Anda di halaman 1dari 31

METEOROLOGI FISIS

THERMODINAMIKA ATMOSFER UDARA BASAH


1. DEBINUR PERMATA SARI (11.15.0009)
2. MIRANDA PUTRI PERMATASARI (11.15.0021)
3. YAUMA JANNATIN INDA NURI (11.15.00)

Anggota:
METEOROLOGI 3A
Termodinamika Udara Basah

 Udara basah (moist air) : udara yang mengandung udara kering dan uap
air.

 Di atmosfer, keadaan air tampak dalam keadaan cair dan padat.

 Jika air berubah keadaan (fasa), dari fasa satu ke fasa yang lain, maka
akan terjadi transformasi energi akibat pelepasan atau penyerapan
panas terselubung (panas laten).
Keadaan Zat Air

 Di dalam atmosfer, zat air dapat berbentuk gas, cair atau padat.

 Uap air dapat diperlakukan sebagai gas ideal (sempurna) jika tidak terjadi
kondensasi atau desposisi.

 Keadaan zat air dapat diamati dengan mengamati garis isotherm pada
grafik tekanan terhadap volume.

 Volume gas ideal berbanding terbalik dengan tekanannya pada


temperature tetap (Hukum Boyle).
Keadaan Zat Air

2 jenis isoterm, yaitu :


 Isoterm keadan triple melalui T
= P dalam tekanan triple adalah 0,01ºC dan 6,11 mb.
 Isoterm melalui titik kritis (C)
= terjadi pada T 374ºC dan P 221.000 mb. (tidak pernah muncul di atm)
Panas Laten

 Panas laten : sejumlah panas yang diberikan atau dilepaskan dari suatu
zat bila satuan massa suatu zat berubah keadaannya pada temperatur
yang tetap konstan.

 Panas laten : panas terselubung (latent heat) atau panas tersembunyi


(hidden heat).

 SI : J/kg
Panas Laten

Ada 3 jenis panas laten dalam zat cair, yaitu:


a) Panas laten peleburan (Lea) : jumlah panas yang diperlukan untuk
mengubah es menjadi air pada temperatur sama.

b) Panas laten penguapan (Lau) : jumlah panas yang diperlukan untuk


mengubah air menjadi uap air pada temperatur sama.

c) Panas laten sublimasi (Leu) : jumlah panas yang diperlukan untuk


mengubah es menajdi uap air pada temperatur yang sama.
Panas Laten

 Hubungan antara ketiga panas laten :

𝑳𝒆𝒖 = 𝑳𝒆𝒂 + 𝑳𝒂𝒖

 Jika peristiwanya berkebalikan, maka sejumlah panas akan dilepaskan.


Misalnya panas laten yang diperlukan pada saat peristiwa penguapan
sebanding dengan panas yang dikeluarkan pada saat kondensasi.
 Maka persamaannya akan menjadi :

𝑳𝒆𝒂 = 𝑳𝒂𝒖
 Panas laten bervariasi sesuai dengan temperatur (<1%). Dalam
meteorology, panas laten zat cair dapat dianggap konstan.
Persamaan Keadaan Uap Air

𝒆𝜶𝒗 = 𝑹𝒗 𝑻

Dimana:
𝑒 = tekanan uap
αv = volume spesifik
𝑅𝑣 = konstanta gas spesifik uap air
T = temperatur
Peubah Kebasahan

Parameter dalam udara basah:


1. Tekanan uap
2. Perbandingan campuran
3. Kelembaban
Peubah Kebasahan

Tekanan uap (e)

 Karena air menguap dari udara kering, uap melakukan tekanan.


 Tekanan uap air (e) : tekanan atmosfer yang dilakukan oleh uap air.
 SI : milibar (mb)

1 mb = 100 Nm-2 = 1 hPa = 0,1 kPa


Peubah Kebasahan

Tekanan uap jenuh (es)

 Tekanan uap jenuh (es): tekanan uap parsial yang dilakukan oleh uap air
dalam ruang di atas permukaan jenuh.
 Dinyatakan terhadap ruang di atas permukaan datar dan nilainya
bertambah sesuai dengan temperatur.
 Pada suhu di bawah titik beku, (es) di atas es lebih kecil dibandingkan di
atas air kelewat dingin pada temperatur yang sama.
 Simbol (es) dapat diganti dapat dibedakan untuk temperatur tertentu :
ew : tekanan uap jenuh terhadap permukan air datar.
ei : tekanan uap jenuh terhadap permukaan es datar.
Peubah Kebasahan

Perbandingan campuran (r)

 Perbandingan campuran (r) : perbandingan campuran kelembaban


suatu sampel udara basah.
 Perbandingan campuran (r) : perbandingan massa uap air (mv) terhadap
udara kering (md).

mv
r=
md
Peubah Kebasahan

Perbandingan campuran jenuh (rs)

 Perbandingan campuran jenuh (rs) : nilai perbandingan jenuh jika sampel udara menjadi
jenuh
 (rs) dibedakan menjadi :
rw : perbandingan campuran jenuh terhadap air.
ri : perbandingan campuran jenuh terhadap es.

𝒆𝒔 𝒆𝒔
𝒓=𝜺 ≈ 𝟎, 𝟔𝟐𝟐
𝒑 − 𝒆𝒔 𝒑 − 𝒆𝒔
Peubah Kebasahan

Kelembaban Relatif (RH)


 Kelembaban relatif (RH) : rasio perbandingan campuran aktual suatu
sampel udara pada suhu dan tekanan tertentu terhadap
perbandingan campuran jenuh pada suhu dan tekanan tersebut.

