGA, TERMASUK PREMIUM, DISKONTO, & IMBALAN


KARENA JAMINAN PENGEMBALIAN UTANG

g. DIVIDEN, DENGAN NAMA & DALAM BENTUK APAPUN,


TERMASUK DIVIDEN DARI PERUSAHAAN ASURANSI
KEPADA PEMEGANG POLIS, & PEMBAGIAN SHU
KOPERASI. TERMASUK DALAM PENGERTIAN DIVIDEN
ADALAH ;

23
1. PEMBAGIAN LABA BAIK SECARA LANGSUNG ATAUPUN TIDAK LANGSUNG, DENGAN
NAMA DAN DALAM BENTUK APAPUN;

2. PEMBAYARAN KEMBALI KARENA LIKUIDASI YANG MELEBIHI JUMLAH MODAL


DISETOR ;

3. PEMBERIAN SAHAM BONUS YANG DILAKUKAN TANPA PENYETORAN TERMASUK


SAHAM BONUS YANG BERASAL DARI KAPITALISASI AGIO SAHAM ;

4. PEMBAGIAN LABA DALAM BENTUK SAHAM

5. PENCATATAN TAMBAHAN MODAL YANG DILAKUKAN TANPA PENYETORAN;

6. JUMLAH YANG MELEBIHI JUMLAH SETORAN SAHAMNYA YANG DITERIMA ATAU


DIPEROLEH PEMEGANG SAHAM KAREANA PEMBELIAN KEMBALI SAHAM-SAHAM
OLEH PERSEROAN YANG BERSANGKUTAN

DIVIDEN, DENGAN NAMA & DALAM BENTUK APAPUN, TERMASUK DIVIDEN DARI
PERUSAHAAN ASURANSI KEPADA PEMEGANG POLIS, & PEMBAGIAN SHU KOPERASI

1. h. ROYALTI ATAU IMBALAN ATAS PENGGUNAAN HAK

24
7. PEMBAYARAN KEMBALI SELURUHNYA ATAU SEBAGIAN DARI MODAL YANG DISETORKAN
JIKA DALAM TAHUN TAHUN YANG LAMPAU DIPEROLEH KEUNTUNGAN KECUALI JIKA
PEMBAYARAN KEMBALI ADALAH AKIBAT PENGECILAN MODAL DASAR ( STATUTER )
YANG DILAKUKAN SECARA SAH

8. PEMBAYARAN SEHUBUNGAN DENGAN TANDA TANDA LABA TERMASUK YANG DITERIMA


SEBAGAI PENEBUSAN TANDA TANDA TANDA LABA TERSEBUT ;

9. BAGIAN LABA SEHUBUNGAN DENGAN PEMILIKAN OBLIGASI ;

10. BAGIAN LABA YANG DITERIMA OLEH PEMEGANG POLIS;

11. PEMBAGIAN BERUPA SHU KEPADA ANGGOTA KOPERASI;

12. PENGELUARAN PERUSAHAAN UNTUK KEPERLUAN PRIBADI PEMEGANG SAHAM YANG


DIBEBANKAN SEBAGAI BIAYA PERUSAHAAN

DIVIDEN, DENGAN NAMA & DALAM BENTUK APAPUN, TERMASUK DIVIDEN DARI
PERUSAHAAN ASURANSI KEPADA PEMEGANG POLIS, & PEMBAGIAN SHU KOPERASI

1. h. ROYALTI ATAU IMBALAN ATAS PENGGUNAAN HAK

25
h. ROYALTI ATAU IMBALAN ATAS PENGGUNAAN
HAK

i. SEWA & PENGHASILAN LAIN SEHUBUNGAN


DENGAN PENGGUNAAN HARTA

j. PENERIMAAN & PEROLEHAN PEMBAYARAN


BERKALA

k. KEUNTUNGAN KARENA PEMBEBASAN


UTANG, KECUALI SAMPAI DENGAN JUMLAH
TERTENTU YG DITETAPKAN DGN PERATURAN
PEMERINTAH

26
L. KEUNTUNGAN KARENA SELISIH
KURS MATA UANG ASING

m. SELISIH LEBIH KARENA


PENILAIAN KEMBALI AKTIVA

n. PREMI ASURANSI

27
o.IURAN YANG DITERIMA ATAU…….
DIPEROLEH PERKUMPULAN DARI
ANGGOTANYA YANG TERDIRI DARI
WP YANG MENJALANKAN USAHA
ATAU PEKERJAAN BEBAS

p.TAMBAHAN KEKAYAAN NETO


YANG BERASAL DARI………..
PENGHASILAN YANG BELUM
DIKENAKAN PAJAK 28
q. PENGHASILAN DARI USAHA
YANG BERBASIS SYARIAH

r. IMBALAN BUNGA SEBAGAIMANA


DIMAKSUD DALAM U.U. YANG
MENGATUR KUP

s. SURPLUS BANK INDONESIA

29
OBJEK PAJAK BUT
[ Ps. 5 ayat ( 1 ) ]
• PENGHASILAN DARI USAHA ATAU
KEGIATAN BUT TERSEBUT DAN DARI
HARTA YANG DIMILIKI ATAU DIKUASAI

• PENGHASILAN KANTOR PUSAT DARI


USAHA ATAU KEGIATAN , PENJUALAN
BARANG, ATAU PEMBERIAN JASA DI
INDONESIA YANG SEJENIS DENGAN
YANG DIJALANKAN ATAU
DILAKUKAN OLEH BUT DI INDONESIA

