Anda di halaman 1dari 32

KOMUNIKASI

TEMUAN
DAN
PENYUSUNAN
DRAF LHP

NIA AZURA SARI


11273203526
VIRA OCTARIANA
11273202848
TEORI KOMUNIKASI TEMUAN

a. Tujuan Pembicaraan Awal Tentang Daftar Temuan


Sebelum laporan hasil audit diterbitkan, auditor perlu mengkomunikasikan daftar temuan
audit beserta rekomendasinya dengan klien. Adapun tujuan dari pembicaraan awal mengenai temuan
tersebut adalah:
1. Konfirmasi temuan audit dengan klien
2. Mengetahui tanggapan klien atas daftar temuan audit
3. Menghindari keselahpahaman atau perbedaan interpretasi fakta
4. Memperkuat hubungan kemitraan antara tim audit dengan klien
Pengkomunikasian temuan audit dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:
1. Komunikasi pada laporan keuangan melalui laporan auditor
2. Komunikasi lain yang disyaratkan manajemen dan direktur
3. Komunikasi temuan dari other assurance service
b. Pihak – Pihak yang Terlibat Dalam Pembicaraan Awal
Tentang Daftar Temuan

Pembicaraan awal tentang daftar temuan audit melibatkan


pihak tim auditor, klien atau manajemen organisasi yang diaudit,
dan pihak-pihak lain yang berkaitan dengan hasil audit. Tim audit
terdiri dari seorang kepala subdirektorat audit atau kepala bidang
audit, seorang pengawas mutu audit, seorang pengendali teknis
audit, seorang ketua auditor, seseorang atau lebih auditor.
c. Materi Pembicaraan Awal tentang Daftar Temuan Audit
Materi pembicaraan awal tentang daftar temuan audit adalah
pemaparan temuan audit. Pemaparan temuan audit dapat dipaparkan
berdasarkan prioritas permasalahan atau berdasarkan unit organisasi.
Pemaparan temuan audit oleh auditor tersebut selanjutnya diikuti dengan
konfirmasi mengenai kebenaran temuan audit dengan pihak manajemen
atau klien. Berikutnya klien memberikan tanggapan terhadap temuan audit
beserta konfirmasi tentang temuan audit yang dipaparkan oleh auditor.
Selanjutnya tim audit dan klien berdiskusi tentang temuan audit,
menyamakan interpretasi data yang diperoleh tim audit.
Dalam menerbitkan laporan audit pada laporan keuangan, audior
dibutuhkan oleh standar profesional untuk mendiskusikan masalah-masalah
terkini dengan komite audit, atau individu yang memiliki level otoritas dan
tanggung jawab yang sama dengan komite audit, seperti direktur utama atau
pemilik.
Materi-materi yang dibahas dalam diskusi meliputi:
• Pengendalian internal
• Kebijakan akuntansi yang signifikan
• Pendapat-pendapat manajemen dan efisiensi akuntansi
• Pendapat audit yang signifikan
• Informasi lain yang ada pada audit laporan keuangan
• Ketidaksepakatan dengan manajemen
• Konsultasi dengan akuntan-akuntan yang lain
• Kesulitan-kesulitan yang muncul pada kinerja audit
d. Target / Hasil Pembicaraan Awal Tentang Daftar Temuan

