Anda di halaman 1dari 13

Diagnosis

Anamnesis1,2
 Sejak kapan ?
Munculnya biasa lebih cepat sehingga pasien mengetahui apa yang menjadi
penyebab
 Onset ?
Untuk membedakan dengan DKA
 Gejala apa yang dirasakan pasien
Penderita akan merasakan sakit, rasa terbakar, rasa tersengat, dan rasa tidak
nyaman akibat pruritus yang terjadi

1.High WA, Fitzpatrick JE. Irritant Contact Dermatitis. In: Wolf K et al. Fitzpatrick’s Dermatology in
General Medicine. 7th ed. New York: The McGraw Hills,Inc.2008. p 395 – 401
2. Frimasari S.2013. Dermatitis Kontak Iritan. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya
Lanjutan

 Pemeriksaan fisik
Menurut Rietschel dan Flowler, kriteria dignosis
primer untuk DKI sebagai berikut:3
 Makula eritema, hiperkeratosis, atau fisura predominan setelah terbentuk
vesikel
 Tampakan kulit berlapis, kering, atau melepuh
 Bentuk sirkumskrip tajam pada kulit
 Rasa tebal di kulit yang terkena pajanan

3 Aneja S, MD. Updated 26 July 2017. Irritant Contact Dermatitis.


Diambil dari https://emedicine.medscape.com/article/1049353-clinical
Lanjutan

 Pemeriksaan Penunjang
Sebenarnya tidak ada pemeriksaan spesifik
untuk mediagnosis dermatitis kontak iritan.
 Tapi ada beberapa tes untuk menyingkirkan penyebab lain seperti : Patch
test, Kultur bakteri, Pemeriksaan KOH dan Pemeriksaan IgE. Tapi sangat
jarang dilakukan karena pada klinisnya biasanya langsung bisa
didiagnosis
Diagnosis Banding

 Dermatitis Kontak Alergi5


a. Berbeda dengan DKI, pada DKA, terdapat sensitasi dari
pajanan/iritan, sehingga gejala lebih cepat muncul pada
DKI
b. Gejala klinis antara DKA dan DKI hampir sama yaitu adanya
papul, likenifikasi dan juga fissura. Tp pada DKI keadannya
lebih berat.
c. Patch Test + pada DKA

5. Budimulja, Unandar. Dermatofitosis. In: Djuanda A, Mochtar


H, Aisah S, editors. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2008
Lanjutan

Gambar Dermatitis Kontak Alergi


Lanjutan

 Dermatitis Atopi 5
a. Merupakan kelainan radang kulit yang kronis yang predileksinya
khas pada bagian wajah dan fleksural ekstremitas
b. Biasanya mengenai anak-anak yang mempunyai riwayat atopi
seperti asma bronkial, rinitis alergik, urtikaria dan hay fever
c. Sehingga perlu dipertimbangkan hal-hal diatas saat melakukan
anamnesis karena gejala klinis yang ditimbulkan hampir sama
dengan DKI seperti kulit kering, eritema dan gatal
d. Peningkatan kadar serum IgE

5. Budimulja, Unandar. Dermatofitosis. In: Djuanda A, Mochtar H, Aisah S,


editors. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2008
Lanjutan

Dermatitis Atopi pada lipatan siku dan Dermatitis pada wajah


Lanjutan
 Tinea Pedis 5
a. Tinea pedis harus dibedakan dengan dermatitis,
yang biasanya batasnya tidak jelas, bagian tepi
tidak lebih aktif daripada bagian tengah
b. Adanya vesikel-vesikel dan gambaran seperti kulit
yang terkelupas merupakan gejala yang juga
ditimbulkan oleh tinea
c. Sehingga patut dipertimbangkan saat anamnesis
d. Pemeriksaan KOH + pada tinea
Lanjutan

Gambar Tinea Pedis


Penatalaksanaan
 Non Farmakologi
a. Menghindari faktor pencetus dan pemberat
kelainan
b. Memakai bahan pelindung terhadap bahan iritan
Lanjutan
 Farmakologi
a. Kompres dingin dengan Burrow’s solution
b. Glukokortikoid topikal
c. Antibiotik dan histamin
d. Anastesi dan Garam Srontium
e. Kationik Surfaktan
f. Emolien
g. Imunosupresi oral
h. Fototerapi dan radioterapi superfisial
Lanjutan
 Efek Samping
Yang lebih kerap terjadi adalah efek samping local
pada kulit berupa atrofi, striae, purpura,
telangiektasis, erupsi akneiformis dan perubahan
warna kulit. Perlu diingat pula kemungkinan adanya
topica steroid addiction
Prognosis
 Prognosisnya kurang baik jika bahan iritan
penyebab dermatitis tersebut tidak dapat
disingkirkan dengan sempurna. Keadaan ini sering
terjadi pada DKI kronis yang penyebabnya
multifaktor, juga pada penderita atopi