Anda di halaman 1dari 39

Oleh :

Icha Artyas Annariswati, drg., M,Si.


PENGERTIAN IDENTIFIKASI?
 Identifikasi adalah penentuan dan pemastian identitas
orang yang hidup maupun orang mati berdasarkan ciri
khas yang terdapat pada orang tersebut.
 Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan
dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan
identitas seseorang.
 Menentukan identitas seseorang dengan tepat, sangatlah
penting dalam penyidikan karena apabila ada kekeliruan
dapat berakibat fatal dalam proses peradilan.
 Ruang lingkup identifikasi dalam kedokteran gigi forensik
cukup luas, tidak hanya meliputi masalah forensik namun
juga masalah nonforensik.
TUJUAN IDENTIFIKASI
 Kebutuhan etis dan kemanusiaan terhadap
keluarganya
 Pemastian kematian seseorang secara resmi dan
yuridis
 Administratif
 Klaim dalam hukum publik dan perdata
 Klaim asuransi, pensiun, dll
 Awal penyelidikan
TANGGUNG JAWAB
 PENANGGUNG JAWAB IDENTIFIKASI KORBAN
MATI : POLISI
 MINTA BANTUAN AHLI
 Dokter Forensik
 Dokter Gigi Forensik
 Ahli Sidik Jari
 Ahli DNA
 Ahli Lain
PRINSIP IDENTIFIKASI
 DILAKUKAN DENGAN KOMPARASI CIRI
IDENTITAS PADA DATA POST MORTEM
(MAYAT) DENGAN DATA ANTE MORTEM
(SEWAKTU MASIH HIDUP).
Ilmu kedokteran gigi forensik memiliki nama lain
yaitu forensic dentistry dan forensic odontology.
Gigi merupakan bagian tubuh yang terkuat dari tubuh yang
melekat pada rahang.
Gigi geligi membantu dalam mencerna makanan dan juga
berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh.
Teeth Basics
 Gigi terdiri dari
 Akar
 Saluran akar
 Dentin
 Enamel
• Enamel merupakan
substansi terkuat di dalam
tubuh.

Types of teeth.
Left to right: Incisor, Canine, Premolar,
molar.
Human Dentition and Dental Anatomy
 Proses erupsi gigi adalah suatu proses fisiologis berupa
proses pergerakan gigi yang dimulai dari tempat
pembentukkan gigi di dalam tulang alveolar kemudian
gigi menembus gingiva sampai akhirnya mencapai
dataran oklusal.
 Pada manusia terdapat 20 gigi desidui dan 32 gigi
permanen. Setiap gigi berbeda-beda secara anatomi,
tetapi dasar proses pertumbuhannya sama pada semua
gigi
 Setiap gigi mempunyai 5 permukaan yaitu mesial, distal,
oklusal, bukal dan palatal / lingual.
Disatukan dalam suatu lengkungan yang disebut
rahang.
Satu rahang atas = Maxillary / maksilaris
Satu rahang bawah = Mandibular / mandibularis
Childhood teeth
 Gigi desidui atau yang
umumnya dikenal
sebagai gigi susu akan
erupsi secara lengkap
saat anak berusia kurang
lebih 2,5 tahun.
 Gigi desidui berkembang
mulai dari usia 6 bulan
sampai dengan 6 tahun.
Adulthood teeth
 Waktu erupsi gigi
permanent dimulai saat
anak berusia 6 sampai 7
tahun, ditandai dengan
erupsi gigi molar pertama
rahang bawah bersamaan
dengan insisif pertama
rahang bawah dan molar
pertama rahang atas.
 Erupsi gigi paling akhir
adalah molah ketiga rahang
atas dan rahang bawah
DEFINISI ODONTOLOGI FORENSIK
 Ilmu kedokteran gigi forensik atau odontologi forensik
merupakan cabang dari ilmu kedokteran gigi mengenai
cara penanganan dan pemeriksaan bukti-bukti melalui gigi
dan evaluasi serta pemaparan hasil-hasil penemuan yang
berhubungan dengan rongga mulut untuk kepentingan
pengadilan.

 Menurut Djohansyah Lukman, definisi odontologi forensik


adalah cabang ilmu dari ilmu kedokteran gigi kehakiman
yang bertujuan untuk menerapkanpengetahuan kedokteran
gigi dalam memecahkan masalah hukum dan kejahatan.
SEJARAH ODONTOLOGY FORENSIC
 Odontologi forensik mulai dikenal pada saat terjadinya kebakaran
hebat pada tahun 1897 di Le Bazar de La Chante Paris yang
menewaskan 126 orang dimana sebagian besar dapat di identifikasi
dengan mengkombinasikan gigi yang ada dengan data ante
mortem yang tercatat dengan baik. Penggagas pemeriksa ini
adalah Oscar Amoedo, yang dianggap sebagai Bapak dari
kedokteran gigi forensik.

