Anda di halaman 1dari 22

Prinsip Peran Pemangku Kepentingan

dan Tanggung Jawab Korporat

Emilia Tri Tani - 1517102004


Mahardika DM - 1517102010
Tanggung Jawab Korporat, Akuntabilitas, dan
Pelaporan Korporat

 Prinsip dan Tanggung Jawab Korporat Peran


perusahaan antara lain, kepercayan investor dan
kreditur terhadap perusahaan akan menekan biaya
modal yang hasrus ditanggung perusahaan. Kepuasan
pelanggan atas produk yang dihasilkan perusahaan
akan meningkatkan penjualan perusahaan. Kerjasama
yang baik dengan pemasok dapat menjamin kualitas,
kontinuitas, dan harga bahan baku yang optimal.
 Tanggung jawab korporat tidak hanya meningkatkan kekayaan pemegang
saham, melainkan juga menjamin hak-hak pemangku kepentingan lainnya
tidak dilanggar, yaitu diantaranya:
 Menghasilkan produk yang berkualitas dan aman.
 Menggunakan sistem produksi yang ramah lingkungan dan menggunakan sumber
daya secara efisien.
 Memperlakukan tenaga kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan
azas kemanusiaan.
 Menggunakan bahan baku yang berkualitas, aman, dan tidak merusak lingkungan.
 Memenuhi kewajiban kepada kreditur atas dana yang ditanamkan diperusahaan.
 Menghindari praktik persaingan usaha yang tidak sehat.
 Mentaati seluruh peraturan perundang-undangan.
 Mentaati seluruh perjanjian dan/atau komitemen dengan berbagai pihak.
 Mengarahkan pembangunan yang berifat berkelanjutan.
 Menurut teori pemangku kepentingan, tanggung
jawab korporat mencerminkan kebutuhan pemangku
kepentingan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan
dalam menjalankan perannya sesuai dengan
kebutuhan pemangku kepentingan (Freeman dan
Phillips (2002) dalam Utama, 2011). Utama (2011)
menyebutkan bahwa upaya manajemen sangat
mempengaruhi pemenuhan tanggung jawab
korporat.
Pengakuan dan Penghormatan terhadap
Kepentingan Para Pemangku Kepentingan

 Prinsip OECD IV membahas tentang peranan


Stakeholders dalam Corporate Governance. Secara
umum, prinsip ini menyatakan bahwa:
 “Kerangka corporate governance harus mengakui hak
stakeholders yang dicakup oleh perundang-undangan
atau perjanjian dan mendukung secara aktif kerjasama
antara perusahaan dan stakeholders dalam menciptakan
kesejahteraan, lapangan pekerjaan, dan sustainability
dari kondisi keuangan perusahaan yang dapat
diandalkan.”
 Terdapat 6 poin dalam prinsip OECD IV ini, yaitu:
 “Hak-hak stakeholders yang terdapat dalam perundang-undangan atau perjanjian harus
dihormati”
 “Jika kepentingan stakeholders dilindungi oleh undang-undang, maka stakeholders harus
memiliki kesempatan untuk menuntut secara efektif hak-hak yang dilanggar”
 “Mekanisme peningkatan kinerja bagi partisipasi karyawan harus diperbolehkan untuk
berkembang”
 “Jika stakeholders berpartisipasi dalam proses tata kelola perusahaan, maka
stakeholders harus memiliki akses terhadap informasi yang relevan, memadai, dan dapat
diandalkan secara tepat waktu dan berkala”
 “Stakeholders masuk di dalamnya karyawan dan serikat pekerja dapat secara bebas
mengomunikasikan kekhawatiran mereka terhadap praktik illegal atau unethical
practices kepada Dewan Komisaris dan pelaporan tersebut tidak boleh memengaruhi
hak-hak mereka”
 “Kerangka tata kelola perusahaan harus dilengkapi dengan kerangka terkait likuiditas
dalam jangka panjang serta penegakan hokum yang efektif dan efisien atas hak-hak
kreditur”
 Pengakuan dan penghormatan hak pemangku
kepentingan untuk ikut serta dalam tata kelola perusahaan
diatur sub-prinsip D, yaitu melalui jaminan akses informasi
yang relevan, memadai, andal, tepat waktu, dan regular. Di
sisi lain, sub-prinsip E, bentuk pengakuan dan
penghormatan hak pemangku kepentingan juga
ditunjukkan oleh kebebasan pemangku kepentingan,
khususnya orang dalam perusahaan, untuk
mengkomunikasikan dugaan tindakan pelanggaran
aturan/etika kepada pihak berwenang.
Peran Aktif Korporat dalam Memberantas
Korupsi

