Anda di halaman 1dari 17

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS PADA

PASIEN TIDAK SADAR


• Pasien yang mengalami penurunan kesadaran perlu
diperiksa secara cepat dan tepat. Seorang dokter perlu
menentukan apakah pasien dalam keadaan koma atau
sudah mengalami kematian batang otak untuk menentukan
keputusan medis terbaik. Untuk itu, pemahaman
menyeluruh mengenai pemeriksaan fisik dan penunjang
pada pasien koma dan kematian batang otak harus
dikuasai. Koma adalah penurunan kesadaran yang paling
rendah atau keadaan unarousable
• unresponsiveness, yaitu keadaan pasien tidak dapat
dibangunkan dengan semua rangsangan dan tidak dapat
berespons terhadap lingkungannya. Kematian otak adalah
hilangnya semua fungsi otak secara ireversibel, termasuk
batang otak.
• 1.) KESADARAN
• (compos mentis), somnolen, sopor, koma
• G.C.S
• Untuk mengikuti perkembangan tingkat kesadaran dapat
digunakan Glassgow Coma Scale yang memperhatikan
tanggapan (respon) penderita terhadap rangsang dan
memberikan nilai pada respon tersebut. Tanggapan /respon
penderita yang perlu diperhatikan adalah :
• Membuka mata
• Respon Verbal (bicara)
• Respon Motorik (gerakan)
• 2) TANDA TANDA RANGSANG MENINGEN
• Keluhan dapat berupa sakit kepala, kuduk terasa kaku,
photofobia (takut cahaya, peka terhadap cahaya) dan
hiperakusis (peka terhadap suara)
• - Kaku Kuduk (Nucal Rigidity)
• Cara Pemeriksaan :
• Tangan pemeriksa ditempatkan di bawah kepala pasien
yang sedang berbaring. Kemudian kepala ditekukkan
(fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada.
Selama penekukan ini diperhatikan adanya tahanan.
Bila terdapat kaku kuduk kita dapatkan tahanan dan
dagu tidak dapat mencapai dada.
• Tanda Laseque
• Cara Pemeriksaan :
• Pasien berbaring, diluruskan kedua tungkainya,
kemudian satu tungkai diangkat lurus,
dibengkokkan (fleksi) pada persendian
panggulnya. Tungkai yang satu lagi harus dalam
keadaan ekstensi. Pada keadaan normal kita
dapat mencapai sudut 700 sebelum timbula rasa
sakit dan tahanan. Bila sudah timbula rasa sakit
dan tahanan sebelum kita mencapai 700, maka
disebut tanda laseque positif
• Tanda Kernig
• Cara Pemeriksaan :
• Penderita yang berbaring, difleksikan pahanya
pada persendian panggul sampai membuat sudut
900. setelah itu tungkai bawah diekstensikan pada
persendian lutut. Biasanya kita dapat melakukan
ekstensi ini sampai sudut 1350, antara tungkai
bawah dan tungkai atas. Bila terdapat tahanan
dan rasa nyeri sebelum tercapai sudut ini, maka
dikatakan bahwa tanda kernig positif.
• Tanda Brudzinki I (Brudzinki’s Neck Sign)
• Cara Pemeriksaan :
• Dengan tangan ditempatkan di bawah kepala pasien yang sedang
berbaring, kita tekukkan kepala sejauh mungkin sampai dagu mencapai
dada. Tangan yang satu lagi sebaiknya ditempatkan di dada pasien untuk
mencegah diangkatnya badan. Bila tanda Brudzinki I positif, maka tindakan
ini menyebabkan fleksi kedua tungkai. Sebelumnya perlu diperhatikan
apakah tungkainya tidak lumpuh.