30
• PENGHASILAN SEBAGAIMANA
TERSEBUT DALAM PASAL 26 YANG
DITERIMA ATAU DIPEROLEH
KANTOR PUSAT SEPANJANG
TERDAPAT HUBUNGAN EFEKTIF
ANTARA BUT DENGAN HARTA
ATAU KEGIATAN YANG
MEMBERIKAN PENGHASILAN
DIMAKSUD

31
KLASSIFIKASI PENGHASILAN

1. DARI PEKERJAAN DALAM


HUBUNGAN KERJA DAN PEKERJAAN
BEBAS

2. DARI USAHA & KEGIATAN

3. DARI MODAL

4. LAIN-LAIN
32
PENGECUALIAN SEBAGAI OBJEK PPh
[ P.P.No. 138 TAHUN 2000 ]

• ATAS PENGHASILAN YANG DIPEROLEH


DEBITUR BERUPA KEUNTUNGAN KARENA
PEMBEBASAN UTANG YANG MERUPAKAN
UTANG DEBITUR KECIL ( UTANG USAHA
YANG JUMLAHNYA TIDAK LEBIH DARI
Rp.350 juta ) DARI BANK ATAU LEMBAGA
PEMBIAYAAN DIKECUALIKAN SEBAGAI
OBJEK PAJAK

33
PENGHASILAN KENA PAJAK
BENTUK USAHA TETAP
[ Ps. 16 ayat ( 3 ) ]

• PENGHASILAN Ps. 4(1) +5(1)……..Rp……..

• DIKURANGI;

• BIAYA Ps.5(2 & 3)+Ps.6(1 & 2 )…..Rp……..

• BIAYA Ps.9(1 ) huruf c, d, e……...Rp……..


34
NO TAXATION
WITHOUT REPRESENTATION
Rakyat tidak akan membayar
pajak tanpa mereka secara politik
terwakili kepentingannya
OBJEK FINAL
[ PASAL 4 ( 2 ) ]

a. BUNGA DEPOSITO DAN TABUNGAN


LAINNYA, BUNGA OBLIGASI DAN SURAT
UTANG NEGARA, DAN BUNGA SIMPANAN
YANG DIBAYARKAN OLEH KOPERASI
KEPADA ANGGOTA KOPERASI ORANG
PRIBADI

• b. HADIAH UNDIAN

36
• c.
• c. PENGHASILAN DARI TRANSAKSI
SAHAM DAN SEKURITAS LAINNYA ,
TRANSAKSI DERIVATIF YANG
DIPERDAGANGKAN DI BURSA , DAN
TRANSAKSI PENJUALAN SAHAM ATAU
PENGALIHAN PENYERTAAN MODAL
PADA PERUSAHAAN PASANGANNYA
YANG DITERIMA OLEH PERUSAHAAN
MODAL VENTURA

37
d. PENGHASILAN DARI TRANSAKSI
PENGALIHAN HARTA BERUPA
TANAH DAN / ATAU BANGUNAN ,
USAHA JASA KONSTRUKSI, USAHA
REAL ESTATE, DAN PERSEWAAN
TANAH DAN / ATAU BANGUNAN ;
DAN
e. PENGHASILAN TERTENTU LAINNYA

38
PENGHASILAN TERTENTU LAINNYA YANG
DIKENAKAN PAJAK SECARA FINAL

1.PESANGON , THT DAN TEBUSAN PENSIUN YANG


DIBAYAR SEKALIGUS

2.HONORARIUM YANG DITERIMA ATAS BEBAN


APBN / APBD

3.DIVIDEN YANG DITERIMA WP ORANG PRIBADI

4.PENGHASILAN ISTERI DARI SATU PEMBERI


KERJA YANG TELAH MEMOTONG PPh PASAL 21
PENGHASILAN TERTENTU LAINNYA YANG
DIKENAKAN PAJAK SECARA FINAL

1.SELISIH LEBIH AKIBAT REVALUASI AKTIVA TETAP

2.DARI USAHA SEBAGAI PENYALUR / DEALER


/AGEN PRODUK BBM

3.WP ORANG PRIBADI & BADAN YANG


PEREDARAN USAHANYA TIDAK MELEBIHI Rp. 4,8
MILYAR DALAM 1 TAHUN PAJAK SEBAGAIMANA
DIATUR DALAM PP No. 46 TAHUN
4. DARI USAHA WP YANG MENGGUNAKAN
NORMA PENGHITUNGAN KHUSUS

1.PERWAKILAN DAGANG ASING


2.WP PELAYARAN / PENERBANGAN ASING
3.WP PELAYARAN DALAM NEGERI
4.WP DALAM USAHA BANGUN GUNA
SERAH
5.WP POLA BAGI HASIL DENGAN PT.
TELKOM
6.WP JASA MAKLON INTERNASIONAL
PPh FINAL ?
• PENGHASILAN YANG DITERIMA TIDAK
DIGUNGGUNGKAN DENGAN
PENGHASILAN LAINNYA DALAM
RANGKA PENGHITUNGAN PENGHASILAN
KENA PAJAK, NAMUN TETAP
DILAPORKAN DALAM SPT TAHUNAN
• » » FORMULIR 1770-III / 1771-IV / 1721-B
dan……

42
• PPh YANG DIPOTONG, DIPUNGUT,
DIBAYAR DARI TRANSAKSI FINAL
TIDAK DAPAT DIKREDITKAN
[ TIDAK DAPAT MENGURANGI UTANG
PAJAK AKHIR TAHUN ] NAMUN
TETAP DILAPORKAN DALAM SPT
TAHUNAN PPh »»»
FORMULIR 1770-III / 1771-IV / 1721-B.

