Anda di halaman 1dari 60

KONSEP DASAR

AKTIVITAS BODY
ALIGNMENT DAN
MOBILISASI

Yatimah Ratna Pertiwi, S.Kep., Ns


A. BODY ALIGNMENT

Interview…

Body Alignment (Postur Tubuh), merupakan susunan


geometrik bagian-bagian tubuh dalam hubungannya dengan
bagian – bagian tubuh yang lain.

Body Alignment yg baik dpt meningkatkan keseimbangan yg


optimal & fungsi tubuh yg maksimal, baik dalam posisi
berdiri, duduk, maupun tidur.
Next...
• Body Alignment dikatakan baik jika terdapat
keseimbangan diantara : persendian, otot, tendon,
dan ligamen.

• Keseimbangan yg dimaksud adalah tidak adanya


beban pada tiap bagian tubuh / salah satu bagian
tubuh menjadi tumpuan dari berat badan tubuh,
sehingga fungsi dari bagian tubuh berlebihan.

• Postur tubuh seseorang adalah salah satu hal yg


harus dikaji untuk melihat : Status kesehatan,
fisical fitness, dan daya tarik seseorang.

• Selain itu postur tubuh juga dpt menunjukkan :


perasaan hati, harga diri, dan kepribadian.
• Ligaments; tough fibrous bands that bind joints
together & connect bones & cartilages.
• Tendon; strong, flexible, inelastic fibrous
band that attach muscle to bone.
Cartilage; nonvascular connective tissue found in
the joint s as well as in the nose, ear, thorax,
trachea and larynx
Body Alignment yang baik dapat :
• Meningkatkan fungsi tubuh, terutama pada
sistem muskuloskeletal.
• Mengurangi jml energi yg dipergunakan
untuk mempertahankan keseimbangan
tubuh.
• Mengurangi kelelahan.
• Memperluas expansi paru.
• Meningkatkan sistem sirkulasi darah serta
fungsi tubuh yang lain.
• Keseimbangan dpt dipertahankan jika line of gravity
melewati pusat gravitasi dan base of support.

• The base of support lebih luas dan pusat gravity lebih


rendah maka kestabilan dan keseimbangan lebih besar.

• Jika line gravity berada di luar pusat dari base of support,


energi lebih banyak digunakan untuk mempertahankan
keseimbangan.

• The base of support yang luas dan bagian-bagian dari


body alignment yang baik akan menghemat energi dan
mencegah kelelahan otot.
Next….

• Perubahan dalam posisi tubuh membantu mencegah ketidak-


nyamanan otot-otot.

• Body alignment yang buruk dalam waktu yang lama dapat


menimbulkan rasa nyeri, kelelahan otot dan kontraktur.

• Karena struktur anatomi individu berbeda, maka intervensi


keperawatan yg diberikan juga harus secara individual dan sesuai
dg kebutuhan individu tersebut.

• Memperkuat otot-otot yg lemah, membantu mencegah kekakuan


otot &ligamen, ketika body alignment jelek (baik secara temporal
maupun penggunaan yang kurang hati-hati).
FAKTOR-FAKTOR YG
BERPENGARUH
DALAM BODY ALIGNMENT
• FAKTOR LANGSUNG.
– Gravity.
Gravity adalah atraksi timbal balik antara tubuh
dengan bumi. Postur tubuh seseorang dikatakan
seimbang bila line of gravity melewati center of
gravity dan base of support yang lebih luas.

– Postural reflexes dan opposing muscler


group.
Merupakan aksi dari otot postural (extensor)
yang terus menahan seseorang pd posisi tegak
melawan gaya tarik bumi.
Next...

– Perubahan postur.
Beberapa posisi benar maupun tidak benar jika
berlangsung lama akan menyebabkan masalah,
antara lain : Kerusakan syaraf - syaraf
superfascialis, kerusakan pembuluh darah, serta
kontraktur.

– Struktur anatomi individu yang


berbeda.
Setiap orang mempunyai anatomi yang berbeda,
perbedaan ini akan membawa pengaruh pada
postur tubuh seseorang, meskipun hanya sedikit.
• FAKTOR TIDAK LANGSUNG.

