Anda di halaman 1dari 29

HEPATITIS DALAM KEHAMILAAN

OLEH PUTRI LESTARI


HEPATITIS adalah keadaan radang atau cedera pada hati, sebagai reaksi
terhadap virus, obat atau alcohol dapat disertai dengan nekrosis dan
klinis, biokimia serta seluler yang khas.

INFEKSI VIRUS
HAV, HBV,
HCV,HDV, HEV,
PENYEBAB HFV, HGV

INFEKSI NON VIRUS


KOMPLIKASI DARI
PENYAKIT LAIN , ALKOHOL,
OBAT-OBATAN KIMIA ATAU
ZAT KIMIA, PEYAKIT
AUTOIMUN, DLL
HEPATITIS VIRUS

B
E

C
D
HEPATITIS A

SANITASI YANG BURUK  Ditularkan melalui MAKANAN YANG TERKONTAMINASI HAV


(FECAL ORAL)

PADA NEGARA-NEGARA MAJU  dapat ditularkan melalui ikan atau kerang yang tidak
dimasak atau dimasak dengan kematangan yang kurang baik

Tanda dan Gejala

OBJEKTIF  Gejala –
SUBJEKTIF  Gejala – gejala obyektif yang
gejala subyektif berupa ditemukan setelah
lemah, letih, lesu, hilang pemeriksaan adalah
nafsu makan, seringkali Demam ( suhu tubuh di
terjadi mual dan muntah atas 37,20C), mata dan
yang terus menerus kulit menjadi kuning,
sehingga menyebabkan urin berwarna tua dan
seluruh badan terasa pekat, dan tinja pucat.
lemas. Demam yang terjadi
adalah demam yang terus
menerus
HEPATITIS B
Proses penularan Hepatitis B yaitu melalui pertukaran cairan tubuh (kontak dengan air liur, air
mata, keringat, air susu, semen) atau kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi Hepatitis
B.
Proses penularan penyakit Hepatitis B dibedakan menjadi dua :

Secara vertikal, Secara horizontal, terjadi akibat penggunaan alat suntik yang
cara penularan tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfusi darah, penggunaan
vertikal terjadi dari pisau cukur dan sikat gigi secara bersama-sama (jika penderita
Ibu kepada bayi memiliki penyakit mulut (sariawan, gusi berdarah) atau luka yang
yang dilahirkan mengeluarkan darah) serta hubungan seksual dengan penderita
pada saat atau mitra seksual (baik heteroseksual maupun pria homoseksual).
persalinan atau Sebagai antisipasi, biasanya terhadap darah-darah yang
segera setelah diterima dari pendonor akan di tes terlebih dulu apakah darah yang
persalinan. diterima reaktif terhadap hepatitis, sifilis dan HIV.

2. Tanda dan Gejala


Pada umumnya, gejala penyakit Hepatitis B ringan. Gejala tersebut berupa selera makan
hilang, rasa tidak enak di perut, mual sampai muntah, demam ringan, kadang-kadang disertai
nyeri sendi dan bengkak pada perut kanan atas. Setelah satu minggu akan timbul gejala utama
seperti bagian putih pada mata tampak kuning, kulit seluruh tubuh tampak kuning dan urin
berwarna seperti teh.
4. Diagnosa
Hepatitis B kronis merupakan penyakit nekroinflamasi kronis hati yang disebabkan oleh infeksi
virus Hepatitis B persisten. Hepatitis B kronis ditandai dengan HBsAg positif (> 6 bulan) di dalam
serum, tingginya kadar HBV DNA dan berlangsungnya proses nekroinflamasi kronis hati.
CarrierHBsAg inaktif diartikan sebagai infeksi HBV persisten hati tanpa nekroinflamasi.
Sedangkan Hepatitis B kronis eksaserbasi adalah keadaan klinis yang ditandai dengan peningkatan
intermiten ALT>10 kali batas atas nilai normal (BANN). Diagnosis infeksi Hepatitis B kronis
didasarkan pada pemeriksaan serologi, petanda virologi, biokimiawi dan histologi.

