Anda di halaman 1dari 47

PRESENTER: Utari

PEMBIMBING: dr. Anggoro


Jati, Sp.OT
 Nama : Ny W.
 Umur : 56 tahun.
 Jenis kelamin : Perempuan.
 Agama : Islam.
 Suku : Jawa.
 Pendidikan terakhir : SD
 Status perkawinan : Menikah
 Alamat : Cilincing
 Pekerjaan : Ibu rumahtangga
KELUHAN •Nyeri pada lutut
kanan 2 hari SMRS.
UTAMA

KELUHAN •Nyeri ulu hati.

TAMBAHAN
2 hari SMRS
Pasien merasa nyeri
semakin kuat.
Dirasakan terutama
Di poliklinik RSUD
malam hari.
KOJA
1 tahun SMRS nyeri
Kaku.
mula dirasakan tetapi Nyeri yang semakin
hilang setelah minum Kesukaran berjalan. hebat tidak hilang
ponstan sehingga dengan ponstan.
Bunyi gemertak saat
pasien tidak berubat
berjalan. Keluhan sama
seperti 2 hari SMRS
Lutut kanan
bengkak.
Nyeri ulu hati.
Riwayat Riwayat
penyakit Riwayat
• Kecelakaan (-) • ibupenyakit
pasien • Jarang olahraga
dahulu mengalami kebiasaan,
• Operasi(-) keluargasakit • Merokok (-)
sama seperti pengobatan.
• Dirawat di RS (-) • Alkohol (-)
pasien
• Penyakit sendi • Narkoba (-)
(-) • Kencing
• Ponstan (+)
manis(-)
• Kencing
manis(-) • Darah tinggi (-)

• Darah tinggi (-) • Batuk lama (-)

• Batuk lama (-) • Keganasan (-)

• Keganasan (-)
Tidak terdapat
kelainan
(rujuk makalah).
Selain adanya
bengkak dan
kaku pada sendi.
 Tekanan Darah : 110/70 mmHg
 Nadi : 20 x/menit
 Suhu : 36,4oc
 Pernafasan : 20x/menit
 Tinggi Badan : 155 cm
 Berat Badan : 68 kg
 BMI : 28.67 (obese)
 Mata :dbn
 Leher :dbn
 Jantung :dbn
 Abdomen :dbn
(rujuk m/s 8,9,10,11 di makalah)
 Ekstremitas :dbn kecuali pada
regio lutut.
(dijelaskan di SL regio genu dx)
 Look : tampak adanya deformitas (genu
varum), tampak pembengkakan pada genu,
warna kulit sama dengan sekitar, tidak ada
jejas atau luka.
 Feel : pada perabaan lebih hangat
daripada kulit sekitar, pada pengukuran paha
kanan lebih besar dari paha kiri ( kanan 38
cm, kiri 36 cm), nyeri tekan (+), krepitasi (+).
 Move : terdapat keterbatasan gerak pada
gerak aktif dan pasif karena nyeri
HEMATOLOGI Hasil Nilai normal

