Anda di halaman 1dari 54

SIROSIS HEPATIS e.

c HEPATITIS ALKOHOLIK

Wilda
03011309
IDENTITAS
Nomor RM : 01014457
Nama : Tn. M
Jenis kelamin : Laki – laki
Umur : 38 tahun
Alamat : Jl.BANGKA II F NO. 20 Jakarta Selatan
Status marital : Menikah
Pekerjaan : Karyawan swasta
Agama : Islam
Tanggal masuk RS : 15 Januari 2016
ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis
Tanggal : 17 Januari 2016
Pukul : 11.00 WIB

Keluhan Utama Mata kuning


Riwayat penyakit sekarang

mata kuning sejak


±1 bulan SMRS. Penurunan berat
Pada awalnya badan 20 kg
kuning hanya pada dalam 3 bulan
kedua mata, lama terakhir
kelamaan kuning
pada seluruh tubuh

3 hari SMRS
badan terasa Demam (+), mual
lemas, dirasakan (+), tidak nafsu
BAB hitam (+) sejak
nyeri pada perut makan, BAK
3 bulan yang lalu
kanan atas. seperti teh (+)
Riwayat Penyakit Dahulu

3 bulan yang lalu dengan gejala yang


sama dan pasien berobat ke RS Polri
dilakukan pemeriksaan dan dinyatakan
bahwa liver pasien membesar

Hipertensi
DM (-)
(+)
Riwayat Pengobatan

Pasien selama 3 bulan ini


mengkonsumsi obat curcuma
Riwayat kebiasaan

sejak SMP sudah mengkonsumsi alkohol (+) dan


semakin dewasa pasien semakin sering, bahkan
hampir setiap hari

Riwayat imunisasi
Merokok (+) sejak
hepatitis B kurang
masa sekolah
diketahui. Riwayat
sampai saat ini
transfusi darah
disangkal.
Pemeriksaan Fisik
Kepala : Normocephali, simetris, distribusi rambut merata,
berwarna hitam.

Wajah : Simetris, Ikterik, pucat (-), sianosis (-)

Mata : Konjungtiva pucat (+/+), Sklera


ikterik (+/+), Eksoftalmus (-/-),
Ptosis (-), pupil bulat isokor, reflex
cahaya (+/+)

Telinga : Normotia, Liang lapang, serumen (+/+),


cairan (-/-), membran
timpani intak
Leher : JVP 5+3 cmH2O
Thoraks

Inspeksi IKTERIK, Bentuk dada simetris dan pergerakan dada simetris


saat inspirasi dan ekspirasi. Tidak ada bagian yang tertinggal,
penggunaan otot pernafasan (-)

Palpasi Vocal fremitus simetris pada kedua lapang paru

Perkusi Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi Jantung : S1 & S2 reguler, murmur (-), Gallop (-)


Paru : Suara nafas vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen

warna kulit ikterik, tidak terdapat shagging of the flanks, tidak


Inspeksi
ada spider navy, tidak tampak efloresensi bermakna, tidak
tampak dilatasi vena, tidak tampak smiling umbilicus.
nyeri tekan quadran kanan atas (+), hepar teraba membesar 4 jari
Palpasi
b.a.c / 3 jari b.p.x, permukaan rata, tepi rata dan tajam. Tidak terab
a pembesaran spleen.
Perkusi Pekak pada hipokondria kanan

Auskultasi Bising usus 3 x/menit


Ekstremitas
Atas : Akral hangat (+/+), Oedema (-/-), Deformitas (-/-)
Bawah : Akral hangat (+/+), Oedema (-/-), Deformitas (-/-)
Pemeriksaan Penunjang
15/01/2016

Pemeriksaan Hasil Nilai normal


HEMATOLOGI

DARAH LENGKAP
Leukosit 17.3 3.6-11 ribu/µL
Eritrosit 2.6 3.8-5.2 juta/µL
Hemoglobin 10.3 11.7-15.5 g/dL
Hematokrit 30 35-47%
Trombosit 227 150-440 ribu/µL
MCV 115,8 80-100 fL
MCH 40.4 26-34 pg
MCHC 34.9 32-36 g/dL
RDW 12.5 <14%
HATI
AST/SGOT 155 <27 mU/dl
ALT/SGPT 37 <34 mU/dl
METABOLISME KARBOHIDRAT
Glukosa Darah jam 16.00 124 <110 mg/dL

ELEKTROLIT

ELEKTROLIT SERUM
Natrium 132 135-155 mmol/L
Kalium 3.2 3.6-5.5 mmol/L
Klorida 97 98-109 mmol/L
Pemeriksaan Penunjang
16/01/2016