• Tanda Brudzinki II (Bridzinki’s Contralateral Leg Sign)
• Cara Pemeriksaan :
• Pada pasien yang sedang berbaring, satu tungkai di fleksikan pada
persendian panggul, tungkai yang satu lagi berada dalam keadaan
ekstensi. Bila tungkai yang satu ini ikut pula terfleksi, maka disebut tanda
Brudzinki II positif. Sebelumnya juga diperhatikan apakah terdapat
kelumpuhan pada tungkai.
3) SARAF OTAK
• N. I (N. Olfactorius)
• Kerusakan saraf ini menyebakan hilangnya penciuman
(anosmia) atau berkurangnya penciuman (hiposmia)
• N. II (N. Opticus)
• Fungsi saraf sensorik untuk penglihatan
• Cara Pemeriksaan :
• Pemeriksaan Kasar :
Ketajaman Penglihatan (Acuity of Vision)
Lapangan Pandang (Visual Field/Campus Penglihatan)
• N. III Nervus Okulomotoris, N. IV N. Trokhlearis
dan N. Abdusen N.VI
• Fungsi Saraf Motorik untuk mengangkat kelopak
mata ke atas, kontriksi pupil,
• Cara pemeriksaan : Tes Putaran bola mata,
menggerakan konjungtiva, reflek pupil dan
inspeksi kelopak mata. Pada pemeriksaan refleks
kornea, pemeriksa menggoreskan ujung kapas
secara lembut atau meniupkan udara ke kornea.
Refleks dinyatakan positif jika mata berkedip saat
dilakukan pemeriksaan.
• N. VII N. Facialis
Fungsi : Saraf motorik utk ekspresi wajah
Cara pemeriksaan : senyum, mengangkat bola alis
mata,