Hb 13,4 13-15 g/dL

Leukosit 5,600 5000-10.000 /uL

Hematokrit 40 40-48 %

Trombosit 176,000 150.000-400.000 /uL

Basofil 0 0-1
Eosinofil 1 1-3
Batang 3 2-6
Segmen 55 50-70
Limfosit 35 20-40
Monosit 4 2-8
FUNGSI HATI Hasil Nilai normal
SGOT 11 < 12U/l
SGPT 12 < 12U/l
FUNGSI GINJAL Hasil Nilai normal
Ureum 26 20-40 mg/dl
Kreatinin 0,8 0,5-1,5 mg/dl
tanggal
23 Maret 2012.
Foto : foto genu PA.
Kualitas : baik (densitas
baik, sentrasi: sendi lutut)
Deskripsi : alignment yg
buruk, terdapat penyempitan
celah sendi,
terdapat osteofit pada hujung
sisi medial genu, tidak
terdapat tanda trauma
(fraktur).
Kesan : osteoartritis genu
dextra.
 Grade I - tidak ada penyempitan ruang sendi,
kemungkinan adanya osteofit.
 Grade II - osteofit kecil teridentifikasi,
kemungkinan penyempitan dari sendi.
 Grade III - terdapat beberapa osteofit berukuran
sedang, penyempitan ruang sendi yang pasti,
beberapa daerah sklerotik, kemungkinan
deformasi pada hujung tulang.
 Grade IV - beberapa osteofit besar, penyempitan
ruang sendi yang parah. Ditandai dengan
sklerosis dan kelainan bentuk dari hujung
tulang.
 Pasien perempuan berusia 56 tahun, datang ke poliklinik nyeri RSUD
Koja jam 10.00 tanggal 21 maret 2012 dengan keluhan utama nyeri
regio genu dextra sejak 2 hari yang lalu. Nyeri hilang timbul,hebat
terutama pada malam hari, terasa kaku selama pagi hari dan selama
beberapa menit sewaktu bangun dari kerusi setelah duduk beberapa
lama. Pasien mengalami kesukaran berjalan lebih dari 15 menit, dan
nyeri dirasakan bertambah hebat apabila pasien jongkok dan menaiki
tangga. Nyeri berkurang setelah istirehat dan duduk tetapi kaku jika
duduk pada satu posisi dalam masa yang lama, kaku bertambah hebat
terutama pada musim hujan atau pada masa suhu sekeliling dingin.
Pasien juga mengeluh kadang adanya bunyi gemertak pada saat pasien,
merasakan lutut kanannya sedikit membengkak dari biasa dan nyeri
pada ulu hati.
 Pada pemeriksaan fisik genu dextra, didapatkan adanya deformitas
(genu varum) dan pembengkakan. Pada perabaan lebih hangat daripada
kulit sekitar, pengukuran paha kanan lebih besar dari paha kiri ( kanan
38 cm,  kiri 36 cm), nyeri tekan, dan krepitasi. Terdapat keterbatasan
gerak pada gerak aktif dan pasif karena nyeri.
 Pada pemeriksaan penunjang radiologi didapatkan gambaran
osteoartritis genu dextra.
 Osteoartritis genu dextra.
Dasar:
1. Umur 56 tahun
2. Jenis kelamin perempuan.
3. Genetik faktor ( mutasi gen prokolagen II)- ibu
pasien.
4. Kegemukan- BMI 28.3
5. Nyeri sendi, hambatan gerak sendi, kaku pagi,
krepitasi,
pembesaran sendi, perubahan gaya berjalan.
6. Ro- osteoartritis grade III.
RHEUMATOID
BURSITIS
ARTRITIS
NON
MEDIKAMENTOSA TERAPI BEDAH
MEDIKAMENTOSA

• Istirehat yang • Meloxicam 1x • hemiartroplasty


teratur untuk 7.5mg
mengurangi beban • Sulfasalazine
pada sendi. 2x500mg
• Mengurangi berat • Omeprazole
badan dengan diet. 1x20mg
• Fisioterapi untuk
mengurangi rasa
nyeri, menguatkan
otot, dan
menambah luas
gerakan sendi.
Ad
Ad functio
vitam: nam:
ad dubia
bonam ad
bonam
Ad
sanasionam:
ad bonam
Osteo  bone /
tulang
Arth  joint / sendi
-itis  inflammation osteoarthrosi
s

degenerative
arthritis
degenerative
joint disease,
OA ??

Terjadi sebagai hasil kombinasi antara


degradasi rawan sendi, remodelling
tulang, dan inflamasi cairan sendi
Jejas mekanis dan kimiawi pada
sinovia sendi yang terjadi Moskowitz,
multifaktorial, antara lain karena 1990
faktor umur, stress mekanis atau
penggunaan sendi yang berlebihan,
defek anatomis, obesitas, genetik,
humoral, dan faktor kebudayaan
Gosh,
1990;
Pelletie
r 1990

Jejas mekanis dan kimiawi ini diduga


merupakan faktor penting yang
merangsang terbentuknya molekul
abnormal dan produk degradasi
kartilago di dalam cairan sinovial sendi
yang mengakibatkan terjadi inflamasi
 Penyakit sendi paling banyak dijumpai
 Terjadi pada orang dari segala etnis, lebih
sering mengenai wanita, dan merupakan
penyebab tersering disabilitas jangka
panjang pada pasien dengan usia lebih dari
65 tahun.
 > 1/3 orang dgn usia > 45 tahun
mengeluhkan gejala persendian yang
bervariasi mulai dari sensasi kekakuan
sendi tertentu dan rasa nyeri intermiten
yang berhubungan dengan aktivitas, sampai
kelumpuhan anggota gerak dan nyeri hebat
 Permukaan sendi
◦ Diliputi oleh tulang rawan/fibrosa
◦ Memperoleh nutrisi dari cairan
synovial
 Kapsul sendi (lapisan berserabut yang
melapisi sendi)
◦ Lapis dalam : membran synovial
◦ Lapis luar : membran fibrosa
 Rongga sendi
◦ Berisi cairan synovial : warna
jernih, kental, albumin (+)
  jaringan ikat khusus avaskuler , tidak
memiliki jaringan saraf maupun limfe.

