Anda di halaman 1dari 98

SEDIAAN PARENTERAL

SEDIAAN PARENTERAL
A. Penggolongan sediaan steril untuk parenteral (menurut
FI IV)
1. Larutan atau emulsi yang cocok untuk injeksi ditandai
dengan nama “injeksi......”; Contoh : Injeksi Insulin
2. Sediaan padat kering atau cairan kental, yang tidak
mengandung zat tambahan ( tidak mengandung
dapar, pengencer atau bahan tambahan lain) dengan
pelarut yang cocok untuk injeksi, “.......steril”; Contoh :
Ampicillin Sodium steril
3. Sediaan seperti tertera nomor 2, tetapi mengandung
satu atau lebih dapar, pengencer atau bahan
tambahan lain dan dapat dibedakan dari nama
bentuknya “.......untuk injeksi”; Contoh Methicillin
Sodium untuk injeksi
4. Sediaan berupa suspensi serbuk dalam media cair
yang cocok dan tidak disuntikkan secara iv atau ke
dalam kolon spinal. “..............suspensi steril”; contoh
Cortison suspensi steril
5. Sediaan padat kering yang dengan penambahan
pelarut yang cocok menjadi sediaan steril bentuk
suspensi. “ ..... Steril untuk suspensi” ; Contoh
Ampicillin steril untuk suspensi
SEDIAAN PARENTERAL