Target dari pembicaraan tentang daftar temuan audit ini adalah


tercapainya kesepahaman tentang interpretasi data yang diperoleh tim
audit, dan persetujuan dari klien atas semua temuan audit yang diperoleh
auditor atau tim audit. Persetujuan klien atas semua temuan audit yang
diperoleh tim audit menunjukkan bahwa semua temuan audit yang ada
dalam daftar audit adalah objektif berdasarkan bukti yang cukup, kompeten
dan relevan, sehingga dapat dijadikan dasar untuk menyusun kesimpulan
dan rekomendasi yang layak dan memungkinkan untuk dilaksanakan.
Teori Penyusunan Draf
Laporan Hasil Pemeriksaan
a. Pengertian Kesimpulan Hasil Pemeriksaan
Kesimpulan hasil pemeriksaan memuat temuan audit, pernyataan auditor dan rekomendasi
auditor terhadap organisasi yang diaudit.
Laporan hasil audit atau pemeriksaan sebaiknya mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:
• Hal-hal yang masih menjadi masalah dan belum dapat diselesaikan sampai saat audit berakhir.
• Pengakuan terhadap prestasi kerja klien, hasil perbaikan yang telah dilaksanakan dan terutama bila
perbaikan ini diterapkan pada bagian lain.
• Rekomendasi tindak lanjut bila memang ada hal-hal yang perlu dilakukan perbaikan pada proses
kerja klien.
• Dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara pimpinan klien dan auditor internal mengenai hasil
temuan dan kesimpulan hasil audit maka perbedaan pendapat tersebut harus juga diungkapkan
dalam laporan hasil audit.
Laporan hasil audit harus ditinjau terlebih dahulu oleh pimpinan sistem pengendalian internal
organisasi sebelum laporan diterbitkan dan didistribusikan.
b. Kualitas Laporan Hasil Pemeriksaan
Kualitas laporan audit dilakukan untuk memverifikasi kesesuaian
dengan standar setelah melalui review bukti objektif, dalam pelaksanaan
audit.