 Sekitar tahun 1960 ketika program instruksional formal


kedokteran gigi forensik pertama dibuat oleh Armen Force dari
Institute of Pathology. Sejak saat itu banyak kasus penerapan
odontologi forensik mulai banyak dikenal bukan hanya di
kalangan dokter gigi, tetapi juga di kalangan penegak hukum dan
ahli.
RUANG LINGKUP ODONTOLOGI FORENSIK
 Secara garis besar odontologi forensik membahas
beberapa topik sbb:
1. Identifikasi benda bukti manusia.
2. Penentuan umur dari gigi.
3. Penentuan jenis kelamin dari gigi.
4. Penentuan ras dari gigi.
5. Penentuan etnik dari gigi.
6. Analisis jejas gigit (bite marks).
7. Peran dokter gigi forensik dalam kecelanaan
massal.
8. Peranan pemeriksaan DNA dari bahan gigi dalam
identifikasi personal.
Mengapa Gigi Penting dalam Identifikasi ?
Berdasarkan pengalaman di lapangan, identifikasi korban
meninggal massal melalui gigi-geligi mempunyai kontribusi
yang tinggi dalam menentukan identitas seseorang Beberapa
contoh kejadian bencana yang korbannya sebagian besar
teridentifikasi melalui gigi :

 Bom bali 2002 dari 199 korban meninggal 112 korban (60%)
teridentifikasi melalui identifikasi gigi.
 Tenggelamnya pesawat airasia QZ8501 2014 dari 72 jenasah, 45
teridentifikasi melalu gigi
 Tabrakan massal di Situbundo, dari 55 korban sebanyak 33
jenasah teridientifikasi melalu gigi.
 Setiap manusia mempunyai karakteristik gigi tersendiri
yang dapat ditetelusuri kembali pada rekam medis gigi untuk
menemukan individu yang hilang .

 Gigi terbentuk dari enamel ( jaringan terkuat dari tubuh )


jadi gigi dapat menahan segala trauma ( dekomposisi, degradasi
panas, direndam air dan pengeringan) jauh lebih baik daripada
jaringan tubuh lainnya.

 Gigi merupakan sumber DNA : pulpa gigi atau remahan gigi


dapat provide nuklear atau mitokondria yang digunakan untuk
keperluan identifikasi seseorang.
Gigi-geligi mempunyai ciri-ciri yang khusus apabila ciri-ciri
gigi tersebut rusak atau berubah maka sesuai dengan
pekerjaan dan kebiasaan menggunakan gigi bahkan setiap
ras mempunyai ciri yang berbeda.

Gigi-geligi tahan panas, apabila terbakar sampai dengan


suhu 4000C gigi tidak akan hancur.

Apabila korban telah dilakukan pencabutan gigi umumnya ia


memakai gigi palsu dengan berbagai macam model gigi palsu
dan gigi palsu tersebut dapat ditelusuri atau diidentifikasi. Gigi
palsu akrilik akan terbakar menjadi abu pada suhu 5380C-
6490C. GTT dari porselen akan menjadi abu pada suhu
10930C.
Identifikasi melalui Gigi dan rongga mulut

 Pemeriksaan identifikasi
gigi dapat melalui
pemeriksaan :