– Status kesehatan.
Status kesehatan yg kurang baik, seperti : sakit, ketidak-
mampuan mobilisasi, terbatasnya aktifitas, kelelahan yang
terlalu lama dapat mempengaruhi fungsi tubuh, terutama
sistem muskuloskeletal dan body alignment (postur tubuh).
– Nutrisi.
Nutrisi yang kurang baik dapat menyebabkan kelelahan dan
kelemahan otot, intake Kalsium yang tidak adekuat terutama
pada wanita lansia dapat mengakibatkan terjadi-nya resiko
postural akibat dari Osteophorosis.
– Emosi.
Kondisi emosional yang tidak stabil dapat mempengaruhi
postur tubuh seseorang, namun penyebab dari perilaku ini
harus dikaji dahulu sebelum memperbaiki postur tubuh yg
kurang baik.
Next….

– Situasional.
Postur tubuh seseorang dapat berkembang
menjadi buruk karena :
• Tempat tidur yang lembut dan yang dapat
mengganggu distribusi yang sesuai.
• Letak meja, bangku, dan alat kerja lain yang tidak
sesuai sehingga seseorang harus bekerja secara kaku.
• Pakaian ketat dapat membatasi pergerakan dan meng-
ganggu fungsi tubuh yang normal.
• Sepatu yang sempit dan hak tinggi dapat
mempengaruhi garis gravitasi keluar dari postur tubuh.
– Gaya hidup.
Gaya hidup seseorang dapat mempengaruhi
postur tubuh, biasanya perubahan tersebut
berlangsung selama bekerja & dpt
mengakibatkan penyimpangan postural.
Next….
– Sikap penampilan.
Penilaian seseorang tentang postur tubuh mem-punyai pengaruh
yang penting, pada remaja yang tubuhnya tinggi dapat menjadi
bungkuk sebab tubuh-nya lebih tinggi dari temannya.

– Tingkat pengetahuan seseorang.


Perlu disayangkan banyak individu yang tidak mem-punyai banyak
kesempatan untuk pelajari postur tubuh yang baik.

– Kerusakan Neuromuskuler.
Proses penyelenggaraan yang mempengaruhi sistem ini dapat
mengakibatkan gangguan postur tubuh dan dapat mengganggu
fungsinya.
Struktur Abnormal yang
Mempengaruhi Ambulasi

Postur abnormal:
• Tortikolis: kepala miring pada satu sisi, di mana adanya
kontraktur pada otot sternokleidomanstoid
• Lordosis: kurva spinal lumbal yang terlalu cembung ke
depan/ anterior
• Kifosis: peningkatan kurva spinal torakal
• Kipolordosis: kombinasi dari kifosis dan lordosis
Next….

• Skoliosis: kurva spinal yang miring ke


samping, tidak samanya tinggi hip/
pinggul dan bahu
• Kiposkoliosis: tidak normalnya kurva
spinal anteroposterior dan lateral
• Footdrop: plantar fleksi,
ketidakmampuan menekuk kaki karena
kerusakan saraf peroneal
Pengaturan postur

1. Posisi duduk
Paha horizontal sejajar dg lantai, telapak kaki
menapak ke tanah, bantalan kursi menopang
punggung bagian bawah.

2. Posisi berbaring
Berbaring sesuai dg prinsip itu dlm prakteknya adl
posisi telentang dg penyangga kepala yg pas, srta
bantalan punggung yg memberikan beban tekanan
rata. Posisi lain yg juga sesuai adl miring dg satu kaki
menyilang.
Pengkajian Body Aligment

