Anda di halaman 1dari 15

PRINSIP- PRINSIP STATUS PERSONAL

(NASIONALITAS & DOMISILI)

SICILIYA MARDIAN Y, SH., MH.


FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ISLAM KADIRI
2017
Pengertian Umum


• Prinsip kewarganegaraan (nasionalitas) dan prinsip domisili merupakan titik
petalian utama HPI dalam menentukan status personal seseorang.

o Prinsip Nasionaltas menentukan status personal


seseorang berdasarkan hukum nasional
seseorang, titik berat pada segi personalia..
o Prinsip Domisili menentukan status seseorang
berdasrkan hukum yang berlaku di domisili
seseorang, titik berat pada segi territorial
Negara-Negara Dengan Prinsip Nasionalitas


A.Negara Perancis dan jajahan Perancis (Code Civil (pasal 3 ayat 3))
B. Negara Italia dan jajahannya (Code Civil 1942)
C. Di Belgia, Luxembourg, Monaco (Code Civil (pasal 3 ayat 3))
D.Negara Belanda (UU tanggal 15 Mei 1829 S. No. 28) dan jajahannya,
suku Suriname (UU 4 September 1868, pasal 7)
E. Hindia Belanda (berdasarkan Asas Konkordasi dalam ”Algemeene
Bepalingen van Wetgeving” (30 April 1847, S. No. 23 diubah S. 1915
no. 299 jo. 652), pasal 16).
Prinsip kewarganegaraan ini telah menjadi dasar pula dalam berbagai
perjanjian-perjanjian internasional di bidang HPI. Dapat disebut di
sini, konvensi-konvensi Den Haag dari tahun 1902 dan 1905,
persetujuan di Lima dari tahun 1878.
Negara-negara dengan prinsip domisili


(Semua negara Inggris yang disebut ”common law”)
Kecondongan negara-negara Eropa Kontinental
terhadap negara-negara Anglo Saxon

Eropa Kontinental lebih mengedepankan segi personalitas
pada hukum.
Sebaliknya titik-titik taut dalam HPI negara-negara Anglo
Saxon lebih mengedepankan segi teritorial pada hukum.
Territorialitas terhadap personalitas daripada hukum


Menurut sistem domisili Mengenai ”status personil”,
ditentukan oleh domisilinya
Menurut sistem yang dianut di negara Eropa
Kontinental, segi personalistis yang dikedepankan.
Menurut teori personalistis ini hukum-hukum yang
bersangkutan dengan status seseorang adalah erat sekali
hubungannya dengan orang tersebut
Masing-masing aliran mempunyai pembela-
pembelanya
 Negara Amerika Serikat menganut prinsip domisili.


 Negara Eropa Kontinental, Jerman dan Italia menganut prinsip nasionalitas.
 Soviet dan Rusia memakai hukumnya sendiri sebanyak mungkin.
 prinsip territorialitas yang dipakai sepanjang berlakunya hukum Soviet di
negara Soviet.
 prinsip nasionalitas yang dipergunakan bagi para warganegara Soviet yang
berada di luar negeri
 Chauvinismus cara yuridis, Jadi dalam sistem ini warganegara sendiri yang
berada di luar negeri ditundukkan pada prinsip nasionalitas, sedangkan orang
asing yang berada di negara bersangkutan ditundukkan kepada prinsip domisili
 Negara-negara Amerika Latin dari Code Civil Austria tahun 1811 yang menentukan
bahwa untuk orang asing berlaku hukum domisili. Tetapi warganegara Austria
untuk status personil mereka, jika berada di luar begeri, tunduk di bawah prinsip
kewarganegaraan.
 Negara Prancis menganut prinsip Kewarganegaraan untuk warga perancis dan
prinsip domisili Untuk warga asing.
Alasan Negara penganut prinsip nasionalitas
dan prinsip domisili

 Amerika Serikat condong pada prinsip domisili, karena merupakan Negara yang
didatangi kaum imigran, maka supaya mereka yang berada di wilahnya dapat
terikat.
 Jerman dan Itali sebagai Negara asal kaum imigran, justru condong pada prinsip
nasionalitas karena ingin warga negara mereka yang merantau ke luar negeri tetap
terikat pada hukum nasionalnya
 Uni Soviet, Rusia menganut prinsip Domisili bagi mereka yang berada di Negara
tersebut, tetapi prinsip Nasionalitas berlaku bagi warganegaranya yang berada di
luar negeri
 Swiss menganut prinsip Domisili bagi warga Negara asing yang berdomisili di
Negara tersebut, dan bagi warganegaranya yang berdomisili di luar negeri juga
berlaku prinsip domisili kecuali bila Negara asing tersebut tidak menganut prinsip
domisili maka akan diberlakukan hukum domisili asal warganegara swiss tersebut.
Alasan-alasan pro prinsip kewarganegaraan