43
BUMI
LASKAR PELANGI

There Are Only Two Certainties


In Life : Death and Taxes
YANG DIKECUALIKAN DARI OBJEK
[ PASAL 4 ( 3 ) ]

A.1.BANTUAN, ATAU SUMBANGAN, TERMASUK


ZAKAT ATAU SUMBANGAN KEAGAMAAN
YANG SIFATNYA WAJIB YANG DITERIMA
YANG BERHAK ; DAN

2.HARTA HIBAHAN YANG DITERIMA OLEH


KELUARGA SEDARAH DALAM GARIS
KETURUNAN LURUS SATU DERAJAT,
BADAN KEAGAMAAN , BADAN
PENDIDIKAN, BADAN SOSIAL TERMASUK
YAYASAN , KOPERASI , ATAU ORANG
PRIBADI YANG MENJALANKAN USAHA
MIKRO DAN KECIL , 45
SEPANJANG TIDAK ADA HUBUNGAN USAHA ,
PEKERJAAN, KEPEMILIKAN , ATAU
PENGUASAAN DI ANTARA PIHAK-PIHAK
YANG BERSANGKUTAN

b. WARISAN

c. HARTA TERMASUK SETORAN TUNAI YANG


DITERIMA BADAN SEBAGAI PENGGANTI
SAHAM / PENYERTAAN MODAL

46
d. PENGGANTIAN / IMBALAN………………..
SEHUBUNGAN DGN PEKERJAAN ATAU
JASA YANG DITERIMA / DIPEROLEH
DALAM BENTUK NATURA DAN ATAU
KENIKMATAN DARI WP / PEMERINTAH
KECUALI YANG DIBERIKAN OLEH
BUKAN WP , WP YANG DIKENAKAN
PAJAK SECARA FINAL ATAU WP
YANG MENGGUNAKAN N NORMA
PENGHITUNGAN KHUSUS [ DEEMED
PROFIT ]

47
e. PEMBAYARAN DARI PERUSAHAAN
ASURANSI KEPADA ORANG PRIBADI
SEHUBUNGAN DENGAN ASKES,
KECELAKAAN, JIWA, DWIGUNA,
BEA SISWA

f. DIVIDEN / BAGIAN LABA YANG DITERIMA /


DIPEROLEH PERSEROAN TERBATAS
SEBAGAI WP DALAM NEGERI, KOPERASI,
BUMN / BUMD N DARI PENYERTAAN
MODAL PADA BADAN USAHA YANG
DIDIRIKAN DAN BERTEMPAT KEDUDUKAN
DI INDONESIA
DENGAN SYARAT ,
48
• DIVIDEN BERASAL DARI cADANGAN
LABA DITAHAN; DAN

• BAGI PT,BUMN,BUMD KEPEMILIKAN


SAHAM PALING RENDAH 25% DARI
JUMLAH MODAL DISETOR

49
g. IURAN YANG DITERIMA /
DIPEROLEH DANA PENSIUN YANG
PENDIRIANNYA TELAH DISAHKAN
MENKEU, BAIK YANG DIBAYAR
PEMBERI KERJA MAUPUN PEGAWAI

h. PENGHASILAN DARI MODAL YANG


DITANAMKAN OLEH DANA PENSIUN
DALAM BIDANG TERTENTU,YAITU ;

50
• DEPOSITO, SERTIFIKAT
DEPOSITO, TABUNGAN
PADA BANK DI INDONESIA

• OBLIGASI YG DIPERDAGANGKAN
DI PASAR MODAL INDONESIA

• SAHAM YANG TERCATAT


DI BURSA EFEK INDONESIA
51
i. BAGIAN LABA YANG DITERIMA /
DIPEROLEH ANGGOTA DARI
PERSEROAN KOMANDITER YG
MODALNYA TIDAK TERBAGI ATAS
SAHAM SAHAM, PERSEKUTUAN,
PERKUMPULAN, FIRMA & KONGSI,
TERMASUK PEMEGANG UNIT
PENYERTAAN KONTRAK INVESTASI
KOLEKTIF

j. “ DIHAPUS “

52
k. PENGHASILAN YANG DITERIMA /
DIPEROLEH PERUSAHAAN MODAL
VENTURA BERUPA BGN LABA
DARI BADAN PASANGAN USAHA
YANG DIDIRIKAN DAN
MENJALANKAN USAHA DARI
KEGIATAN DI INDONESIA, DENGAN
SYARAT PASANGAN USAHA
TERSEBUT :

53
1. MERUPAKAN PERUSAHAAN MIKRO,
KECIL, MENENGAH, ATAU YANG
MENJALANKAN KEGIATAN DALAM
SEKTOR USAHA YANG DIATUR DENGAN
ATAU PERATURAN MENKEU

2. SAHAMNYA TIDAK DIPERDAGANGKAN


DI BURSA EFEK DI INDONESIA

54
l. BEA SISWA YANG MEMENUHI
PERSYARATAN TERTENTU YANG
KETENTUANNYA DIATUR LEBIH
LANJUT DENGAN ATAU
BERDASARKAN PERATURAN
MENKEU

55
m. SISA LEBIH YANG DITERIMA ATAU
DIPEROLEH BADAN ATAU LEMBAGA
NIRLABA YANG BERGERAK DALAM
BIDANG PENDIDIKAN DAN / ATAU
BIDANG LITBANG , YANG TELAH
TERDAFTAR PADA I NSTANSI YANG
MEMBIDANGINYA, YANG
DITANAMKAN KEMBALI DALAM
BENTUK SARANA DAN PRASARANA
KEGIATAN PENDIDIKAN DAN /
ATAU LITBANG DALAM JANGKA
WAKTU 4 TAHUN SEJAK DIPEROLEH
NYA SISA LEBIH TERSEBUT
56
n. BANTUAN ATAU SANTUNAN YANG
DIBAYARKAN OLEH BADAN
PENYELENGGARA JAMINAN
SOSIAL KEPADA WP TERTENTU
YANG KETENTUANNYA DIATUR
LEBIH LANJUT DENGAN ATAU
BERDASARKAN PERATURAN
MENKEU

