Anda di halaman 1dari 27

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

MASA NIFAS DAN MENYUSUI


TITIK PURWANTI, SST.,M.KES
SECARA UMUM
1. Faktor fisik
2. Faktor sosial
3. Faktor psikis
FAKTOR FISIK
 Kondisi fisik ibu yang biasanya mengalami keletihan
setelah proses persalinan dan membutuhkan waktu yang
cukup lama untuk beristirahat, sehingga mereka
enggan untuk melakukan kunjungan nifas
kecuali bila tenaga kesehatan dalam hal ini bidan yang
melakukan pertolongan persalinan datang melakukan
kunjungan ke rumah ibu.
FAKTOR SOSIAL
 Kondisi lingkungan dan keluarga juga berpengaruh
dimana biasanya ibu setelah melahirkan tidak
dianjurkan untuk berpergian sendiri tanpa ada
yang menemani sehingga ibu memiliki kesulitan untuk
menyesuaikan waktu dengan anggota keluarga yang
bersedia untuk mengantar ibu melakukan kunjungan
nifas.
FAKTOR PSIKIS
Pengetahuan
 Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour).
 Rendahnya pengetahuan seseorang ibu tentang
pendidikan kesehatan akan mempengaruhi rendahnya
kunjungan ibu nifas ke pelayanan kesehatan.
FAKTOR PSIKIS
Pengalaman
 Pengalaman ibu yang baru pertama kali melahirkan
merupakan hal yang sangat baru sehingga termotifasi
untuk melakukan kunjungan nifas ke tenaga kesehatan
untuk menanyakan perubahan yang terjadi pada dirinya.
 Sebaliknya ibu yang sudah melahirkan lebih dari satu
memiliki anggapan bahwa dirinya telah
berpengalaman dan telah biasa dengan perubahan
yang dialami selama masa nifas sehingga malas untuk
melakukan kunjungan ke pelayanan kesehatan.
BABY BLUE (POST PARTUM BLUES)

 Post Partum Blues merupakan suatu fenomena psikologis


yang dialami oleh ibu dan bayinya.
 Biasanya tejadi pada hari ke-3 sampai ke-5 post partum.
 Angka kejadiannya 80% dari ibu post partum
mengalaminya, dan berakhir beberapa jam/hari.
 Merupakan kesedihan atau kemurungan setelah
melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu
yakni sekitar 2 hari hingga 2 minggu sejak kelahiran bayi.
BABY BLUE (POST PARTUM BLUES)

 Tanda dangejala ;
1. Sedih
2. Cemas tanpa sebab
3. Menangis tanpa sebab
4. Tidak sabar
5. Tidak percaya diri
6. Sensitif
7. Mudah tersinggung (iritabilitas)
8. Merasa kurang menyayangi bayinya
BABY BLUE (POST PARTUM BLUES)
 Faktor hormonal : Perubahan kadar estrogen dan
progesterone yaitu terjadi fluktuasi hormonal dalam
tubuh.
 Kadar hormone kortisol (hormone pemicu stress) pada
tubuh ibu naik hingga mendekati kadar orang yang
mengalami depresi.
 Disaat yang sama, hormone laktogen dan prolaktin
yang memicu produksi ASI sedang meningkat.
 Sementara pada saat yang sama kadar progesterone
sangat rendah. Pertemuan kedua hormone ini akan
menimbulkan keletihan fisik pada ibu dan memicu
depresi.
BABY BLUE (POST PARTUM BLUES)

 Faktor demografik, seperti faktor usia yang terlalu


muda atau terlalu tua.
 Pengalaman proses kehamilan dan persalinan.
 Latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan,
seperti tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan
yang tidak diinginkan, riwayat gangguan kejiwaan
sebelumnya, sosial ekonomi serta keadekuatan dukungan
sosial dari lingkungannya (suami, keluarga dan teman).
BABY BLUE (POST PARTUM BLUES)

 Faktor psikologis
Berkurangnya perhatian keluarga, terutama suami karena
semua perhatian tertuju pada anak yang baru lahir.
Padahal usai persalinan si ibu yang merasa lelah dan sakit
pasca persalinan membuat ibu membutuhkan perhatian.
Kecewa terhadap penampilan fisik bayi karena tidaksesuai
dengan harapannya juga bisa memicu baby blues.
BABY BLUE (POST PARTUM BLUES)