 Menurut UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001,


korupsi mencakup perbuatan:
 Melawan hukum, memperkaya diri orang/badan lain yang
merugikan keuangan atau perekonomian negara (pasal 2).
 Menyalahgunakan kewenangan karena jabatan/kedudukan yang
dapat merugikan keuangan/kedudukan yang dapat merugikan
keuangan/perekonomian negara (pasal 3)
 Kelompok delik penyuapan (pasal 5,6, dan 11)
 Kelompok delik penggelapan dalam jabatan (pasal 8, 9, dan 10)
 Delik pemerasan dalam jabatan (pasal 12)
 Delik yang berkaitan dengan pemborongan (pasal 7)
 Delik gratifikasi (pasal 12B dan 12C)
 Prinsip OECD tidak secara eksplisit mengatur tentang
peran aktif korporat dalam memberantas korupsi. Namun
demikian, sub-prinsip A dan E mengandung semangat anti
korupsi yang harus dilaksanakan perusahaan. Upaya
korporat dalam menghindari tindakan korupsi merupakan
penghormatan korporat terhadap hak pemangku
kepentingan, yaitu Negara dan masyarakat (society).
Sementara itu, peran aktif korporat menjadi whistleblower
atas dugaan tindakan korupsi merupakan salah satu
bentuk implementasi sub-prinsip E.
 Peraturan perundang-undangan di Indonesia belum ada yang secara khusus
mengatur peranan korporasi atau dunia usaha dalam memberantas korupsi.
Namun UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi dan UU No. 20 tahun 2001 yang mengubah UU No. 31 tahun 1999,
Pasal 20, menyebutkan bahwa korporasi dapat terlibat dalam tindakan
korupsi. Korporasi melakukan tindakan korupsi jika korporasi melakukan
perbuatan melawan hukum untuk memperkaya diri (korporasi) atau orang
(korporasi) lain yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian
Negara. Pengelolaan/penggunaan dana dari Pemerintah yang tidak sesuai
dengan peruntukannya merupakan salah satu bentuk tindakan korupsi yang
dapat dilakukan oleh korporat (misalnya korporat memberikan barang/jasa
yang kualitasnya lebih rendah dari spesifikasi yang telah disepakati pada
harga yang sama).
 United Nation Development Program (UNDP) dalam modul Akuntabilitas dan Good
Governance memberikan karakteristik dari corporate governance (2001:7) sebagai berikut:
 Participation. Setiap anggota masyarakat mempunyai hak suara dalam pengambilan
keputusan. Partisipasi dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta
berpartisipasi secara konstruktif.
 Rules of law. Kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu, terutama hukum untuk
hak azasi manusia.
 Transparency. Transparansi dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. Informasi
harus dapat dipahami dan dimonitor.
 Responsivenes. Lembaga-lembaga dan proses harus ditujukan untuk melayani
stakeholders.
 Consensus orientation. Corporate governance menjadi perantara kepentingan yang
berbeda untuk memperoleh pilihan yang terbaik bagi kepentingan yang lebih luas.
 Equity. Semua warga Negara mempunyai kesempatan untuk menjaga dan meningkatkan
kesejahteraannya.
 Effectiveness and efficiency. Proses dan lembaga menghasilkan barang dan jasa sesuai
kebutuhan stakeholder dengan menggunakan sumber daya secara efisien.
 Accountability. Para pengambil keputusan bertanggungjawab kepada publik dan lembaga stakeholder.
 Strategic vision. Para pemimpin publik harus mempunyai perpektif good governance
danbpengembangan manusia yang luas.
Peran Aktif Korporasi dalam Melestarikan
Lingkungan

 Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) terhadap lingkungan


merupakan kemampuan perusahaan untuk menutupi implikasi
lingkungan yang berasal dari produk operasi dan fasilitas,
menghilangkan limbah dan emisi, memaksimalkan efisiensi dan
produktivitas sumber daya alam dan meminimalkan praktek-
praktek yang buruk dapat mempengaruhi kenikmatan sumber
daya alam bagi generasi mendatang. Untuk mewujudkan itu
semua maka dibutuhkan peran aktif korporat dalam
melestarikan lingkungan yang ada. Peran aktif korporat dalam
melestarikan lingkungan adalah salah satu tindakan konkrit
untuk meningkatkan peran serta dunia usaha dalam
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dimana lebih
dikenal dengan sebutan corporate sosial responbility.
 Peran aktif korporat dalam melestarikan lingkungan dapat dilihat dari
kegiatan yang dilakukan seperti:
 Pemakaian bahan baku terpakai per unit produksi dalam program Produksi Bersih.
 Penggunaan listrik per jam operasional dalam program Kantor Ramah Lingkungan.
 Penggunaan bahan bakar dalam program Konservasi SumberdayaAlam dan Energi.
 Volume sampah yang digunakan kembali (reuse), dikurangi (reduce), atau didaur
ulang (recycle) dalam program Pengelolaan Sampah melalui 3R.
 Penggunaan energi terbarukan menggantikan energi fosil dalamprogram energi
terbarukan.
 Kegiatan CSR lingkungan seperti kampanye lingkungan, pemberian bantuan
pendidikan maupun pelatihan, penanaman pohon, pembuatan ruang terbuka hijau
maupun taman, penghematan sumber daya alam yang digunakan di pabrik
ataupun toko, pengajaran hingga pengaplikasian daur ulang serta penggunaan
kembali produk-produknya.
Penyaluran Pengaduan oleh Pemangku Kepentingan
terhadap Kemungkinan Pelanggaran Aturan/Etika oleh Orang
Dalam Korporat

