Anda di halaman 1dari 15

PENGUJIAN AKTIVITAS

ANALGETIKA DAN
ANTIINFLAMASI
Teori Dasar…
■ Menurut Goodman & Gilman (2003) analgesik atau obat penghilang rasa nyeri adalah zat-zat
yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Atas dasar
kerja farmakologisnya, analgetik dibagi dalam dua kelompok besar, yakni:
1. Analgesik perifer, merintangi terbentuknya rangsangan reseptor nyeri perifer, yang terdiri dari
obat-obat yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
Contoh: asetosal, ibuprofen, asam mefenamat, paracetamol, dll.
2. Analgetik opioid (narkotik), adalah obat-obat yang daya kerjanya meniru opioid endogen
dengan memperpanjang aktivasi dari reseptor-reseptor opioid, zat-zat ini bekerja terhadap
reseptor opioid khas di SSP, hingga persepsi nyeri dan respon emosional terhadap nyeri
berubah (dikurangi).
Contoh: morfin, kodein, heroin, petidin dan derivatnya, tramadol, dll.
Teori Dasar…
■ Menurut Houglum (2005), antiinflamasi didefinisikan sebagai obat-obat atau
golongan obat yang memiliki aktivitas menekan atau mengurangi peradangan. Obat
antiinflamasi ini terbagi kedalam 2 golongan, yaitu :
1. NSAIDs (Non-Steroid Anti Inflammatory Drugs), merupakan obat yang dapat
mengurangi inflamasi dan meredakan nyeri melalui penekanan pembentukan
prostaglandin (PG) dan tromboksan dengan cara menghambat enzim cyclooxygenase
(COX) 1 dan 2 atau selektif (COX-2) saja.
Contoh : piroxicam, aspirin, natrium diklofenak, dll.
2. SAIDs (Steroid Anti Inflammatory Drugs), adalah obat yang dapat mengurangi
inflamasi dan meredakan nyeri dengan menghambat enzim fosfolipase A2 sehingga
tidak terbentuk asam arakhidonat, yang berimbas pada tidak terbentuknya prostaglandin
Contoh: hidrokortison, deksametason, prednisone, dll.
Tujuan Percobaan…
■ Mengenal berbagai cara untuk mengevaluasi secara ekperimental efek analgetika-
antiinflamasi suatu obat
■ Memahami dasar-dasar perbedaan efektivitas analgetika-antiinflamasi suatu obat
Bahan, Alat, dan Hewan Percobaan…
Bahan Alat Hewan percobaan
1. Suspensi CMC Na 1. Alat suntik dan jarum Mencit putih
2. Aspirin 2. Sonde oral Tikus
3. Parasetamol 3. Pletysmometer
4. Asam mefenamat 4. Stopwatch
5. Piroksikam 5. Timbangan mencit
6. Tramadol 6. Alat siegmund
7. Deksametason 7. Waterbath
8. Asam asetat 1% 8. Spidol
Prosedur
1. Metode Siegmund
Mencit 1 : Diberi CMC-Na (control)
Mencit 2: Diberi Aspirin
Mencit 3 : Diberi Paracetamol Setelah 30 menit mencit
6 ekor mencit disiapkan, setiap diinduksi nyeri dengan asam
Mencit 4: Diberi Asam Mefenamat
mencit diberi sediaan berbeda asetat 1% (i.p) sebanyak
Mencit 5: Diberi Piroksisam 0,5ml/BB mencit
Mencit 6: Diberi Tramadol
(Secara Oral)

Data disajikan dalam bentuk


Setelah pemberian induktor,
tabel dan dihitung daya jumlah geliat dicatat setiap 5
mencit diamati gerakan
proteksi setiap sediaan uji menit selama 60 menit
geliatnya.
terhadap nyeri
Prosedur
2. Metode Jentik Ekor
Mencit 1 : Diberi CMC-Na (control)
Mencit 2: Diberi Aspirin
Setelah 30 menit dimasukkan
Mencit 3 : Diberi Paracetamol ekor mencit kedalam penangas
6 ekor mencit disiapkan, setiap air dengan suhu 50°C.
Mencit 4: Diberi Asam Mefenamat
mencit diberi sediaan berbeda
Mencit 5: Diberi Piroksisam Ekor diletakkan pada penangas
air tidak lebih dari 15 detik
Mencit 6: Diberi Tramadol
(Secara Oral)

