Anda di halaman 1dari 23

IMUNISASI YANG AMAN

PELATIHAN MLM BAGI PETUGAS KABUPATEN/ KOTA


PROVINSI JAWA BARAT
20 S/D 22 AGUSTUS 2011
• Kualitas Vaksin
• Keamanan Rantai
Dingin Keamanan • Klasifikasi lapangan
• Kebijakan multi dosis penyuntikan KIPI
• Peranan Pelarut • Surveilance KIPI
Dalam Imunisasi • Kebijakan • Pelaporan KIPI
• Kontra Indikasi Keamanan • Investigasi KIPI
Imunisasi Penyuntikan • Analisa Data
• Saat Penyuntikan • Penatalaksanaan
Faktor-faktor yang
• Penanganan KIPI
mempengaruhi keamanan dan
kualitas vaksin Limbah Kejadian Ikutan
Pasca Imunisasi
(KIPI)

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
PENDAHULUAN

• Imunisasi yang aman


– Sasaran mendapatkan kekebalan spesifik
– Petugas dan masyarakat aman

• Penyakit menular lewat jarum suntik bekas


– Hepatitis B
– Hepatitis C
– AIDS
STANDARISASI DQS DAN EVSM
MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
Faktor yang mempengaruhi
Kualitas
vaksin

Penanga Imunisasi Saat


nan penyunti
Limbah aman kan

KIPI

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
Kuis..
• Cara menentukan kualitas vaksin
– ................................................
– ................................................
– ................................................
– ................................................
– ................................................

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
Kuis..
• Cara menentukan kualitas vaksin
– Belum Kadaluarsa
– Belum rusak oleh paparan suhu:
• VVM atau VCCM
• Belum pernah beku
– Kemasan vaksin masih utuh (termasuk label)
– Belum melewati ketentuan masa pakai  vaksin
sisa

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
Kualitas Vaksin
• Vaksin merupakan produk biologis
• Kerusakan terutama oleh paparan suhu yang
tidak benar (panas maupun beku)
• Vaksin rusak:
– Efektifitas vaksin menurun
– Reaksi lokal meningkat
– Tidak bisa dikembalikan potensinya (meskipun
disimpan lagi pada suhu yang sesuai)

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
VACCINE VIAL MONITOR (VVM)

BAIK BURUK

Indikator kimiawi terkait dengan waktu – suhu


Menunjukkan paparan suhu panas yang berlebih terhadap waktu
Perubahan warna berlangsung secara bertahap dan menetap

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
PELARUT (1)

• Kandungan pelarut
– Penstabil untuk menjamin stabilitas vaksin,
– Bakterisida untuk menjaga sterilitas vaksin yang
sudah dilarutkan
– Bahan kimia untuk membantu pelarutan vaksin ke
dalam cairan dan bufer untuk memelihara pH
yang tepat (keseimbangan asam basa).

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
PELARUT (2)
Rekomendasi untuk pelarut:
• Pelarut harus dikemas, disimpan dan
didistribusikan bersama dengan vial vaksin yang
akan dilarutkannya.
• Pelarut tidak boleh dibekukan. Ia harus
didinginkan pada suhu 2 – 8oC sebelum
dilarutkan.
• Pelarut dari vaksin jenis lain atau dari pabrik yang
berbeda tidak boleh digunakan
• Air suling untuk suntikan (aquabidest) tidak boleh
dipakai sebagai pengganti pelarut vaksin.
STANDARISASI DQS DAN EVSM
MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
KEBIJAKAN MULTI DOSIS
• Hanya berlaku untuk vaksin sisa pelayanan statis
• Syarat:
– Vaksin tidak melewati masa kadaluarsa
– Vaksin tetap disimpan pada suhu +2 OC s.d +8 OC
– Sterilitas vaksin dapat terjamin
– Vial vaksin tidak pernah terendam dalam air
– VVM masih menunjukan kondisi A atau B
– Dicantumkan waktu /tanggal pertama vaksin dibuka
• Vaksin sisa pelayanan dinamis harus dibuang