 Standar Kode Etik dan Tanggung Jawab Profesional (Kode


Etik) yang telah disahkan melalui Surat Keputusan Direksi
Nomor: SK-008/DIR/X/10, tanggal 19 Oktober 2010. Seluruh
manajemen dan karyawan wajib memahami standar kode
etik ini sebagai dasar penerapan dalam berperilaku yang
mengatur hubungan antara karyawan dengan Perseroan,
sesama karyawan, pelanggan, pemasok, pemegang saham,
pemangku kepentingan, pemerintah dan masyarakat.
Seluruh manajemen dan karyawan wajib menandatangani
standar kode etik tersebut setiap dua tahun sekali.
 Penanganan terhadap Penyimpangan atas Peraturan
 Perseroan dan Kode Etik dan Tanggung Jawab Profesional
dilakukan melalui penyelidikan yang mendalam dan didasari
dengan fakta-fakta, sedangkan keputusannya dibuat dan
diberikan berdasarkan pertimbangan akibat tindakan, derajat
kesalahan dan motif tindakan.
 Ketentuan Umum Penanganan Pengaduan Pelanggaran
 Perseroan wajib menerima pengaduan pelanggaran dari pihak
internal maupun eksternal. Perseroan wajib menerima dan
menyelesaikan pengaduan pelanggaran, baik dari pelapor
yang mencantumkan identitasnya maupun yang tidak.
Peran Akuntan Profesional dalam
Memfasilitasi Peran Pemangku Kepentingan

 Akuntansi (accounting) dapat diartikan sebagai sistem


informasi yang menyediakan laporan untuk
pemangku kepentingan mengenai aktivitas ekonomi
dan kondisi perusahaan. Para pemangku kepentingan
mengunakan laporan akuntansi yang dibuat oleh para
akuntan profesionalsebagai informasi utama,
meskipun bukan satu-satunya untuk membuat
keputusan.
 Peran akuntan dalam memfasilitasi peran pemangku
kepentingan dapat dilihat dari:
 Mengidentifikasikan pemangku kepentingan
 Menilai kebutuhan pemangku kepentingan
 Merancang sistem informasi akuntansi untuk memenuhi
kebutuhan pemangku kepentingan
 Mencatat data ekonomi mengenai aktivitas dan peristiwa
perusahaan
 Menyiapkan laporan akuntansi bagi para pemangku
kepentingan
 Akuntan profesional dapat berperan aktif dalam mewujudkan prinsip peran pemangku
kepentingan diantaranya, namun tidak terbatas pada:
 Mendorong pengungkapan tentang pemenuhan tanggung jawab korporat.
 Membangun sistem pengendalian internal perusahaan yang menjamin ketaatan
perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan, kontrak perjanjian, serta norma-
norma yang berlaku.
 Membangun sistem yang menghubungkan remunerasi karyawan dengan kinerja jangka
panjang perusahaan sehingga dapat meningkatkan partisipasi karyawan dalam tata
kelola perusahaan.
 Membangun sistem informasi yang menjamin pengungkapan informasi yang tepat
waktu dan andal kepada seluruh pemangku kepentingan.
 Membangun sistem whistleblowing yang andal dan aman bagi para pihak yang
menjalankan peran sebagai whistleblower dan informatif bagi pihak berwenang untuk
menindaklanjuti informasi yang diperoleh.
 Mendorong pengungkapan informasi yang relevan dan andal dalam kerangka
penyelesaian kebangkrutan perusahaan, untuk melindungi para pemangku kepentingan,
khususnya kreditur.
 Peran akuntan terhadap peran pemangku kepentingan dapat dilihat dari sisi:
 Sisi Perusahaan
 Manajemen merupakan pihak intern yang berkaitan langsung dan sangat memerlukan infomasi
keuangan untuk melakukan pengendalian (control), pengkoordinasian (coordination), dan
perencanaan (planning).
 Pihak ekstern yang mempunyai kaitan langsung dengan perusahaan, antara lain investor (pemilik),
kreditor, pelanggan, karyawan, dan masyarakat. Mereka berkepentingan dengan informasi
keuangan perusahaan dengan manfaat yang berbeda-beda, antara lain:
 Pemilik berkepentingan untuk menentukan sikap tetap memegang saham atau melepasnya.
 Kreditor berkepentingan untuk memutuskan kredit kepada perusahaan dapat diperpanjang atau
diperbesar.
 Pelanggan (customer) berkepentingan untuk mengevaluasi hubungan usaha dengan perusahaan.
 Karyawan berkepentingan untuk mengetahui hak-hak yang dapat diperoleh dari peusahaan.
 Masyarakat umum berkepentingan untuk aspek umum dan sosial perusahaan.
 Perusahaan dan berbagai lembaga yang berada dibawah kekuasaannya memerlukan informasi
mengenai alokasi sumber daya. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan aktivitas perusahaan,
menetapkan kebijakan pajak, dan sebagai dasar penyusunan statistik pendapatan nasional.
 Sisi Bisnis
 Dalam dunia bisnis, peran akuntan dapat diartikan sebagai pemberi
informasi dalam bentuk laporan untuk para pemangku kepentingan
mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan. Para pemangku
kepentingan tersebut adalah owners (pemegang saham), employees
(pekerja), customers (pelanggan), creditors (orang yang memberi
pinjaman), government (pemerintah), community (masyarakat). Para
pemangku kepentingan menggunakan laporan akuntansi sebagai
informasi utama, meskipun bukan satu-satunya untuk membuat
keputusan, mereka juga menggunakan informasi yang lain. Sebagai
contoh, dalam memutuskan dalam memberikan fasilitas kredit ke
sebuah toko ritel setempat, bank tidak hanya menggunakan laporan
akuntansi tersebut, tetepi juga mendatangi toko dan bertanya pada
lingkungan sekitarnya mengenai reputasi pemilik toko.
Pelaksanaan Prinsip Peran Pemangku
Kepentingan di Indonesia