Kualitas laporan audit yang dihasilkan auditor sangat bergantung


pada tim audit yang melakukan pelaksanan audit yang berkualitas.
Pelaksanaan audit yang berkualitas membutuhkan dukungan kemampuan
dan keahlian auditor yang bertugas dalam menerapkan prosedur-prosedur
audit yang ditetapkan sesuai dengan SPAP. Penerapan prosedur-proseur
tersebut kemudian diturunkan dalam pembuatan kertas kerja audit sebagai
pendukung penyusunan laporan hasil audit yang berkualitas.
Sistem Komunikasi Temuan
Hasil Pemeriksaan
Komunikasi antara tim audit atau auditor dengan klien dapat
dibangun secara satu arah (tim auditor ke klien) maupun dua arah (tim
auditor ke kien dan klien ke tim auditor). Dalam pembicaraan tentang daftar
temuan, auditor perlu menerapkan keterampilan berkomunikasi dengan
baik. Dengan keterampilan komunikasi yang baik, pelaksanaan audit akan
berjalan secara efektif dan efisien, dalam hal:
• Memperoleh data dan informasi yang diperlukan dalam pengujian audit.
• Mengendalikan dan mengoordinasikan kegiatan-kegiatan tim audit.
• Meningkatkan kualitas audit.
• Memperbaiki citra auditor internal.
a. Sistem Satu Arah
Sistem komunikasi satu arah mengisyaratkan penyampaian pesan
dari searah atau dari satu pihak (seorang atau kelompok) kepada pihak
lainnya (seorang atau kelompok) baik secara langsung maupun melalui
media. Sistem satu arah menunjukkan sikap aktif dari salah satu pihak yang
ditanggapi pasif oleh pihak yang lain. Dalam pembicaraan awal tentang
daftar temuan audit sistem komunikasi satu arah terjadi saat auditor atau tim
audit memaparkan hasil temuan audit kepada klien, namun respon klien
cenderung pasif seperti menghindar dari pertemuan atau diskusi dengan
auditor, dan tidak menanggapi temuan audit yang diperoleh auditor.
b. Sistem Dua Arah
Komunikasi yang berlangsung bersifat dua arah dan ada dialog,
dimana setiap partisipan memiliki peran ganda, dalam arti pada satu saat
bertindak sebagai komunikator, pada saat yang lain bertindak sebagai
komunikan. Sistem dua arah dalam pembicaraan awal tentang daftar
temuan terjadi saat auditor dan klien sama-sama berperan aktif dalam
pembicaraan dan diskusi tentang daftar temuan audit yang diperoleh
auditor. Klien secara aktif memberikan tanggapan atas temuan audit.
Tanggapan yang diberikan dalam bentuk persetujuan ataupun penolakan.
Tanggapan penolakan atas temuan audit harus didukung dengan bukti atau
dokumen dari klien. Sedangkan persetujuan atas temuan audit dituangkan
dalam Pernyataan Persetujuan Daftar Temuan.
Sistem Penyusunan Draf
Laporan Hasil Pemeriksaan
Sebuah laporan audit yang baik akan memiliki karakteristik sebagai berikut:
• Mengemukakan hal yang menurut pertimbangan auditor cukup penting
untuk dilaporkan.
• Pelaporan diselesaikan dalam waktu yang tepat dan disusun sesuai
dengan minat serta kebutuhan penerimaan laporan.
• Ketepatan laporan dan kecukupan bukti pendukung.
• Bersifat meyakinkan pihak penerima laporan, khususnya terkait temuan,
kesimpulan dan rekomendasi.
• Laporan hasil audit harus menyajikan temuan-temuan secara objektif
tanpa prasangka, sehingga memberikan perspektif yang tepat.
• Pelaporan harus disajikan sejelas dan sesederhana mungkin.
• Laporan pemeriksaan sebaiknya ringkas, tidak boleh terlalu banyak
dibebani rincian yang tidak secara jelas berhubungan dengan pesan
yang ingin disampaikan, karena hal ini dapat mengalihkan perhatian
pembaca. Yang perlu diperhatikan adalah keringkasan yang tidak
informatif bukan suatu hal yang baik.
• Laporan hasil pemeriksaan harus lengkap.
• Laporan hsail audit harus disusun dengan nada konstruktif, sehingga
membangkitkan reaksi positif pembaca.
Laporan hasil audit disusun oleh ketua tim audit (atau oleh staf auditor yang
kemudian diperiksa oleh ketua tim audit), dan selanjutnya diserahkan kepada pengawas
audit (supervisor) untuk di-review. Proses dari konsep sampai diterima (ditandatangani oleh
ketua tim) dan diterima oleh supervisor lazimnya melalui suatu proses bolak-balik yang
kadang-kadang sampai beberapa kali putaran. Dalam proses tersebut sering kali digunakan
suatu formulir yang disebut lembar review untuk memudahkan koreksi/tambahan dan
sebagainya tanpa harus mencorat-coret konsep laporan hasil audit.
Adapun laporan hasil pemeriksaan itu sendiri akan terdiri dari beberapa elemen, yaitu :
• Kulit depan dan Halaman pertama
• Intisari hasil audit
• Daftar isi
• Ringkasan rekomendasi
• Uraian hasil audit, Temuan dan Rekomendasi
• Lampiran-lampiran
Siklus Komunikasi Temuan
Hasil Pemeriksaan

1. Pemaparan
Daftar
Temuan Audit

4. Kesimpulan
Pembicaraan 2. Konfirmasi
(Berita Acara dan diskusi
Hasil Audit)

3. Tanggapan
Auditee atas
Daftar
Temuan
Siklus Penyusunan Draf Laporan Hasil Pemeriksaan

Adapun rangkaian aktivitas yang membentuk siklus penyusunan pelaporan hasil audit adalah:

a. Ekspos hasil pemeriksaan meliputi:


• Paling lambat satu minggu setelah selesai melakukan pemeriksaan reguler, tim audit wajib
melakukan ekspos hasil pemeriksaan.
• Inspektur wilayah menyerahkan konsep laporan hasil pemeriksaan (LHP) tiga hari sebelum
dilaksanakan kegiatan ekspos kepada sekteraris inspektorat jenderal.
• Ekpos konsep laporan hasil pemeriksaan oleh tim pemeriksa dipimpin inspektur wilayah dengan
penyanggah terdiri dari para pejabat pengawas pemerintah, kelompok kerja bidang pengawasan,
kepala bagian dan kepala sub bagian terkait.
• Penyanggah dalam ekspos harus memenuhi kuorum (50%+1), bila tidak memenuhi kuorum,
ekspos pada kesempatan berikutnya dengan maksimal penundaan dua kali.
• Bagian evaluasi laporan pengawasan membuat notulen ekspos sebagai bahan perbaikan konsep
laporan hasil pemeriksaan yang harus dilaksanakan oleh tim pemeriksa.
b. Penyusunan laporan hasil pemeriksaan
Paling lambat lima belas hari setelah selesai
melakukan pemeriksaan reguler, tim pemeriksa wajib
menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan yang telah
diperbaiki sesuai hasil ekspos beserta nota dinas
inspektur wilayah kepada inspektur jenderal, konsep
nota dinas inspektur jenderal kepada menteri dan
petunjuk menteri kepada kepala daerah atau pimpinan
komponen.
Draft laporan hasil pemeriksaan disusun melalui tiga tahapan sebagai berikut:
1. Membuat Outline
Tujuan membuat outline adalah meletakkan ide-ide tentang laporan hasil
pemeriksaan dalam sebuah format laporan yang terorganisir. Hal-hal yang penting
hendaknya dikemukakan pada bagian awal dalam laporan, sehingga pembaca dapat
mengetahui dengan cepat hal-hal penting berkenaan dengan hasil pemeriksaan.
Informasi penting yang harus disajikan, terdiri dari:
• Pokok-pokok pengertian mengenai tujuan pemeriksaan, sasaran pemeriksaan, dan
lingkup pemeriksaan.
• Temuan penyimpangan dan pengaruhnya.
• Kriteria
• Sebab dan akibat
• Rekomendasi yang mengacu pada berita acara pemeriksaan.
2. Membuat Draf
Draf disusun dengan mengembangkan outline. Saat
penyusunan draf laporan, penyusun dapat menjelaskan,
menggambarkan dan memberikan argumentasi lengkap
tentang pemeriksaan dan hasil pemeriksaan. Setiap ide
penting yang dituliskan di outline akan menjadi paragraf dalam
laporan hasil pemeriksaan. Penulisan draf merupakan
pengembangan dari pokok-pokok pikiran utama yang sudah
ditulis dalam outline laporan sebelumnya. Penyusunan draf
pada tahap ini masih berupa susunan kalimat yang kasar atau
belum tertata sesuai tata bahasa yang berlaku.
3. Revisi
Merupakan tahap terakhir dari penyusunan laporan hasil
pemeriksaan. Draf laporan hasil pemeriksaan yang sudah tersusun pada
tahap revisi diperbaiki. Aktivitas utama pada tahap revisi ini adalah
membaca dan mengevaluasi draft dari sudut pandang pembaca. Pada
tahap revisi, penyusun laporan hasil pemeriksaan dapat menemukan dan
membetulkan kesalahan dalam draf laporan hasil pemeriksaan yang
sudah dibuat. Revisi dapat dilakukan berkali-kali untuk meyakinkan
bahwa informasi yang tersaji dalam laporan hasil pemeriksaan
merupakan informasi yang akurat, lengkap dan didukung dengan bukti
yang objektif dan memadai.
Bila penyusun belum membuat pengantar laporan hasil
pemeriksaan, pada tahap ini penyusun laporan dapat membuat
pengantar. Pengantar yang ditulis harus dapat mengantarkan pembaca
dan memberikan informasi mengenai isi yang tersaji dalam draf laporan
hasil pemeriksaan.
Siklus Tanggapan
Siklus tanggapan ini dimulai dengan pemberian tanggapan klien terhadap temuan
audit. Apabila temuan audit tersebut dianggap sesuai dengan kondisi organisasi yang