 Fungsi :
◦ sebagai bantalan yang menerima (meredam)
beban benturan yang terjadi selama gerakan
sendi normal,
◦ melindungi ujung tulang agar tidak aus dan
memungkinkan pergerakan sendi menjadi
mulus/licin,
Tulan rawan
sendi

Matriks
Sel
ekstraselular

Serabut
Proteoglikan Air Kondrosit
kolagen
• meliputi 10% berat kering rawan sendi

Proteoglikan • tersusun atas inti protein dan molekul glikosaminoglikan


• hal inilah yang menyebabkan tahan terhadap tekanan dan
memungkinkan rawan sendi elastis

• meliputi 50% berat kering rawan sendi, sangat tahan terhadap


tarikan.

Kolagen : • Makin kearah ujung rawan sendi makin tebal, sehingga rawan sendi
yang tebal kolagennya akan tahan terhadap tarikan
• sebagai kerangka bagi rawan sendi yang akan membatasi
pengembangan berlebihan agregat proteoglikan.

air
 Umur
 Jenis kelamin
 Ras
 Faktor genetik
 Faktor obesitas, metabolik/endokrin
 Faktor mekanik serta kelainan geometri
 Trauma dan faktor okupasi
 sampai saat ini belum dapat dijelaskan
melalui satu teori yang pasti.
 Telah diketahui bahwa tidak ada satupun
pemeriksaan tunggal yang dapat menjelaskan
proses kerusakan rawan sendi pada OA.
 Etiopatogenesis OA diduga merupakan
interaksi antara faktor intrinsik dan ekstrinsik
dan OA merupakan keseimbangan di antara
faktor etiologik dan proses jaringan. (Isbagio,
2000)
- OA idiopatik
- Tidak diketahui penyebabnya
- Umumnya terjadi karena proses
penuaan(proses degenerasi)
- lebih sering pada ♀)
- Dapat mengenai satu atau beberapa sendi
1. Congenital abnormalities of joint
2. Infection of joints : septic (pyogenic) arthritis, TB
3. Nonspesific inflammatory disorders of joint : RA
4. Metabolic arthritis : gout
5. Repeated hemeartrosis : hemophilia
6. Injury : intra-articular fractures – occupational stresses
7. Acquired incongruity of joint surfaces : avascular
necrosis
8. Extra-articular deformities with malalignment of joint :
genu valgum, genu varus
9. Joint instability : subluksasi
10. Iatrogenic damage to cartilage : pembebanan
berlebihan pada waktu operasi.
hasil kombinasi
antara degradasi
rawan sendi,
Tulang remodelling tulang,
rawan dan inflamasi cairan
Nodus sendi.
sendi
Heberde
n dan Tulang
Bouchar
d

Membra
Efusi n
synovial

Loose Kapsul
bodies sendi
dimulai dengan matriks kehilangan
proteoglikan

melunaknya (softening) tulang rawan sendi


(kondromalasia) + berkurangnya daya lenting
elastis (elastic resilience)

serat-serat kolagen dari tulang rawan akan


menjadi lebih peka terhadap gesekan-gesekan
yang terjadi

permukaan sendi akan mengalami keretakan


(fisura) dan teriris (fibrilasi)
Kondrosit berusaha dengan
mempercepat sintesis proteoglikan
dan kolagen

Walaupun demikian kadar proteoglikan


tetap berkurang karena dirusak oleh
enzim lisosom
Pada permukaan sendi dimana gesekan
terbanyak terjadi, tulang rawan yang sudah
lemah dan teriris-iris akn semakin terkikis dan
tulang subkondral yang menjadi permukaan
sendi akan tampak licin seperti gading
Pada tepi dari sendi, tulang rawan
(eburnasi).
sendi bereaksi dengan mengalami
hipertrofi dan hiperplasi sedemikian
rupa  tepi sendi dikelilingi tulang
Kondrosit
rawan  mengalami osifikasi
yang menebal.
endokondral  terjadilah tanduk-
tanduk atau perkapuran =
osteoarthritic Lipping atau “bony
↑ degradasi kolagen

mengubah keseimbangan metabolisme


rawan sendi.

