Anda di halaman 1dari 48

MIKOSIS PROFUNDA

Dr. Dr. R. Pamudji, Sp.KK, FINSDV


MIKOSIS PROFUNDA
1. Mikosis Subkutis
• Sporotrikosis
• Misetoma (maduramycosis, madura foot)
• kromomikosis
2. Mikosis Sistemik
• Histoplasmosis
• Blastomikosis
• kriptokokosis
MIKOS IS PROFUNDA
Definisi:

• Infeksi jamur yang menyerang tubuh bagian


dalam, tidak hanya menyerang kulit dan
jaringan subkutan
• Jarang
• Kronik residif
MIKOS IS PROFUNDA
Diagnosis Banding:
• TBC kutis
• Morbus hansen
• Sifilis
• Frambusia
• Sarkoidosis
• Pioderma
• Keganasan/ karsinoma epidermoid
MIKOS IS PROFUNDA
Laboratorium:
1. KOH 10-20%
2. Biakan, mempelajari:
• Ukuran
• Warna
• Morfologi koloni (flat, raised, berkelompok)
• Struktur hifa
• Konidiospora
• Pola lipatan
3. Biopsi histopatologi
4. Imunologi
MISETOMA

• Terminologi:
– Myce: jamur
– Toma: tumor
• Definisi: penyakit infeksi jamur kronik pada jaringan
subkutan yang dapat meluas sampai ke fascia, otot,
dan tulang sehingga menyebabkan pembengkakan dan
deformitas
• Sejarah:
– pertama kali dilaporkan di Madras ?(1842) oleh dr John
Corll  “Maduro foot”
– Sekarang penyakit ini tidak hanya ditemukan di Madras
dan juga tidak hanya mengenai kaki sehingga
penamaannya adalah mycetoma
Epidemiologi

• Lebih banyak di daerah rural


• Laki-laki lebih sering dibandingkan perempuan
• Usia 20-50 tahun
• Daerah tropis dan subtropis
• Sosial ekonomi yang kurang (tidak pakai alas
kaki, higiene jelek)
Perjalanan penyakit sumber penularan

• Umumnya jamur penyebab  di tanah kecuali


Actinomyces israelli
• Cara infeksi melalui trauma  inokulasi lebih
sering di kaki dan ekstremitas bawah
• Asymptomatic swelling, small, makin lama makin
membesar dan melunak akhirnya pecah
mengeluarkan granul mengandung elemen jamur,
membentuk fistula, infeksi meluas dan lebih
dalam mengenai fascia, otot dan tulang
• Nyeri (-), demam (-), adenopati (-), sistemik(-)
Gambaran Klinis

• Bortryomycosis oleh true bacteria


• Actinomycotic mycetoma oleh Actinomyces
nocardia, Streptomyces (bacteria like fungi)
• Eumycotic mycetoma oleh true fungi, madurelli,
cephalosporum, phialophora
• Trias mycetoma:
– Tune faction: tumor
– Multiple fistula deformitas
– Granule /granis
Diagnosis

1. Gambaran klinis khas: trias mycetoma


2. Laboratorium penunjang
– Sediaan basah (KOH), granul aseomycetoma, hifa ?
3. Biakan/kultur : SDA + antibiotik
BHI (Brain Heart Infusion)
4. PA:
– granul di bagian tengah granulomatosa
– Granul/granis bentuk bulat,oval, seperti bulan sabit
Gambar histopatologi Mycetoma

Sumber: Hay RJ. Deep fungal infection. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI,
Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick’s Dermatology in General
Medicine. 8th ed. New York: McGraw-Hill Companies Inc; 2012.p.2312-28
TERAPI

• Tergantung penyebab dan stadium


• Ketokonazol
• Itrakonazol
• Griseofulvin
• Amputasi
SPOROTRIKOSIS
Definisi:
• Infeksi jamur kronik pada kulit dan subkutis
• Etiologi: Sporotrichium schenkii

Sinonim = Rose gardener’s disease


Kontaminasi duri mawar sebagai faktor penting infeksi sporotrikosis.
SPOROTRIKOSIS
Epidemiologi :
Negara tropis, Iklim panas dan dingin.

Meksiko, Brazil dan Afrika Selatan >>>

Jamur tumbuh di sayuran yang mebusuk ≈ debris tanaman, daun, dan


kayu.