1. Nama, umur, jenis kelamin


2. Riwayat penyakit klien
3. Bio, psiko, sosial, spiritual
4. Tingkatan ADL (makan, mandi, pakaian,
toileting, ambulasi)
5. Kebiasaan aktivitas dan latihan yang
biasa dilakukan
6. Riwayat keluarga
Next….
7. Pemeriksaan fisik:
• Posisi tubuh (apakah kiphosis, lordosis atau skoliosis?)
• Gaya jalan
• Penampilan dan gerak sendi
• Kemampuan dan keterbatasan gerak (misal; bangun tidur
dibantu)
• Massa dan kekuatan otot
• Toleransi aktivitas
• Pengaruh immobilitas (semua sistem tubuh:
muskuloskeletal, kardiopulmonal, urinari, gastrointestinal,
integumen)
• Pemeriksaan penunjang (laboratorium, radiologi)
• Terapi yang didapatkan
Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan intregitas kulit


2. Intoleransi aktivitas
3. Kerusakan mobilitas fisik
4. Risk for falls
5. Risk for disuse syndrome
6. Harga diri rendah
7. Ketidakberdayaan
Tindakan Keperawatan

• Membantu pasien berdiri, duduk


Next….
• Mengatur posisi fowler, semi fowler, dorsal rekumbent,
supine, lateral, sim
- Fowler
Mrpkan posisi setengah duduk atau duduk, dimana bag.
kepala tempat tidur lebih tinggi/dinaikkan (high fowler
600 ; Fowler 450 ; Semi fowler 300 ; Low fowler 150
- Tujuan:
1. Mengurangi sesak nafas
2. Memberikan perasaan nyaman
3. Membantu pengeluaran cairan WSD
4. Memudahkan untuk tindakan pemeriksaan
Contoh Gambar

• Fowler

• Semi Fowler
Next….

- Sims
Merupakan posisi miring ke kanan atau ke kiri
- Tujuan
1. Memberikan tindakan huknah
2. Memberikan obat melalui anus
3. Membantu pemeriksaan daerah anus
Next….
- Dorsal Recumbent
Mrpkan posisi terlentang dg kedua lutut ditarik atau
direnggangkan
- Tujuan
1. Pemeriksaan pd daerah genitalia
2. Pemeriksaan alat kelamin
3. Proses persalinan
Next….
- Supinasi dan Pronasi
Supinasi adl posisi terlentang
Pronasi adl posisi telungkup
- Tujuan
1. Mengeluarkan muntah
2. Mencegah aspirasi
Next….

- Lateral
Mrpkan posisi miring kanan atau kiri

- Trendelenburg
Mrpkan posisi dg bagian kepala lebih rendah dari bagian
kaki
Tujuan:
1. Melancarkan peredaran darah ke otak
2. Prosedur perkusi, vibrasi, dan drainase pd kasus paru
3. Memperlancar aliran darah vena
Next….

• Lateral

• Trendelenburg
Next….

- Lithotomy
Mrpkn posisi terlentang dg mengangkat kedua
kaki dan ditarik ke bagian perut
- Tujuan
1. Pemeriksaan alat genital
2. Proses persalinan
3. Pemasangan alat kontrasepsi
B. MOBILISASI DAN IMMOBILITAS

• Mobilisasi adl kemampuan seseorang u/ bergerak


scr bebas, mudah, dan teratur yang bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehat
• Immobilisasi adl suatu keadaan di mana individu
mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan
gerak fisik
Jenis Mobilitas
» Mobilitas Penuh: kemampuan seseorang untuk bergerak
secara penuh & bebas sehingga dapat melakukan interaksi
sosial & menjalankan peran sehari-hari.

• Mobilitas Sebagian: kemampuan seseorang untuk bergerak


dengan batasan jelas & tidak mampu bergerak secara
bebas karena dipengaruhi o/ gangguan saraf motorik
&sensorik pada area tubuhnya

– Mobilitas sebagian temporer: kemampuan individu untuk


bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara

– Mobilitas sebagian permanen: kemampuan individu


untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap.
Faktor yang mempengaruhi
mobilisasi
• Gaya hidupperilaku/ kebiasaan sehari-hari

• Proses penyakit/ cederafraktur femurketerbatasan


pergerakan ekstremitas bawah

• Kebudayaanbudaya sering jalan jauhmobilitas


yang kuat

• Tingkat energisumber untuk melakukan aktivitas

• Usia dan status Perkembanganusia yang


berbedakemampuan/ kematangan fungsi alat gerak
IMOBILISASI
• Immobilisasi : suatu keadaan di mana individu
mengalami / berisiko mengalami keterbatasan
gerak fisik.