SECARA SEROLOGI, pemeriksaan yang dianjurkan untuk diagnosis dan evaluasi infeksi
Hepatitis B kronis adalah : HBsAg, HBeAg, anti HBe dan HBV DNA (4,5).

PEMERIKSAAN VIROLOGI, dilakukan untuk mengukur jumlah HBV DNA serum sangat
penting karena dapat menggambarkan tingkat replikasi virus.

PEMERIKSAAN BIOKIMIAWI yang penting untuk menentukan keputusan terapi adalah kadar
ALT. Peningkatan kadar ALT menggambarkan adanya aktivitas kroinflamasi.
Oleh karena itu pemeriksaan ini dipertimbangkan sebagai prediksi gambaran histologi.
Pasien dengan kadar ALT yang menunjukkan proses nekroinflamasi yang lebih berat
dibandingkan pada ALT yang normal. Pasien dengan kadar ALT normal memiliki respon
serologi yang kurang baik pada terapi antiviral. Oleh sebab itu pasien dengan kadar ALT normal
dipertimbangkan untuk tidak diterapi, kecuali bila hasil pemeriksaan histologi menunjukkan
proses nekroinflamasi aktif. Tujuan pemeriksaan histologi adalah untuk menilai tingkat
kerusakan hati, menyisihkan diagnosis penyakit hati lain, prognosis dan menentukan manajemen
anti viral.
Hepatitis C
Definisi
Hepatitis C adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis C (VHC). Infeksi virus ini apabila
berlanjut dapat menyebabkan sirosis dan kanker hati.
Proses Penularan
Proses penularan penyakit Hepatitis C sebanyak 80 % akibat transfusi darah dan jarum suntik yang
terkontaminasi. Virus hepatitis C ditularkan melalui pemakai obat yang menggunakan jarum
bersama-sama. Jarang terjadi penularan melalui hubungan seksual. Untuk alasan yang masih belum
jelas, penderita penyakit hati alkoholik seringkali menderita hepatitis C. Proses penularannya dapat
pula melalui kontak darah, akibat dari transplantasi hati.

Tanda dan Gejala


Penderita Hepatitis C kadang tidak menampakkan gejala yang jelas, tetapi pada penderita
Hepatitis C kronik menyebabkan kerusakan / kematian sel-sel hati dan terdeteksi sebagai kanker
(cancer) hati. Penderita Hepatitis C sering kali orang yang menderita Hepatitis C tidak
menunjukkan gejala, walaupun infeksi telah terjadi bertahun-tahun lamanya. Namun beberapa
gejala yang samar diantaranya adalah Lelah, Hilang selera makan, Sakit perut, Urin menjadi
gelap dan Kulit atau mata menjadi kuning yang disebut jaundice (jarang terjadi).
Pada beberapa kasus dapat ditemukan peningkatan enzyme hati pada pemeriksaan urine,
namun demikian pada penderita Hepatitis C justru terkadang enzyme hati fluktuasi bahkan
normal.Sejumlah 85% dari kasus, infeksi Hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak
hati bertahun-tahun.
HEPATITIS D
• Hanya terjadi sebagai rekan-infeksi dari virus hepatitis B dan virus hepatitis
D ini menyebabkan infeksi hepatitis B menjadi lebih berat. Yang memiliki
risiko tinggi terhadap virus ini adalah pecandu obat. Hepatitis D menular
melalui DARAH yang terinfeksi. Penyakit ini hanya timbul pada orang-orang
yang telah terinfeksi dengan hepatitis B sebelumnya.
• Orang-orang yang berisiko terkena hepatitis D adalah pengguna obat-
obatan yang sering memakai jarum suntik bersama-sama. Penderita
hepatitis B juga berisiko terkena jika berhubungan seks dengan orang yang
terinfeksi hepatitis D, atau jika mereka tinggal dengan orang yang terinfeksi.
Untuk mencegahnya adalah dengan mencegah terkena hepatitis B, yaitu
dengan imunisasi hepatitis B; selain itu dengan menghindari terkena darah
yang terinfeksi, jarum yang terkontaminasi, atau barang-barang pribadi
penderita (sikat gigi, pisau cukur, gunting kuku). Hepatitis D kronik diterapi
dengan interferon alfa.
HEPATITIS E

