Anda di halaman 1dari 31

OMPHALOCELE

By: Lisna Annisa Fitriana, S.Kep, Ners


DEFINISI
“Suatu kelainan atau cacat bawaan yang
disebabkan penutupan abdomen yang tidak
sempurna pada masa embrionik minggu ke
6 – 12 kehidupan janin.”
ETIOLOGI
 Hingga saat ini penyebab secara pasti belum diketahui
 Faktor pendukung
1. Faktor janin: Bayi prematur, hidramnion, kelainan kromoson, jejas
radiasi dan infeksi pada janin;
2. Faktor Ibu: Toksomia, penyakit hipertensi dan ginjal atau
keduanya, hipoksemia (penyakit jantung), gizi buruk, trauma fisik
dan psikologis, hiperinsuliemia dan usia ibu yang terlalu muda/tua
(ketidakseimbangan hormon);
3. Faktor Lingkungan: Tempat tinggal, radiasi dan zat-zat berracun;
4. Lain-lain: Kurangnya prenatal care, latar belakang pendidikan
dan sosial ekonomi yang rendah, perkawinan yang tidak sah,
perokok, peminum alkohol dan obat-obatan atau kopi, pengguna
obat-obatan secara menetap, over dosis atau penggunaan obat-
obatan yang tidak legal.
INSIDEN
Omphalocele terjadi pada 1 dalam 5000 –
10.000 kelahiran dan pada umumnya sering
dijumpai pada bayi laki-laki.
PATOFISIOLOGI
KLASIFIKASI
Berdasarkan diameter kantung (Defek Abdominal) dapat
dibedakan 2 macam omphalocele, yaitu:
1. Omphalocele Mayor
Diameter leher kantong, lebih besar dari 5 cm dengan
sebagian atau seluruh hepar mengalami herniasi dan
tali pusat biasanya melekat pada bagian bawah dari
penonjolan.
2. Omphalocele Minor
Diameter leher kantong kurang dari 5 cm, biasanya
umbilikal cord melekat pada puncak kantong.
MANIFESTASI KLINIS
 Dapat dideteksi pada saat ante natal yaitu dengan USG
dimana terlihat usus bebas dalam cairan amnion pada
minggu ke – 13
 Defek ciri-ciri dengan herniasi isi abdomen yang masih
diseluputi membran transluent yang terdiri dari peritoneum
dan selaput amnion
 Defek omphalocele dapat bervariasi dari 2 cm dampai ukuran
besar 6 cm
 7 dari 45 bayi dengan omphalocele mayor mempunyai
kelainan kromosom lethal prematuritas berat
 Sering didapatkan kelainan penyerta berupa kelainan traktus
interstinalis, cardiovaskuler, traktus urogenital, system
muskuloskeletal, dan susuan saraf pusat.
KOMPLIKASI
Infeksi atau sepsis, eviserasi intestinal
atresia, intrauterine, hipotermi, dan
hipovolemik.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 X-ray: BNO/Fhoto polos abdomen
 USG
 Kadar serum kalium
 Kadar elektrolit
 Analisa gas darah (PH, Pa O2, PaCO2, atau HCO3
untuk menunjukkan asibidosis atau BSE  infeksi)
 Jumlah darah komplit (sysmex)
 Bilirubin total (direct dan indirect)
 Protein total dan gula darah
 Urine dan faeses
PENATALAKSANAAN MEDIS
DAN PERAWATAN
A. Therapi Operatif
 Omphalocele minor: Primary Layered Closure
 Omphalocele mayor: Silastik Pouch (SILO) Closure
B. Tindakan Pendahuluan
 Daerah defek ditutup kassa steril yang dibasahi dengan
bethadine 10% sesudahnya jangan dibasahi dengan cairan
NaCl
 Dipasang NGT untuk drainase bebas dan dilakukan asprasi
tiap jam
 Beri TH/IV sesuai kebutuhan mungkin juga pemberian TPN
 Perawatan neonatus secara rutin dan konstan
 Pemberian antibiotik
PENATALAKSANAAN MEDIS
DAN PERAWATAN
C. Tindakan Konservatif
Bila dinding omphalocele utuh dan defek besar dilakukan
tindakan konservatif mengolesi dinding kantong bethadine,
setelah itu ditaburi nebacetine kemudian kassa steril dan
digantung
ASKEP
HYPOSPADIA
By: Lisna Annisa Fitriana, S.Kep, Ners
PENGERTIAN
“Hypospodia is a congenital anomaly in
which the actual opening of the urethral
meatus is ‘below’ the normal placement on
the glans of the penis.”
ETIOLOGI
 Penyebab yang pasti belum diketahui
dengan jelas
 Kemungkinan dapat dihubungkan dengan
faktor genetik, lingkungan, atau pengaruh
hormonal
INSIDEN
 Tahun 2002  Januari – Juli
Tercatat 14 pasien dari 416 pasien
(3,37%)