B. Definisi Sediaan Parenteral


Sediaan obat steril, dapat berupa larutan
atau suspensi, yang dikemas sedemikian
rupa hingga cocok untuk diberikan dalam
bentuk injeksi hipodermis dengan
pembawa atau zat pensuspensi yang
cocok.
RUTE, MASALAH DAN CATATAN YANG
HARUS DIPERHATIKAN PADA PEMBERIAN
OBAT SECARA PARENTERAL
 Pemberian obat secara parenteral : pemberian
langsung ke dalam jaringan, rongga jaringan,
atau kompartemen-kompartemen tubuh secara
suntikan/ injeksi atau infus.
 Perkembangan teknik-teknik untuk pemberian
obat secara parenteral dan penggunaannya
telah berkembang pesat beberapa tahun
terakhir ini.
KEUNTUNGAN PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
1. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti.
Contoh : Pemberian injeksi antibiotik golongan
aminoglikosida secara intraventrikular
sulit menembus lapisan pembatas darah-otak-
selaput otak dapat dilakukan pada penderita
radang selaput otak/rongga otak akibat bakteri
dan jamur.
2. Obat memiliki onset (mula kerja) yang cepat
KEUNTUNGAN PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
3. Pengendalian langsung terhadap beberapa
parameter farmakologi tertentu, seperti waktu
tunda, kadar puncak dalam darah, kadar dalam
jaringan dll.
4. Menjamin dosis dan kepatuhan terhadap obat
(khusus untuk penderita rawat jalan)
5. Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinalis
dapat dihindarkan: obat tidak dapat diab-
sorpsi/rusak oleh asam lambung atau enzim
jika diberikan secara oral contoh insulin.
KEUNTUNGAN PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
6. Bioavailabilitas sempurna atau hampir
sempurna
7. Untuk menghasilkan efek secara lokal jika
diinginkan yaitu untuk mencegah /meminimum-
kan reaksi toksik sistemik : pemberian
metotreksat secara injeksi intra tekal pada
penderitan leukemia.
8. Penderita yang tidak sadarkan diri/tidak dapat
kerja sama (gila)
KEUNTUNGAN PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
9. Memperbaiki dengan cepat cairan tubuh
atau ketidakseimbangan elektrolit/
mensuplai kebutuhan nutrisi.
10. Mendapatkan efek lokal yang diinginkan :
anastesi lokal pada pencabutan gigi.
KELEMAHAN PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
1. Harus dilakukan oleh personel yang terlatih
dan membutuhkan waktu lebih banyak
daripada pemberian obat bentuk lain.
2. Rasa nyeri pada lokasi penyuntikan
3. Sukar sekali untuk merubah/menghilangkan
efek fisiologisnya jika obat sudah berada
dalam sirkulasi sistemik.
4. Harga sediaan parenteral lebih mahal
dibandingkan sediaan yang lain karena
persyaratan manufaktur dan pengemasan
KELEMAHAN PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
5. Masalah yang timbul setelah pemberian
parenteral : septisemia, infeksi jamur,
inkompatibilitas karena pencampuran
sediaan parentera dan antaraksi obat.
6. Pemberian obat secara parenteral
mengikuti prosedur aseptik.
FAKTOR FARMASETIK YANG
MEMPENGARUHI PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
1. Kelarutan obat dan volume injeksi
- Obat harus terlarut sempurna, lebih disukai
dalam air, sebelum dapat diberikan secara
injeksi intra vena.
- Kelarutan obat dalam pembawa dan dosis
yang diperlukan untuk menghasilkan efek
terapetik akan menentukan volume injeksi
yang harus diberikan.
- Rute pemberian obat secara parenteral selain
iv memiliki keterbatasan dalam hal volume
injeksi yang dapat diberikan.
FAKTOR FARMASETIK YANG
MEMPENGARUHI PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
2. Karakteristik Bahan Pembawa
- Pembawa air : dapat diberikan melalui rute
parenteral apa saja.
- Pembawa non air : yang dapat bercampur atau
tidak dengan air biasanya diberikan dengan intra
muskular.
- Larutan suntik dengan pelarut campur
(diazepam, digoksin, fenitoin) dapat iv, hati-hati
pengaturan kecepatan penyuntikan untuk
mencegah terjadinya pengendapan senyawa
obat pada daerah penyuntikan.
FAKTOR FARMASETIK YANG
MEMPENGARUHI PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
3. pH atau osmolaritas larutan injeksi
 Larutan suntik harus diformulasi pada pH dan
osmolaritas yang sama dengan cairan tubuh
(isohidri dan isotoni).
 Tidak dapat dipenuhi oleh semua obat karena
masalah stabilitas, kelarutan atau dosis.
- Misal : diazoksid dibuat pada pH 11,6 karena
pH tersebut pH stabilitasnya. Difenilhidantoin
(pH 12) dan tetrasiklin HCl (pH 2) untuk
mendapatkan larutan yang sempurna dalam
dosis yang dibutuhkan.
FAKTOR FARMASETIK YANG
MEMPENGARUHI PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
 Kadang-kadang larutan parenteral hipertonis
karena mengandung kadar obat yang tinggi
untuk mencapai kadar obat dalam darah yang
efektif, misal :
- Obat tetes mata sulfasetamid
- Larutan nutrisi yang mengandung dosis tinggi
asam amino, dekstrosa dll.
 Larutan yang sangat hipertonis : harus diberikan
melalui vena yang sangat besar (subclevian)
vena tsb akan masuk langsung ke dalam
jantung cepat diencerkan dengan vol. besar
FAKTOR FARMASETIK YANG
MEMPENGARUHI PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
 Pada umumnya larutan parenteral hipertonis
dikontraindikasikan untuk penyuntikan sub kutan
atau intramuskular.
4. Jenis bentuk sediaan obat
 Suspensi : hanya intramuskular atau sub kutan.
Tidak boleh iv atau rute parenteral selain diatas
 obat langsung masuk ke cairan biologis atau
jaringan sensitif (otak dan mata).
 Serbuk untuk injeksi harus dilarutkan sempurna
dalam pembawa yang sesuai sebelum diberikan.
FAKTOR FARMASETIK YANG
MEMPENGARUHI PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
5. Komposisi bahan pembantu
- Sediaan parenteral untuk pemakaian berulang
mengandung antimikroba sebagai pengawet.
Bahan pengawet dikontraindikasikan untuk
pemberian ke dalam cairan serebrospinal atau
intra okular  dapat terjadi efek toksik.
- Dapat mengandung surfaktan  mendapatkan
kelarutan yang sesuai. Surfaktan dapat merubah
permeabilitas membran, sehingga harus
diketahui keberadaannya ketika akan diberikan
secara sk atau im.
RUTE-RUTE SPESIFIK
 Rute Utama : Intramuskular, intravena dan sub
kutan.
 Ketiga rute utama tersebut memuaskan untuk
keempat alasan pemberian obat secara
parenteral : pengobatan, pencegahan, diagnosis
dan mengubah sementara fungsi jaringan untuk
mempermudah pengobatan.
 Rute lain : intraokular, intratekal dll.
Macam-macam Pemberian
Injeksi
RUTE-RUTE UTAMA -
INTRAMUSKULAR

 I. Intramuskular
- Injeksi langsung ke dalam bagian otot relaksasi,
meliputi otot gluteal, deltoid, trisep, pektoral dan
vastus lateralis. Otot gluteal : dapat diinjeksikan
dengan volume besar. Vastus lateralis : mentolerir
volume besar, jauh dari pembuluh darah dan syaraf-
syaraf.
- Untuk sediaan kerja diperlama. Sediaan dalam
bentuk larutan lebih cepat diabsorpsi daripada
suspensi atau larutan dengan pembawa minyak.
INTRAMUSKULAR