57
THAT TAXES ARE THE PRICE WE PAY
FOR CIVILIZATION

ak adalah nilai yang harus dibayarkan


untuk membudayakan manusia
PENGHASILAN ISTERI

DIGABUNG DENGAN PENGHASILAN SUAMI &
DILAPORKAN DALAM SPT TAHUNAN SUAMI

PENGHASILAN ISTERI DIPEROLEH ;

1. DARI PEMBERI KERJA BUKAN SUBJEK PAJAK


YANG TIDAK MEMOTONG PPh PASAL 21

2. LEBIH DARI SATU PEMBERI KERJA YANG TELAH


MEMOTONG PPh PASAL 21

3. SELAIN DARI PEKERJAAN JUGA MENDAPATKAN


PENGHASILAN DARI USAHA / PEKERJAAN BEBAS

59
4. DARI
USAHA / PEKERJAAN
BEBAS

5.DARI PEKERJAAN YANG ADA


HUBUNGANYA DENGAN USAHA
/ PEKERJAAN BEBAS SUAMI /
ANGGOTA KELUARGA LAINNYA

[ Ps.8 ayat ( 1 ) ]

60
PENGHASILAN ISTERI

TIDAK DIGABUNG DENGAN PENGHASILAN SUAMI

TETAPI TETAP DILAPORKAN DALAM SPT TAHUNAN SUAMI



PENGHASILAN ISTERI DIPEROLEH ;

1. SEMATA-MATA DARI SATU PEMBERI KERJA YG


TELAH MEMOTONG PPh PASAL 21

2. DARI PEKERJAAN YG TDK ADA HUBUNGANYA


DENGAN USAHA / PEKERJAAN BEBAS SUAMI /
ANGGOTA KELUARGA LAINNYA

61
PENGHASILAN ANAK BELUM DEWASA
[ UMUR BELUM MENCAPAI 18 TAHUN ]

DARI MANAPUN SUMBER


PENGHASILANNYA
DAN
APAPUN SIFAT PEKERJAANNYA
DIGABUNG DENGAN
PENGHASILAN ORANG TUANYA
DALAM TAHUN PAJAK YANG SAMA

63
NEXT ............
PASAL : 6; 7; 8; 9; 10; 11; 11.A
65
BEBAN
( COST / EXPENSES )
1. DAPAT DIKURANGKAN

Psl 5 ayat ( 2 & 3a) ; Psl. 6 ayat (1)

 SESUAI UNDANG-UNDANG
 DILAPORKAN TERLALU BESAR (OVER)
KOREKSI FISKAL POSITIF
 DILAPORKAN TERLALU KECIL (UNDER)
KOREKSI FISKAL NEGATIF

66
67
BIAYA YANG BOLEH DIKURANGKAN
DARI PENGHASILAN BUT
[ Ps. 5 ayat ( 2 ) ]

YANG BERKENAAN DENGAN ;

1. PENGHASILAN KANTOR PUSAT DARI USAHA


ATAU KEGIATAN, PENJUALAN BARANG,
ATAU PEMBERIAN JASA DI INDONESIA YANG
SEJENIS DENGAN YANG DIJALANKAN ATAU
DILAKUKAN OLEH BUT INDONESIA;

68
2. PENGHASILAN SEBAGAIMANA TERSEBUT
DALAM PASAL 26 YANG DITERIMA ATAU
DIPEROLEH KANTOR PUSAT SEPANJANG
TERDAPAT HUBUNGAN EFEKTIF ANTARA
BUT DENGAN HARTA ATAU KEGIATAN
YANG MEMBERIKAN PENGHASILAN
DIMAKSUD

69
BIAYA KANTOR PUSAT
YANG BOLEH DIBEBANKAN
PASAL 5 AYAT [ 3 huruf (a) ]

• BIAYA ADMINISTRASI KANTOR PUSAT


[ BIAYA YANG BERKAITAN DENGAN
USAHA ATAU KEGIATAN BENTUK
USAHA TETAP ] YANG DALAM HAL INI
SETINGGI-TINGGINYA ADALAH
SEBANDING DENGAN BESARNYA
PEREDARAN USAHA ATAU KEGIATAN
BUT DI INDONESIA TERHADAP
SELURUH PEREDARAN USAHA ATAU
KEGIATAN PERUSAHAAN DI SELURUH
DUNIA DENGAN SYARAT;
70
• BUT DI INDONESIA YANG
MENGURANGKAN BIAYA
ADMINISTRASI KANTOR PUSAT
WAJIB MENYAMPAIKAN LAPORAN
KEUANGAN KONSOLIDASI ATAU
KOMBINASI DARI KANTOR PUSAT
YANG MELIPUTI SELURUH USAHA
DAN / ATAU KEGIATAN PERUSAHAAN
DI SELURUH DUNIA UNTUK TAHUN
PAJAK YANG BERSANGKUTAN
SEBAGAI LAMPIRAN SPT TAHUNAN
PPh