𝒓 𝒆
𝑹𝑯 = 𝒙 𝟏𝟎𝟎% ≈ 𝑹𝑯 = 𝒙 𝟏𝟎𝟎%
𝒓𝒔 𝒆𝒔
Kelembaban Spesifik (q)
 Kelembaban spesifik (q) : perbandingan massa uap air yang ada
terhadap massa udara basah.

𝒎𝒗
𝒒=
𝒎𝒗 + 𝒎𝒅

dimana 𝑚𝑣 = massa uap air dan 𝑚𝑣 + 𝑚𝑑 = massa udara basah.


Persamaan Keadaan Udara Basah

p𝜶 = 𝑹𝒎𝑻

Dimana:
Rm = konstanta gas spesifik udara basah
𝑝 = tekanan (Nm-2)
𝛼 = volume spesifik (m3 kg-1)
T = temperatur (K)
Hubungan Rm dan Rd

𝑹𝒎 ≈ 𝑹𝒅 (𝟏 + 𝟎, 𝟔𝟏𝒓)

Rm : konstanta gas spesifik udara basah


Rd : konstanta gas spsifik udara kering
Temperatur Virtual (Tv)

 Temperatur virtual : temperatur dimana udara kering pada tekanan total


sama akan mempunyai densitas yang sama seperti pada sampel udara
basah.

𝝆𝜶 = 𝑹𝒅 𝑻𝒗

 Cara menghitung temperatur virtual :

𝑻𝒗 ≈ 𝑻 (𝟏 + 𝟎, 𝟔𝟏𝒓)
r : perbandingan campuran
Proses Isobarik Udara Basah

 Proses isobarik udara basah : proses fisis dimana tekanan gas tetap
konstan.
 Terjadi dalam udara basah jika sebuah sampel didinginkan atau
dipanaskan pada tekanan konstan.
 Proses isobaric dapat terjadi di bawah kondisi khusus, yaitu :
a. Temperatur titik embun
b. Temperatur bola basah
c. Temperatur ekivalen
Temperatur Titik Embun (Dew Temp)

 Pendinginan pada P konstan, tidak ada uap air yang masuk atau
meninggalkan sampel udara perbandingan campuran (r) tetap.

 Temperatur titik embun : Jika udara basah didinginkan secara isobarik (P


konstan), maka temperatur tertentu dapat tercapai pada saat udara
menjadi jenuh.

 Temperatur titik embun = titik embun (Td)

 Jika T < Td, terjadi kondensasi.


Temperatur Bola Basah (Wetbulb Temp)

 Pendinginan pada P konstan dihasilkan oleh sublimasi es pada sampel


udara T turun, perbandingan campuran (r) meningkat

 Temperatur bola basah : perubahan temperatur dari udara dingin ke


udara jenuh akibat adanya panas laten dari sampel udara untuk
mengubah es menjadi uap air, sehingga sampel udara menjadi dingin.

 Temperatur bola basah = titik embun (Tw)


Temperatur Ekivalen (Equivalent
Temp)

 Temperatur ekivalen : temperatur yang tercapai bila semua uap air dalam
udara telah mengondensasi/mengembun atau total panas laten yang
dilepaskan oleh semua udara pada sistem yang diamati yang
menyebabkan kenaikan suhu dari suhu awal.
 Pada saat uap air dalam udara mengondensasi, P tetap, dan terjadi
pelepasan panas laten.
Ekspansi Adiabatik Udara Tak Jenuh

 Tidak ada kondensasi uap air.


 Tidak terjadi difusi turbulen uap air, yaitu tidak ada pertukaran partikel
fluida antara sampel udara basah dan lingkungannya akibat olakan
(eddies) dalam aliran turbulen.
Proses Adiabatik Udara Jenuh

 Uap air akan mengondensasi menjadi air cair atau es.


 Temperatur turun.
 Melepaskan panas laten yang memberikan sejumlah energi untuk
ekspansi.
 Proses fisis dalam ekspansi :
a. Proses terbalikkan (reversible process)
: semua produk kondensasi (tetes air/kristal es) tersimpan dalam
sampel udara.
b. Proses tak terbalikkan (irreversible process)
: produk kondensasi jatuh keluar dari sampel udara segera setelah
partikel tersebut terbentuk.
Proses Adiabatik Basah (Jenuh)

 Panas laten yang dilepas akibat perubahan keadaan akan memanasi


uap air dan produk kondensasi dari sampel udara, namun tidak ada
panas yang ditambahkan dari luar.
Proses Adiabatik Pseudo (Gadungan)

 Proses adiabtik pseudo adalah proses adiabatik yang tidak sempurna


karena ada perpindahan massa sebagian
 Panas laten yang dihasilkan berkurang dari sebelumnya.
Persamaan Adiabatik Pseudo (Gadungan)

Dengan Hk. I Termodinamika, diperoleh persamaan:

𝑑(𝑝 − 𝑒𝑠 )
−𝐿𝑑𝑟𝑠 = 𝑐𝑝𝑑 𝑑𝑇 − 𝑅𝑑 𝑇
(𝑝 − 𝑒𝑠 )
Dengan membagi T dan mengabaikan 𝑒𝑠 terhadap p, maka diperoleh:

𝑑𝑟𝑠 𝑑𝑇 𝑑𝑝
−𝐿 = 𝑐𝑝𝑑 − 𝑅𝑑
𝑇 𝑇 𝑝
𝑑𝑇 𝑑𝑝
Diketahui 𝑐𝑝𝑑 ln 𝜃 = 𝑐𝑝 −𝑅 , maka diperoleh:
𝑇 𝑝

𝒅𝒓𝒔
−𝑳 = 𝒄𝒑𝒅 𝒅(𝒍𝒏 𝜽)
𝑻
Diagram Skew-T hasil RAOBS
Aerogram Vaisala
Pustaka

Tj. H. K, Bayong. 2008. Meteorologi Terapan. Bandung: Penerbit ITB.