Kelebihan produk hasil degradasi matriks


rawan sendi berakumulasi di sendi

dan menghambat fungsi rawan sendi serta


mengawali suatu respons imun

menyebabkan inflamasi sendi.


- nyeri sendi yang khas yaitu nyeri yang
bertambah berat pada waktu menopang berat
badan atau waktu aktivitas (melakukan gerakan),
dan membaik bila diistirahatkan
- gerakan sendi menjadi terhambat karena nyeri
- pada beberapa penderita, nyeri sendi atau kaku
sendi dapat timbul setelah istirahat lama,
misalnya duduk di kursi atau mobil (perjalanan
jauh), atau setelah bangun tidur di pagi hari
- kadang disertai suara gemeretak/kemretek
pada sendi yang sakit
- penderita mungkin menunjukkan salah satu
sendinya (sering lutut atau tangan) secara
perlahan membesar
Stage I : Gangguan atau perubahan matriks kartilago. Berhubungan
dengan peningkatan konsentrasi air yang mungkin disebabkan
gangguan
mekanik, degradasi makromolekul matriks, atau perubahan
metabolisme
kondrosit. Awalnya konsentrasi kolagen tipe II tidak berubah, tapi jaring-
jaring kolagen dapat rusak dan konsentrasi aggrecan dan derajat agregasi
proteoglikan menurun.

Stage II : Respon kondrosit terhadap gangguan atau perubahan matriks.


Ketika kondrosit mendeteksi gangguan atau perubahan matriks,
kondrosit
berespon dengan meningkatkan sintesis dan degradasi matriks, serta
berproliferasi. Respon ini dapat menggantikan jaringan yang rusak,
mempertahankan jaringan, atau meningkatkan volume kartilago.
Respon ini
 Stage III : Penurunan respon kondrosit.
Kegagalan respon kondrosit
 untuk menggantikan atau mempertahankan
jaringan mengakibatkan kerusakan
 tulang rawan sendidisertai dan diperparah
oleh penurunan respon kondrosit.
 Penyebab penurunan respon ini belum
diketahui, namun diperkirakan akibat
 kerusakan mekanis pada jaringan, dengan
kerusakan kondrosit dan downregulasi
 respon kondrosit terhadap sitokin anabolik.
 Nyeri sendi
Merpakan keluhan utama yang sering kali membawa pasien ke dokter. Nyeri biasanya
bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Nyeri pada OA juga
dapat berupa penjalaran atau akibat radikulopati, misalnya pada OA servikal dan lumbal. OA
lumbal yang menimbulkan stenosis spinal mungkin menimbulkan keluhan nyeri di betis,
yang biasa disebut dengan claudicatio intermitten.
 Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan
bertambahnya rasa nyeri.

 Kaku pagi
Pada beberapa pasien, nyeri atau kaku sendi dapat timbul setelah imobilitas, seperti duduk
di kursi atau mobil dalam waktu yang cukup lama atau bahkan setelah bangun tidur.

 Krepitasi
Rasa gemeretak (kadang-kadang bisa terdengar) pada sendi yang sakit.

 Pembesaran sendi (deformitas)


Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (seringkali terlihat di lutut atau
tangan) secara perlahan-lahan membesar.

 Perubahan gaya berjalan


Merupakan gejala yang menyusahkan pasien. Hampir semua pasien OA pergelangan kaki,
tumit, lutut atau panggul berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan
fungsi sendi yang merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien OA yang
umumya tua.
(Soeroso, Isbagio, Kalim, Broto, Pramudiyo, 2007).
 Edukasi
 Terapi fisik dan rehabilitasi agar pasien dapat
melatih pasien untuk melindungi persendian
yang sakit.
 Penurunan berat badan
 Analgesik non opiat
 Analgesik topikal
 OAINS harus diberikan dengan sangat berhati-
hati mengingat pasien yang kebanyakan telah
berusia lanjut.
 Chondroprotective agent yaitu obat-obatan yang
dapat menjaga atau merangsang perbaikan
tulang rawan sendi pada pasien OA. Sampai saat
ini yang termasuk dalam kelompok obat ini
adalah tetrasiklin, asam hialuronat, kondroitin
sulfat, glikosaminoglikan, vitamin C, superoxide
desmutase dan sebagainya.
PENYUCIAN
ARTROSCOPIK

ARTRODESIS PATELEKTOMI

ARTROPLASTY
PENGGANTIAN
THANK YOU
FOR LISTENING….

STORM MAKE OAK GROW


DEEPER ROOTS
GOOD LUCK 4 UPCOMING EXAMs…