Anda di halaman 1dari 64

KEGAWATAN

RESPIROLOGI ANAK

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FK UNDIP
STANDAR KOMPETENSI
• Mampu melakukan tatalaksana kegawatan
dibidang Respirologi anak

KOMPETENSI DASAR
• Mampu melakukan tatalaksana kegawatan
respirasi dan terapi oksigen
• Mampu melakukan tatalaksana Serangan Asma
• Mampu melakukan tatalaksana Pneumonia
• Mampu melakukan tatalaksana Sindroma Croup
KEGAWATAN RESPIRASI
• DARURAT : membutuhkan penatalaksanaan
yang segera (dalam hitungan detik)
• GAWAT : membutuhkan penatalaksanaan
yang tepat (dalam hitungan jam)
• GAWAT DARURAT : membutuhkan
pertolongan yang tepat dan segera, berbahaya
jika ditunda
CONTOH
• Seorang anak berusia 6 bulan datang ke IGD
dengan keluhan sesak napas berat, anak
tampak tidak sadar sebelumnya anak
mengalami aspirasi susu, dari pemeriksaan
fisik tampak sianosis

GAWAT DARURAT
Perlu penatalaksanaan segera (
AIRWAY-BREATHING-
CIRCULATION )
CONTOH
• Seorang anak berusia 1 tahun datang dengan
keluhan sesak napas, disertai dengan demam,
anak tampak sadar, napas spontan, terlihat
retraksi dinding dada.

GAWAT
Perlu penatalaksanaan yang
tepat ( AIRWAY-BREATHING-
CIRCULATION )
Tatalaksana Kegawatan Respirasi
Nilai dan
AIRWAY tatalaksana CLEAR

Nilai dan
BREATHING tatalaksana CLEAR

Nilai dan
CIRCULATION tatalaksana CLEAR

Tatalaksana
Lanjutan
Terapi Oksigen
• Oksigen  OBAT (punya potensi toksik)
• Tujuan terapi oksigen
– Mengatasi Hipoksia
– Mengurangi Work of Breathing
– Mengurangi Kerja Jantung
WHO 2016. Oxygen therapy for children
WHO 2016. Oxygen therapy for children
SERANGAN ASMA

• Adalah episode peningkatan yang progresif


(perburukan) dari gejala-gejala batuk, sesak
napas, mengi, rasa dada tertekan, atau
berbagai kombinasi dari gejala-gejala tersebut
• Mencerminkan gagalnya tata laksana asma
jangka panjang, atau adanya pajanan dengan
pencetus
Tujuan tata laksana serangan asma

• Mengatasi penyempitan saluran respiratori


secepat mungkin
• Mengurangi hipoksemia
• Mengembalikan fungsi paru ke keadaan
normal secepatnya
• Mengevaluasi dan memperbarui tata laksana
jangka panjang untuk mencegah kekambuhan
Penilaian derajat serangan asma

Asma serangan Serangan asma dengan


Asma serangan berat
ringan-sedang ancaman henti napas
• Bicara dalam kalimat • Bicara dalam kata • Mengantuk
• Lebih senang duduk • Duduk bertopang lengan • Letargi
daripada berbaring • Gelisah • Suara napas tak
• Tidak gelisah • Frekuensi napas terdengar
• Frekuensi napas meningkat
meningkat • Frekuensi nadi
• Frekuensi nadi meningkat
meningkat • Retraksi jelas
• Retraksi minimal • SpO2 (udara kamar) <
• SpO2 (udara kamar): 90 90%
– 95% • PEF < 50% prediksi atau
• PEF > 50% prediksi atau terbaik
terbaik
Pasien risiko tinggi
Pasien dengan riwayat:
• Serangan asma yang • Kunjungan ke UGD atau
mengancam nyawa perawatan rumah sakit (RS)
• Intubasi karena serangan karena asma dalam setahun
asma terakhir
• Pneumotoraks dan/atau • Tidak teratur berobat sesuai
pneumomediastinum rencana terapi
• Serangan asma berlangsung • Berkurangnya persepsi tentang
dalam waktu yang lama sesak napas
• Penggunaan steroid sistemik • Penyakit psikiatrik atau
(saat ini atau baru berhenti) masalah psikososial.
• Alergi makanan
Steroid sistemik (oral atau parenteral) perlu diberikan pada
awal tatalaksana meskipun pada penilaian awal
serangannya ringan sedang
Tahapan tata laksana serangan asma

