Anda di halaman 1dari 17

FARMAKOTERAPI TERAPAN

RHEMATOID ARTHRITIS
KELOMPOK XIII

IPUNG ARISANTI 175020013


IRMAWATI 175020038
DIANA 175020064
KASUS

Seorang perempuan, usia 42 tahun, melakukan pemeriksaan


kesehatan di puskesmas dengan keluhan setiap pagi merasakan
kekakuan pada sendi selama beberapa jam, kelelahan
berlebihan, nyeri sendi pada lutut dan jari tangan serta otot.
Dokter mendiagnosa pasien rheumatoid arthritis dan
memberikan resep dengan obat sebagai berikut: ebetrex® tablet
2,5 mg No. XV (1 x 2 hari 1 tablet dc) dan natrium diklofenak
50 mg tablet No. LX (2 x 1 hari).
1. Sebutkan definisi penyakit rheumatoid arthritis dan jelaskan
patofisiologi penyakit ini

 DEFINISI

Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun


(penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh system
kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan
dalam waktu lama pada sendi, biasanya mengenai sendi jari,
pergelangan tangan, jari kaki dan lutut, sehingga terjadi
pembengkakan, timbul rasa nyeri, serta seringkali pada
akhirnya menyebabkan kerusakan dan kelainan pada bentuk
sendi.
 PATOFISIOLOGI

Rheumatoid arthritis akibat reaksi autoimun dalam jaringan


sinovial yang melibatkan proses fagositosis. Dalam prosesnya,
dihasilkan enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut
selanjutnya akan memecah kolagen sehingga terjadi edema,
proliferasi membran sinovial dan akhirnya terjadi
pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang
rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah
menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu
gerak sendi. Otot akan merasakan nyeri akibat serabut otot
mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya
kemampuan elastisitas pada otot dan kekuatan kontraksi otot.
2. Apa tujuan terapi pada kasus ini?

Tujuan dari pengobatan rheumatoid arthritis tidak hanya


mengontrol gejala penyakit, tetapi juga penekanan aktivitas
penyakit untuk mencegah kerusakan permanen. Pemberian
terapi dilakukan untuk mengurangi nyeri sendi dan bengkak,
serta meringankan kekakuan dan mencegah kerusakan sendi
sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien
meringankan gejala tetapi juga memperlambat kemajuan
penyakit.
3. Apa akibat yang dapat terjadi bila penyakit ini tidak
mendapatkan terapi

Penyakit Rheumatoid Arthritis (RA) bila tidak diterapi dapat


membuat anggota tubuh tidak berfungsi normal, sulit berjalan,
jika bertambah parah gejala akan menyebar kebagian tubuh
lainnya dan menyebabkan persendian bergeser bahkan berubah
bentuk serta dapat menyebabkan kecacatan seumur hidup yang
diakibatkan oleh kerusakan sendi.
4. Jelaskan konsep terapi pada kasus rheumatoid arthritis ?

Kelas obat yang biasa diresepkan untuk pengobatan RA antara


lain non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAID),
glukokortikoid (kortikosteroid), DMARDs, dan pengubah
respon biologis atau Biologic Response Modifiers (BRMs).
1. NSAID
NSAID bermanfaat sebagai analgesik dan antiinflamasi untuk
nyeri sendi dan bengkak, namun tidak mencegah merusaknya
sendi dengan menghambat sintesis prostaglandin.
2. Glukokortikoid (Kortikosteroid)
Kortikosteroid digunakan dalam RA sebagai antiinflamasi dan
imunosupresif. Mekanismenya yaitu mengganggu presentasi
antigen ke limfosit T, menghambat prostaglandin dan sintesis
leukotrien, dan menghambat neutrofil dan monosit
superoksida. Kortikosteroid juga mengganggu migrasi sel dan
menyebabkan redistribusi monosit, limfosit, dan neutrofil,
sehingga menghentikan respon inflamasi dan autoimun.
3. DMARDs
DMARDs merupakan andalan pengobatan RA karena mampu
memodifikasi proses penyakit dan mencegah atau mengurangi
kerusakan sendi. Obat-obat yang termasuk DMARDs adalah
methotrexate, hydroxychloroquine, sulfasalazine, dan
leflunomide (Burns et al., 2008). Selain itu juga gold salts,
azathioprin, d-penicillamin, siklosporin, siklofosfamis, dan
minocycline (Dipiro et al., 2005).
4. BRMs
BRMs secara genetik merupakan molekul protein rekayasa
yang mampu memblokir sitokin proinflamasi. Obat ini
mungkin efektif bila DMARDs lainnya gagal untuk mencapai
respon, tetapi obat ini jauh lebih mahal. Obat ini tidak
memiliki toksisitas yang membutuhkan pemantauan
laboratorium, tetapi memiliki peningkatan risiko kecil untuk
infeksi. Obat yang termasuk golongan ini antara lain
Etanercept (sebagai Tumor Necrosis Factor Antagonists),
Anakinra (sebagai Interleukin 1 Receptor Antagonist),
Abatacept (sebagai Costimulation Blokers), Rituximab (Anti-
CD20 Monoclonal Antibody), Adalimumab (Antibodi IgG1
manusia terhadap TNF), dan Infliximab (Antibodi anti-TNF).
Algoritma Pengobatan Rheumatoid Athritis ditunjukkan pada
gambar
5. Apakah ada DRP’s pada kasus pengobatan pasien ini? Jika ada
bagaimana cara pengatasannya?