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
KETENTUAN MASA PAKAI

NAMA VAKSIN MASA PEMAKAIAN KETERANGAN

POLIO 2 MINGGU

DICANTUMKAN TANGGAL
DPT-HB 4 MINGGU
PERTAMA DIBUKA

DT, TT, Td 4 MINGGU

CAMPAK 6 JAM
DICATUMKAM JAM
PELARUTAN
BCG 3 JAM

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
COLD CHAIN
• Kebutuhan cold chain
– Tingkat administrasi
– Jumlah vaksin yang dikelola
• Perhitungkan kebutuhan tempat
penyimpanan dingin (2 s/d 8oC) dan tempat
penyimpanan beku (-15 s/d -25oC)
• Pengawasan terhadap kestabilan suhu

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
BUKAN INDIKASI KONTRA IMUNISASI
• Sakit ringan seperti infeksi saluran nafas akut atau diare, dengan
demam < 38,5oC
• Alergi, asma, hay fever atau bersin-bersin
• Prematur, bayi berat lahir rendah
• Kurang gizi
• Anak yang sedang mendapat ASI
• Riwayat keluarga dengan kejang
• Dalam pengobatan antibiotik, kortikosteroid dosis rendah atau
steroid kerja lokal (misalnya salep atau inhalasi)
• Penyakit kulit, eksim atau infeksi kulit lokal
• Penyakit kronis dari jantung, paru, ginjal dan hati
• Kondisi nerologis yang stabil seperti cerebral palsy dan sindrom
Down
• Riwayat kuning setelah lahir

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
KONTRA INDIKASI IMUNISASI
• Indikasi kontra imunisasi :
• Orang dengan riwayat reaksi anafilaksis (kesulitan bernafas,
bengkak pada mulut dan tenggorokan, hipontensi atau syok)
setelah memakan telur jangan diberikan vaksin yang terbuat
dari jaringan telur ayam (misalnya vaksin demam kuning/ yellow
fever dan influenza).
• Anak dengan gejala infeksi HIV (AIDS) tidak diberikan imunisasi
BCG dan demam kuning.
• KIPI yang berat setelah pemberian dosis pertama (reaksi
anafilaksis) merupakan indikasi kontra absolut untuk pemberian
selanjutnya dengan vaksin yang sama.

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
REAKSI VAKSIN
• Reaksi bisa lokal atau sistemik
• Bisa ringan, berat bahkan menimbulkan kematian.
• Merupakan reaksi terhadap komponen dari vaksin
– Bahan aktif
– Bahan tambahan
• Vaksin yang berkualitas baik (WHO)
– Reaksi minimum
– Kekebalan maksimum
• Bila terdapat reaksi yang berlebihan pada pemberian
pertama, maka vaksin tersebut jangan diberikan lagi.

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
REAKSI VAKSIN RINGAN

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
KEAMANAN PENYUNTIKAN
Peralatan
• Menggunakan ADS
• Safety Box

Saat penyuntikan :
• Tindakan aseptik
• Umur sasaran
• Interval pemberian
• Teknik dan dosis
pemberian
• Penanganan limbah

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
SURVEILANCE KIPI
Klasifikasi Lapangan KIPI
• Kesalahan program
• Reaksi vaksin
• Koinsiden
• Reaksi suntikan
• Penyebab tidak diketahui.

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
KIPI yang harus dimonitor
• Semua abses pada tempat suntikan
• Semua kasus limfadenitis BCG
• Semua kematian yang oleh petugas kesehatan atau
masyarakat diperkirakan berhubungan dengan
imunisasi.
• Semua kasus yang memerlukan perawatan rumah
sakit yang oleh petugas kesehatan atau masyarakat
diperkirakan berhubungan dengan imunisasi.
• Insiden medis yang tidak biasa lainnya yang oleh
petugas kesehatan atau masyarakat diperkirakan
berhubungan dengan imunisasi.
STANDARISASI DQS DAN EVSM
MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
PENANGANAN LIMBAH MEDIS
Komponen limbah imunisasi
– Medis
• Alat suntik bekas
• Sisa vaksin
– Non medis
• Plastik pembungkus alat suntik
• Kapas
• Dus vaksin

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
PEMUSNAHAN LIMBAH
Prinsip : tidak menjadi sumber penularan
penyakit dan tidak menimbulkan pencemaran
bagi lingkungan.
– Dibakar dengan incinerator
– Pembakaran aman terlindung
– Dikubur

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN
TERIMA KASIH

STANDARISASI DQS DAN EVSM


MODUL 3 – IMUNISASI YANG AMAN