Anda di halaman 1dari 26

Boyle Gay - Lussac

OLEH : - BELLA TRI YUNI ARVIANTI


- KHALID MAULANA
I. Tujuan
Membuktikan kebenaran hukum Boyle dan Gay-Lussac
II. Teori
Sebuah pipa gelas yang salah satu ujungnya tertutup diisi air raksa,
sehingga ada sebagian udara yang terjebak atau tertutup oleh air raksa
tersebut. Pada berbagai macam posisi pipa akan nampak bahwa tekanan
udara yang terjebak pada air raksa tersebut akan berubah –ubah.
Pada pengukuran volume, sering dilakukan pengukuran panjang saja, dengan
anggapan penampang ruang tempat udara berada memiliki penampang yang tetap
(sama di mana-mana).

Pada gambar 4.3(a), posisi pipa mendatar, ini berarti bahwa tekanan udara di dalam
pipa sama dengan tekanan udara luar, sebutlah 𝑃𝑎.

Pada gambar 4.3(b), tekanan udara di dalam pipa lebih kecil dari tekanan udara
luar, sebutlah 𝑃𝑏 = 𝑃𝑎 − 𝑝𝑔𝑙.
Dimana 𝑝 = massa jenis air raksa (13,6 gr/cm3)
𝑔 = percepatan gravitasi (978 cm/s2 )
𝑙 = panjang kolom air raksa
Pada gambar 4.3(c), tekanan udara di dalam pipa lebih besar dari
tekanan udara luar, sebutlah 𝑃𝑐 = 𝑃𝑎+𝑝𝑔𝑙.

Pada gambar 4.3(d), tekanan udara di dalam pipa adalah 𝑃𝑑 = 𝑃𝑎 −


𝑝𝑔𝑙 sin𝜃
Pada gambar 4.3(e), tekanan udara di dalam pipa adalah 𝑃𝑒 = 𝑃𝑎 +
𝑝𝑔𝑙 sin⁡
𝜃
Hukum Boyle menyatakan bahwa “volume gas berbanding terbalik
dengan tekanan yang diberikan padanya ketika temperatur dijaga
konstan” , yaitu :
PV = konstan
Dengan mengukur panjang kolom udara L di dalam pipa data dilihat kebenaran
dari Hukum Boyle di atas. Sebutlah panjang kolom udara pada setiap posisi pipa
adalah La , Lb, Lc, Ld dan Le, maka :

𝐴 = 𝑃𝑎𝐿𝑎 = 𝑃𝑏𝐿𝑏 = 𝑃𝑐𝐿𝑐 = 𝑃𝑑𝐿𝑑 = 𝑃𝑒𝐿𝑒


atau:
𝑃𝑎𝐿𝑎 = (𝑃𝑎 − 𝑝𝑔𝑙)𝐿𝑏 = (𝑃𝑎 + 𝑝𝑔𝑙)𝐿𝑐 = .......... dan seterusnya
Pada permukaan di atas diperoleh hubungan antara P dan 1/V atau antara P dan T
1
adalah linier, dengan membuat grafik antara P dan 𝑑𝑎𝑛 𝑇 dapat dibuktikan
𝑉
kebenaran hukum Boyle.
Untuk membuktikan kebenaran hukum Gay-Lussac pada dasarnya hampir sama
dengan percobaan untuk membuktikan kebenaran hukum Boyle. Hanya saja
sekarang volume V atau panjang kolom udara L kita jaga konstan, dengan cara
merubah temperatur T untuk setiap posisi pipa seperti pada gambar 4.3
Oleh karena hukum Gay- Lussac menyatakan bahwa “pada volume konstan, tekanan
gas berbanding lurus dengan temperatur mutlak” ,yaitu :

𝑃
= konstan
𝑇
Untuk setiap posisi pipa diperoleh :