Pemeriksaan Hasil Nilai normal


KIMIA KLINIK

HATI

Bilirubin total 23.05 < 1 U/L


Bilirubin direk 18.00 < 0.3 U/L
Bilirubin indirek 5.05 < 0.6 mg/dL
GINJAL
Ureum 13 13 – 43 mg/dL
Kreatinin 0.36 < 12
IMUNOSEROLOGI

HEPATITIS

HBsAg Kualitatif Non Reaktif Non Reaktif


HEPATITIS C
Anti HCV Non Reaktif Non Reaktif
Pemeriksaan Penunjang

18/01/2016

KIMIA KLINIK

HATI

AST/SGOT 148 <33 mU/dl

ALT/SGPT 24 <50 mU/dl


Pemeriksaan penunjang

08/11/2016

HEPATOMEGALI dengan
FATTY LIVER

USG ABDOMEN

16/01/2016

HEPATOMEGALI e.c
CHRONIK LIVER DISEASES
RINGKASAN
Tn. M, usia 38 tahun datang dengan keluhan mata kuning sejak ±1 bulan SMRS. Pada
awalnya kuning hanya pada kedua mata, lama kelamaan kuning pada seluruh tubuh. 3 hari
SMRS badan terasa lemas, dirasakan nyeri perut pada perut kanan bawah. Nyeri dirasakan
seperti diremas-remas menjalar sampai punggung disertai rasa tidak enak diperut, mual
(+),demam dirasakan setiap sore hari sejak 1 minggu SMRS, BAB lancar, warna seperti air
teh, BAB warna hitam sejak 3 bulan SMRS. Pasien pernah mengalami hal yang sama 3
bulan yang lalu dengan gejala yang sama dan pasien berobat ke RS Polri dilakukan
pemeriksaan dan dinyatakan bahwa liver pasien membesar. Pasien memiliki Riwayat
hipertensi. Pasien selama 3 bulan ini mengkonsumsi obat curcuma. Pasien mengaku sejak
SMP sudah mengkonsumsi alkohol, dan semakin dewasa pasien semakin sering, bahkan
hampir setiap hari mengkonsumsi alkohol. Pada pemeriksaan fisik didapatkan sklera ikterik
+/+, konjungtiva anemis +/+, JVP 5+3 cmH2O,
hepar terba membesar 4 jari b.a.c / 3 jari b.p.x, permukaan rata, tepi rata dan tajam. Pada
pemeriksaan penunjang, didapatkan anemia (hemoglobin 10.3 g/dL), leukositosis (17.3
ribu/µL) SGOT meningkat ( 718 mU/dl), SGOT meningkat (155 mU/dl), hiperglikemia
(glukosa darah 124 mg/dL), ureum menurun (11 mg/dL), bilirubin total meningkat (23.05
U/L), bilirubin direk meningkat (18 U/L), bilirubin indirek meningkat (5.05 mg/dL),
hiponatremia (Na 132 mmol/L), hipokalemia (K 3.2 mmol/L), hipoklorida (97 mmol/L),
HBsAg kulaitatif non reaktif, Anti HCV non reaktif. Pada pemeriksaan USG Abdomen
didapatkan gambaran Hepatomegali e.c Chronik Liver Diseases
DAFTAR MASALAH

1. Hepatitis Alkoholik
2. Hepatomegali e.c Chronik Liver Diseases
3. Electrolit imbalance
4. Anemia
ANALISIS MASALAH
1. Hepatitis alkoholik

Hepatitis alkoholik ditegakan berdasarkan pada anamnesis


dengan pasien, dimana pasien mengkonsumsi alkohol secara
rutin sejak masa sekolah sampai saat ini (>10th) dan
diperkuat dengan hasil laboratorium Anti HCV dan HbsAg
yang non reaktif. Adapun rencana diagnostik untuk masalah
ini adalah USG Abdomen.
Rencana terapi pada masalah ini, antara lain :
• Non medikamentosa
 Hentikan mengkonsumsi minuman beralkohol
 Monitoring :
 Keadaan umum
 Tanda-tanda vital
 Tanda-tanda perdarahan
 Mengedukasikan kepada pasien dan keluarganya mengenai kondisi
pasien, baik penyakit yang dialaminya maupun komplikasi yang dapat
terjadi
• Medikamentosa
1. Aminofusin hepar / 12 jam
2. Kaen Mg 3/ 12 jam
3. Curcuma 3x1
4. HP Pro 3x1
5. Pumpicel 1 x 40 mg
ANALISIS MASALAH
2. Ikterik