Virus hepatitis E kadang menyebabkan wabah yang menyerupai


hepatitis A, yang hanya terjadi di negara – negara terbelakang.
Hepatitis E adalah virus hepatitis (peradangan hati) yang
disebabkan oleh infeksi virus hepatitis E (HEV). HEV memiliki rute
transmisi fecal-oraL.
Secara klinis, penyakit ini sebanding dengan hepatitis A, tetapi pada
wanita hamil penyakit ini lebih sering parah dan berhubungan
dengan sindrom klinis yang disebut kegagalan hati fulminan.
Wanita hamil, terutama pada trimester ketiga, mengalami tingkat
kematian tinggi dari penyakit ini (sekitar 20%).

Wabah epidemi Hepatitis E paling sering terjadi setelah hujan


lebat dan musim hujan karena gangguan pasokan air. Dapat
ditularkan melalui babi, tikus dan rusa namun msh
diperdebatkan.
Pengaruh hepatitis virus pada kehamilan dan janin
Pengaruh hepatitis virus pada kehamilan bila hepatitis virus terjadi pada
trimester I atau permulaan trimeseter II maka gejala-gejala nya akan sama dengan
gejala hepatitis virus pada wanita tidak hamil. Meskipun gejala-gejala yang timbul
relatif lebih ringan dibanding dengan gejala-gejala yang timbul pada trimester III,
namun penderita hendaknya tetap dirawat di rumah sakit.

Hepatitis virus yang terjadi pada trimester III, akan menimbulkan gejala-gejala
yang lebih berat dan penderita umumnya menunjukkan gejala-gejala fulminant.
Pada fase inilah acute hepatic necrosis sering terjadi, dengan menimbulkan
mortalitas Ibu yang sangat tinggi, dibandingkan dengan penderita tidak hamil.
Pada trimester III, adanya defisiensi faktor lipo tropic disertai kebutuhan janin
yang meningkat akan nutrisi, menyebabkan penderita mudah jatuh dalam acute
hepatic necrosis tampaknya keadaan gizi ibu hamil sangat menentukan prognose.
Gizi buruk khususnya defisiensi protein, ditambah pula meningkatnya kebutuhan
protein untuk pertumbuhan janin, menyebabkan infeksi hepatitis virus pada
kehamilan memberi gejala-gejala yang jauh lebih berat. Pengaruh kehamilan
terhadap berat ringannya hepatitis virus, telah diselidiki oleh ADAM, yaitu dengan
cara mencari hubungan antara perubahan-perubahan koagulasi pada kehamilan
dengan beratnya gejala-gejala hepatitis virus.
Diketahui bahwa pada wanita hamil, secara fisiologik terjadi perubahan-perubahan dalam
proses pembekuan darah, yaitu dengan kenaikan faktor-faktor pembekuan dan penurunan
aktivitas fibrinolitik, sehingga pada kehamilan mudah terjadi DIC(Disseminated Intra Vascular
Coagulation). Dalam penelitian ini terbukti bahwa DIC tidak berperan dalam meningkatkan
beratnya hepatitis virus pada kehamilan. Tetapi sebaliknya, bila sudah terjadi gejala-gejala
hepatitis virus yang fulminant, barulah DIC mempunyai arti.
Hepatitis virus pada kehamilan dapat ditularkan kepada janin, baik in utero maupun segera
setelah lahir. Penularan virus ini pada janin, dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu :
a. Melewati placenta
b. Kontaminasi dengan darah dan tinja Ibu pada waktu persalinan
c. Kontak langsung bayi baru lahir dengan Ibunya
d. Melewati Air Susu Ibu, pada masa laktasi.Baik virus A maupun virus B dapat menembus
placenta, sehingga terjadi hepatitis virus in utero dengan akibat janin lahir mati, atau janin
mati pada periode neonatal. Jenis virus yang lebih banyak dilaporkan dapat menembus
placenta, ialah virus type B.