Di rumah Di rumah sakit


Tata laksana serangan asma di rumah (1)

• Oleh pasien atau keluarga dengan pendidikan


cukup dan riwayat terapi teratur
• Inhalasi β2-agonis kerja pendek 2 kali  respon
tidak baik  dokter
• Tidak boleh tata laksana di rumah, harus segera
dibawa fasyankes, bila:
– Risiko tinggi
– Sesak berat
Tata laksana serangan asma di rumah (2)

Berikan inhalasi β2-agonis kerja pendek


Via nebulizer Via MDI + spacer
• Berikan 2-agonis kerja • Berikan serial β2 agonis kerja
pendek, lihat responsnya  pendek via spacer dengan
dosis: 2 – 4 semprot
gejala menghilang  cukup • Berikan satu semprot diikuti 6
diberikan satu kali – 8 tarikan napas, lalu
• Jika gejala belum membaik diberikan semprotan
dalam 30 menit  ulangi berikutnya dengan siklus yang
sama
pemberian sekali lagi • Jika membaik dengan dosis 2-4
• Jika dengan 2 kali pemberian semprot, inhalasi dihentikan.
2-agonis kerja pendek via • Jika gejala tidak membaik
nebuliser belum membaik  dengan dosis 4 semprot,
segera bawa ke fasyankes segera bawa ke fasyankes
Efektivitas pemberian 2 agonis kerja pendek
via MDI + spacer

Pemberian 2-agonis kerja pendek via MDI dan spacer


mempunyai efektivitas yang sama dengan pemberian via
nebulizer, dengan catatan:
 Pasien tidak dalam serangan asma berat atau ancaman
henti napas
 Pasien bisa menggunakan MDI dengan spacer
 Sebaiknya menggunakan spacer yang baru atau
sebelumnya dicuci dengan air deterjen dan dikeringkan
di udara kamar
 Bila tidak tersedia spacer, bisa digunakan botol plastik
500 ml sebagai pengganti spacer
Tata laksana serangan asma di fasyankes (1)
Tata laksana serangan asma di fasyankes (2)

Bila tidak tersedia obat-obatan lain, ADRENALIN untuk asma yang berhubungan dengan anafilaksis
dan angioedema, dosis 10 ug/kg (0,01 ml/kg adrenalin 1:1.000), maksimal 500 ug (0,5 ml)
Tata laksana serangan asma di fasyankes & RS/UGD (1)
Tata laksana serangan asma di fasyankes & RS/UGD (2)
**Pilihan steroid untuk serangan asma

Nama Generik Sediaan Dosis

tablet 4 mg 0,5−1 mg/kgBB/hari


Metilprednisolon
tablet 8 mg tiap 6 jam

Prednison tablet 5 mg 0,5−1 mg/kgBB/ hari - tiap 6 jam

Metilprednisolon vial 125 mg 30 mg dalam 30 menit (dosis tinggi)


suksinat injeksi vial 500 mg tiap 6 jam
Hidrokortison- vial 100 mg
4 mg/kgBB/kali - tiap 6 jam
suksinat injeksi
Deksametason 0,5−1 mg/kgBB – bolus, dilanjutkan 1
ampul
injeksi mg/kgBB/hari diberikan tiap 6−8 jam
Betametason injeksi ampul 0,05−0,1 mg/kg BB - tiap 6 jam
KASUS
Seorang anak berusia 6 bulan, 8 kg datang ke Puskesmas
dengan keluhan sesak napas. Keluhan dirasakan sejak 2
hari yang lalu disertai demam tinggi, sebelumnya anak
batuk pilek selama 3 hari. Anak tampak sesak dan tidak
seaktif biasanya, makan minum terganggu. Dari PF
didapatkan RR 52 x/menit, nadi 120 x/menit, suhu 39 C.
keadaan umum anak apatis, retraksi subcostal (+)

