Anda di halaman 1dari 5

PENGERTIAN DAN

CARA-CARA IJTIHAD

Disusun Oleh :

Syahrul Abdul Rozaq 10040014204

Nadya Ratu F.A 10040014208

Robby Raya Arlida 10040014209

Elsani Mulyaputri 10040014210


Pengertian Ijtihad
– Pengertian ijtihad dapat dilihat dari dua segi baik etimologi maupun terminologi. Dalam hal ini memiliki konteks
yang berbeda. Ijtihad secara etimologi memiliki pengertian: “pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan
sesuatu yang sulit”. Sedangkan secara terminologi adalah “penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu
yang terdekat pada kitabullah (syara) dan sunnah rasul atau yang lainnya untuk memperoleh nash yang ma’qu;
agar maksud dan tujuan umum dari hikmah syariah yang terkenal dengan maslahat.
– Pengertian lain bahwa ijtihad merupakan upaya untuk menggali suatu hukum yang sudah ada pada zaman
Rasulullah Saw. Hingga dalam perkembangannya, ijtihad dilakukan oleh para sahabat, tabi’in serta masa- masa
selanjutnya sampai sekarang ini. Meskipun pada periode tertentu apa yang kita kenal dengan masa taklid, ijtihad
tidak diperbolehkan, tetapi pada masa periode tertentu (kebangkitan atau pembaruan), ijtihad mulai dibuka
kembali. Karena tidak dipungkiri, ijtihad adalah suatu keharusan, untuk menanggapi tantangan kehidupan yang
semakin kompleks.
– Ijtihad mempuyai arti umum, yaitu sebagai kekuatan atau kemampuan dalam mencentuskan ide-ide yang bagus
demi kemaslahatan umat. Ada beberapa pendapat bahwa ijtihad adalah pengerahan segenap kesanggupan dari
seorang ahli fikih atau mujtahid untuk memeroleh pengertian terhadap hukum syara (hukum Islam).
Dasar Hukum Wajibnya Berijtihad
Dalam sejarah perkembangan hukum islam ijtihad menjadi istilah hukum tertentu, yang berarti suatu
jalan pengambilan hukum dengan Al-Qur’an, As- Sunnah dan akal. Adapun adanya ijtihad secara tegas
dan jelas menurut sejarah hukum islam adalah tentang Tanya jawab Nabi SAW dengan sahabat Mu’az bin
Jabal R.a sewaktu ditunjuk oleh Nabi dengan gubernur atau hakim di Yaman.
Sedangkan dalil hukum sebagai dasae wajibnya berijtihad itu adalah firman Allah SWT :
Artinya : “Maka ambilah (kejadian itu)untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai
pandangan” (Q.S. Al-Hasyr : 2)

Dalam firman Allah di atas adalah Allah telah mengharuskan bagi orang- orang yang ahli memahami
dan merenungkan jdalam mengambil ibarat supaya berijtihad.
Cara-Cara Ijtihad
Ada beberapa metode atau cara untuk melakukan ijtihad, baik ijtihad dilakukan sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan
orang lain. Diantara metode atau cara berijtihad adalah:
– Ijma’, adalah persetujuan atau kesesuaian pendapat para ahli mengenai suatu masalah pada suatu tempat disuatu masa.
– Qiyas, adalah menyamakan hukum suatu hal yang tidak terdapat ketentuannya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunah
dengan hal (lain) yang hukumnya disebut dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul karena persamaan illat-Nya.
– Istidlal, adalah menarik kesimpulan dari dua hal yang berlainan.
– Masalin Al-Mursalah, adalah cara menemukan hukum sesuatu hal yang tidak terdapat ketentuannya baik di dalam Al-
Qur’an maupun dalam kitab-kitab hadits, berdasarkan pertimabangan kemaslahatan masyarakat atau kepentingan
umum.
– Istishan, adalah cara menentukan hukum dengan cara menyimpang dari ketentuan yang sudah ada demi keadilan dan
kepentingan social. Istishan adalah suatu cara untuk mengambil keputusan yang tepat menurut suatu keadaan.
– Adat-Istiadat atau ‘Urf, adalh yang tidak bertentangan hukum Islam dapat dikukuhkan tetap terus berlaku bagi
masyarakat yang bersangkutan.
Macam – Macam Ijtihad
Dawalibi membagi ijtihad menjadi tiga bagian yang sebagiannya sesuai dengan pendapat al-Syatibi dalam kitab Al-
Muwafaqot, yaitu :
1. Ijtihad Al-Bayani
2. Ijtihad Al-Qiyasi
3. Ijtihad Al Istishah