Anda di halaman 1dari 63

Laporan Status

Paranoid
ec
Penggunaan Zat Psikoaktif
Pembimbing : dr. H. M. Zainie Hasan, SpKJ(K)

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN JIWA


RSJ ERNALDI BAHAR FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2016
Anggota Kelompok C
• Kristian Sudana H, S. Ked
• Neni Septianingsih, S. Ked
• Azizha Ros, S. Ked
• Luthfi Uly, S. Ked
• Neva Arsita, S. Ked
Pendahuluan
Jumlah penyalah guna narkoba
Indonesia sebanyak 3,8-4,1 juta orang
tahun
2014
Usia 10-59 tahun

Golongan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif


lainnya (NAPZA) masih bermanfaat dalam
kedokteran.
Disalahgunakan  sangat merugikan bagi
individu maupun masyarakat.
Pasien yang mengalami gejala psikotik
RSKO dengan riwayat pengguna NAPZA >>>
Jakarta
2011-2012 131 pasien psikotik  96 orang memiliki
riwayat pengguna NAPZA

Tidak bekerja (53,1%)


90,6% Laki-laki Lulusan SMA (55,2 %).
Shabu sebagai jenis yang paling Berasal dari kelompok
banyak digunakan (66,7%) usia 30-39 tahun (49%)

Penyalahgunaan zat dapat mempengaruhi


• Keadaan mental  mood
• Aktivitas  perilaku
Status
Pasien
Identifikasi
• Nama : Tn HN
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Umur : 26 tahun
• Status Perkawinan : Belum Menikah
• Warga Negara : Indonesia
• Agama : Islam
• Kebangsaan : Indonesia
• Tingkat Pendidikan : Sarjana
• Pekerjaan : Tidak bekerja
Anamnesis

Alloanamnesis

Tn. M, 64 tahun (Ayah kandung)

Sebab utama:
Os mengalami perubahan perilaku menjadi lebih mudah tersinggung dan emosian

Keluhan Utama:
tidak ada (pasien diam)
Riwayat Perjalanan Penyakit

4 tahun SMRS

• ± 4 tahun yang lalu os menggunakan sabu-


sabu.
• Setelah os menggunakan sabu-sabu, os
merasa bisa melupakan masalah. Selain itu, os
juga hanya menghabiskan waktunya dengan
tidur dan makan.
• Menurut keluarganya setelah os menggunakan
sabu-sabu, os berubah menjadi orang yang
mudah tersinggung.
Riwayat Perjalanan Penyakit
2 tahun SMRS
• Keluarga os merasa os semakin aneh dan tidak
mudah ditebak
• Os makin mudah tersinggung, sulit tidur dan
sering berbicara sendiri
• Os merasa dirinya dapat mendengar suara-
suara gaib yang dapat mengganggunya seperti
mengejarnya
• Os juga sering mencurigai seseorang tanpa
sebab
• Lalu os dibawa berobat dan disarankan rawat
jalan di RSJ Ernaldi Bahar.
Riwayat Perjalanan Penyakit

2 bulan SMRS
• Os terlihat sering berbicara sendiri dan berjalan
tanpa arah.
• Os juga mengatakan kepada keluarganya bahwa os
memiliki kekuatan untuk melihat makhluk halus dan
dapat berkomunikasi dengan mereka.
• Os merasa makhluk halus tersebut selalu mengejar-
ngejarnya sehingga os selalu merasa ketakutan dan
cemas
• Os merasa orang-orang di sekitarnya sering
membicarakan tentang keburukannya.
Riwayat Penyakit
Riwayat dahulu
Penyakit Dahulu

• Riwayat Trauma kapitis disangkal


• Riwayat Asma disangkal
• Riwayat kejang disangkal
• Riwayat Hipertensi disangkal
• Riwayat DM disangkal
• Riwayat NAPZA (sabu-sabu) sejak 4 tahun yang lalu,
frekuensi 1x seminggu, terakhir 1 bulan yang lalu.
Riwayat Premorbid
Riwayat Premorbid

• Tumbuh kembang baik


Bayi s/d Remaja • Anak-anak s/d remaja
Sosialisasi baik

Dewasa • Sosialisasi baik


Riwayat Pendidikan
Riwayat Pendidikan

• Os adalah lulusan S1
RiwayatRiwayat
KeluargaKeluarga


Riwayat Pekerjaan

• Os adalah seorang pengangguran

Riwayat perkawinan

• Os belum menikah
Riwayat penyakit dalam keluarga

• Riwayat gangguan jiwa dalam keluarga disangkal

Status Ekonomi

• Os tinggal bersama orangtuanya. Semua biaya


sehari-hari ditangggung oleh orangtuanya
Pemeriksaan
PemeriksaanFisik
Fisikdan
dan Psikiatri
Psikiatri