 Larutan sedapat mungkin dibuat isotoni


 Zat aktif dengan kerja lambat serta mudah
terakumulasi dapat menimbulkan
keracunan.
 Sediaan dapat berupa larutan, emulsi atau
suspensi
 Onset bervariasi tergantung besar kecilnya
partikel
 Volume sediaan umumnya 2 -20 mL dapat
disuntikkan ke dalam otot dada,
sedangkan volume yang lebih kecil dapat
disuntikkan ke otot-otot lain
 Contoh : injeksi penicillin G 3.000.000
unit, injeksi serum antitetanus 10.000
atau 20.000 unit, injeksi vitamin B
kompleks
INTRAVENA
II. Intravena
 Injeksi langsung ke dalam vena (pembuluh darah).
 Dalam jumlah kecil (< 5mL) tidak mutlak harus isotoni
dan isohidri.
 Dalam jumlah besar (infus) harus isotoni dan isohidri
 Tidak tepat untuk zat aktif yang merangsang dinding
pembuluh darah.
 Tidak diperkenankan penggunaan zat aktif penyebab
hemolisa seperti plasmokhin, saponin, nitrobenzol, nitrit
dan sulfonal.
INTRAVENA
 Sediaan yang diberikan umumnya berbentuk
larutan sejati dengan pembawa air. Penggunaan
suspensi masih dipertentangkan dengan
membatasi ukuran partikel zat aktif < 0,1 µm,
ukuran yang lebih besar dapat menyebabkan
emboli.
 Pemberian larutan 10 mL atau lebih besar sekali
suntik, harus bebas pirogen.
 Tidak ada fase absorpsi, obat langsung
masuk ke dalam vena, onset of actio
segera
 Obat bekerja paling efisien, bioavailabilitas
100%
 Obat harus berada dalam larutan air, bila
emulsi lemak partikel tidak boleh lebih
besar dari ukuran partikel eritrosit,
sediaan suspensi tidak dianjurkan
 Adanya partikel dapat menyebabkan
emboli
 Contoh : injeksi ampicilin 500 mg, 1 gram;
infus sodium chloride 0,9% 25 mL, 50 mL,
500 mL.
SUB KUTAN
III. Sub Kutan
 Penyuntikan dilakukan ke dalam jaringan
longgar di bawah kulit (dermis), disuntikkan ke
dalam tubuh melalui bagian yang sedikit
lemaknya. Volume yang diberikan tidak lebih
dari 1 mL.
 Larutan yang disuntikkan sebaiknya isotoni dan
isohidri dengan kerja zat aktif lebih lambat
dibandingkan dengan pemberian intravena dan
intramuskular.
 Absorpsi obat dapat diperlambat dengan
menambahkan adrenalin (1:100000 –
200000) yang menyebabkan konstriksi
pembuluh darah lokal sehingga difusi obat
tertahan atau diperlambat.
 Contoh : injeksi lidocaine adrenalin untuk
cabut gigi  dikehendaki efek lokal yang
lama serta efek sistemik yang minimum
 Sebaliknya, absorpsi obat dapat
dipercepat dengan penambahan
hyaluronidase, yaitu suatu enzim yang
memecah mukopolisakarida dari matriks
jaringan yang menyebabkan penyebaran
dipercepat
 Bila ada infeksi, maka bahayanya lebih
besar daripada penyuntikan ke dalam
pembuluh darah karena pada pemberian
subkutan mikroba menetap di jaringan
dan membentuk abses.
 Zat aktif bekerja lebih lambat daripada
secara iv.
 Larutan yang sangat menyimpang
isotonisnya dapat menimbulkan rasa nyeri
dan nekrosis, dan absorpsi zat aktif tidak
optimal
 Pemberian sk dalam jumlah besar dikenal
dengan nama hipodermoklise
 Contohnya : injeksi Neutral Insulin
(Human monocomponent) 4 iu/mL; inj
Fondaparinox Sodium 2,5 mg/0,5 prefiled
syringe
 Larutan yang sangat menyimpang isotoninya
dapat menimbulkan rasa nyeri atau nekrosis dan
absorpsi zat aktif tidak optimal.
 Obat yang diberikan melalui rute sk : insulin,
vaksin, narkotika, epinefrin, vit B12.
 Obat yang tidak boleh diberikan melalui rute sk :
yang bersifat asam kuat, basa kuat, iritan, yang
dapat menimbulkan rasa sakit, inflamasi,
nekrosis jaringan.
RUTE LAIN- Hipodermoklisis
1. Hipodermoklisis
- Pemberian sediaan larutan injeksi dalam
jumlah besar/infus melalui rute subkutan.
- Dilakukan jika absorpsi dengan kecepatan
yang rendah diinginkan jika tidak ada vena yang
cocok yang dapat dipakai (pada bayi atau
lansia).
- Penyuntikan harus perlahan untuk mencegah
terjadinya pembengkakan.
Intraperitonial
2. Intraperitonial/intraabdominal
 Injeksi yang dilakukan ke dalam rongga peritonial
(rongga perut) dengan jarum/kateter untuk tempat
memasukkan cairan steril CAPD (Continous Ambulatory
Peritonial Dialisis), atau penyuntikan langsung ke dalam
organ-organ abdominal seperti hati, ginjal atau kandung
kemih.
 Larutan harus hipertonis

 Absorpsinya cepat

 Volume diberikan dalam jumlah besar ( 1 atau 2 L)