sebenarnya dan klien setuju dengan semua temuan audit yang dinyatakan dengan
penandatanganan lembar pernyataan persetujuan daftar temuan. Tanggapan persetujuan
atas daftar temuan audit tersebut juga dituangkan ke dalam Berita Acara Hasil Audit yang
memuat opini tim pemeriksa berdasarkan temuan audit yang didukung oleh kertas kerja
kerja, dan bukti audit yang objektif dan memadai.
Sedangkan, apabila klien memberikan penolakan atau keberatan atas temuan
audit harus disertai dengan alasan dan bukti pendukung penolakan atau keberatan. Pada
tahap pemberian tanggapan, klien dan auditor membuat komitmen untuk melakukan
perbaikan dan batas waktu pelaksanaan perbaikan tersebut.
a. Tanggapan dari Pejabat yang Bertanggung Jawab
Dalam pernyataan standar pelaporan tambahan keempat disebutkan
bahwa “Laporan hasil pemeriksaan yang memuat adanya kelemahan dalam
pengendalian internal, kecurangan, penyimpangan dari ketentuan peraturan
perundang-undangan, dan ketidakpatutan harus dilengkapi tanggapan dari
pimpinan atau pejabat yang bertanggung jawab pada entitas yang diperiksa
mengenai temuan dan rekomendasi serta tindakan koreksi yang
direncanakan”.
Tanggapan dari pejabat yang bertanggungjawab atas entitas yang
diperiksa meliputi beberapa hal, yaitu tentang kelemahan pengendalian
internal, kecurangan, penyimpangan terhadap ketentuan peraturan
perundang-undangan atau ketidakpatutan yang dilaporkan auditor dan
perbaikan yang direkomendasikan. Tanggapan tersebut harus dimuat dalam
laporan hasil pemeriksaan.
TEKNIK KOMUNIKASI PEMAHAMAN AUDITOR
ATAS OBJEK AUDIT
Auditor harus mengkomunikasikan dengan atasan
pengelola objek atau pemberi tugas audit tentang pemahamannya
terhadap berbagai program/aktivitas objek audit untuk
menghindari terjadinya kesalahpahaman.
Kebanyakan pendokumentasian dan proses perolehan
pemahaman diselesaikan bahkan sebelum auditor melakukan
audit. Studi awal yang dilakukan auditor mencakup penelaahan
atas kertas kerja tahun sebelumnya, temuan-temuan audit, bagan
organisasi, dan dokumen-dokumen lain yang akan membantu
untuk lebih memahami subjek audit.
Teknik Komunikasi Temuan
Hasil Pemeriksaan
Komunikasi selama pelaksanaan audit bertujuan untuk mengetahui
apakah tim audit:
• Melaksanakan program audit sebagaimana mestinya.
• Mengidentifikasi permasalahan yang dijumpai dalam audit, dan
• Mengatasi masalah yang dijumpai dalam audit.
Salah satu sarana komunikasi yang penting pada tahap ini adalah
kertas kerja audit. Karena dari kertas kerja audit dapat diketahui sejauh
mana pelaksanaan program kerja audit, permasalahan apa saja yang
dijumpai dalam audit, dan langkah-langkah apa yang telah ditempuh tim
untuk menyelesaikannya.
Komunikasi pada penyiapan konsep laporan hasil audit
dilakukan pada tahap penyiapan konsep laporan hasil audit
yang bertujuan, antara lain:
a) Untuk mencapai kata sepakat mengenai seluruh temuan
audit final.
b) Untuk memperoleh tanggapan dan persetujuan final dari
pengendali teknis bahwa seluruh temuan audit itu objektif
dan rekomendasi yang diberikan layak dan dapat
dilaksanakan.
c) Untuk memastikan bahwa kertas kerja audit telah disusun
secara memadai dan substansi kertas kerja auditnya cukup
sebagai bahan untuk menyusun laporan hasil audit.
Dalam tahap pembicaraan awal tentang daftar temuan audit di sini
yang lazim dilakukan adalah teknik presentasi dan diskusi.
a. Presentasi
Adalah penyampaian pesan berupa ide atau gagasan kepada
khalayak atau sekelompok orang. Teknik presentasi dengan matriks atau
chart daftar temuan audit dalam pembicaraan awal tentang daftar