71
• LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
TERSEBUT HARUS TELAH DI AUDIT
OLEH AKUNTAN PUBLIK DAN
MENGUNGKAPKAN RINCIAN
PEREDARAN USAHA PERUSAHAAN
ATAU KEGIATAN PERUSAHAAN SERTA
JENIS DAN BESARNYA BIAYA
ADMINISTRASI YANG DIBEBANKAN
KEPADA MASING-MASING BUT DI
NEGARA TEMPAT PERUSAHAAN YANG
BERSANGKUTAN MELAKUKAN USAHA
ATAU KEGIATAN
• [ KEP-62/PJ/1995 TGL 24 JULI 1995 ]
72
BEBAN YANG
DAPAT DIKURANGKAN
[ Psl. 6 ayat ( 1 ) U.U. PPh ]

BIAYA , UNTUK MENDAPATKAN, MENAGIH, MEMELIHARA


PENGHASILAN;

a. BIAYA YANG SECARA LANGSUNG ATAU TIDAK LANGSUNG


BERKAITAN DENGAN KEGIATAN USAHA, ANTARA LAIN ;

1. BIAYA PEMBELIAN BAHAN ;


2. BERKENAAN PEKERJAAN ( UPAH, GAJI, HONORARIUM,
BONUS. GRATIFIKASI, DAN TUNJANGAN YANG DIBERIKAN
DALAM BENTUK UANG
3. BUNGA, SEWA, ROYALTI,
4. PERJALANAN,
5 . BIAYA PENGOLAHAN LIMBAH,
6. PREMI ASURANSI,
7. BIAYA PROMOSI & PENJUALAN
8. BIAYA ADMINISTRASI, DAN 74

9. PAJAK KECUALI PPh


COST OF GOODS SOLD
[ Ps. 10 ( 6 )

INVENTORY

COST
+
AVARAGE
FIFO
75
b. PENYUSUTAN DAN AMORTISASI

c. IURAN KEPADA DANA PENSIUN

d. RUGI KARENA PENJUALAN ATAU


PENGALIHAN HARTA

76
PENYUSUTAN
[ Ps. 11 ]

GARIS LURUS
SALDO MENURUN
TANPA NILAI RESIDU

PONSEL
MOBIL SEDAN ATAU SEJENIS

DEDUCTIBLE 50%
77
KELOMPOK 1 > 25 % & 50 %
KELOMPOK 2 > 12,5% & 25 %
KELOMPOK 3 > 6,25% & 12,50 %
KELOMPOK 4 > 5,% & 10,00 %
BANGUNAN :
PERMANEN 5%
TIDAK PERMANEN 10%

78
AMORTISASI
[ Ps. 11 A ]

GARIS LURUS

SALDO MENURUN

KELOMPOK 1 > 25% & 50 %


KELOMPOK 2 > 12,5% & 25 %
KELOMPOK 3 > 6,25% & 12,50 %
KELOMPOK 4 > 5,00 & 10,00 %

79
e. RUGI SELISIH KURS

f. LITBANG DI INDONESIA

g. BEA SISWA, MAGANG DAN


PELATIHAN

h. PIUTANG NYATA-NYATA
TIDAK DAPAT DITAGIH
DENGAN SYARAT
80
1. TELAH DIBEBANKAN SEBAGAI BIAYA
DALAM LAPORAN LABA RUGI KOMERSIAL;

2. WP HARUS MENYERAHKAN DAFTAR


PIUTANG YG TDK DAPAT DITAGIH KEPADA
DJP; DAN
3. TELAH DISERAHKAN PERKARA
PENAGIHANNYA KEPADA PN / INSTANSI
PEM YANG MENANGANI PIUTANG NEGARA
ATAU ADANYA PERJANJIAN TERTULIS
MENGENAI PENGHAPUSAN PIUTANG /
PEMBEBASAN UTANG ANTARA KREDITUR
DAN DEBITUR;
81
• ATAU TELAH DIPUBLIKASIKAN DALAM
PENERBITAN UMUM ATAU KHUSUS; ATAU
ADANYA PENGAKUAN DARI DEBITUR
BAHWA UTANGNYA TELAH DIHAPUSKAN
UNTUK JUMLAH UTANG TERTENTU;

[ SYARAT PADA ANGKA 3 TIDAK BERLAKU


UNTUK PENGHPUSAN PIUTANG TAK
TERTAGIH DEBITUR KECIL
SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM
PASAL 4 AYAT [1 ] HURUF k ]
82
i. SUMBANGAN DALAM RANGKA
PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL

j. SUMBANGAN DALAM RANGKA LITBANG


YANG DILAKUKAN DI INDONESIA

k. BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR


SOSIAL

l. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN

m. SUMBANGAN DALAM RANGKA PEMBINAAN


OLAH RAGA
BIAYA PROMOSI
YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI
PENGHASILAN BRUTO
[ PMK.No. 02/PMK.02/2010 ]

AKUMULASI DARI JUMLAH :


a. BIAYA PERIKLANAN DI MEDIA ELEKTRONIK, CETAK, ATAU
MEDIA LAINNYA;
b. BIAYA PAMERAN PRODUK;
c. BIAYA PENGENALAN PRODUK BARU ; DAN / ATAU
d. BIAYA SPONSORSHIP YANG BERKAITAN DENGAN
PROMOSI PRODUK
DENGAN SYARAT DIBUATKAN DAFTAR
NOMINATIF 85

PENGELUARAN BIAYA PROMOSI


DAFTAR NOMINATIF BIAYA PROMOSI
[ PMK.No. 02/PMK.02/2010 ]