Pekerja jerami, tukang kebun, pekerja hutan >>>

Usia dewasa >>>


♂> ♀
15
SPOROTRIKOSIS
Perjalanan Penyakit :
LUKA/ TRAUMA

PAPUL

MENJALAR SEPANJANG SALURAN LIMFE/ TIDAK HARUS


MELIBATKAN KGB

SALURAN LIMFE MENGERAS DAN MEMBENTUK ARKUS YANG MELEKAT DI


KULIT

16
SPOROTRIKOSIS
Gambaran Klinis:

1. Tipe limfokutan >>>>>


2. Fixed cutaneous sporotricosis
3. Sporotrikosis diseminata

17
SPOROTRIKOSIS
1. Tipe limfokutan:

• Paling sering>>>
• Infeksi primer pada ekstremitas
• Trauma  papul merah  pustul 
nodul lekat pada kulit  Nekrotik 
Sporotrichosis chancre (lesi primer)
• Meluas sepanjang limfe 
“RANTAI NODUS SUBKUTAN”

18
SPOROTRIKOSIS
1. Tipe limfokutan:

19
SPOROTRIKOSIS
2. Fixed Cutaneous Sporotrichosis:
• Terbatas di tempat inokulasi
• Tidak melibatkan KGB
• Manifestasi klinis bervariasi:
 Papul infiltratif
 Pioderma
 Ulkus dengan krusta tebal
 Plak verukosa dan psoriasiformis
 Predileksi: wajah, leher, badan
20
SPOROTRIKOSIS
2. Fixed Cutaneous Sporotrichosis:

21
SPOROTRIKOSIS
2. Sporotrikosis diseminata
• Jarang
• Lesi awal: inokulasi subkutan/ inhalasi
• Menyebar melalui pembuluh darah

22
SPOROTRIKOSIS
2. Pemeriksaan penunjang
Laboratorik
• Spesimen eksudat
• Ragi dalam jumlah kecil.

Media agar Sabouraud.


• Biakan primer
Bentukhifa; koloni putih padat semakin gelap dengan
bertambahnya usia.
• Mikroskopik
Hifa produksi konidia oval kecil dan triangular pada hifa
tertentu atau miselium.
• Imunologi sporotrikosis langsung
• Uji sporotrikosis
23
SPOROTRIKOSIS
2. Pemeriksaan penunjung

Sporothrix schenckii from culture on SDA at 25∘C. Seen Yeast phase of Sporothrix schenckii
here is delicate branching, mold form with pyriform isolate from culture on brain heart
conidia in characteristic flower-like arrangement or
sleeve-like pattern (stain-lactophenol cotton blue ×40).
infusion agar at 37∘C
24
SPOROTRIKOSIS
2. Pemeriksaan penunjang
PemeriksaanHistopatologik

• Spesimen: BIOPSI kulit

• Inflamasi supuratif dan granulomatosa di dermis & subkutan.


• Organisme penyebab jarang terlihat.
• Pewarnaan antibodi flouresens cigar-shaped ragi.
• Sel jamur dikelilingi rumbai refraktil eosinofil, badan asteroid  gambaran
karakteristik.

25
SPOROTRIKOSIS
2. penatalaksanaan

Anti Jamur oral  Itrakonazol, terbifine & flukonazol.

AlternatifIamasi
Itrakonazol 200 mg/hari. Amfoterisin B 3-4
Terbinafine 250 mg/hari. GAGAL mg/kg/hari

Alternatifkedua.

Larutan jenuh (potassium iodida) jenuh 3x 5 tetes/hari selama 3-4 pekan. 


dinaikkan jadi dosis toleransi 3x30 tetes
Lakutan Kalium ioddida
26
KROMOBLASTOMIKOSS
(KROMOMIKOSIS)
KR OMOBLAS TOMIKOS IS
(KR OMOMIKOS IS )
Definisi:
• Infeksi jamur kronik pada kulit dan subkutan
yang berbentuk nodul verukosa yang
disebabkan golongan jamur Pigmented atau
berwarna gelap (Dematiaceous)
KR OMOBLAS TOMIKOS IS
(KR OMOMIKOS IS )
Definisi:
• Infeksi jamur kronik pada kulit dan subkutan
yang berbentuk nodul verukosa yang
disebabkan golongan jamur Pigmented atau
berwarna gelap (Dematiaceous)
KROMOBLASTOMIKOSIS
(KROMOMIKOSIS)

Jamur Pigmented (Dematiaceous)

Infeksi jamuk kronik pada kulit dan subkutis


implantasi di dermis dari lingkungan
inflamasi

dinding tebal
single cells/ cell custer( sklerotik atau musiform bodies)

Pseudoepitheliomatous Transepidermal elimination


hyperplasia of organisms
KROMOBLASTOMIKOSIS
Etiologi tersering:

• Dematiaceous
• Phialaphora verrucosa
• Fonsecaea pedrosoi
• Fonsecaea compactu,
• Wangiella dermatitidis
• Cladophialaphora carrionii
KROMOBLASTOMIKOSIS
Epidemiologi
• Daerah tropis, subtropis; rural
• Usia 30-50 tahun
• ♂ pedesaan >>> [petani, pekerja kayu]
• Sumber infeksi  kayu, tanaman, tanah
• F. Pedrosoi dan C. carrionii bersamaan dengan
infeksi mikosis subkutan
• Central and South America  sporadik
• Bisa juga Imported infection dari area nonendemis
KROMOBLASTOMIKOSIS
Manifestasi Klinis
• Gejala klinis bervariasi
• Trauma atau inhalasi
• Lesi awal di kaki, tungkai bawah >>> wajah, lengan bawah, bahu, trunkus
atas, bokong , UNILATERAL, berupa warty papule (kembang kol)  slow
and locally  beberapa tahun  lesi berfusi  plak verukosa, coklat,
merah-ungu dengan tepi meninggi, perabaan keras, kering, kasar, tidak
sakit; Terdapat lesi satellt
• Fibrosis  penyumbatan limfe  edem
• Tidak mengenai otot
• Pecah  discharge berbau
• Gejala lain: plaque-like dengan bagian tengah atrophic
• Komplikasi : limfedema, elefantiasis, KSS
KROMOBLASTOMIKOSIS
Manifestasi Klinis