temuan audit antara auditor dengan klien dilakukan dengan penjelasan
temuan audit berdasarkan slide presentasi matriks atau chart daftar
temuan audit yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Auditor harus dapat
menyajikan dan menjelaskan secara rinci temuan beserta fakta dan bukti
pendukungnya kepada klien. Apabila memungkinkan fakta dan bukti
pendukung temuan audit juga disajikan dalam presentasi, sehingga
tercipta presentasi yang tersusun secara sistematik dan menarik dalam
bentuk chart atau matriks.
b. Diskusi
Tujuan dari penerapan teknik diskusi dalam pembicaraan
awal tentang daftar temuan audit adalah agar tercapai
kesamaan pandangan dan kesepakatan tentang temuan audit
yang akhirnya menjadi dasar dalam penyusunan laporan hasil
audit.
Materi yang harus disiapkan dalam diskusi ini terutama
adalah daftar temuan audit. Materi utama dapat dilampiri
dengan materi pendukung yaitu fakta dan bukti pendukung
temuan audit. Materi tersebut dapat disajikan dalam bentuk
print out atau file presentasi. Materi diskusi harus disajikan
dengan jelas, lengkap, sistematis dan menarik agar dapat
dipahami dengan mudah maksud penyajian materi.
Model diskusi menurut sifatnya antara lain:
1) Controlled discussion, yaitu proses diskusi yang direncanakan dan diarahkan secara
tegas oleh salah satu pihak, dalam hal ini adalah auditor atau klien.
2) Buzz discussion, yaitu proses diskusi yang dilakukan oleh 2-6 (jumlah terbatas)
dengan cara informal dengan waktu yang pendek.
3) Case discussion, yaitu proses diskusi yang langsung membahas problem yang nyata
guna dianalisis secara terperinci, dengan memberi saran dan pemecahan masalah
atau keputusan.
4) Seminar, yaitu cara berdiskusi dengan menyajikan presentasi paper dan lain-lain,
untuk menumbuhkan daya kritis, memberikan pendapat dan beradu pendapat.
Tim audit atau auditor harus dapat memilih model diskusi yang sesuai. Selain itu
perencanaan waktu dan setting tempat diskusi merupakan hal yang juga tak kalah penting
untuk diperhatikan oleh tim audit atau auditor agar tujuan diskusi dalam pembicaraan
tentang temuan audit dapat tercapai.
Teknik Penyusunan Draf
Laporan Hasil Pemeriksaan
a. Teknik Rekap Hasil Pemeriksaan
Dalam pemeriksaan terhadap suatu kegiatan bila menggunakan
kuesioner maka hasil dari kuesioner tersebut perlu direkap untuk
mempermudah membaca hasilnya.
b. Teknik Penjumlahan Hasil Pemeriksaan
Kesimpulan hasil penilaian terhadap hasil pemeriksaan di suatu
kegiatan merupakan nilai rata-rata dari seluruh tahapan kegiatan,
dengan rumusan:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑠𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑡𝑎ℎ𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑔𝑖𝑎𝑡𝑎𝑛
𝑇𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑇𝑎ℎ𝑎𝑝𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑔𝑖𝑎𝑡𝑎𝑛
c. Teknik Penyesuaian Hasil Pemeriksaan
Hasil penilaian antara secara kuantitatif dan secara kualitatif
kemudian disesuaikan. Sehingga, dalam pembahasan hasil penilaian,
tidak hanya memaparkan atau menjelaskan hasil analisis statistik,
namun juga dapat menjelaskan faktor-faktor penyebab munculnya hasil
penelitian tersebut. Tidak hanya menjelaskan makna-makna angka,
tetapi juga makna dibalik angka.
d. Analisis Hasil Pemeriksaan
Hasil penilaian ini, selain secara kuantitatif dengan menggunakan
angka, sehingga suatu kegiatan mendapat penilaian sesuai parameter
yang diterapkan juga dapat dibuat penilaian kualiatif berdasarkan
penilaian dari pemeriksa/auditor yang kemudian dibuat beberapa catatan
atau rekomendasi.

Anda mungkin juga menyukai