𝑃𝑎 𝑃𝑏 𝑃𝑐 𝑃𝑑 𝑃𝑒
= = = =
𝑇𝑎 𝑇𝑏 𝑇𝑐 𝑇𝑑 𝑇𝑒
atau :
𝑃𝑎 (𝑃𝑎 −𝑝𝑔𝑙) (𝑃𝑎+𝑝𝑔𝑙)
= = = ...... dan seterusnya
𝑇𝑎 𝑇𝑏 𝑇𝑐

Pada persamaan di atas diperoleh hubungan antara P dan T adalah linier, dengan
membuat grafik antara P
dan T dapat dibuktikan kebenaran hukum Gay – Lussac.
III. Alat dan Bahan
1. Pipa gelas berisi air raksa dengan diameter dalamnya kira – kira 1 mm
dan panjangnya minimal 80 cm.
2. Pipa tabung gelas yang berskala
3. Penyipat datar / Waterpass
5. Ketel uap air dengan pipa karet penghubung
6. Kompor listrik.
7. Termometer
IV. Jalannya Percobaan

Catatlah keadaan ruang laboratorium (suhu, tekanan dan kelembaban) sebelum


percobaan.

A. Percobaan hukum Boyle


1. Ukurlah panjang kolom air raksa (l).
2. Kemudian masukkan pipa gelas yang berisi air raksa ke dalam pipa tabung gelas
berskala, dan diujung yang lainnya masukkan termometer.
3. Dengan menggunakan penyipat datar dan waterpass, buatlah posisi pipa berskala seperti
pada gambar 4.3.
4. Pada temperature T yang dijaga konstan, ukurlah panjang L dari kolom udara pada
kolom udara pada posisi tersebut, dan tentukan besar tekanan P dalam kolom udara pada
posisi tersebut.
5. Ulangi langkah 3 dan 4 untuk posisi – posisi seperti gambar 4.3
B. Percobaan Gay – Lussac

1. Panaskan air yang berada di dalam ketel uap air dengan menggunakan kompor
listrik.
2. Ukurlah panjang kolom air raksa (l).
3. Kemudian masukkan pipa gelas yang berisi air raksa kedalam pipa tabung gelas
berskala, dan diujung yang lainnya masuukan termometer.
4. Dengan bantuan penyipat datar dan waterpass , buatlah posisi pipa gelas brtdkala
seperti pada gambar 4.3(b), kemudian catatlah panjang L dari kolom udara sebagai
nilai yang konstan.
5. Lalu masukkan uap air yang berasal dari ketel ke dalam pipa tabung gelas berskala.
6. Dengan acuan panjang L dari kolom udara yang konstan tadi, catatlah temperatur T
dalam pipa tabung pada setiap posisi seperti gambar 4.3 dan tentukan besar tekanan
P dalam kolom udara pada setiap posisi seperti percobaan hukum Boyle.

Catatlah keadaan ruang laboratorium (suhu, tekanan dan kelembabannya) sesudah


percobaan.
LEMBAR DATA PERCOBAAN

Data Ruangan
Suhu (ᵒC) Tekanan (mmHg) Kelembaban (%)

Sebelum Percobaan 26 768 55

Sesudah Percobaan 26 768 49


A. Percobaan Hukum Boyle
Panjang kolom air raksa ( l ) = ( 2,9 ±5𝑥10 − 2)

Temperatur ( T ) = ( 26 ±5𝑥10 − 1)
Massa jenis air raksa ( 𝑝 ) = 13,6 gram/cm3

No Posisi Pipa Gelas Tekanan udara P Panjang Kolom


(mmHg) Udara L (cm)
1 Mendatar 768 4,8
2 Tegak terbuka di bawah 739,07 5
3 Tegak terbuka di atas 796,92 4,4
4 Tegak terbuka di bawah dengan 747,54 4,7
𝜃 = 45ᵒ
5 Tegak terbuka di atas dengan 788,45 4,5
𝜃 = 45ᵒ
B. Percobaan Gay – Lussac

Panjang kolom air raksa ( l ) = (5 ± 5𝑥10 − 2)