 Gigi hilang, tidak tumbuh,


atau gigi yang telah dicabut.
 Restorasi dan gigi tiruan.
 Gigi lubang dan gigi patah.
 Malposisi, overlapping,
berdesakan dan ada
tidakanya diastema.
• Faktor identifikasi
“khas” seperti pola gigi
dan kesehatan rongga
mulut.
• Bentuk dari akar gigi
• Saluran akar pada foto
rontgen
• Pola tulang yang
terlihat pada foto
rontgen
• Pemeriksaan DNA dari
bahan gigi dalam
identifikasi personal.
PRINSIP IDENTIFIKASI MELALUI GIGI
 Identifikasi dengan sarana gigi dilakukan dengan cara
membandingkan data gigi yang diperoleh dari pemeriksaan
gigi jenazah yang tidak dikenal (data postmortem) dengan
data gigi yang pernah dibuat sebelumnya dari orang yang
diperkirakan (data antemortem).
 Identifikasi dengan cara membandingkan data ini akan
dapat memberikan hasil identifikasi sampai tingkat
individual, yaitu dapat menunjuk siapa orang yang
diidentifikasi. Jadi data gigi berupa rekam medik gigi
(dental record) yang pernah dibuat sebelumnya (data
antemortem) merupakan syarat utama yang harus ada
apabila identifikasi dengan cara membandingkan akan
diterapkan.
LANGKAH-LANGKAH IDENTIFIKASI DALAM
ODONTOLOGI FORENSIK
Bila rahang atas dan bawah lengkap :
 Pembukaan rahang bawah untuk melepaskan
rahang bawah
 Melakukan pembersihan rahang bawah dan rahang
atas
 Melakukan dental charting/odontogram
 Melakukan rontgent foto pada seluruh gigi geligi di
rahang atas dan rahang bawah
PEMBUATAN ROENTGEN GIGI
PEMOTRETAN DENGAN DENTAL
POLAROID CAMERA
DENTAL CHARTING
…. LANJUTAN
 Apabila ingin melakukan pemeriksaan DNA lakukan
pencabutan gigi molar 1 atas atau bawah untuk
mengambil sampel DNA.
 Melakukan pemotretan dengan ukuran close up
 Melakukan perbandingan data dental ante mortem dan
post mortem
 Proses rekonsiliasi utk penentuan identifikasi
PENCABUTAN GIGI
UNTUK SAMPEL
PEMERIKSAAN DNA
…..LANJUTAN
PADA RAHANG YANG TIDAK UTUH
Melakukan rekonstruksi bentuk rahang serta susunan
gigi geliginya dgn menggunakan wax/malam,
kemudian diperkuat dgn menggunakan self curing
acrylic lalu dilakukan pencetakan.
Pengembalian rahang pada jenazah/kerangka.

TUJUAN REKONSTRUKSI :
Diharapkan dapat memperoleh gambaran perkiraan
raut wajah korban utk membantu memudahkan
identifikasi
PEMBERSIHAN GIGI RAHANG BAWAH
BRIDGE DARI EMAS YANG DAPAT
MENJADI CIRI KHAS
NUMERIFIKASI GIGI GELIGI

Catatan :
Angka Romawi Gigi Susu/Decidous Teeth
Angka Latin Gigi Tetap
 Studi analisa pola bite mark
pada korban juga termasuk
dalam ilmu odontologi
forensik.
 Bite marks adalah gambaran
dari pola gigitan gigi manusia
yang ditemukan pada kulit atau
objek-objek pada tempat
kejadian perkara.
 Teknik dasar untuk
pemeriksaan bitemark
didasarkan pada interpretasi
bukti fotografi bitemark
dibandingkan dengan model
dari gigi tersangka.
Bite marks
Beberapa hal yang perlu dianalisa :

Tipe gigitan (manusia atau


hewan)
Karakteristik dari gigi
Warna dari area gigitan
menunjukkan berapa lama
gigitan tersebut terjadi
( lama atau sebentar )
Swab saliva untuk tes DNA
KESULITAN IDENTIFIKASI
 PEMBUSUKAN BERAT DAN / ATAU TRAUMA
BERAT
 Kesulitan memperoleh data postmortem
 TIDAK ADANYA DATA ANTEMORTEM
 Tak ada orang hilang
 Sistem pendataan lemah
 JUMLAH KORBAN BANYAK
 Dalam populasi terbatas
 Dalam populasi tak terbatas
DUKUNGAN DATA DENTAL ANTE MORTEM
TANPA ADANYA DATA DENTAL ANTE MORTEM

DATA DENTAL POST MORTEM


TIDAK BERARTI, KARENA TIDAK ADA PEMBANDING
ODONTOLOGI FORENSIK DI INDONESIA
 Berbeda dengan penerapan odontologi forensik di luar
negeri, peranan pemeriksaan gigi di Indonesia memiliki
keterbatasan. Hal yang menjadi masalah utama adalah
masih kurang membudayanya perilaku berobat ke
dokter gigi sehingga hanya sedikit masyarakat yang
pernah ke dokter gigi. Dari antara yang berobat ke
dokter gigi pun, hanya sedikit saja yang mempunyai
rekam medis yang baik dan lengkap. Hal ini
menyebabkan identifikasi personal berdasarkan ciri
khas susunan gigi, adanya restorasi gigi dsb sulit
dilakukan karena ketiadaan data antemortem.