PALING SEDIKIT MEMUAT DATA PENERIMA


BERUPA ;
a. NAMA, NPWP, ALAMAT, TANGGAL,
b. BENTUK DAN JENIS BIAYA , BESARNYA BIAYA,
c. NOMOR BUKTI PEMOTONGAN ,
d. BESARNYA PPh YANG DIPOTONG

86
TIDAK TERMASUK BIAYA PROMOSI
[ PMK.No. 02/PMK.02/2010 ]

a. PEMBERIAN IMBALAN BERUPA UANG DAN / ATAU


FASILITAS DENGAN NAMA DAN DALAM BENTUK
APAPUN KEPADA PIHAK LAIN YANG TIDAK BERKAITAN
LANGSUNG DENGAN PENYELENGGARAAN KEGIATAN
PROMOSI,
b. BIAYA PROMOSI UNTUK MENDAPATKAN, MENAGIH, DAN
MEMELIHARA PENGHASILAN YANG BUKAN MERUPAKAN
OBJEK PAJAK DAN YANG TELAH DIKENAI PAJAK BERSIFAT
FINAL
87
BIAYA PROMOSI
[ PMK.No. 02/PMK.02/2010 ]

• DALAM HAL PROMOSI DILAKUKAN DALAM BENTUK


PEMBERIAN SAMPEL PRODUK ,BESARNYA BIAYA
YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN
BRUTO , ADALAH SEBESAR HARGA POKOK SAMPEL
PRODUK YANG DIBERIKAN SEPANJANG BELUM
DIBEBANKAN DALAM PERHITUNGAN HPP

• BIAYA PROMOSI YANG DIKELUARKAN KEPADA PIHAK


LAIN DAN MERUPAKAN OBJEK PEMOTONGAN PPh
WAJIB DILAKUKAN PEMOTONGAN PAJAK 88


89
• 2. BUNGA PINJAMAN DIAKUI
SEBAHAGIAN YAITU
SEBESAR TKT BUNGA
PINJAMAN [ RP-RD ] JIKA
RP LEBIH BESAR DARI RD

90
PMK No. 169/PMK.010/2015

DALAM HAL BESARNYa PERBANDINGAN


ANTARA UTANG DAN MODAL WAJIB PAJAK
MELEBIHI BESARNYA PERBANDINGAN 4:1 ,
BIAYA PINJAMAN YANG DAPAT
DIPERHITUNGKAN DALAM MENGHITUNG
PENGHASILAN KENA PAJAK ADALAH
SEBESAR BIAYA PINJAMAN SESUAI
DENGAN PERBANDINGAN UTANG DAN
MODAL
91
pBUNGA PINJAMAN
DIAKUI
SELURUHNYA MESKIPUN RP LEBIH
KECIL / SAMA DENGAN RD ATAU RP
LEBIH BESAR DARI RD, APABILA
DAPAT DIBUKTIKAN BAHWA

• a. Deposito berasal dari laba ditahan atau


setoran modal, atau
• b. Deposito merupakan suatu kewajiban
menurut ketentuan yang berlaku

92
SE-27/PJ.22/1986
• BIAYA ENTERTAINMENT / JAMUAN TAMU
DAN SEJENISNYA DAPAT DIKURANGKAN
DARI PENGHASILAN BRUTO SEPANJANG
ADA HUBUNGANNYA DENGAN KEGIATAN
USAHA DAN DAPAT DIBUATKAN DAFTAR
NOMINATIF BIAYA JAMUAN TAMU DAN
DILAMPIRKAN PADA SPT TAHUNAN PPh
YANG MEMUAT NAMA, JABATAN, ASAL
PERUSAHAAN / INSTANSI PENERIMA
JAMUAN, NILAI DAN TEMPAT JAMUAN
93
KEP-220/PJ/2000
KOREKSI 50%

DARI BIAYA PEMAKAIAN PONSEL YANG


MELIPUTI BEBAN PENYUSUTAN,
BIAYA BERLANGGANAN, PENGISIAN
PULSA ULANG DAN PERBAIKAN
&
94
BIAYA PEMAKAIAN
KENDARAAN SEDAN YANG
MELIPUTI BEBAN
PENYUSUTAN DAN BIAYA
PEMELIHARAAN /
PERBAIKAN RUTIN

95
KEP 316/PJ/2002
ATAS PENGELUARAN BIAYA PEROLEHAN
DAN UPGRADE PERANGKAT LUNAK
[ SOFTWARE ] KOMPUTER BERUPA
PROGRAM APLIKASI KHUSUS [ PROGRAM
YANG DIRANCANG KHUSUS UNTUK
OTOMATISASI SISTEM ADMINISTRASI,
PEKERJAAN ATAU KEGIATAN TERTENTU,
SEPERTI DI BIDANG PERBANKAN, PASAR
MODAL , PERHOTELAN, RUMAH SAKIT,
PENERBANGAN ] PEMBEBANNYA MELALUI
AMORTISASI BERDASARKAN TARIF
KELOMPOK 1 [ 25% / 50% ]
96
PASAL 6 [ 2 ]
• PENGHASILAN BRUTO …….. ..Rp………..
• BIAYA PS. 6 [ 1 ] …………….…..[ Rp……….]
• Rugi……………………………………. Rp……….

KOMPENSASI SAMPAI 5 TAHUN

98
PENGURANG PENGHASILAN BRUTO
UNTUK WP ORANG PRIBADI
SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN

BIAYA JABATAN

5% x PENGHASILAN BRUTO
YANG DITERIMA PEGAWAI TETAP
MAKSIMUM Rp. 500.000.
Per BULAN
DARI SETIAP PEMBERI KERJA

99
BIAYA PENSIUN

5% x UANG PENSIUN
YANG DITERIMA PENSIUNAN
MAKSIMUM Rp. 200.000.
Per BULAN
DARI SETIAP PEMBERI UANG PENSIUN

100
PASAL 6 [ 3 ]

ORANG PRIBADI WP DALAM NEGERI

PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK

101
PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK

2015

102
PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK

• WAJIB PAJAK Rp. 36.000.000.