 Tahun 2003  Januari – Juli


Tercatat 40 pasien dari 185 penyakit
kelainan kongenital (21,62%)
PATOFISIOLOGI
 Perkembangan dari penis dan scrotum dipengaruhi oleh
testis.
 Tanpa adanya testis, maka yang terbentuk struktur
wanita seperti klitoris, labia minora, dan mayora
dominan; tetapi dengan adanya testis, klitoris membesar
menjadi penis, sulkus antara labia minora terbentuk
menjadi urethra dan labia mayora berkembang menjadi
scrotum, kedalam testis kemudian turun.
 Hypospadia terjadi jika sel testis yang berkembang
secara prematur berhenti memproduksi androgen,
karena itu menimbulkan interupsi konversi penuh dari
genitalia eksterna menjadi bentuk laki-laki.
PATOFISIOLOGI
 Pada kebanyakan penderita terdapat chordee (penis
melengkung kebawah) yang tampak jelas pada keadaan
ereksi. Ini disebabkan karena jaringan fibrosa yang
menyebar mulai dari meatus yang letaknya abnormal ke
glans penis.
 Dengan penis yang bengkok, maka akan timbul
kesulitan dalam fungsi memproduksi.
KOMPLIKASI
 Infertiliti
 Resiko hernia ingunalis
 Gg. Psikososial
KLASIFIKASI
1. Type Glandular:
Meatus urinarius berada pada aspek ventral.
2. Type Koronal dan Penil:
Meatus urinarius berada pada dasar penis dan
glandula korona yang umumnya diasosiasikan dengan
ventral chordee.
3. Type Pensokrotal:
Meatus urinarius berada pada sambungan penis dan
skrotum.
4. Type Perineal:
Meatus urinarius berada pada perineum.
MANIFESTASI KLINIS
 Terbuka urethral pada saat lahir, posisi
ventral atau dorsal
 Adanya chordee
 Adanya lekukan pada ujung penis.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 Pemeriksaan fisik.
PENATALAKSANAAN MEDIS
Tindakan operasi yang dilakukan dua tahap:
1. Chordectomy / Eksisi Chorde
2. Urethroplasty
CHORDECTOMY /
EKSISI CHORDE
 Dilakukan insisi melingkar sulkus korona glandis
dan kulit penis dilepaskan dari batang penis (de
glooving)
 Chordee di dorsal di eksisi sampai penis tampak
lurus, bila perlu dilakukan ereksi buatan dengan
cara dipangkal penis dipasang torniquet dengan
khateter nelaton, kemudian dengan jarum
halus/wingneedle disuntikan NaCl 0.9% kedalam
cordova cavernosa kemudian dilihat apakah penis
sudah lurus atau belum, kemudian kulit penis dijahit
kembali.
URETHROPLASTY
 Dilakukan insisi pararel sepanjang daerah calon urethra,
kemudian dilakukan undermeaning secukupnya
sepanjang calon tsb. Pasang katheter ssi ukuran urethra
kemudian kulit yang menjadi calon urethra dibuat pipa
untuk membetuk urethra, kemudian kulit yang menjadi
calon urethra tersebut dijahit.
 Setelah urethra terbentuk, luka operasi ditutup dengan
flap dari kulit prepusium dibagian lateral yang ditarik ke
ventral dan dipertemukan pada garis median kemudian
dijahit. Usahakan katheter dipertahankan ± 7 – 10 hari
untuk mencegah terjadinya kebocoran pada calon
urethra.
PENGKAJIAN
 Pemeriksaan genitalia
 Palpasi abdomen untuk melihat distensi bladder atau
pembesaran pada ginjal
 Kaji fungsi perkemihan