 Infeksi mudah terjadi karena pemakaian
yang terus menerus dan penanganan
yang tidak steril
 Biasa sebagai cuci darah dengan cara
CAPD
 Contoh : infus Dianeal 1,5% atau 2,5% 2
Liter
Intraarterial
3. Intra-arterial
- Langsung ke dalam arteri (pembuluh nadi) yang akan
membawa obat langsung ke dalam organ sasaran.
- Untuk tujuan diagnostik
- Cukup berbahaya, karena sediaan tidak mengalami
penyaringan terlebih dahulu oleh paru-paru, hati atau
ginjal.
- Sediaan yang terkontaminasi (mikroorganisme,
endotoksin, partikel yang tidak larut) dapat
menyebabkan komplikasi atau reaksi yang serius seperti
infeksi atau penyumbatan pembuluh nadi.
Intraartikular
4. Intraartikular
- Injeksi ke dalam kantong sinovial dari sejumlah
persendian yang dapat dicapai.
- Beberapa antiobiotika, lidokain, ester
kortikosteron dapat diberikan melalui rute ini
untuk pengobatan infeksi rasa nyeri, inflamasi,
dsb.
- Infeksi iatrogenik (mengakibatkan rusaknya
sendi): komplikasi setelah dilakukan injeksi
intraartikular
 Larutan harus isotonis dan isohidris
 Contoh : injeksi Kenacort A 10 mg/ml amp
5 mL
Intrakardiak

5. Intrakardiak
- Langsung ke dalam bilik-bilik jantung.
- Tidak direkomendasikan, kecuali kasus-
kasus khusus seperti berhentinya jantung.
- Otot jantung, pembuluh nadi koroner
dapat rusak akibat pemberian obat secara
intrakardiak.
Intrasisternal
6. Intrasisternal
- Langsung ke dalam rongga sisternal
(sumsum tulang belakang) sekeliling dasar
otak.
- Untuk tujuan diagnostik
- Rute ini cukup berbahaya, dapat
menyebabkan terjadinya kelumpuhan
syaraf atau kematian.
Intradermal/Intrakutan
7. Intradermal/Intrakutan
- Disuntikkan ke dalam kulit
- Sejumlah zat diagnostik antigen (misal
tuberkulin Mantoux tes), vaksin (misal
smallpox), tes alergi antibiotik (diberikan 1
mL) diberikan melalui rute ini.
- Volume yang diinjeksikan tidak lebih dari
0,1 mL – 0,2 mL
- Absorpsi sangat lambat.
Intralesional, intraokular

8. Intralesional
- Injeksi yang dilakukan langsung ke dalam atau
sekitar luka, yang biasanya terdapat pada kulit.
- Diberikan jika diinginkan efek lokal yang kuat :
tetanus, antisera rabies.
9. Intraokular
- Ke dalam mata meliputi 3 daerah : ruang
anterior, intravitreal, retrobulbar.
- Untuk infeksi dan inflamasi mata.
Intrapleural

10. Intrapleural
- Ke dalam rongga selaput dada, biasanya
dilakukan hanya 1 kali (single injection).
- Untuk infeksi atau penyakit berbahaya
yang berkaitan dengan rongga selaput
dada.
- Komplikasi yang dapat terjadi :
pneumothorax, perdarahan intrapleural.
Intratekal

11. Intratekal
- Langsung ke dalam kantung lumbar (sumsum
tulang belakang), terletak pada ujung kaudal
dari spinal cord
- Larutan harus isotoni dan isohidri.
- Untuk maksud anastesi digunakan larutan yang
hipertoni.
- Untuk tujuan diagnostik, dapat juga untuk
pengobatan infeksi atau tumor pada sepanjang
jaringan syaraf tulang punggung.
Intrauterin

12. Intra-uterin
- Injeksi/infus dilakukan ke dalam uterus
pada keadaan hamil.
- Pada minggu keenambelas kehamilan
untuk tujuan aborsi.
- Tujuan diagnostik