 Reviu pelaksanaan prinsip peran pemangku kepentingan di


Indonesia akan dibahas hasil penilaian dari Bank Dunia dan
IICD-ASEAN CG Scorecard. Reviu Bank Dunia yang tertuang
dalam Report on the Observance of Standards and Codes
(ROSC) (World Bank, 2010), antara lain ditampilkan dalam
tabel berikut:
 Hasil penilaian lain yakni dari IICD-ASEAN CG Scorecard (2012-
2013) menunjukkan reratia skor penerapan prinsip OECD ke-4
pada perusahaan Indonesia adalah 52,2 pada tahun 2012 dan
58,5 pada tahun 2013.
KASUS

 Profil PT Lapindo Brantas, Inc.


 PT Lapindo Brantas, Inc adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang usaha
eksplorasi dan produksi migas di Indonesia yang beroperasi melalui skema Kontraktor
Kontrak Kerja Sama (KKKS) di blok Brantas, Jawa Timur. PT Lapindo Brantas, Inc
melakukan eksplorasi secara komersil di 2 wilayah kerja (WK) di darat dan 3 WK lepas
pantai dan saat ini total luas WK Blok Brantas secara keseluruhan adalah 3.042km2. PT
Lapindo Brantas, Inc. adalah perusahaan eksplorasi gas dan minyak yang merupakan
joint venture antara PT. Energi Mega Persada Tbk. (50%), PT Medco Energi Tbk. (32%) dan
Santos Australia (18%). Sementara komposisi jumlah Penyertaan Saham (Participating
Interest) perusahaan terdiri dari Lapindo Brantas Inc. (Bakrie Group) sebagai operator
sebesar 50%, PT Prakarsa Brantas sebesar 32% dan Minarak Labuan Co. Ltd (MLC) sebesar
18%. Dari kepemilikan sebelumnya, walaupun perizinan usaha PT Lapindo Brantas, Inc
terdaftar berdasarkan hukum negara bagian Delaware di Amerika Serikat, namun saat ini
100% sahamnya dimiliki oleh pengusaha nasional. PT Energi Mega Persada, Tbk sebagai
pemegang saham mayoritas dari PT Lapindo Brantas, Inc adalah anak perusahaan dari
Grup Bakrie. Grup Bakrie memiliki 63,53% saham, sisanya dimiliki oleh komisaris PT Energi
Mega Persada, Tbk, Rennier A.R Latief sebesar 3,11%, Julianto Benhayudi sebesar 2,18%,
dan publik sebesar 31,18%. Chief Executive Officer PT Lapindo Brantas, Inc adalah Nirwan
Bakrie, yang merupakan adik kandung dari Aburizal Bakrie.