PNEUMONIA???
DEFINISI
Inflamasi parenkim paru
Penyebab

Infeksi
Non Infeksi
GEJALA KLINIS

Batuk /Pilek
Demam Tinggi
Napas Cepat
Sesak Napas
Malas Makan Minum
Letargis
Sianosis
Simple Clinical Signs of Pneumonia (WHO)

Fast breathing (tachypnea)

Respiratory thresholds
Age Breaths/minute
< 2 months 60
2 - 12 months 50
1 - 5 years 40

Chest Indrawing
(subcostal retraction)
Guideline WHO
(2014)
Revised WHO classification and treatment of childhood pneumonia at health facilities
• EVIDENCE SUMMARIES •
2014
SETIAP ANAK YANG DATANG BEROBAT/PERIKSA
KENALI & TENTUKAN
ADA TIDAKNYA TANDA BAHAYA

TANDA
BAHAYA

Anak TIDAK MAU makan dan minum


Muntah terus menerus
Kejang
Letargis atau penurunan kesadaran
Stridor saat anak tenang
Gizi buruk
ANAK
BATUK PILEK

Ada Tanda Bahaya ??

TIDAK YA
Napas cepat? Tarikan dinding dada
bagian bawah?

TIDAK YA
BUKAN
PNEUMONIA
PNEUMONIA
ANAK
BATUK PILEK

BUKAN
PNEUMONIA
Influenza
ISPA
Alergi

Tatalaksana

1. Jika demam (suhu>38C)  Parasetamol 10 mg/kgBB bisa diulang tiap 4 jam


2. Istirahat yang cukup
3. Banyak makan dan minum
4. Vitamin hanya jika perlu
5. Antibiotika HANYA jika curiga penyebabnya bakteri (20% kasus)
6. Observasi gejala harian
7. Rawat di Rumah
Bacterial or Viral
C
E
N
T
O
R

S
C
O
R
E SKOR ≥ 4  TERAPI ANTIBIOTIKA
ANAK
BATUK PILEK

PNEUMONIA

NAPAS CEPAT RETRAKSI


Tatalaksana Tatalaksana
1. RAWAT INAP
1. Amoksisilin ORAL 2. Oksigen 2 l/menit
• Dosis tinggi  40 mg/kgBB 3. Infus cairan maintenance
setiap 12 jam  selama 3 hari 4. Injeksi Antibiotika
• Dosis biasa  25–50 • Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dibagi
mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dalam 4 dosis
dosis  selama 5 hari • Jika dalam 1-2 hari TIDAK ada
2. Jika demam  parasetamol perbaikan injeksi ditambah
3. Istirahat, Banyak makan dan minum • Gentamisin 7,5 mg/kgBB/hari dosis
4. Observasi gejala harian tunggal
5. Rawat di Rumah 5. Parasetamol oral
MONITORING
SEGERA KONTROL
• PERAWATAN RUMAH JIKA ADA
1. Mengawasi tanda bahaya
2. Keluhan membaik atau tidak
3. Aktivitas anak membaik atau tidak
4. Makan minum
5. Menghindari faktor risiko
6. KIE

Batuk karena ISPA yang disebabkan oleh virus dapat bertahan 1-2 minggu
Batuk karena alergi jika faktor risiko tidak diatasi akan berulang
Monitoring rawat inap
1. Evaluasi klinis dan saturasi, jika saturasi oksigen > 92%
dalam 2-4 jam  oksigen turunkan bertahap menjadi 1
liter/menit  jika saturasi tetap > 92% sesak berkurang
dalam 4-6 jam  oksigen diturunkan menjadi ½
liter/menit. Jika dalam pengawasan oksigen < 90% dapat
dinaikkan menjadi 3 liter/menit evaluasi berkala sampai
klinis dan saturasi membaik
2. Infus cairan maintenance  Kristaloid/Kristaloid+D5 5
tetes/menit (tetesan minimal untuk BB > 5 kg) kalau BB<5
kg pakai tetesan mikro dengan tetesan 5-10 tpm
Pada tahap ini
pertimbangkan cek
laboratorium & X Foto
Thoraks