• TAMBAHAN WP YG KAWIN 3.000.000.
• PENGHASILAN ISTERI
DIGABUNG 36.000.000.
TAMBAHAN UNTUK SETIAP
TANGGUNGAN MAX 3 ORANG 3.000.000.

[ Ps.7 ]

103
2. TIDAK DAPAT DIKURANGKAN

Psl 5 ayat ( 3 b) ; Psl. 6 ayat (1)


Psl 9 ayat ( 1 ) & ayat ( 2 )
PP 94 Tahun 2010

KOREKSI FISKAL POSITIF

104
PEMBAYARAN KEPADA KANTOR PUSAT
YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN
DIBEBANKAN SEBAGAI BIAYA

• ROYALTI ATAU IMBALAN LAINNYA


SEHUBUNGAN DGN PENGGUNAAN
HARTA, PATEN, / HAK-HAK LAINNYA

• IMBALAN SEHUBUNGAN DGN JASA


MANAJEMEN DAN JASA LAINNYA

• BUNGA, KECUALI BUNGA BERKENAAN DENGAN


USAHA PERBANKAN

• [ Psl. 5 ayat ( 3 ) huruf b ]


105
106
PENGELUARAN / BEBAN
YANG TIDAK DAPAT DIKURANGKAN
[ Psl. 9 ayat ( 1 ) U.U. PPh ]

a. PEMBAGIAN LABA DENGAN NAMA


DAN DALAM BENTUK APAPUN

b. BIAYA YANG DIBEBANKAN/ DIKELUARKAN


UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI PEMEGANG
SAHAM, SEKUTU, ATAU ANGGOTA

c. PEMBENTUKAN / PEMUPUKAN DANA


CADANGAN DENGAN PENGECUALIAN

107
1. CADANGAN PIUTANG TAK
TERTAGIH UNTUK USAHA BANK
DAN BADAN USAHA LAIN YANG
MENYALURKAN KREDIT, SGU
DENGAN HAK OPSI, PERUSAHAAN
PEMBIAYAAN KONSUMEN, DAN
PERUSAHAAN ANJAK PIUTANG
2. CADANGAN UNTUK USAHA
ASURANSI TERMASUK CADANGAN
BANTUAN SOSIAL YANG DIBENTUK
OLEH BADAN PENYELENGGARA
JAMINAN SOSIAL;

3. CADANGAN PENJAMINAN UNTUK


LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN ;

4. CADANGAN BIAYA REKLAMASI


UNTUK USAHA PERTAMBANGAN
5. CADANGAN BIAYA PENANAMAN
KEMBALI UNTUK USAHA
KEHUTANAN DAN …….

6. CADANGAN BIAYA PENUTUPAN


DAN PEMELIHARAAN TEMPAT
PEMBUANGAN LIMBAH INDUSTRI
UNTUK USAHA PENGOLAHAN
LIMBAH INDUSTRI.
BESAR CADANGAN YANG DIAKUI
BIAYA

BANK UMUM KONVENSIONAL


&
BERDASARKAN PRINSIP SYARIAH

1%; 5%; 15%; 50%; 100%


BPR KONVENSIONAL
&
BPR PRINSIP SYARIAH

0,5%; 10%; 50%; 100%


KOPERASI SIMPAN PINJAM

0,5%; 10%; 50%; 100%

PT. PERMODALAN NASIONAL


MADANI

2,5%; 5%; 50%; 100%


SGU DENGAN HAK OPSI

2,5%
PEMBIAYAAN KONSUMEN
ANJAK PIUTANG

5%
ASURANSI KERUGIAN

40%
ASURANSI JIWA

SESUAI PENGHITUNGAN
AKTUARIA
LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN

80%
USAHA PERTAMBANGAN

SESUAI U.U. DI BIDANG


PERTAMBANGAN ENERGI DAN
SUMBER DAYA MINERAL
USAHA KEHUTANAN

SESUAI U.U. DI BIDANG


KEHUTANAN

USAHA PENGOLAHAN LIMBAH

SEUAI U.U. DI BIDANG LINGKUNGAN


HIDUP
d. PREMI ASURANSI KESEHATAN, KECELAKAAN,
JIWA, DWIGUNA, & BEA SISWA YG DIBAYAR
OLEH WP ORANG PRIBADI , KECUALI JIKA
DIBAYAR OLEH PEMBERI KERJA DAN PREMI
TERSEBUT DIHITUNG SEBAGAI PENGHASILAN
BAGI YANG BERSANGKUTAN

e. PENGGANTIAN ATAU IMBALAN SEHUBUNGAN


DENGAN PEKERJAAN / JASA YANG DIBERIKAN
DALAM BENTUK NATURA DAN KENIKMATAN
KECUALI

118
PENYEDIAAN MAKANAN / MINUMAN
DITEMPAT KERJA BAGI SELURUH
PEGAWAI SECARA BERSAMA-SAMA
ATAU YG MERUPAKAN KEHARUSAN
DALAM PELAKSANAAN PEKERJAAN
SEBAGAI SARANA KESELAMATAN
KERJA, PAKAIAN SERAGAM SATPAM
ANTAR JEMPUT KARYAWAN SERTA
PENGINAPAN UNTAUK AWAK KAPAL
DAN YANG SEJENIS
119
f. JUMLAH YANG MELEBIHI
KEWAJARAN YANG DIBAYARKAN
KEPADA PEMEGANG SAHAM ATAU
KEPADA PIHAK YANG MEMPUNYAI
HUBUNGAN ISTIMEWA
SEBAGAI IMBALAN
SEHUBUNGAN DENGAN
PEKERJAAN YG DILAKUKAN