• Immobilisasi dapat berbentuk tirah baring yang


bertujuan mengurangi aktivitas fisik &
kebutuhan O2 tubuh, mengurangi nyeri, & untuk
mengembalikan kekuatan.

• Individu normal yang mengalami tirah baring


akan kehilangan kekuatan otot rata-rata 3%
sehari (atropi disuse).
Jenis Imobilitas
• Imobilitas fisikpembatasan bergerak
secara fisikfraktur

• Imobilitas intelektualketerbatasan daya


pikirkerusakan otak

• Imoblitas emosionalpembatasan secara


emosionalstresamputasi

• Imobilisasi sosialhambatan dalam


melakukan interaksi sosialpeyakitperan
Efek fisiologis dan psikologis
immobilitas
• Efek fisiologis
1. Muskuloskeletal (osteoporosis, atrofi otot, kontraktur,
kekakuan dan nyeri sendi)
2. Sistem Respirasi (penurunan gerak pernafasan,
penumpukan sekret, atelektasis)
3. Kardiovaskuler (hipotensi ortostatik, pembentukan
trombus, edema dependen)
Next….

4. Sistem Gastrointestinal (Kondisi imobilisasi


mempengaruhi tiga fungsi sistem pencernaan, yaitu
fungsi ingesti, digesti, dan eliminasi)
5. Metabolisme dan nutrisi (penurunan laju
metabolisme, balance nitrogen negatif, anoreksia)
6. Eliminasi urine (stasis urine, batu ginjal, retensi
urine, infeksi perkemihan)
7. Sistem Integument (turgor kulit menurun,
kerusakan kulit)
8. Sistem Neurosensori (perasaan lelah, iritabel,
persepsi tidak realistis, dan mudah bingung)
Next….

• Efek psikologis
Meningkatkan respon emosional,
intelektual, sensori, dan sosiokultural,
Perubahan emosional yang paling umum
adalah depresi, perubahan perilaku,
perubahan dalam siklus tidur-bangun, dan
gangguan koping
Pengkajian
• Saat mengkaji data tentang masalah
imobilitas, perawat menggunakan
metode pengkajian inspeksi, palpasi
dan auskultasi. Selain itu, perawat
juga memeriksa hasil tes
laboratorium serta mengukur berat
badan, asupan cairan dan haluaran
cairan klien.
Diagnosa Keperawatan

• Gastrointestinal
Konstipasi b.d imobilitas
• Respirasi
Resiko ketidakefektifan bersihan jalan
nafas b.d imobilitas
• Kardiovaskuler
Ketidakefektifan perfusi jaringan
perifer b.d imobilitas
Next….

• Metabolisme
Kelebihan volume cairan b.d bendungan
vena dependen sekunder akibat imobilitas
• Perkemihan
Gangguan eliminasi urine b.d
ketidakmampuan mengakses kamar mandi
akibat hambatan mobilitas
• Integumen
Kerusakan intregitas jaringan b.d imobilitas
Tindakan Keperawatan

1. Merubah Posisi
Posisi yang dimaksud adalah miring kanan
dan miring kiri secara bergantian setiap
kurang lebih 2 jam sekali
2. ROM Pasif dan Aktif
Range Of Motion (ROM) adl suatu teknik
dasar yg digunakan u/ menilai gerakan
dalam suatu program intervensi terapeutik.
Next….