3. Antibiotika  evaluasi klinis jika demam membaik dalam


2-3 hari  teruskan antibiotika. Jika dalam 2-3 hari tidak
membaik antibiotika ditambah Gentamisin 7,5
mg/kgBB/hari dosis tunggal  evaluasi sampai hari ke 5-
7 jika tetap tidak membaik  RUJUK
4. Parasetamol diberikan kalau perlu, jika suhu > 38 C
5. Makan minum seperti biasa  Usahakan lebih banyak
makan dan minum
ANAK
BATUK PILEK

PNEUMONIA BERAT

Demam tinggi, sesak napas, takipnea, retraksi,


desaturasi <90%, anak tampak letargis, lemah,
tidak mau makan dan minum

Tatalaksana
1. RAWAT INAP
2. Oksigen 2 l/menit
3. Infus cairan maintenance
4. Injeksi Antibiotika Kombinasi
• Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis (+) Gentamisin 7,5
mg/kgBB/hari dosis tunggal  evaluasi klinis
5. Cek Laboratorium darah rutin, X-foto thoraks jika perlu
6. Parasetamol oral
Monitoring rawat inap
1. Evaluasi oksigen sama seperti Pneumonia dengan
pemantauan lebih ketat
2. Infus cairan maintenance  sama
3. Injeksi Antibiotika Ampisilin Gentamisin evaluasi klinis dan
saturasi  jika dalam 2-3 hari tidak ada perbaikan 
RUJUK
PERBAIKAN KLINIS
HARI PERAWATAN
GEJALA
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Demam
Sesak napas
Takipnea
Retraksi
Letargis
Sianosis
Batuk
Pilek
SINDROMA CROUP
What is Croup?
• Croup, also known as “laryngotracheo-
bronchitis”
• Clinical syndrome of a hoarse voice, barking
cough and inspiratory stridor.
• Usually caused by a viral infection of the upper
airway.
• Most common  parainfluenza 1 and 2 and
respiratory syncytial viruses.
• Affects children between 6 and 36 months
Terima Kasih
SKENARIO KASUS
KASUS
Seorang anak berusia 6 bulan, 8 kg datang ke Puskesmas
dengan keluhan sesak napas. Keluhan dirasakan sejak 2
hari yang lalu disertai demam tinggi, sebelumnya anak
batuk pilek selama 3 hari. Anak tampak sesak dan tidak
seaktif biasanya, makan minum terganggu. Dari PF
didapatkan RR 52 x/menit, nadi 120 x/menit, suhu 39 C6%,
SpO2 86%. Keadaan umum anak rewel, retraksi subcostal
(+), auskultasi paru normal

DIAGNOSIS ??
TEMUAN KLINIS
Anak usia 6 bulan, BB 8 kg. Keluhan utama Sesak napas

ANAMNESIS PEMERIKSAAN FISIK


• Demam tinggi • RR 52 x/mnt (Takipnea)
• Batuk pilek • Suhu 39 C (Demam)
• Sesak napas • SpO2 86% (desaturasi)
• Penurunan aktivitas • Rewel
• Makan minum terganggu • Retraksi subcostal

DIAGNOSIS ??
??
ANAK
BATUK PILEK

PNEUMONIA

NAPAS CEPAT RETRAKSI


Tatalaksana Tatalaksana
1. RAWAT INAP
1. Amoksisilin ORAL 2. Oksigen 2 l/menit
• Dosis tinggi  40 mg/kgBB 3. Infus cairan maintenance
setiap 12 jam  selama 3 hari 4. Injeksi Antibiotika
• Dosis biasa  25–50 • Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dibagi
mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dalam 4 dosis
dosis  selama 5 hari • Jika dalam 1-2 hari TIDAK ada
2. Jika demam  parasetamol perbaikan injeksi ditambah
3. Istirahat, Banyak makan dan minum • Gentamisin 7,5 mg/kgBB/hari dosis
4. Observasi gejala harian tunggal
5. Rawat di Rumah 5. Parasetamol oral
TATALAKSANA
• Oksigen Nasal 2 liter/menit
Evaluasi saturasi 2- 4 jam
- Jika > 92 %  turunkan oksigen bertahap
- Jika saturasi tetap  pertahankan 2 liter/menit
- Jika saturasi < 85%  naikkan oksigen 3 liter/menit
Evaluasi 4-6 jam (pada tahap ini evaluasi gejala
diperlukan secara kontinyu menilai tanda bahaya
ataupun perburukan klinis)
• Pasang infus
Jenis cairan : anak sulit makan minum  utamakan
cairan Dekstrose + NaCL, kalau tidak ada, boleh
kristaloid RL/NaCl (hindari penggunaan D5% saja)
Kecepatan tetesan : maintenance 5 tetes/menit
(480/20/5 tpm makro)
pedoman tetesan
1 cc = 15 tetes makro = 60 tetes mikro