g.HARTA YG DIHIBAHKAN,
BANTUAN ATAU SUMBANGAN,
DAN WARISAN KECUALI ZAKAT
120
h. PAJAK PENGHASILAN

i. BIAYA YG DIBEBANKAN /
DIKELUARKAN UTK KEPENTINGAN
PRIBADI WP / ORANG YANG
MENJADI TANGGUNGANNYA

121
j. GAJI YANG DIBAYARKAN KEPADA
ANGGOTA PERSEKUTUAN , FIRMA,
ATAU PERSEROAN KOMANDITER
YANG NMODALNYA TIDAK TERBAGI
ATAS SAHAM

k.SANKSI ADMINISTRASI YANG


BERKENAAN DGN PELAKSANAAN
PERUNDANG – UNDANGAN
DIBIDANG PERPAJAKAN

122
PASAL 9 [ 2 ]
• PENGELUARAN UNTUK MENDAPATKAN,
MENAGIH, DAN MEMELIHARA
PENGHASILAN YANG MEMPUNYAI MASA
MANFAAT LEBIH DARI SATU TAHUN
TIDAK DIBOLEHKAN UNTUK
DIBEBANKAN SEKALIGUS, MELAINKAN
DIBEBANKAN MELALUI PENYUSUTAN /
AMORTISASI > Ps. 11 & 11 A

124
PENGELUARAN YANG TIDAK DAPAT
DIBEBANKAN
[ PP.No. 94 TAHUN 2010 ]
BIAYA UNTUK MENDAPATKAN,
MENAGIH, DAN MEMELIHARA
PENGHASILAN ;
• YANG BUKAN OBJEK PAJAK;
• YANG PENGENAAN PAJAKNYA BERSIFAT FINAL;
• YANG DIKENAKAN PAJAK BERDASARKAN NORMA
PENGHITUNGAN PENGHASILAN

125
TARIF WP ORANG PRIBADI
Sejak 2009:

No Lapisan Penghasilan Tarif


.
1. S.d. Rp 50.000.000,- 5%
2. Di atas Rp50.000.000,- s.d. Rp 250.000.000 15%
3. Di atas Rp250.000.000,- s.d.Rp500.000.000,- 25%
4. Di atas Rp500.000.000,- 30%

12/24/17 127
PENGHASILAN KENA PAJAK
Rp. 599.999.999.
PPh TERUTANG ?

5% x Rp. 50 juta Rp. 2.500.000


15% x Rp. 200 juta Rp. 30.000.000
25% x Rp. 250 juta Rp. 62.500.000
30% x Rp. 99 999.000. Rp. 29.999.700
Rp. 124.999.700

12/24/17 128
TARIF WP BADAN
2008

Lapisan Penghasilan Tarif


s.d Rp 50.000.000,- 10%
Di atas Rp50.000.000,- 15%
s.d. Rp 100.000.000,-
Di atas Rp100.000.000,- 30%

2009
 Tarif tunggal sebesar 28%

 Mulai tahun 2010 diturunkan


menjadi 25%.
12/24/17 129
TARIF WP BADAN

PASAL 17 ( 2 b )

WP BADAN DALAM NEGERI [ PT ] YANG MINIMAL


40% DARI JUMLAH KESELURUHAN SAHAM
YANG DISETOR DIPERDAGANGKAN DI BURSA
EFEK INDONESIA

25% -5% x Penghasilan Kena Pajak

12/24/17 130
TARIF WP BADAN

PASAL 31 E

WP BADAN DALAM NEGERI DENGAN PEREDARAN


BRUTO SAMPAI Rp. 50 milyar

Peredaran Bruto sampai dengan


Rp. 4,8 milyar

50% x 25% x Penghasilan Kena Pajak


12/24/17 131
Peredaran Bruto
Lebih dari Rp. 4, 8 milyar s.d. Rp. 50 milyar

PPh terutang
=
[ 50% x 25% ] x PKP dari bgn peredaran
bruto yang memperoleh fasilitas

+
25% x PKP dari bagian peredaran
bruto yang tidak memperoleh fasiltas

12/24/17 132
Penghitungan
Penghasilan Kena Pajak
dari bagian peredaran bruto
yang memperoleh fasilitas

Rp. 4, 8 milyar / Peredaran Bruto x PKP

12/24/17 133
Contoh :
Peredaran bruto thn 2013 Rp. 30 milyar
Penghasilan Kena Pajak Rp. 3 milyar

Penghitungan Penghasilan Kena Pajak


dari bagian peredaran bruto
yang memperoleh fasilitas

4, 8 milyar / 30 milyar x Rp. 3 milyar = Rp. 480 juta

12/24/17 134
Penghitungan Penghasilan Kena Pajak
dari bagian peredaran bruto
yang tidak memperoleh fasilitas

Rp. 3 milyar – Rp. 480 jutA= Rp. 2, 52 milyar

PPh TERUTANG
[ 50% X 25% X 480 juta ] + [ 25% x 2,52 milyar ]
Rp. 690.000.000.

12/24/17 135
Terima Kasih Atas
Perhatian Anda
T erhadap Presentasi Ini.
Semoga Materi Yang
Disajikan Bermanfaat
Terhadap Profesi Anda.