Ikterik ditegakkan berdasarkan pada anamnesis,


pemeriksaan fisik didapatkan sclera ikterik +/+, pemeriksaan
laboratorium fungsi hati yaitu tedapat peningkatan bilirubin
total yaitu 23.05 U/L, bilirubin direk 18.00 U/L, bilirubin indirek
5.05 mg/dl, SGOT 155 mU/dl, SGPT 37 mU/dl. Adapun
rencana diagnostik untuk masalah ini adalah USG Abdomen.
Rencana terapi pada masalah ini, antara lain :
• Non medikamentosa
 Hentikan mengkonsumsi minuman beralkohol
 Monitoring :
 Keadaan umum
 Tanda-tanda vital
 Tanda-tanda perdarahan
 Mengedukasikan kepada pasien dan keluarganya mengenai kondisi
pasien, baik penyakit yang dialaminya maupun komplikasi yang dapat
terjadi
• Medikamentosa
1. Aminofusin hepar / 12 jam
2. Kaen Mg 3/ 12 jam
3. Curcuma 3x1
4. HP Pro 3x1
ANALISIS MASALAH
3. Hepatomegali e.c Chronik Liver Diseases

Hepatomegali e.c Chronik Liver Diseases ditegakkan


berdasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium fungsi hati yaitu tedapat
peningkatan bilirubin total yaitu 23.05 U/L, bilirubin direk
18.00 U/L, bilirubin indirek 5.05 mg/dl, SGOT 155 mU/dl,
SGPT 37 mU/dl dan pada hasil pemeriksaan USG abdomen
yaitu Hepatomegali e.c Chronik Liver Diseases
Rencana terapi pada masalah ini, antara lain :
• Non medikamentosa
 Hentikan mengkonsumsi minuman beralkohol
 Monitoring :
 Keadaan umum
 Tanda-tanda vital
 Tanda-tanda perdarahan
 Mengedukasikan kepada pasien dan keluarganya mengenai kondisi
pasien, baik penyakit yang dialaminya maupun komplikasi yang dapat
terjadi
• Medikamentosa
1. Aminofusin hepar / 12 jam
2. Kaen Mg 3/ 12 jam
3. Curcuma 3x1
4. HP Pro 3x1
5. Pumpicel 1 x 40 mg
ANALISIS MASALAH
4. Electrolite Imbalance

Electrolite Imbalance ditegakkan berdasarkan pada


pemeriksaan laboratorium elektrolit, didapatkan hiponatremia
(Na 132 mmol/L), hipokalemia (K 3.2 mmol/L), hipoklorida (97
mmol/L). Adapun rencana diagnostik untuk masalah ini
adalah pemeriksaan elektrolit per hari. Untuk rencana terapi
pada masalah ini, antara lain:
• Non medikamentosa
1. Monitoring kadar elektrolit

• Medikamentosa
1. NaCl 0.9% + KCl 50 meq/8jam
2. KSR 3x1
ANALISIS MASALAH
4. Anemia

Anemia ditegakkan berdasarkan keluhan lemas dan juga


pada pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva anemis pada
kedua mata, serta pada pemeriksaan laboratorium
hemoglobin didapatkan nilai hemoglobin 10.3 g/dL. Adapun
rencana diagnostik untuk masalah ini adalah pemantauan
darah rutin. Untuk rencana terapi pada masalah ini, antara
lain:
• Non medikamentosa
1. Konsumsi makanan dengan gizi seimbang

• Medikamentosa
1. B complex 3 x 1
PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam
FOLLOW UP KOASS
16 Januari 2016

S Mata kuning, BAK warna air teh


O KU : Kompos mentis, Tampak Sakit Sedang
TD : 110/80
HR : 80 kali/menit
RR : 16 kali/menit
S : 370C
Muka : Tidak tampak kelainan
Mata : CA +/+, SI +/+
Leher : dalam batas normal
Thoraks : S1S1 normal regular, M (-), G (-)
SNV +/+, rh -/-, wh -/-
Abdomen : BU (+) 3x/menit, NT quadran kanan, hepar teraba membesar hingga 4 jari b.a.c / 3 jari b.p.x, permukaan rata, tepi rata dan tajam.
Ekstremitas: Akral hangat (+)(+)/(+)(+), deformitas (-), edema (-), CRT <2 detik
Laboratorium :
Hb / Ht / T / L / E : 10.3 / 30 / 227 / 17.3 / 2.6
MCV / MCH : 115.8 / 40.4
SGOT / SGPT : 155 / 37
GDS :124
Na / K / Cl : 132 / 3.2 / 97
A 1. Icterus susp sirosis hepatis
2. Hepatomegaly
3. Anemia
4. leukositosis
5. Hiponatremi
6. Hipokalemi
7. Hipoklorida
P Diagnostik
1. Pemeriksaan Bilirubin total, direk dan indirek
2. Pemeriksaan Ureum dan kreatinin
3. Pemeriksaan HBsAg dan Anti HCV