Tetesan minimal 5 tpm untuk makro dan mikro 


untuk mempertahankan line tetap terbuka
Kebutuhan cairan pada anak
menurut Holiday Segar
Berat Badan (Kg) Kebutuhan per-jam Kebutuhan dalam 24 jam
< 10 4 mL/Kg 1000 mL/Kg
40 + 2 mL/Kg 1000 + 50 mL/Kg
10 - 20 untuk setiap kilogram kenaikan untuk setiap kilogram kenaikan
berat badan diatas 10 Kg berat badan diatas 10 Kg
60 + 1 mL/Kg 1500 + 20 mL/Kg
> 20 untuk setiap kilogram kenaikan untuk setiap kilogram kenaikan
berat badan diatas 20 kg berat badan diatas 20 kg
Kebutuhan tersebut pada keadaan NORMAL
Kebutuhan meningkat pada keadaan demam, dehidrasi, syok
Kebutuhan menurun pada keadaan edema, gagal jantung berat
Kebutuhan cairan pada kasus
• Berat badan 8 kg  formula holiday segar  8 x 100
ml/hari  800 ml
• Faktor koreksi  demam (setiap kenaikan 1 C = cairan
naik 12%)  butuh tambahan 24% dari kebutuhan
dasar = 800 + 192 ml = 992/hari
• Dengan tetesan maintenance = 480 /hari
membutuhkan asupan 992- 480 = 512 ml (kebutuhan
ini harus dapat terpenuhi peroral, jika kemungkinan
tidak dapat dipenuhi NAIKKAN tetesan)
• Antibiotika Injeksi
Rekomendasi WHO antibiotika tunggal Amoksisilin atau Ampisilin
Karena kemungkinan intake sulit berikan INJEKSI pilihan amoksisilin atau
ampisilin
dosis Amoksisilin injeksi : 25 -50 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis
dosis Ampisilin injeksi : 100 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis

PADA KASUS
Injeksi Ampisilin IV 200 mg/tiap 6 jam ATAU
Injeksi Amoksisilin IV 100 mg/8 tiap 8 jam

Evaluasi Gejala klinis dalam 2-3 hari jika perbaikan demam turun, sesak berkurang 
antibiotika dilanjutkan sampai 5-7 hari (pada periode ini jika intake baik boleh peroral)
Jika demam menetap, sesak napas masih ada  antibiotika ditambah injeksi Gentamisin
7,5 mg/kgBB/hari dosis tunggal  60 mg dosis tunggal IV (pemberian gentamisin
memerlukan pemantauan fungsi ginjal)
• Parasetamol
hanya jika suhu diatas 38 C
dosis 10 – 15 mg/kgBB perkali  pemberian dapat
diulang setiap 4 jam

• Dietetik
ASI tetap diberikan
sudah periode weaning  berikan bubur susu satu hari
sekali (sesuaikan dengan panduan weaning)
kebutuhan ASI + makanan  jumlah cairan minimal 512
ml (pertahankan kebutuhan kalori dan protein sesuai
dengan RDA)
TATALAKSANA TAMBAHAN
• KIE
• Penatalaksanaan tambahan yang belum ADA
bukti ilmiah (bahkan beberapa bisa
membahayakan)
1. Nebulisasi beta agonis
2. Kortikosteroid
3. Pengencer dahak
4. Vitamin
5. Anti histamin

Anda mungkin juga menyukai