• Tujuan ROM : untuk mempertahankan


mobilitas persendian dan jaringan lunak u/
meminimalkan kehilangan kelenturan
jaringan dan pembentukan kontraktur.
• Faktor2 yg dpt menurunkan ROM: penyakit2
sistemik, sendi, neurologis ataupun otot;
akibat pengaruh cedera atau pembedahan;
inaktivitas atau imobilitas.
Jenis-Jenis Latihan ROM

• Passive ROM (PROM)


• Active ROM (AROM)
• Active-Assistive ROM (A-AROM), adalah
jenis AROM yang mana bantuan diberikan
melalui gaya dari luar apakah secara manual
atau mekanik, karena otot penggerak primer
memerlukan bantuan untuk menyelesaikan
gerakan
Active ROM (AROM)
• Indikasi:
1. Pd st pasien dpt melakukan kontraksi
otot scr aktif & menggerakkan ruas
sendinya baik dg bantuan/tidak.
2. Pd st pasien memiliki kelemahan otot & tdk
dpt menggerakkan persendian sepenuhnya.
3. U/ program latihan aerobik
4. U/ memelihara mobilisasi ruas di atas dan di
bawah daerah yang tidak dapat bergerak.
Next…

• Sasaran:
1. Memelihara elastisitas dan kontraktilitas
fisiologis dari otot yang terlibat
2. Memberikan umpan balik sensoris dari
otot yg berkontraksi
3. Memberikan rangsangan u/ tulang dan
integritas jaringan persendian
4. Meningkatkan sirkulasi
5. Mengembangkan koordinasi dan
keterampilan motorik
Passive ROM (PROM)

• Indikasi PROM:
1. Pd daerah dimana tdpt inflamasi jaringan akut yg
apabila dilakukan pergerakan aktif akn menghambat
proses penyembuhan.
2. Ketika pasien tdk dpt/tdk diperbolehkan u/ bergerak
aktif pd ruas atau seluruh tubuh, misalnya keadaan
koma, kelumpuhan atau bed rest total.
Next…

• Sasaran PROM:
1. Mempertahankan mobilitas sendi dan jaringan ikat
2. Meminimalisir efek dari pembentukan kontraktur
3. Mempertahankan elastisitas mekanis dari otot
4. Membantu kelancaran sirkulasi
5. Meningkatkan pergerakan sinovial untuk nutrisi tulang
rawan serta difusi persendian
6. Menurunkan atau mencegah rasa nyeri
7. Membantu proses penyembuhan pasca cedera dan operasi
8. Membantu mempertahankan kesadaran akan gerak dari
pasien
Jenis Gerakan
• Fleksi
• Ekstensi
• Hiper ekstensi
• Rotasi
• Sirkumduksi
• Supinasi
• Pronasi
• Abduksi
• Adduksi
Sendi yang Digerakan

1. ROM Aktif
Seluruh tubuh dari kepala sampai ujung jari kaki oleh klien
sendri secara aktif.
2. ROM Pasif
Seluruh persendian tubuh atau hanya pada ekstremitas
yang terganggu dan klien tidak mampu melaksanakannya
secara mandiri.
§ Leher (fleksi/ekstensi, fleksi lateral, hiperekstensi, rotasi)
§ Bahu tangan kanan dan kiri ( fkesi/ekstensi, hiperekstensi,
abduksi/adduksi, rotasi bahu, sirkumduksi)
Next...

§ Siku tangan kanan dan kiri (fleksi/ekstensi, pronasi/supinasi)


§ Pergelangan tangan (fleksi/ekstensi/hiperekstensi,
abduksi/adduksi)
§ Jari-jari tangan (fleksi/ekstensi/hiperekstensi,
abduksi/adduksi)
§ Pinggul dan lutut (fleksi/ekstensi, abduksi/adduksi, rotasi
internal/eksternal)
§ Pergelangan kaki (plantar fleksi/ekstensi (dorso fleksi), rotasi)
§ Jari kaki (fleksi/ekstensi, hiperekstensi, abduksi/adduksi) )
Attention…!!!

 Monitor keadaan umum klien dan tanda-tanda


vital sebelum dan setelah latihan
 Tanggap terhadap respon ketidak nyamanan
klien
 Ulangi gerakan sebanyak 3 kali
Contoh Gambar
• Fleksi dan Ekstensi

• Abduksi dan Adduksi


Hand Movements (ROM)

• ROM in wrist includes


flexion, extension,
radial & ulner
deviation
• ROM in hands include
abduction, adduction,
flexion, extension,
opposition and
circumduction of the
thumb.

Anda mungkin juga menyukai