- Komplikasi : amnionitis dan myometritis


Intraventrikular

13. Intraventrikular
- Injeksi/infus ke dalam rongga-rongga sisi otak.
- Untuk pengobatan infeksi atau penyakit kanker
yang melibatkan membran atau cairan
serebrospinal sekeliling sistem syaraf pusat.
Misal pada pengobatan meningitis jamur dengan
amfoterisin B atau pengobatan sel-sel leukemia
yang masuk dengan metotreksat.
- Pemakaian rute ini sangat berbahaya, dapat
menyebabkan kelumpuhan/kematian, inflamasi
dari sistem.
MASALAH YANG HARUS DIPERHATIKAN
BERKAITAN DENGAN PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
1. Bahaya atau komplikasi umum
- Sepsis, Trombosis (intravena, intra- arterial),
flebitis (iv), pendarahan (tergantung kondisi
pasien), reaksi terhadap bahan asing yang
tidak terlarut (terutama iv atau intra arterial),
ketidaktercampuran, reaksi karena pH dan
tonisitas ekstrim, reaksi hipersensitivitas, over
dosis, emboli udara ( iv dan intraarterial),
demam dan keracunan.
MASALAH YANG HARUS DIPERHATIKAN
BERKAITAN DENGAN PEMBERIAN OBAT
SECARA PARENTERAL
2. Bahaya dan komplikasi khusus
- Disebabkan oleh senyawa yang
disuntikkan, meliputi beberapa efek
samping yang sifatnya idiosinkratik
terhadap senyawa yang diberikan
(trombositopenia, anemia, neutropenia),
imunosupresi, aritmia, rasa nyeri.
METODE DAN PERALATAN UNTUK
MEMBANTU PEMBERIAN OBAT
 Pompa (dapat ditanam atau eksternal)
 Kanula dan kateter
 Alat suntik (disposable atau reusable)
 Filter akhir untuk intravena
 Heparin lock
 Stopcock
 Piggybacks
 Penghubung “Y”
 Pengendali aliran
 Kawat pembimbing untuk pemasangan kateter, dll.
PELARUT SEDIAAN INJEKSI/
BAHAN PEMBAWA OBAT SUNTIK
JENIS-JENIS PELARUT

1. Pelarut Air
2. Pelarut non air yang dapat bercampur
dengan air
3. Pelarut non air yang tidak dapat
bercampur dengan air.
PELARUT AIR
 Air merupakan pelarut yang paling banyak
digunakan dalam sediaan injeksi karena
sifatnya yang dapat bercampur dengan cairan
fisiologis tubuh :
a. Air mempunyai harga konstanta dielektrik yang
tinggi sehingga dapat melarutkan senyawa an-
organik seperti elektrolit.
b. Air mempunyai kemampuan membentuk ikatan
hidrogen sehingga air dapat melarutkan
sejumlah senyawa organik seperti alkohol,
aldehid, keton, dll.
Pelarut & Pembawa Air untuk
Obat Suntik
 A. Pelarut yang sering digunakan dalam
obat suntik secara besar-besaran adalah
air untuk injeksi atau water for injection
(WFI)
Persyaratan Air pro Injeksi, Water
for injection, WFI (USP, BP 2001)
1. Harus dibuat segar dan bebas pirogen
2. Jumlah zat padat terlarut total tidak boleh
lebih dari 10 ppm.
3. pH 5,0 – 7,0
4. Tidak boleh mengandung ion-ion klorida,
sulfat, kalsium, amonium, nitrat, nitrit : amonia
tidak boleh lebih dari 0,1 ppm; nitrat tidak
boleh lebih dari 0,2 ppm
5. Batas logam berat (Cu, Fe, Pb) tidak boleh
lebih dari 0,1 ppm
6. Batas bahan-bahan organik seperti tanin dan
lignin (tidak boleh lebih dari 0,5 mg per liter)
7. Batas jumlah partikel
8. WFI harus disimpan dalam wadah yang
tertutup rapat pada temperatur di bawah atau
di atas kisaran temperatur ideal mikroba dapat
tumbuh (<5oC atau >80oC) dan digunakan
dalam waktu maksimal 24 jam setelah
penampungan
Skema dari Water for pharmaceutical purpose (U.S
Pharmacopeia)
AIR UNTUK PRODUK FARMASI
RAW WATER

PORTABLE/DRINKING WATER

PURIFIED WATER

WATER FOR INJECTION


Contoh Pembuatan Portable Water:

Raw Iron Sand Carbon Portable


Klorinasi
Water removal Filter filter water

Catatan : Cara pengolahan air tergantung


pada kualitas air yang akan diolah
Contoh pembuatan purified water :

Portable Water

Deionisasi

Saringan Mikro 3µm

Saringan Mikro 1µm

Saringan Mikro 0,2 µm

Lampu UV

Purified Water
USP PURIFIED WATER
 Air baku : kualitas air minum
 Tidak mengandung bahan tambahan
 Diperoleh dengan proses yang memadai
(penukar ion, filtrasi, UV)
 Memenuhi persyaratan daya hantar listrik
(conductivity)
 Memenuhi persyaratan TOC (Total Organik
Carbon)
KUALIFIKASI AIR UNTUK
PRODUKSI
Water for Injection : untuk bilas
akhir wadah steril, cuci vial/ampul,
pembuatan produk steril, laboratorium

Purified Unit Water for


Water Destilasi injection
USP WATER FOR INJECTION
 Memenuhi semua persyaratan air murni
 Diperoleh dengan proses yang memadai
dan dimurnikan dengan destilasi atau
osmosis terbalik (RO : reverse osmosis)
 Memenuhi persyaratan Bacterial Endotoxin
Test : tidak lebiah dari 0,25 EU/mL
 Dibuat sedemikian rupa agar
meminimalkan pertumbuhan bakteri
USP Specifications: PW vs. WFI
PW (Purified WFI (Water for
Water) Injection)
Water conductivity < 1,3 μS/cm at < 1,3 μS/cm at 25°C*
and pH 25°C* pH 5-7 pH 5-7
Total Organic Carbon < 0.5 ppm < 0.5 ppm
(TOC)
Aerobic Microbial < 100 CFU/ mL < 10 CFU/100 mL
Contamination (<0.1 CFU/mL)
Endotoxin content Not Specified < 0.25 EU/mL
Production Obtained by Obtained by suitable
Methods suitable process process and purified by
distillation.