Panjang kolom udara ( L ) = ( 2,9 ± 5𝑥10 − 2)

No Posisi Pipa Gelas Tekanan udara P Temperatur


(mmHg) (ᵒC)
1 Mendatar 768 28
2 Tegak terbuka di bawah 718,12 27
3 Tegak terbuka di atas 817,87 31
4 Tegak terbuka di bawah 732,73 29
dengan 𝜃 = 45ᵒ
5 Tegak terbuka di atas dengan 803,26 30
𝜃 = 45ᵒ
Tugas Akhir
1. Grafik (1) antara P dan 1/L untuk T konstan terlampir
2. nilai m untuk T konstan beserta besar kesalahannya dengan metode
regresi linear
Mt = (2102,167 ± 45,605)

KR = 2,16%

KTR = 97,84%

3. Kebenaran hukum Boyle terbukti dari kelima percobaan yang dilakukan


bahwasanya tekanan udara (P) dan panjang kolom udara yang berubah
– ubah terhadap temperatur (T) yang konstan .
4. Grafik (2) antara P dan T untuk L konstan terlampir
5. Nilai mt untuk L konstan beserta besar rambatan kesalahannya
dengan metode regresi linear.
mt = (23,476 ±8,058)
KR = 34,33 %
KTR = 65,68 %
6. Kebenaran dengan hukum Boyle terbukti dari kelima percobaan
yang dilakukan, bahwa tekanan udara (P) dan temperatur yang
berubah – ubah pada panjang kolom udara yang konstan.
7. Dalam hal tertentu pengukuran sudut diperlukan busur derajat
karena untuk memiringkan pipa sebesar 𝜃 ᵒ, selain itu ada penyipat
datar atau unting – unting untuk dapat membeberikan kemiringan
yang sesuai dengan apa yang dilakukan dalam percobaan yaitu
sebesar 𝜃 ᵒ - 45ᵒ
8. Dalam percobaan hukum Gay-Lussac kolom udara dan kolom air raksa
harus lebih pendek dibandingkan dengan percobaan Boyle, karena
dengan kondisi kolom udara dan kolom air raksa yang lebih pendek
dibanding sebelumnya kita dapat mengamati perubahan panjang kolom
udara untuk tiap – tiap posisi.
9. Percobaan pada temperatur yang lebih tinggi diambil temperatur uap air
dan bukan pemanasan langsung dengan api pada kolom udara karena
uap air akan memberikan kenaikan suhu dan pemuaian panjang kolom
udara secara bertahap, sedangkan pemanasan langsung pada kolom
udara dapat mengakibatkan perubahan suhu yang terlalu cepat.
10. Penyekat kolom udara tidak dapat menggunakan air dikarenakan
saat kolom udara dibalik maka akan tumpah sedangkan jika di isi
dengan air raksa tidak akan langsung turun karena ada sifat adhesi
pada air raksa yang memiliki ikatan berbeda antar air raksa dengan
kolom udara sehingga air raksa akan kuat melekat dan lama
mengalirnya
LAMPIRAN
VIII. Kesimpulan

1. Pada percobaan Hukum Gay lussac kolom udara air raksa harus lebih pendek
di bandingkan pada percobaan Hukum Boyle karena dengan kondisi kolom
udara dan kolom air raksa yang lebih pendek dan dapat mengamati
perubahan panjang kolom udara tersebut untuk tiap-tiap posisi.

2. Percobaan pada temperature yang lebih tinggi di ambil


pemanasan dengan uap air dan bukannya pemanasan dengan api
pada kolom udara karena uap air mampu memberikan kenaikan
suhu dan perubahan panjang kolom udara secara bertahap,
sedangkan pemanasan langsung dengan api memberikan kenaikan
suhu dan perubahan panjang kolom udara yang terlalu cepat.
Daftar Pustaka
• Mutanto, Ari. 2016. Buku Penuntun Praktikum Fisika Dasar II.
Jakarta : Universitas Nasional