Beberapa bukti, bahwa virus hepatitis dapat menembus placenta, ialah ditemukannya hepatitis
antigen dalam tubuh janin in utero atau pada janin barulahir. Selain itu telah dilakukan pula
autopsy pada janin-janin yang mati pada periode neonatal akibat infeksi hepatitis virus.
Hasil autopsy menunjukkan adanya perubahan-perubahan pada hepar, mulai dari nekrosis
sel-sel hepar sampai suatu bentuk cirrhosis. Perubahan-perubahan yang lanjut pada hepar
ini, hanya mungkin terjadi bila infeksi sudah mulai terjadi sejak janin dalam rahim. Kelainan
yang ditemukan pada hepar janin, lebih banyak terpusat pada lobus kiri. Hal ini
membuktikan, bahwa penyebaran virus hepatitis dari Ibu ke janin dapat terjadi secara
hematogen. Angka
Dilaporkan, bahwa Ibu hamil yang mengalami hepatitis virus B, dengan
gejala yang jelas, 48% dari bayinya terjangkit hepatitis, sedang pada Ibu-
lbu hamil yang hanya sebagai carrier Hepatitis Virus B antigen, hanya 5%
dari bayinya mengalami virus B antigenemia.
Meskipun hepatitis virus, belum jelas pengaruhnya terhadap
kelangsungan kehamilan, namun dilaporkan bahwa kelahiran prematur
terjadi pada 66% kehamilan yang disertai hepatitis virus B.
Adanya icterus pada Ibu hamil tidak akan menimbulkan icterus pada janin.
Icterus terjadi akibat adanya unconjugated bilirubin yang melewati
placenta dari Ibu-Ibu hamil yang mengalami hemolitik jaundice.
Bila penularan hepatitis virus pada janin terjadi pada waktu persalinan
maka gejala-gejalanya baru akan nampak dua sampai tiga bulan
kemudian.
Sampai sekarang belum dapat dibuktikan, bahwa hepatitis virus pada Ibu
hamil dapat menimbulkan kelainan congenital pada janinnya. Pada
pemeriksaan placenta, dari kehamilan yang disertai hepatitis virus, tidak
dijumpai perubahan-perubahan yang menyolok, hanya ditemukan
bercak-bercak bilirubin. Bila terjadi penularan virus B in utero, maka
Pencegahan
Semua Ibu hamil yang mengalami kontak langsung dengan
penderita hepatitis virus A hendaknya diberi immunoglobulin
sejumlah 0,1 cc/kg berat badan.
Gamma globulin ternyata tidak efektif untuk mencegah hepatitis
virus B Gizi Ibu hamil hendaknya dipertahankan seoptimal
mungkin, karena gizi yang buruk mempermudah penularan
hepatitis virus.
Untuk kehamilan berikutnya hendaknya diberi jarak sekurang-
kurangnya enam bulan setelah persalinan, dengan syarat setelah
6 bulan tersebut semua gejala dan pemeriksaan laborato-rium
telah kembali normal.
Setelah persalinan, pada penderita hendaknya tetap dilakukan
pemeriksaan laboratorium dalam waktu dua bulan, empat bulan
dan enam bulan kemudian.
Pengobatan
Pengobatan infeksi hepatitis virus pada kehamilan tidak berbeda dengan
wanita tidak hamil.
1. Penderita harus tirah baring di rumah sakit sampai gejala icterus hilang
dan bilirubin dalam serum menjadi normal.
2. Makanan diberikan dengan sedikit mengandung lemak tetapi tinggi
protein dan karbohidrat.
3. Pemakaian obat-obatan hepatotoxic hendaknya dihindari.
4. Kortison baru diberikan bila terjadi penyulit.
5. Perlu diingat pada hepatitis virus yang aktif dan cukup berat,
mempunyai risiko untuk terjadi perdarahan post-partum, karena
menurun-nya kadar vitamin K.
6. Janin baru lahir hendaknya tetap diikuti sampai periode post natal
dengan dilakukan pemeriksaan trans aminase serum dan pemeriksaan
hepatitis virus anti gen secara periodik. Janin baru lahir tidak perlu
diberi pengobatan khusus bila tidak mengalami penyulit-penyulit lain.
KESIMPULAN
Penyebaran penyakit infeksi dalam kehamilan sangat menghawatirkan dan perlu penanganan yang
serius. Penyakit infeksi dalam kehamilan sangat berpengaruh pada tingkat kesehatan seseorang
dan kondisi kesehatan reproduksi. Penanggulangan Penyakit infeksi dalam kehamilan dapat lebih
efektif dengan dilakukannya upaya pencegahan dengan pemeriksaan khusus sedini mungkin
sebelum terlambat. Hepatitis dapat disebabkan oleh kondisi non-infeksi seperti obat-obatan,
alkohol, dan penyakit autoimun, atau oleh adanya infeksi seperti hepatitis virus. Penularan
virus ini pada janin, dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu : a) Melewati placenta
b) Kontaminasi dengan darah dan feses Ibu pada waktu persalinan
c) Kontak langsung bayi baru lahir dengan Ibunya d) Melewati Air Susu Ibu, pada masa laktasi.
Adanya kebocoran plasenta yang menyebabkan tercampurnya darah ibu dengan darah fetus
e) Tertelannya cairan amnion yang terinfeksi f) Adanya abrasi pada kulit selama persalinan yang
menjadi tempat masuknya virus g) Tertelannya darah selama persalinan
h) Penularan melalui selaput lendir.
Gejala penyakit hepatitis seperti keluhan demam, anoreksia, nyeri otot, gejala-gejala mirip flu (flu-
like syndrome), mual atau muntah, serta nyeri perut, yang kemudian akan diikuti ikterus, serta
urin akan berwarna kecoklatan penderita hepatitis virus A hendaknya diberi immuno
globulinsejumlah 0,1 cc/kg berat badan. Gamma globulin ternyata tidak efektif untuk mencegah
hepatitis virus B. Terhadap bayi baru lahir dari ibu penderita hepatitis virus B, imunisasi pasif
dengan menggunakan Immunoglobulin Hepatitis B (HBIG) diberikan untuk mendapatkan
antibodi secepat nya guna memerangi virus hepatitis B yang masuk; selanjutnya disusul dengan
imunisasi aktif dengan memakai vaksin B.
LAPORAN KASUS KET
STATUS ORANG SAKIT
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. R
Umur : 33 Tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Pendidikan : SMA
Alamat : Jl. Pahlawan No. 46 Medan
Tanggal masuk : 10-11-2017
Pukul : 21.41.35 WIB