*In-line measurement, from equivalent values from USP table


CFU=Colony Forming Units
All Pharmaceutical water must also meet the EPA standard for microbiological
quality of potable water
PROSES DESTILASI
 Destilasi merupakan salah satu cara untuk
memproduksi water for injection.
 Prinsip : pemanasan air sampai mendidih
uap air kemudian dilewatkan kondensor
dengan temperatur rendah sehingga uap
terkondensasi  dikumpulkan dan disimpan.
 Kebanyakan kontaminan yang terlarut tidak
menguap pada suhu didih air karena tidak
terbawa ke dalam uap dan uap kondensat
 Kelemahan : beberapa kontaminan atau
residu dapat terbawa kondensat. Untuk
mengurangi residu atau kontaminan dan
gangguan lain, diperlukan batas kandungan
berbagai zat dalam air.
 Distilasi relatif mahal, tetapi mampu untuk
menghilangkan hampir semua pengotor
organik dan anorganik sehingga dapat
mencapai air yang berkualitas sangat baik
(tinggi) dan dianggap sebagai cara yang paling
aman untuk mencegah kontaminasi mikroba
dan endotoksin.
 Oleh karena itu, distilasi masih merupakan
cara yang dominan untuk memproduksi
air untuk injeksi (WFI).
 Air sumber untuk alat distilasi sering
diberi perlakuan awal dengan
menggunakan sistem osmosis terbalik
(RO) dan atau cara lain untuk mengurangi
bahaya kebakaran dan untuk
meningkatkan mutu desilat.
REVERSE OSMOSIS
 Pemurnian air menggunakan membran reverse
osmosis sering digunakan karena membran ini
mampu memisahkan berbagai ion, partikel,
garam terlarut, substansi organik, subtansi
koloid dan bakteri dari molekul air, sehingga
diperoleh air berkualitas tinggi.
 Osmosis merupakan proses dua larutan
yang dipisahkan membran semi
permeabel, dimana air akan bergerak
melalui membran dari larutan konsentrasi
rendah ke konsentrasi tinggi dalam usaha
menyamakan konsentrasi di kedua sisi
membran.
 Dengan menggunakan tekanan, proses osmosis
akan berbalik, air melalui membran akan
bergerak meninggalkan larutan pekat. Pada saat
air merembes melalui membran, kotoran harus
dibuang secara terus menerus untuk mencegah
pengotoran membran.
 Membran yang digunakan untuk reverse osmosis
biasanya merupakan polimer komplek. Polimer
yang paling lazim digunakan yaitu cellulose
acetate triacetate (ca), polyamide (pa), thin film
composite (tec) dan sulfon composite.
A. PROSES OSMOSIS
B. PROSES REVERSE OSMOSIS
Pelarut & Pembawa Air untuk
Obat Suntik
 B. Sterile Water for Injection : adalah air
untuk injeksi yang disterilkan dan dikemas
dengan cara yang sesuai tidak
mengandung bahan antimikroba atau
bahan tambahan lainnya. (Biasanya
dikemas dalam wadah dosis tunggal
ukuran 500-1000 mL)
 Cara mendapatkan WFI steril : WFI
dimasukkan ke dalam autoklaf sehingga
diperoleh WFI steril
 Digunakan untuk pelarut, pembawa atau
pengencer obat suntik yang telah dikemas
dan steril.
 Dalam penggunaan, air ditambahkan
secara aseptis ke dalam vial obat untuk
melarutkan obat suntik yang diinginkan.
 Syarat Sterile Water for Injection : cairan
jernih, steril, bebas pirogen, tidak berbau,
tidak berwarna, tidak berasa serta tidak
mengandung logam logam berat seperti :
Cu, Fe, Pb, zat-zat pereduksi dan lain-lain,
serta memiliki pH 5,0 – 7,0
Air pro Injeksi Bebas CO2

 CO2 yang bersifat asam lemah mampu


menguraikan garam natrium dari senyawa
organik seperti barbiturat dan sulfonamida
kembali membentuk asam lemahnya yang
mengendap.
 Fenobarbital natrium (1:3 bagian air) +
CO2 + H2O  Fenobarbital (endapan)
(1:1000 bagian air) + Na2CO3
Air pro Injeksi Bebas CO2