 Adanya lekukan pada ujung penis
 Melengkungnya penis kebawah dengan atau tanpa
ereksi
 Terbukanya urethral pada ventral (hypospadias) atau
dorsal (epispadias)
 Pengkajian setelah pembedahan, pembengkakan penis,
perdarahan, dysuria, drainage.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kurangnya pengetahuan orangtua B.D
Diagnosa, prosedur pembedahan, dan
perawatan setelah operasi.
2. Resiko infeksi B.D pemasangan katheter
3. Nyeri B.D pembedahan
4. Kecemasan orangtua B.D prosedur
pembedahan
5. Resiko inujury B.D pemasangan katheter atau
pengangkatan katheter.
PERENCANAAN
1. Orangtua memahami tentang hypospadia dan alasan
pemedahan, serta orangtua akan aktif dalam perawatan setelah
operasi
2. Anak akan bebas dai infeksi dengan ditandai analisa urine
normal, dan temperatur tubuh dibawah 37.8˚ C
3. Anak akan merasa nyaman yang ditandai dengan tidak ada
tangisan, kegelisahan dan tidak ada ekpresi nyeri
4. Rasa cemas orangtua menurun yang ditandai dengan
mengekspresikan perasaan tentang adanya kecacatan pada
genetalia anak
5. Anak akan bebas dari injury yang ditandai dengan pemasangan
kateter tetap bertahan hingga dilepas oleh dokter atau perawat.
IMPLEMENTASI
1. 1 dan 4 memberikan pengajaran dan penjelasan pada orangtua
sebelum operasi tentang prosedur pembedahan, perwatan setelah
operasi, pengukuran TTV, pemasangan kateter.
 Kaji tingkat pemahaman orangtua
 Gunakan gambar-gambar atau boneka untuk menjelaskan
prosedur, pemasangan kateter menetap, mempertahankan
kateter dan perawatan kateter, pengosongan kantong urine,
keamanan kateter, monitor urine, warna dan kejernihan dan
perdarahan.
 Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan, efek samping,
dan dosis serta waktu pemberian.
 Ajarkan untuk ekspresi perasaan dan perhatian tentang
kelainan penis.
 Ajarkan orangtua untuk partisipasi dalam perawatan sebelum
dan sesudah operasi (pre dan post).
IMPLEMENTASI
2. Mencegah infeksi
 Pemberian air minum
 Monitor intake dan output
 Kaji gaya gravitasi urine atau berat jenis urine
 Monitor TTV
 Kaji urine, drainage, purulen, bau, dan warna
 Gunakan teknik aspetik untuk perawatan kateter
 Pemberian antibiotik ssi program
IMPLEMENTASI
3. Meningkatkan rasa nyaman
 Pemberian analgetik ssi program
 Perhatikan setiap saat yaitu posisi kateter tepat atau tidak
 Monitor adanya “konk-kink” (tekukan pada kateter) atau
kemacetan
 Pengaturan posisi tidur anak ssi kebutuhannya
4. Mencegah injury
 Pastikan kateter pada anak terbalut dengan benar dan tidak
lepas
 Gunakan ‘restrain’ atau pengaman yang tepat pada saat anak
tidur atau gelisah
 Hindarkan alat-alat tenun atau yang lainnya yang dapat
mengkontaminasi kateter dan penis.
PERENCANAAN PULANG
 Ajarkan tentang perawatan kateter dan
pencegahan infeksi dengan disimulasikan
 Jelaskan tanda dan gejala infeksi saluran
kemih dan lapor segera ke dokter atau
perawat
 Jelaskan pemberian obat antibiotik dan
tekankan untuk kontrol ulang (follow up)