Status Internus
• Keadaan Umum
• Sensorium :Compos Mentis
• Suhu : 36,8oC
• Berat Badan : 60 kg
• Nadi : 84x/menit
• Pernafasan : 20 x/menit
• Tekanan Darah :110/80 mmHg
Status Psikiatrik
• Kesadaran/Sensorium : Compos Mentis
• Perhatian : Kontak (+) inadekuat
• Sikap : kurang kooperatif
• Inisiatif : kurang
• Tingkah Laku Motorik : Normoaktif
• Ekspresi Fasial : wajar
• Verbalisasi : Jelas
• Cara Bicara : Lancar
• Kontak Psikis :
• - Kontak Fisik : Ada, adekuat
• - Kontak Mata : Inadekuat
• - Kontak Verbal : Inadekuat
Keadaan Spesifik
• Keadaan Afektif : Sesuai
• Keadaan mood : irritable
• Hidup Emosi
• Stabilitas : Labil
• Dalam-dangkal : normal
• Pengendalian : Tidak Terkendali
• Adekuat-Inadekuat: Adekuat
• Echt-Unecht : Echt
• Skala Diferensiasi : Menyempit
• Einfuhlung : Sulit dirasakan
• Arus Emosi : labil
Keadaan Spesifik
• Keadaan dan Fungsi Intelek
• Daya ingat (amnesia, dsb) : Baik
• Daya Konsentrasi : Buruk
• Orientasi
• Tempat : Baik
• Waktu : Baik
• Personal : Baik
• Luas Pengetahuan Umum dan Sekolah : Sesuai
• Discriminative Judgement : Buruk
• Discriminative Insight : Buruk
• Dugaan taraf intelegensi : Baik
• Kemunduran intelektual (demensia, dsb) : Tidak ada
Keadaan Spesifik

• Kelainan Sensasi dan Persepsi


• Ilusi : (-)
• Halusinasi : (+) visual dan auditorik
Keadaan Spesifik
• Keadaan Proses Berpikir
• Psikomotilitas : Sulit dinilai
• Mutu proses berpikir : Sulit dinilai
• Arus Pikiran
• Flight of ideas(-)
• Inkoherensi (+)
• Sirkumstansial (-)
• Tangensial (-)
• Asosiasi longgar (-)
• Terhalang (-)
• Terhambat (-)
• Perseverasi (-)
• Verbigerasi (-)
Pemilikan Keadaan
Dorongan
Isi pikiran dan bentuk Instinktual dan
pikiran Perbuatan
Waham (+) kejar & Hipobulia(+)
curiga Vagabondage (+)
Pola Sentral (-)
Obsesi(-)
Stupor(-)
Fobia (-) Alienasi(-) Pyromania(-)
Konfabulasi (-) Simbolik(-) Impulsivitas (-)
Perasaan inferior (-) Dereistik(-) Mannerisme (-)
Kecurigaan (+) Kegaduhan Umum (-),
Simetrik(-) sekarang tidak ada
Rasa
permusuhan/dendam (- Paralogik(-) Autisme(-)
) Deviasi Seksual(-)
Lain-lain(-)
Perasaan Logore(-)
berdosa/salah(-) Ekopraksi (-)
Hipokondria (-) Konkritisasi (-) Mutisme(-)
Lain-lain (-) Ekolalia (-)
Kecemasan (Anxiety)
• Ada

Reality Testing Ability


• Terganggu
DiagnosisDiagnosis
• F.19.75 Gangguan Mental dan
Perilaku Akibat Penggunaan Zat
Aksis I Multipel dan Penggunaan Psikoaktif
Lainnya (Alkohol dan Amfetamin),
Gangguan Psikotik Onset Lambat
• F60.0 Gangguan kepribadian
Aksis II paranoid

Aksis III • Tidak ada diagnosis

Aksis IV • Masalah psikosial dan lingkungan

Aksis V • GAF scale 60-51


DiagnosisDiagnosa
Banding Banding

Skizofrenia paranoid
Terapi Terapi

Psikofarmaka
• Abilify 1x10 mg
• Stelasi 2x2,5 mg
• THP 2x2 mg
• Merlopam 1x0,5 mg
Terapi Terapi
Suportif
• Memberi dukungan dan perhatian kepada pasien
dalam menghadapi masalah.
• Memotivasi pasien agar meminum obat secara
teratur

Kognitif
• Menerangkan tentang gejala penyakit pasien yang
timbul akibat cara berpikir yang salah, mengatasi
perasaan, dan sikapnya terhadap masalah yang
dihadapi.
Terapi Terapi
Keluarga
• Memberikan penyuluhan bersama dengan pasien yang
diharapkan keluarga dapat membantu dan mendukung
kesembuhan pasien.