 Sulfadiazin natrium (1:2 bagian air) + CO2


+ H2O  Sulfadiazin (endapan) (sangat
sukar larut dalam air) + Na2CO3
 Aminofilin yang terdiri dari teofilin dan
etilendiamin dengan adanya CO2 dapat
menyebabkan terbentuknya teofilin
(endapan) yang kelarutannya 1:120
bagian air
Air pro Injeksi Bebas CO2

 Air pro Injeksi bebas CO2 dibuat dengan


jalan mendidihkan air pro injeksi selama
20-30 menit setelah air mendidih, lalu
dialiri gas nitrogen sambil didinginkan.
Air pro Injeksi Bebas Oksigen
 Dibuat dengan jalan mendidikan air pro injeksi
selama 20-30 menit, dihitung setelah air
mendidih, jika dibutuhkan dalam jumlah besar
maka saat pendinginan dialiri gas nitrogen.
 Digunakan untuk melarutkan zat aktif yang
mudah teroksidasi seperti : apomorfin,
klorfeniramin, klorpromazin, ergometrin,
ergotamin, metilergometrin, proklorperazin,
promazin, promezatin HCl, sulfadimidin,
tubokurarin.
 C. Bacteriostatic Water For Injection
adalah air steril untuk obat suntik yang
mengandung satu atau lebih zat
antimikroba yang sesuai.
 Air dikemas dalam vial tidak lebih dari 30
mL, lalu etiket harus mencantumkan nama
dan perbandingan zat antimikroba yang
dikandung
 Air digunakan sebagai pembawa steril
dalam sediaan-sediaan obat suntik dengan
volume kecil (kurang dari 5 mL).
 D. Sodium Chloride Injection adalah
larutan steril dan isotonik natrium klorida
dalam air untuk obat suntik.
 Larutan tidak mengandung zat
antimikroba
 Kandungan ion Na dan Cl dalam obat
suntik kurang lebih 154 mEq per liter
 Larutan dapat digunakan sebagai
pembawa steril dalam pembuatan larutan
atau suspensi obat untuk pemberian
secara parenteral
E. Bacteriostatic Sodium Chloride Injection :
larutan steril dan isotonik natrium klorida dalam air
untuk obat suntik.
 Larutan mengandung satu atau lebih zat
antimikroba yang sesuai dan harus tertera
dalam etiket
 Kadar NaCl : 0,9% untuk membuat larutan
isotonis
 Larutan harus dikemas dalam wadah tidak lebih
besar dari 30 mL
PELARUT NON AIR

 Digunakan bila :
1. Zat aktif tidak larut dalam pembawa air
2. Zat aktif terurai dalam pembawa air
3. Diinginkan kerja depo dari sediaan
PEMILIHAN PELARUT NON AIR
1. Tidak toksis, tidak mengiritasi dan tidak
menyebabkan sensitisasi
2. Dapat tersatukan dengan zat aktif
3. Tidak memberikan efek farmakologi yang
merugikan
4. Stabil dalam kondisi di mana sediaan tersebut
biasanya digunakan
5. Viskositasnya harus sedemikian rupa sehingga
dapat disuntikkan dengan mudah.
PEMILIHAN PELARUT NON AIR
6. Pelarut tersebut harus tetap cair pada rentang
suhu yang cukup lebar.
7. Mempunyai titik didih yang tinggi sehingga
dapat dilakukan sterilisasi yang menggunakan
panas.
8. Dapat bercampur dengan air atau cairan
tubuh.
Pada umumnya tidak ada pelarut yang dapat
memenuhi seluruh kriteria di atas, oleh karena
itu biasanya diambil jalan tengah yaitu dengan
memenuhi beberapa kriteria saja.
PELARUT NON AIR YANG DAPAT
BERCAMPUR DENGAN AIR
 Sebagai ko-solven dalam sediaan injeksi
untuk meningkatkan kelarutan suatu obat
yang kurang larut dalam air.
 Meningkatkan stabilitas zat-zat tertentu
yang mudah terhidrolisis, contoh
pembuatan injeksi fenobarbital dengan
pelarut yang terdiri dari campuran air,
etanol dan propilen glikol (solutio petit)
PELARUT NON AIR YANG DAPAT
BERCAMPUR DENGAN AIR :
1. Etanol
 Banyak digunakan terutama pada injeksi glikosida
digitalis
 Injeksi yang mengandung etanol bila disuntikkan
secara intramuskular akan menimbulkan rasa nyeri;
secara sub kutan akan menimbulkan nyeri yang diikuti
dengan anastesia; jika disuntikkan pada daerah yang
dekat syaraf maka dapat mengakibatkan degenerasi
syaraf dan neuritis; secara intravena (tidak
disarankan) harus hati-hati karena pemberian yang
terlalu cepat akan mengakibatkan bahaya
pengendapan obat dalam darah.
2. Propilen glikol
 Banyak digunakan dalam pembuatan sediaan
injeksi senyawa golongan barbiturat, beberapa
alkaloida dan antibiotika.
 Sediaan yang mengandung propilen glikol dapat
menimbulkan rasa nyeri dan iritasi pada tempat
penyuntikan, sehingga perlu ditambahkan lokal
anastetik seperti benzil alkohol.
3. Polietilen glikol
 Ko solven dalam pembuatan sediaan injeksi
adalah yang mempunyai bobot molekul rendah
(300-400) dan berbentuk cairan.
 Penggunaan kosolven senyawa glikol (propilen
atau polietilen) dalam pembuatan injeksi
senyawa golongan barbiturat dapat
meningkatkan stabilitas senyawa tersebut.
4. Gliserin
 Merupakan cairan yang jernih dan kental, titik
didih tinggi, dapat bercampur dengan air
maupun alkohol dan merupakan pelarut yang
baik untuk beberapa zat.
 Penggunaan dalam dosis tinggi dapat
menimbulkan efek konvulsi dan gejala paralitik
karena kerja langsung gliserin terhadap susunan
syaraf pusat. Pada dosis rendah (5%) tidak
terlihat adanya efek toksik.
PELARUT NON AIR YANG TIDAK
DAPAT BERCAMPUR DENGAN AIR
A. Minyak tumbuhan :
1. Mudah tengik, karena mengandung asam
lemak bebas terutama asam lemak tidak
jenuh. Untuk mengatasi ketengikan dengan
menambahkan antioksidan (BHA, BHT).
2. Sering menimbulkan rasa nyeri sehingga perlu
penambahan benzil alkohol 5% untuk anastesi
lokal.
3. Jenis minyak tumbuhan yang digunakan harus
dicantumkan dalam etiket
PELARUT NON AIR YANG TIDAK
DAPAT BERCAMPUR DENGAN AIR