IDENTITAS SUAMI
Nama suami : Tn. N
Umur : 38 Tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Wartawan
Pendidikan : SMA
Alamat : Jl. Pahlawan No. 46 Medan

II. ANAMNESA
Identitas
Ny.R, 33 tahun, G1P0A0, SMA, Islam, IRT, i/d Tn.N, 38 tahun, Islam, SMA, Wartawan.
Keluhan Utama : Nyeri perut bagian bawah
Telaah :  Hal ini dialami os secara tiba-tiba sejak 1 hari SMRS, nyeri semakin memberat terutama diperut kanan
bawah. Sehingga os memutuskan untuk datang ke IGD RS.Haji, os juga sebelumnya mengeluhkan keluar flek darah
kecoklatan namun gumpalan darah disangkal, riwayat trauma disangkal, riwayat minum jamu dan di kusuk di sangkal.Os
mengeluhkan tidak haid sudah 8 minggu, Os juga mengeluhkan suka mual dan muntah terutama pagi hari yang dialami
sebelum keluhan muncul. Keluhan demam dan nyeri buang air kecil disangkal. riwayat penggunaan kontrasepsi
disangkal, riwayat keluar darah setelah senggama disangkal. Kentut dan buang air besar dalam batas normal. Os
merupakan konsulan dokter bedah yang didiagnosa appendisitis, namun dalam pengerjaan operasi ditemukan
segumpalan kantung dan darah yang keluar dari tempat penyayatan operasi, kemudian dilakukan test kehamilan positif.