 Faktor fisik
Kelelahan fisik karena aktifitas mengasuh bayi, menyusui,
memandikan, mengganti popok, dan menimang
sepanjang hari bahkan tidak jarang di malam buta
sangatlah menguras tenaga.
Apalagi jika tidak ada bantuan dari suami atau anggota
keluarga yang lain.
BABY BLUE (POST PARTUM BLUES)

 Faktor sosial
Si ibu merasa sulit menyesuaikan dengan peran baru
sebagai ibu.
Apalagi kini gaya hidupnya akan berubah drastis.
Ibu merasa dijauhi oleh lingkungan dan merasa kaan
terasa terikat terus pada si kecil.
Faktor yang mempengaruhi pembentukan ASI
1. Rangsangan otot-otot buah dada
2. Keteraturan anak menghisap
3. Keadaaan ibu
4. Makanan
5. Ketenangan jiwa dan pikiran
6. Penggunaaan alat kontrasepsi
7. Perawatan payudara
8. Fisiologis
9. Faktor istirahat
10. Faktor obat-obatan
Ragsangan otot buah dada
Rangsangan otot buah dada
 Memperbanyak ASI agar buah dada
bekerja lebih efektif
 Rangsangan otot-otot polos
 Cara :massage mengurut buah dada
atau menyiram dengan air hangat
dan dingin (perawatan buah dada).
Keteraturan anak menghisap
Isapan bayi

Merangsang otot-otot polos

Merangsang susunan syaraf pusat disekitarnya


dan meneruskan ke OTAK

Kelenjar hipofise bagian belakang


mengeluarkan hormon PITUITRIN

Mempengaruhi kuatnya kontraksi otot-otot


polos pada buah dada dan uterus
Keadaan ibu
 Kesehatan ibu memegang peranan dalam produksi ASI
 Pembentukan bahan-bahan yang diambil dari ibu
 Bila ibu tidak dapat mensuplai bahan karena tubuh tidak
sehat, input makanan kurang atau kekurangan darah untuk
membawa bahan-bahan yang akan diolah oleh sel-sel acini
dibuah dada maka bahan tidak akan sampai pada sel acini
tersebut.
Makanan
 Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh
makanan yang dimakan ibu, apabila
makanan ibu secara teratur dan cukup
mengandung gizi yang diperlukan akan
mempengaruhi produksi ASI
 Makanan memenuhi jumlah kalori,
protein,lemak,dan vitamin serta
mineralyang cukup dan ibu dianjurkan
minum lebih banyak 8 – 12 gelas/hari.
Ketenangan jiwa dan pikiran
 Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan,
ibu yang selalu dalam keadaan tertekan, sedih kurang
percaya diri, dan berbagai bentuk ketegangan emosional
akan menurunkan volume ASI bahkan tidak akan terjadi
volume ASI.
 Untuk memproduksi ASI yang baik harus dalam keadaan
tenang.
Penggunaan alat kontrasepsi
 Pada ibu yang menyusui bayinya penggunaan alat
kontrasepsi hendaknya diperhatikan karena pemakaian
kontrasepsi yang tidak tepat dapat mempengaruhi
produksi ASI.
PERAWATAN PAYUDARA
 Dengan merangsang buah dada akan mempengaruhi
hypofise untuk mengeluarkan hormon progesteron dan
estrogen lebih banyak lagi dan hormon oxytocin.

FISIOLOGI
 Terbentuknya ASI dipengaruhi hormon terutama
prolaktin ini merupakan hormon laktogenik yang
menentukan dalam hal pengadaan dan mempertahankan
sekresi ASI.
FAKTOR ISTIRAHAT
 Bila kurang istirahat akan mengalami kelemahan dalam
menjalankan fungsinya dengan demikian pembentukan
dan pengeluaran ASI berkurang.

FAKTOR OBAT-OBATAN
 Diperkirakan obat-obatan yang mengandung hormon
mempengaruhi hormon prolaktin dan oxcytocin yang
berfungsi dalam pembentukan dan pengeluaran ASI.
Apabila hormon-hormon ini terganggu dengan
sendirinya akan mempengaruhi pembentukan dan
pengeluaran ASI.
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan
menyusui
1. Cara menyusui yang baik dan benar
2. Teknik menyusui
3. Cara pengamatan teknik menyusui yang benar
4. Lama dan frekuensi menyusui
5. Pengeluaran ASI
PERLEKATAN
PENGELUARAN ASI