Religius
• Bimbingan keagamaan agar pasien selalu menjalankan
ibadah sesuai ajaran agama yang dianutnya, yaitu
menjalankan solat lima waktu, menegakkan amalan sunah
seperti mengaji, berzikir, dan berdoa kepada Allah SWT.
Prognosis Prognosis

Dubia ad bonam
Tinjauan
Pustaka
Gangguan Penggunaan Zat

• Gangguan penggunaan zat adalah suatu gangguan


jiwa berupa penyimpangan perilaku yang berhubungan
dengan pemakaian zat yang dapat mempengaruhi
sususan saraf pusat secara kurang lebih teratur
sehingga menimbulkan gangguan fungsi sosial.
Gangguan Penggunaan Zat

• Klasifikasi :
– Penyalahgunaan Zat merupakan suatu pola penggunaan
zat yang bersifat patologik, paling sedikit satu bulan
lamanya, sehingga menimbulkan gangguan fungsi sosial
atau okupasional.
– Ketergantungan Zat merupakan suatu bentuk gangguan
penggunaan zat yang pada umunya lebih berat, terdapat
ketergantungan fisik yang ditandai dengan adanya toleransi
atau sindroma putus zat.
Gangguan Penggunaan Zat

Opioida
misalnya morfin, heroin,oetidin,kodein, dan
candu.

Ganja atau kanabis atau


mariyuana, hashish
Gangguan Penggunaan Zat

Kokain dan daun koka

Alkohol (Etillkohol) Yang Terdapat Dalam


Minuman keras
Gangguan Penggunaan Zat

Amfetamin

Halusinogen, Misalnya LSD, meskalin,


psilosin, dan psilosibin
Gangguan Penggunaan Zat

Sedativa dan hipnotika

Solven dan inhalansia


Gangguan Penggunaan Zat

Nikotin yang terdapat dalam tembakau

Kafein yang terdapat dalam kopi,


teh, dan minuman kola
Gangguan Penggunaan Zat
Deteksi Dini Penyalahgunaan NAPZA
Kelompok risiko tinggi: Anak-anak
• Anak yang sulit memusatkan perhatian pada suatu kegiatan
• Anak yang sering sakit
• Anak yang mudah kecewa
• Anak yang mudah murung
• Anak yang sudah merokok sejak Sekolah Dasar
• Anak yang agresif dan destruktif
• Anak yang sering berbohong dan melawan tata tertib
• Anak denga IQ taraf perbatasan (IQ 70-90)
Gangguan Penggunaan Zat
Deteksi Dini Penyalahgunaan NAPZA
Kelompok risiko tinggi: Remaja
• Remaja yang mempunyai rasa rendah diri, kurang percaya diri dan
mempunyai citra diri negatif
• Remaja yang mempunyai sifat sangat tidak sabar
• Remaja yang diliputi rasa sedih (depresi) atau cemas (anxietas)
• Remaja yang cenderung melakukan sesuatu yang berisiko
• Remaja yang cenderung memberontak
• Remaja yang tidak mau mengikuti peraturan/tata nilai yang berlaku
Gangguan Penggunaan Zat
Deteksi Dini Penyalahgunaan NAPZA

Kelompok risiko tinggi: Remaja


• Remaja yang kurang taat beragama
• Remaja yang berkawan dengan penyalahguna
NAPZA
• Remaja dengan motivasi belajar rendah
• Remaja yang tidak suka kegiatan ekstrakurikuler
• Remaja dengan hambatan atau penyimpangan dalam perkembangan
psikoseksual
• Remaja yang mudah menjadi bosan,jenuh,murung.
• Remaja yang cenderung merusak diri sendiri
Gangguan Penggunaan Zat
Deteksi Dini Penyalahgunaan NAPZA
Kelompok risiko tinggi: Keluarga
• Orang tua kurang komunikatif dengan anak
• Orang tua yang terlalu mengatur anak
• Orang tua yang terlalu menuntut anaknya secara berlebihan
• Orang tua yang kurang memberi perhatian pada anak
• Orang tua yang kurang harmonis dan sering bertengkar
• Orang tua yang tidak memiliki standar norma baik-buruk atau benar salah yang
jelas
• Orang tua yang tidak dapat menjadikan dirinya teladan
• Orang tua menjadi penyalahgunaan NAPZA
Gangguan Penggunaan Zat
• Penyebab Penyalahgunaan NAPZA:

Faktor
Faktor Faktor
Lingkung
Individu an NAPZA
ALKOHOL
Merupakan salah satu zat psikoaktif yang
diperoleh dari proses fermentasi madu,
gula, sari buah dan umbi-umbian.