Riwayat Penyakit yang Pernah diderita :
Anemia : (-) Tuberculosis : (-)
Hipertensi : (-) Penyakit jantung : (-)
Penyakit Ginjal : (-) Penyakit lain : (-)

Reumatik : (-) Veneral diseases : (-)


Diabetes : (-) Operasi : (-)

Riwayat Penggunaan Obat: Asam mefenamat, cefadroxil (berobat ke dokter umum)


Riwayat Penyakit Keluarga: disangkal

Tanda dan Gejala Keracunan Kehamilan:
Edema: (-) Pening: (-) Mual: (-) Muntah: (-) vertigo: (-)
Nyeri ulu hati: (-) Gangguan visus: (-) Kejang: (-) Coma: (-)
Ikterus: (-)
 
Riwayat Haid/Ginekologi:
Menarche : 13 tahun HPHT: 16-09-2017
Haid : 7 hari , 2-3 ganti pembalut, siklus 21 s.d. 28 hari
Dysmenorrhea : (-) Menorhagia: (-) Contact bleeding: (-)
Hipomenore : (-) Spotting : (+) Flour albus : (-)
Riwayat Penggunaan Kontrasepsi: pasien belum pernah menggunakan kontrasepsi
Riwayat Pernikahan dan seksual : umur menikah 31 tahun , menikah 1 kali, lama menikah 2 tahun, Libido (+), koitus 2-3x/minggu,
dispareuni (-)

Riwayat perdarahan Antepartum: -
Riwayat Perdarahan Postpartum :
Anak ke : (-) Retensio plasenta : (-)
Kala : (-) Placenta rest : (-)
Banyaknya : (-) Infus/transfusi : (-)

Kehamilan Dan Persalinan : G1P0A0
Usia Kehamilan : 8 minggu
TTP : 23/06/2018
Riwayat Mandul : (+) belum pernah berobat
Riwayat kehamilan : hamil sekarang, G1P0A0
Riwayat persalinan : belum pernah, G1P0A0
Family Planing : (-)

III. PEMERIKSAAN FISIK
Status Present
Sens : CM
TD : 110/70 mmHg
HR : 87 x/i
RR : 22 x/i
T : 36,800 C
B. Pemeriksaan Generalisata
Keadaan umum : Tampak sakit sedang, edema (-), ikterik (-), anemis (-), dypsnoe (-), sianosis (-)
Keadaan Gizi : TB: 158 CM, BB: 57 kg IMT:2,8 kesan:  normoweight
Kepala : Konjungtiva Anemis : (-/-), Sklera ikterik: (-/-), wajah sembab: (- ),T.H.T: DBN
Leher : Benjolan (-), TVJ R-2 cm H2O, Trakea medial.
Thorak : Cor: DBN, Pulmo: DBN
Abdomen : pada pemeriksaan status obstetric
Extremitas: akral hangat, edema (-), CRT <2 detik

Status Obstetri 
Pemeriksaan Luar
Abdomen : Soefel, nyeri tekan region hipogastrica et region inguinalis dextra ,defan musculas (-), peristaltil (+) normal
Fundus uteri : tidak teraba
Taksisran BB anak : tidak dapat ditentukan
HIS : tidak ada
Gerak : tidak didapatkan
DJJ : tidak didapatkan
Pemeriksaan Dalam
Tanggal : (-)
Jam : (-)
Dokter/Bidan : (-)
Vaginal Touch : Tidak sempat diperiksa, pasien konsulan durante operasi dari bedah
Vagina : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Cervix : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Adneksa : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Cavum douglas : Tidak Dilakukan Pemeriksaan

X – Ray Pelvimetri Klinis
Conj. Vera : Tidak Dilakukan Pemeriksaan

Conj. Transversa : Tidak Dilakukan Pemeriksaan


Conj . Oblique : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Inspekulo: Tidak sempat diperiksa, pasien konsulan durante operasi dari bedah
Pemeriksaan Kuldosintesis : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Penunjang Rapid Test Kehamilan : Positif strip dua
IV. Diagnosa Banding
Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
Rupture kista ovarium
Appendisitis Akut
Abortus insipiens
Salpingitis

PEMERIKSAAN PENUNJANG
USG (TAS dan TVS):  
Tidak sempat dilakukan,pasien konsulan durante operasi bedah
Ro Foto / Sinar tembus: Tidak dilakukan 
Thorax : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Abdomen : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
 