N. VIII Vestibulocochlearis
Fungsi : saraf sensorik utk pendengaran dan
keseimbangan.
Cara pemeriksaan test webber dan rinne
• N. IX Glosofaringeus
• Sensasi rasa ( manis asam )
• N. X Vagus
• Reflek Muntah dan menelan ( sensorik )
• N. XI Asesoris
• Mengerakan Bahu
• N. Xii Hipoglosus
• Gerakan Lidah
• Pemeriksaan Neurologis pada Pasien Koma
Setelah pemeriksaan umum, dilanjutkan
dengan pemeriksaan neurologi. Pemeriksaan
neurologi pada pasien koma memerlukan
observasi lebih teliti dan pemberian stimulus
yang adekuat. Pemeriksa membuka selimut
ataupun pakaian yang menutupi ekstremitas
atas dan bawah untuk observasi. Dilakukan
inspeksi apakah ada gerakan spontan seperti
gerakan ritmik yang mungkin menandakan
• adanya kejang. Pemeriksaan saraf kranial
bermakna untuk menilai refleks. Pemeriksaan
fungsi batang otak meliputi pemeriksaan pupil
(ukuran, simetris, dan reaktivitasnya), refleks
kornea, pemeriksaan doll’s eyes
movement/refleks okulosefalik jika tidak ada
kecurigaan terhadap trauma servikal, refleks
vestibulookular/ pemeriksaan kalorik, gag
reflex, serta refleks muntah dan batuk.
• Observasi kedua mata untuk melihat adanya gerakan spontan atau
diskonjugasi bola mata.
• Pemeriksaan refleks cahaya langsung dilakukan satu per satu pada
kedua mata. Perbedaan respons terhadap refleks cahaya langsung
dan/atau diameter pupil menandakan disfungsi pupil.
• Disfungsi pupil lebih sering disebabkan oleh gangguan struktural
seperti perdarahan dan infark. Dilatasi pupil unilateral menunjuk
kan adanya penekanan nervus III akibat herniasi lokal ipsilateral
atau adanya lesi massa.
• Pupil kecil dan tidak reaktif menunjukkan adanya gangguan batang
otak. Dilatasi pupil dan tidak reaktif terjadi pada anoksia berat atau
kerusakan midbrain atau kompresi fokal nervus okulomotorius.
Pinpoint pupils menandakan kerusakan pons yang biasa nya
disebabkan oleh perdarahan/infark.
• 1. Reflek fisiologis
• a. Reflek bisep
• Penatalaksanaan :
• - Fleksikan siku klien, letakan lengan bawah klien diatas paha dengan posisi telapak
tangan keatas.
• - Letakan ibu jari kiri diatas tendon bisep klien
• - Perkusi ibu jari pemeriksa dengan reflek hammer
• - Amati adanya fleksi ringan yang normal pada siku klien, rasakan kontraksi otot bisep
• b. Reflek trisep
• Penatalaksanaan :
• - Fleksikan siku klien, sangga lengan klien dengan tangan nondominan
• - Palpasi tendon trisep sekitar 2 – 5 cm diatas siku
• - Perkusi reflek hammer pada tendon trisep
• - Amati adanya ekstensi ringan yang normal pada siku
• c. Reflek brakioradialis
• Penatalaksanaan :
• - Letakkan lengan klien dalam posisi istirahat/pronasi
• - Ketukkan reflek hammer secara langsung pada radius 2 – 5 cm diatas pergelangan
tangan atau processus stiloid
• - Amati adanya fleksi dan supinasi normal pada lengan klien, jari-jari tangan sedikit
ekstensi
• d. Reflek patella
• Penatalaksanaan :
• - Minta klien duduk ditepi meja priksa agar kaki klien dapat menjuntai dengan bebas tidak
menginjak lantai.
• - Tentukan lokasi tendon patella yang berada tepat dibawah patella
• - Ketukkan reflek hammer langsung pada tendon patella
• - Amati adanya ekstensi kaki atau tendangan kaki yang normal
• e. Reflek Achilles
• Penatalaksanaan:
• - Minta klien duduk di tepi meja periksa agar kaki klien dapat menjuntai dengan bebas tidak
menginjak lantai
• - Dorsofleksikan sedikit pergelangan kaki klien dengan menopang kaki klien pada tangan
pemeriksa
• - Ketukkan reflek hammer pada tendon achilles tepat diatas tumit
• - Amati dan rasakan plantar fleksi (sentakan ke bawah) yang normal pada kaki klien
• f. Reflek Abdominal
• Penatalaksanaan:
• - Posisikan klien supine dan buka area abdomen
• - Lakukan pemeriksaan dengan cara menggoreskan sikat pemeriksa secara vertikal, horizontal,
dan diagonal pada daerah epigastrik sampai umbilikus. Normalnya dinding abdomen akan
kontraksi.
• • Refleks Achilles (APR)
Cara : ketukan pada tendon achilles
Respon : plantar fleksi kaki krena kontraksi m.gastroenemius
• 2. Reflek Patologis • - Respon: seperti reflek babinsky
• a. Reflek plantar atau babinski • d. Reflek Gordon
• Penatalaksanaan: • - Cara: penekanan betis secara keras
• - Gunakan bagian jarum dari reflek• - Respon: seperti reflek babinsky
hammer • e. Reflek Schaffer
• - Goreskan tepi lateral telapak kaki• - Cara: memencet tendon achilles
klien, mulai dari tumit melengkung sampai secara keras
pangkal ibu jari • - Respon: seperti reflek babinsky
• - Babinski (+) jika dorsum fleksi ibu jari,• f. Reflek Gonda
diikuti fanning (pengembangan) jari-jari
• - Cara: penekukan (plantar fleksi)
• b. Reflek Chaddock maksimal jari kaki ke empat
• Penatalaksanaan: • - Respon: seperti reflek babinsky
• - Goreskan bagian maleolus lateral• g. Reflek Hoffman
(buku lali)dari arah lateral ke arah ,edial
sampai di bawah ibu jari kaki • - Cara: goreskan pada kuku jari tengah
pasien
• - Chanddock (+) respon seperti babinski
• - Respon: ibu jari, telunjuk, dan jari
• c. Reflek Openheim lainnya fleksi.
• Penatalaksanaan : •
• - Cara: pengurutan krista anterior tibia
dari proksimal ke distal