1. Prinsip ini paling cocok untuk perasaan hukum
seseorang
2. Lebih permanen dari hukum domisili
3. Prinsip kewarganegaraan membawa kepastian lebih
banyak
Alasan-alasan pro prinsip domisili
1.

Hukum domisili ialah hukum dimana yang bersangkutan
sesungguhnya hidup
2. Prinsip kewarganegaraan seringkali memerlukan bantuan domisili
3. Hukum domisili seringkali sama dengan hukum sang hakim
4. Cocok untuk negara-negara dengan pluralisme hokum
5. Domisili menolong dimana prinsip kewarganegaraan tidak dapat
dilaksanakan
6. Demi kepentingan adaptasi dan asimilasi dari para imigran
Solusi


Suatu jalan keluar adalah dengan memakai kompromi atau jalan
tengah antara kedua prinsip ini. Seolah-olah kita menggabungkan
kedua prinsip ini secara kompromi.
Frankestein mengemukakan pengertian baru yang dinamakan
”domicile statutair”. Setiap orang asing yang berada diluar negara
asalnya memperoleh ”residence permanent” setelah 3 tahun. Status
personil seseorang ditentukan oleh ”domicile statutair”-nya ini.
Kepentingan-kepentingan yang bersifat politis dan tradisi dari negara-
negara bersangkutan memegang peranan yang penting dalam
menentukan pilihan perinsip-perinsip HPI untuk status personil.
Prinsip nasionalitas yang sedang berlaku
untuk RI

Dalam pasal 16 AB, Indonesia diberlakukan prinsip
nasionalitas, namun dengan adanya S. 1915 no. 229
diadakan perubahan dengan menerima prinsip
kewarganegaraan yang sampai sekarang berlaku
Prinsip yang sebaiknya untuk Indonesia


Untuk Indonesia sebaiknya dipakai prinsip domisili, dengan alasan :
1. Dapat diperkecil berlakunya hukum asing.
2. Timbulnya reaksioner terhadap hukum nasionalitas
3. Sejak tahun 1915 kita menganut prinsip nasionalitas, masih saja
domisili yang dianggap menentukan hukum yang berlaku.
4. Indonesia masih belum mempunyai cukup bahan-bahan bacaan
untuk mengetahui dengan baik akan hukum asing.
5. Di Indonesia sekarang ini masih terdapat pluralisme hokum
6. Indonesia hingga beberapa waktu yang lalu merupakan negara
imigrasi.
7. Indonesia hendak melakukan asimilasi daripada orang-orang
asing.
8. Indonesia dianggap terletak antara lingkungan suasana negra-
negara tetangga yang memakai prinsip domisili.
Indonesia


Menurut pendirian kami sebaiknya RI memakai juga
prinsip domisili. Namun kami tidak menolak untuk
pemakaian prinsip nasionalitas bagi sistim HPI Indonesia.
Hanya harus dijaga supaya jangan prinsip nasionalitas ini
dipakai secara rigoreus kaku, hingga membawa kepada
”juridisch Chauvinisme”. Kalau hendak dipertahankan
terus prinsip nasionalitas, sebaiknya diadakan kombinasi
dengan prinsip domisili sedemikian rupa seperti pernah
diusulkan oleh penulis-penulis antara lain Asser,
Frankestein.

• Untuk para warganegara Indonesia yang berada di luar negeri tetap
berlaku hukum nasional Indonesia guna status personil mereka ini.
Dengan lain perkataan, kami berkesimpulan:
1) kita merubah prinsip nasionalitas yang kini didapati dalam pasal
16 AB menjadi prinsip domisili; atau
2) tetap dipertahankan prinsip nasionalitas ini, tetapi dengan
tambahan: Untuk orang asing yang berada di dalam wilayah RI
tetap berlaku hukum nasional mereka selama 2 tahun menetap
disini. Setelah itu akan berlakulah hukum Indonesia sebagai
hukum domisili mereka, dimana mereka hidup dan menetap.