Hasil laboratorium  tanggal 11-11-2017 pukul 07:54 WIB
Hematologi

Darah rutin Nilai Nilai Rujukan satuan

Hemoglobin 9,7 12 – 16 g/dl

Hitung eritrosit 3,3 3,9 - 5,6 10*5/µl

Hitung leukosit 12.100 /µl

Hematokrit 31,0 %

Hitung trombosit 164.000 /µl

Hitung trombosit 164.000 150,000-450,000/µl

Index eritrosit

MCV 93,7 80 – 96 fL

MCH 29,3 27 – 31 pg

MCHC 31.2 30 – 34 %

Hitung jenis leukosit

Eosinofil 1 1–3%

Basofil 0 0–1%

N.Stab 0 2– 6 %

N. Seg 83 53–75 %

Limfosit 12 20–45 %

Monosit 4 4–8%

Laju Endap Darah 26 0-20 mm/jam


 
Diagnosis
Kehamilan Ektopik Terganggu 
 
 Penatalaksanaan awal 
IVFD RL 1 FL habis dalam ½ jam, kemudian 20 gtt/menit
Inj. Cetriaxone 1 gr/12 jam
Inj. Ranitidine 50 mg
Inj. Ketorolac. 30 mg
Rencana: Operasi Laparotomi + Salpingektomi/Salpingostomi

Persiapan Pre-Operasi
Surat izin operasi
Konsul dokter anestesi dan persiapan anestesi, IVFD RL terpasang abocath no.18, kateter urine
terpasang, pasien tidak makan dan minum 8 jam pre-op serta berdoa.
Sterilisasi kamar operasi dan alat bahan operasi
Pemeriksaan penunjang medis
Persiapan team operasi
Persiapan darah 2 bag

Operasi
Salpingektomi Ovarektomi Dextra (SOD) a/i KET
Uraian pembedahan

Supervisor : Dr. Taufik ,Sp.OG


Tanggal: 11/11/2017
Jam : 12.30 WIB s.d. 13.30 WIB
Pasien diterima konsul durante operasi dari dokter bedah dalam keadaan dibaringkan dimeja operasi dengan posisi
supine IVFD dan keteter terpasang baik, pasien sudah terinsisi dan peritoneum kanan bawah terbuka, kemudian
tampak kantong bulat pecah disertai darah yang memenuhi cavum abdomen kanan bawah , lalu dibersihkan
Pada adneksa kanan , tampak rupture pada ampula tuba dan perlengketan ovarium dilakukan salpingektomi ovarektomi
dextra, adneksa kiri dalam batas normal
Evaluasi perdarahan, cavum abdomen dibilas
Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis
Kulit dijahit, kemudian tertutup kassa steril
Operasi selesai
Keadaan umum pasien post-op stabil

Terapi dan Rencana  Post-Operasi
Tanggal 11/11/2017
IVFD RL 30 gtt/i
Urine dengan via kateter terpasang
Inj. Cetriaxone 1 gr/12 jam
Metronidazol 500 mg drip/8 jam - Tranfusi PRC 3 bag
Inj. Ketorolac 30 mg/8jam Rencana:
Pronalges supp - Periksa PA jaringan
Inj. Asam Traneksamat 500 mg/8 jam - Cek darah rutin
Inj. Ranitidine 50 mg/12 jam
PEMANTAUAN POST-OPERASI (11/11/2017)

Jam HR TD /mmHg RR Perdarahan

13.30 80 x/i 90/50 22 x/i -

13.45 78x/i 90/50 20 x/i -

14.00 80x/i 90/60 22 x/i -

14.15 92x/i 90/50 20 x/i -

14.30 80x/i 100/70 20 x/i -

15.00 80x/i 100/70 20 x /i -

15.30 78x/i 110/70 20 x/i -


HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG POST-OPERASI
Pemeriksaan Patologi Anatomi
Makroskopi:
Diterima jaringan ukuran 3x3x2 cm, warna putih
kehitaman .
Mikroskopi:
Sediaan jaringan tampak gambaran jonjot chorion
yang tipe langhans, serta tampak adanya
perdarahan-perdarahan yang massif disebuki oleh
sel-sel radang limfosit. Stroma gembur terdiri dari
perdarahan yang mengalami dilatasi dan kongesti.
Kesan: Suatu kehamilan ektopik
Pemeriksaan Hematologi Post-OPerasi
Hasil 12/11/2017