Sekali diabsorbsi, etanol didistribusikan


keseluruh jaringan tubuh dan cairan tubuh.

Sering dengan peningkatan kadar alkohol


dalam darah maka orang akan menjadi
euforia, namun dengan penurunannya pula
orang menjadi depresi.
Mekanisme Kerja
Alkohol pada
Neurotransmiter
AMPHETAMIN
Obat psikostimulant dari
golongan phenethylamine.

Meningkatkan kewaspadaan,
konsentrasi, dan stamina.

Dosis yang lebih tinggi lagi dapat


mengakibatkan euforia,
meningkatkan percaya diri, dan
libido.
AMPHETAMIN
UU No.5 Tahun 1997, amfetamin termasuk dalam
obat psikotropika golongan II yaitu:

“obat psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan


dan dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk
tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi
kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan”.
AMPHETAMIN

Amfetamin bekerja pada


sistem saraf pusat
dengan mengaktifkan
pelepasan
neurotransmitter
dopamin, norepinefrin,
dan serotonin.
Amfetamin merupakan
obat simpatomimetik
yang berarti “meniru”
transmiter endogen di
sistem saraf simpatis
dengan berinteraksi
dengan reseptornya.
Mekanisme Kerja
Amfetamin pada
Neurotransmiter
Analisis
Kasus
Tn. HN, laki-laki, 26 tahun, tidak bekerja,
dan belum menikah

saat ditanyakan pasien menjawab


berapa umurnya, dengan benar (kontak
sekarang ada Afek: Sesuai
mata pasien
dimana, dan pasien berkurang dan sering
Kontak: atensi
sudah menikah atau menggerakkan bibir) inadekuat
belum Konsentrasi: kurang
Daya ingat: kurang
Orientasi tempat:
Ketika ditanyakan
sekarang hari apa baik
dan ini siapa Orientasi waktu dan
pasien tidak tahu
(sambil personal: jelek
menunjukkan
perawat)
pasien menjawab Kontak: atensi
Ketika pasien “iya dulu tapi inadekuat
ditanya “Apakah sekarang tidak lagi. Halusinasi visual dan
bapak bisa melihat Saya merasa cemas auditorik (+)
dan berbicara dan takut karena
dengan mahluk Afek: cemas, takut
makhluk itu mengejar (sesuai)
halus?” saya.”
Waham kejar (+)
Pada pasien ini juga Diagnosis skizofrenia
ditemukan gejala belum dapat
psikotik disingkirkan
(Diagnosis banding)

Pada status internus Gangguan mental


dan neurologis tidak organik dapat
ditemukan adanya disingkirkan.
kelainan
Aksis I : F.19.75 Gangguan
Mental dan Perilaku Akibat Riwayat konsumsi sabu dan
Penggunaan Zat Multipel dan alkohol dalam beberapa
Penggunaan Psikoaktif minggu terakhir.
Lainnya (sabu dan alkohol)

Karena pada pasien ditemukan


Gangguan Psikotik Onset gangguan psikotik yang terjadi
Lambat selama lebih dari 2 minggu
Pada pasien ditemukan
kecurigaan dan
kecenderungan yang
Aksis II : F60.0 Gangguan mendalam terhadap sikap
kepribadian paranoid dan tindakan orang lain,
kecurigaan yang berulang
tanpa dasar, kepekaan
yang berlebihan terhadap
penolakan.
Aksis III : Tidak ada diagnosis
Aksis IV: Masalah psikososial dan
lingkungan lainnya
Aksis V: 60-51
TERAPI

1. Abilify 1x10 mg sebagai antipsikotik


psikofarmaka 2. Stelosi 2x2,5 mg sebagai antipsikotik,
3. THP 2x2 mg sebagai antikolinergik ,
4. Merlopam 1x0,5 mg.

untuk memberi dukungan dan perhatian


kepada pasien dalam menghadapi masalah
psikoterapi
dan memotivasi pasien agar meminum obat
secara teratur.
TERIMA KASIH