Plak verukosa, dikelilingi halo Hiperkeratosis dengan pigmentasi Tampak dari


eritem di regio cruris posterior dekat
Chronic verrucose chromoblastomycosis of the foot due to Phialophora verrucosa.
Note tissue hyperplasia characterized by the formation of verrucoid, warty cutaneous
nodules raised 1 to 3 cm above the skin surface. (Courtesy Dr R. Crosby, Adelaide, S.A.).
Chronic verrucous chromoblastomycosis of the hand due to Cladophialophora carrionii.
Note tissue hyperplasia forming a white verrucoid cutaneous lesion. In Australia,
chromoblastomycosis due to C. carrionii occurs mostly on the hands and arms of timber and
cattle workers in humid tropical forests. (Courtesy Mr J. Kennedy, Toowoomba, Qld.).
KROMOBLASTOMIKOSIS
Diagnosis banding
1. Podoconiosis
2. Chronic tropical lymphedema with hyperplasia
(mossy foot) ec reaksi terhadap mikropartikel tanah
3. Tuberculosis
4. Blastomycosis
KROMOBLASTOMIKOSIS
Uji Laboratorik
1. Kerokan kulit dari permukaan lesi terutama pada pada bercak
hitam kecil menggunakan larutan KOH sclerotic atau muriform
fungal cells
2. Biakan (SDA + antibiotik  3 pekan)
• Koloni coklat-hitam dengan permukaan downy (berambut,
beludru)
• Sulit untuk membedakan spesias berdasarkan mekanisme
sporulasi
Skin scrapings from a patient with chromoblastomycosis mounted in 10%
KOH and Parker ink solution showing characteristic brown pigmented,
planate-dividing, rounded sclerotic bodies.
Microscopic morphology of Cladophialophora carrionii showing typical
Cladosporium type conidial ontogeny with elongate conidiophores producing
branched acropetal chains of smooth-walled conidia.
Cladophialophora carrionii on Sabouraud's dextrose agar. Colonies are slow growing,
reaching 3-4 cm in diameter after 1 month, with a compact suede-like to downy surface.
Colonies are olivaceous-black in colour and have well defined margins.
Phialophora verrucosa on Sabouraud's dextrose agar. Colonies are slow growing,
initially dome-shaped, later becoming flat, suede-like and olivaceous to black in
colour
Microscopic morphology of Phialophora verrucosa showing typical Phialophora type
conidial ontogeny with well-formed, flask-shaped or elliptical phialides having distinctive
widely flaring, pigmented collarettes. The single-celled phialoconidia are produced in
basipetal succession and aggregate in slimy heads at the apices of the phialide.
KROMOBLASTOMIKOSIS
Uji Laboratorik
3. Biopsi histopatologik
• Epidermis: hiperplasia
• Dermis:
• Infiltrat Mixed granulomatous response  small neutrophilic
abscesses; brown pigmented cells; single or double septum
dan dinding sel yang tebal
• Sel raksasa (giant cell)
• Tidak ada nekrosis perkijuan (kaseosa)
• Subkutan:
• Abses, fibrosis, reaksi granulomatosa, histiosit, giant cell,
epiteloid, neutrofil >>
• muriform cells  tipikal
Chromoblastomycosis - Haematoxylin and eosin (H&E) stained sections showing characteristic
dark brown sclerotic cells, which divide by binary fission and not by budding. Note all agents
of chromoblastomycosis form these sclerotic bodies in tissue.
Chromoblastomycosis - Haematoxylin and eosin (H&E) stained sections showing
characteristic dark brown sclerotic cells, which divide by binary fission and not by
budding. Note all agents of chromoblastomycosis form these sclerotic bodies in
tissue.
KROMOBLASTOMIKOSIS
Komplikasi
• Limfedema,
• Elefantiasis,
• KSS
KROMOBLASTOMIKOSIS
penatalaksanaan
• Lama, beberapa bulan
• Terapi utama:
• Itrakonazol 200mg/hari
• Terbinafine 250mg/hari (lebih cocok untuk C. carrionii)
• Kasus ekstensif
• Amfoterisin B (>1mg/kg/hari)  kasus ekstensif
• Kombinasi amfoterisin B, flucytosine, itrakonazol, terbinafin
• Pembedahan  hanya terapi adjunctive setelah terapi medikamentosa
• Hati2 “lesi dapat menyebar akibat pembedahan”