a. Obat natrium diklofenak untuk dosisnya belum memenuhi


algoritma terapi Rheumatoid Athritis
b. Penyampaian aturan minum obat ebetrex dan jumlah obat
yang diberikan kepada pasien selama penggunaan 3 bulan.
Pengatasan :
a. Natrium diklofenac yang digunakan adalah jenis Natrium
Diklofenac SR dengan aturan minum tetap 2 x sehari 1 tablet
dengan 1 kali pemakaian 75 mg.
b. - Metrotexate diminum dua hari sekali atau seminggu tiga
kali, sekali minum satu tablet, bersama makan.
- Dikonsultasikan kepada dokter mengenai jumlah obat yang
seharusnya diberikan kepada pasien.
Jika perlu, lakukanlah komunikasi dengan dokter penulis
resep untuk mencari solusi dalam mengatasi DRP’s !

Percakapan dokter dan apoteker


6. Siapkan dan Serahkanlah obat kepada pasien serta lakukan
pemberian informasi obat ?

P : pasien (atas nama ibu X), A: apoteker


7. Jelaskan mekanisme aksi obat yang anda berikan kepada
pasien !

a. Methotrexate
Bekerja dengan memperbaiki sendi yang rusak ,agar tidak
terjadi kerusakan sendi yang lebih parah. Selain itu,
methotrexate didalam tubuh akan dipecah menjadi senyawa
adenosine yang berperan sebagai agen anti inflamasi.
a. Natrium diklofenak
Merupakan golongan NSAID dan mekanismenya sebagai
analgetik adalah blokade sintesa prostaglandin sehingga tidak
terjadi inflamasi.
8. Tentukanlah terapi non farmakologi yang anda
sarankan untuk mengoptimalkan pengobatan pasien

Adapun terapi non farmakologi yaitu :


a. Istirahat yang cukup dan merawat persendian.
b. Olahraga yang ringan
c. Penggunaan alat bantu
d. Pendidikan pasien tentang penyakitnya dan manfaat dari terapi
obat.

Lakukanlah konseling agar pasien patuh terhadap terapi


yang akan dijalankan.
9. Sebutkan dan jelaskanlah parameter klinik yang akan dipantau
dalam evaluasi perkembangan penyakit pasien !

1. Kondisi klinik
Tanda-tanda klinis berupa berkurangnya nyeri dan kekakuan sendi
yang dirasakan pada pagi hari, tidak cepat lelah , dan meningkatnya
kemampuan untuk melakukan aktifitas sehari hari
2. Laboratorium
a. Penggunaan monoterapi MTX berpotensi toksik bagi tubuh,
commiittee on the safety of medicines (CSM) menyarankan agar setiap
pasien yang diberikan MTX harus diuji full blood count dan tes fungsi
ginjal dan hati sebelum memulai pengobatan harus dilakukan 2-3
bulan dan pengujian sesudah pengobatan dilakukan 3-4 minggu sekali
b. Penggunaan NSAID memerlukan monitoring berupa uji serum
kreatinin (Scr), BUN, CBC setiap 2-4 minggu setelah terapi dimulai.