Pengamatan dilakukan setiap


5 menit selama 120 menit. Respon nyeri berupa
Dibandingkan parameter Jika 15 detik tidak sentakan ekor keluar
waktu yang teramati. menunjukkan reaksi nyeri penangas air, diukur wakru
makan waktu pengamatan diperlukan ekor tersentak
dianggap 15 detik
Prosedur
3. Metode Antiinflamasi
Diukur volume kaki normal Digunakan 2 ekor hewan,
Kaki mencit atau tikus diberi dengan mencelupkan kaki
perlakuan ditandai dengan hewan sampai batas kedalam air 1. Diberi piroksikam
spidol secara melingkar raksa (alat pletysmometer) 2. Diberi deksametason
sebatas mata kaki dicatat angka yang dicapai pada
skala (Vo) (Secara Oral)

Dicatat volume kaki pada


setiap waktu pengamatan, Diukur volume kaki setelah Setelah 30 menit di induksi
Data disajikan bentuk pemberian induktor. inflamasi dengan
tabel. menyuntikkan 0,05mL
Pengukuran diulang setiap larutan Karagenan 1%
Dihitung volume udem 30 menit selama 2 jam (Vt). secara intraplanar
Vu=Vt-Vo
Hasil Pengamatan…
1. Metode Siegmund
Jumlah Geliatan (kali)
Kel. Sediaan t5 t1 t1 t2 t2 t3 t3 t4 t4 t5 t5 t60 Juml
Uji 0 5 0 5 0 5 0 5 0 5 ah
Kontrol 1 5 9 1 5 5 8 6 7 7 6 3 87
1 5 1 Sediaan Uji %P %E
Aspirin 9 8 9 1 5 4 8 8 6 4 2 6 85
Aspirin 2,3 % 100 %
6
Paraseta 0 0 0 5 5 7 2 2 1 1 3 1 27 Parasetamol 69 % 3000 %

2 mol As. Mefenamat 73,6 % 3200 %


As. 1 1 2 1 6 0 7 0 3 2 0 0 23
Piroksikam 88,5 % 3848 %
Mefenam
at Tramadol 100 % 4348 %

Piroksika 1 1 4 0 3 0 0 1 0 0 0 0 10
3 m
Tramadol 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Hasil Pengamatan…
2. Metode Jentik Ekor
Jumlah Geliatan (sekon)
Kel. Sediaan Uji t0 t10 t20 t3 t4 t5 t60 Rata-rata

0 0 0

Kontrol (CMC Na) 7 8 11, 12 15 4 6 9,07


4 5

Aspirin 14 10 7 9 14 10 10 10,57

Parasetamol 15 15 15 15 15 15 15 15
5

As. Mefenamat 12 15 15 15 15 15 15 14,57

Piroksikam 15 12 15 15 15 11 12 13,57
6

Tramadol 15 15 15 15 15 15 9 14,14
Hasil Pengamatan…
3. Metode Antiinflamasi

Volume kaki tikus pada Pletysmometer (mL)


Sediaan Uji
t0 t30 t60 t90 t120

Kontrol 0,6 0,6 1,1 0,9 1

Piroksikam 0,4 0,6 0,7 0,55 0,5

Deksametason 0,8 0,8 0,9 0,7 0,7


Volume udem (mL)
Sediaan Uji
t30 t60 t90 t120

Kontrol 0 0,5 0,3 0,4

Piroksikam 0,2 0,3 0,15 0,1

Deksametason 0 0,1 0,1 0,1


Pembahasan…
Pembahasan…
Kesimpulan

■ Perbedaan efek analgetik tramadol lebih besar dibanding kan dengan obat
analgetik lainnya karena tramadol langsung bekerja pada menit pertama sehingga
analgetik yang paling baik adalah tramadol.

■ Efek antiinflamasi deksamethason lebih besar dibandingkan dengan piroksikam


dilihat dari penurunan volume udem yang lebih besar pada pemberian
deksamethason dibandingkan dengan piroksikam.
PUSTAKA

■ Goodman & Gilman. 2003. Dasar Farmakologi Terapi vol 1.Jakarta. EGC.
■ Houglum, Peggy. 2005. Therapeutical Exercise for Musculoskeletal Injuries Second
Edition. Human Kinetics