4. Digunakan untuk injeksi zat aktif : Deoksikortison


asetat, dimerkaprol, nandrolon fenilpropionat,
progesteron, testosteron propionat, propiliodon,
estradiol benzoat, testosteron fenilpropionat.
5. Jenis minyak tumbuhan yang digunakan : minyak
kacang (ol. Arachidis), ol. Gossypii, ol. Terebinthinae,
Ol. Maydis, minyak wijen (Ol. Sesami), minyak zaitun
(Ol. Olivarum), Ol. Amygdalarum.
6. Minyak harus netral secara fisiologis dan dapat
diterima oleh tubuh dengan baik (tingkat
kemurnian yang tinggi dan menunjukkan
bilangan asam dan bilangan peroksida yang
rendah)
7. Penggunaan pembawa minyak hanya untuk
preparat injeksi im dan sk, iv tidak boleh
karena tidak tercampurkan dengan serum
darah dan bisa terjadi emboli paru-paru
B. Minyak Hewan : yaitu minyak sapi,
diperoleh dari perdagangan hasil pemurnian
lapisan lemak kuku sapi atau tulang kaki
bawah.
 Fraksi yang diperoleh melalui pengepresan
dingin digunakan sebagai bahan pelarut
obat injeksi yang dapat diterima tubuh
tanpa rangsangan.
 Setelah disterilkan, minyak disebut
sebagai olea netralisata injectionem
 Sebelum digunakan, minyak-minyak
nabati harus dinetralkan dari asam lemak
bebas melalui pengocokan dengan etanol
supaya tidak merangsang
Beberapa Contoh Obat Suntik
dalam Minyak
Obat Suntik Minyak Golongan/kegunaan
Inj Desoksikortikosterona Wijen Steroidadrenokortikal
acetat
Injeksi Dimerkaprol Kacang tanah Antidot,keracunan arsen,emas, Hg
Inj Estradiol Sipional Biji kapuk Estrogen
Inj Estradiol valerat Wijen atau Estrogen
jarak
Injeksi Estron Wijen/jarak Estrogen
Injeksi Progesteron Wijen Progestin
Inj Testosteron sipionat Wijen Androgen
Inj Testosteron enantat Biji kapuk Androgen
Injeksi kamfer Wijen Analeptika
Injeksi bismuthsubsalisat Zaitun Sifilis
PELARUT NON AIR YANG TIDAK
DAPAT BERCAMPUR DENGAN AIR
 Minyak Semi Sintetis : Milgyol-minyak netral
 Ester asam lemak :
1. Menghasilkan larutan yang lebih encer daripada
pembawa minyak sehingga lebih mudah disuntikkan
meski kerja depo yang timbul tidak selama pembawa
minyak.
2. Kadangkala dikombinasi dengan senyawa alkohol
seperti etanol atau benzil alkohol untuk memperbaiki
kelarutan zat aktif.
3. Contohnya adalah etil oleat, isopropil miristat,
polioksilen trigliserida oleat.