Hematologi

Darah rutin Nilai Nilai Rujukan satuan

Hemoglobin 10,6 12 – 16 g/dl

Hitung eritrosit 3,6 3,9 - 5,6 10*5/µl

Hitung leukosit 12.900 /µl

Hematokrit 33,6 %

Hitung trombosit 137.000 /µl

Hitung trombosit 164.000 150,000-450,000/µl

Index eritrosit

MCV 93,1 80 – 96 fL

MCH 29,3 27 – 31 pg

MCHC 31.5 30 – 34 %

Hitung jenis leukosit

Eosinofil 2 1–3%

Basofil 0 0–1%

N.Stab 0 2– 6 %

N. Seg 83 53–75 %

Limfosit 11 20–45 %

Monosit 4 4–8%

Laju Endap Darah 32 0-20 mm/jam


FOLLOW UP
12/11/2017 Kesan keadaan sakit: tampak sakit sedang
S = Nyeri luka operasi
O = Sensorium: CM
TD : 120/70 Hb: 10,6 HR : 70 x/i Ht: 33,6 RR : 16 x/i Leukosit: 12.900 T : 36,5 0
Trombosit: 137.000
L/O: tertutup pervan, P/O: -, Peristaltik usus (+) normaL BAK (+) kateter, BAB (+)
A = Post SOD a/i KET +H1
P = - IVFD RL 20 gtt/i
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
- Inj. Metronidazol 500 mg drip/8 jam
- Inj. Ketorolac 30 mg/8jam
- Inj. Ranitidine 50 mg/12 jam
- Inj. Asam Traneksamat 500/8 jam

13/11/2017 Kesan keadaan sakit: tampak sakit sedang


S = Nyeri luka operasi
O = Sensorium: CM
TD : 110/70 HR : 78 x/i RR : 18 x/i T : 36,9 0
L/O: tertutup pervan, P/O: -, Peristaltik usus (+) normal BAK (+) kateter, BAB (+)
A = Post SOD a/i KET +H2
P = - IVFD RL 20 gtt/i
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
- Inj. Metronidazol 500 mg drip/8 jam
- Inj. Ketorolac 30 mg/8jam
- Inj. Ranitidine 50 mg/12 jam
- Inj. Asam Traneksamat 500/8 jam
14/11/2017 Kesan keadaan sakit: tampak sakit ringan
S = Nyeri luka operasi
O = Sensorium: CM TD : 120/70 HR : 76 x/I RR : 18 x/I T : 36,8 0
L/O: tertutup pervan, P/O: -, Peristaltik usus (+) normal
BAK (+) kateter, BAB (+)
A = Post SOD a/i KET +H3
P = - IVFD RL 20 gtt/i
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
- Inj. Metronidazol 500 mg drip/8 jam
- Inj. Ketorolac 30 mg/8jam
- Inj. Ranitidine 50 mg/12 jam

15/11/2017 Kesan keadaan sakit: tampak membaik


S = tidak ada keluhan
O = Sensorium: CM
TD : 120/80 HR : 72 x/I
RR : 18 x/I T : 36,50
L/O: tertutup pervan, P/O: -, Peristaltik usus (+) normal
BAK (+) kateter, BAB (+)
A = Post SOD a/i KET +H4
P = PBJ , aff IV line + kateter, dengan perban terpasang di luka operasi
KESIMPULAN Dilaporkan seorang pasien
perempuan 33 tahun dengan diagnosa
kehamilan ektopik terganggu. Diagnosa
ditegakkan berdasarkan anamnesa,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang.
Pasien dilakukan pembedahan salpingektomi
overektomi dextra (SOD) dan terapi
farmakologi. Keadaan umum pasien stabil,
kondisi pasien tampak membaik kemudian
pasien pengobatan rawat jalan.