Non medikamentosa
-
Medikamentosa
1. Aminofusin hepar / 12 jam
2. Kaen Mg 3/12 jam
3. Inj. Cefoperazone sulbactam 2 x 1 gr
4. Inj pumpicel 1x40mg
FOLLOW UP KOASS
18 Januari 2016
S Sakit kepala bagian belakang
O KU : Kompos mentis, Tampak Sakit Sedang
TD : 110/70
HR : 89 kali/menit
RR : 18 kali/menit
S : 37.90C
Muka : Tidak tampak kelainan
Mata : CA -/-, SI +/+
Leher : dalam batas normal
Thoraks : S1S1 normal regular, M (-), G (-)
SNV +/+, rh -/-, wh -/-
Abdomen : BU (+) 3x/menit, NT quadran kanan, hepar teraba membesar hingga 4 jari b.a.c / 3 jari b.p.x, permukaan rata, tepi rata dan tajam.
Ekstremitas: Akral hangat (+)(+)/(+)(+), deformitas (-), edema (-), CRT <2 detik

Laboratorium :
Bilirubin total : 23.05
Bilirubin direk : 18.00
Bilirubin indirek : 5.05
Ureum : 11
Kreatinin : 0.36
HBsAg Kualitatif : Non Reaktif
Anti HCV : Non Reaktif
A 1. Icterus susp sirosis hepatis
2. hepatomegali
P Diagnostik
1. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
Non medikamentosa
-
Medikamentosa
1. Aminofusin hepar / 12 jam
2. Inj. Cefoperazone sulbactam 2x1gr
FOLLOW UP KOASS
19 Januari 2016
S (-)
O KU : Kompos mentis, Tampak Sakit Sedang
TD : 120/70
HR : 80 kali/menit
RR : 18 kali/menit
S : 36,50C
Status generalis :
Muka : Tidak tampak kelainan
Mata : CA -/-, SI +/+
Leher : dalam batas normal
Thoraks : S1S1 normal regular, M (-), G (-)
SNV +/+, rh -/-, wh -/-
Abdomen : BU (+) 3x/menit, NT quadran kanan, hepar teraba membesar hingga 4 jari b.a.c / 3 jari b.p.x, permukaan rata, tepi rata dan tajam.
Ekstremitas: Akral hangat (+)(+)/(+)(+), deformitas (-), edema (-), CRT <2 detik

Laboratorium :
SGOT / SGPT : 148 / 24

A 1. Icterus susp sirosis


2. Hepatomegali
P Diagnostik
-
Non medikamentosa
-
Medikamentosa
1. Aminofusin hepar / 12 jam
2. Inj. Cefoperazone sulbactam 2 x 1 gr
3. Inj pumpicel 1x40mg
SIROSIS HATI
DEFINISI
 Sirosis adalah suatu keadaan patologis yang
menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik yang
berlangsung progresif yang ditandai dengan distorsi dari
arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regeneratif,
gambaran ini terjadi akibat nekrosis hepatoselular. Jaringan
retikulin kolaps disertai deposit jaringan ikat, distorsi jaringan
vaskular, dan regenerasi nodularis parenkim hati.2
EPIDEMIOLOGI
 Lebih dari 40% pasien sirosis asimtomatis. Pada keadaan ini
sirosis ditemukan waktu pemeriksaan rutin kesehatan atau
pada waktu autopsy
 Keseluruhan insidensi sirosis di Amerika diperkirakan 360
per 100.000 penduduk. Penyebabnya sebagian besar akibat
penyakit hati alkoholik maupun infeksi virus kronik.
 Hasil penelitian nonalkoholik dan alkoholik berakhir dengan
sirosis hati dengan prevalensi 0,3%.
ETIOLOGI
 Faktor keturunan dan malnutrisi  kekurangan protein  <<
asam amino (metionin)  mencegah perlemakan hati <<
 Hepatitis virus  virus hepatitis B  hepatitis aktif kronik 
sirosis
 Zat hepatotoksik alkohol pemakaian berulang kali dan
terus menerus penimbunan lemak dalam hati  kerusakan
hati akut : nekrosis / degenarasi lemak , kronis : sirosis
Tabel 1. Sebab-sebab sirosis dan/ atau penyakit hati
kronik2
Penyakit infeksi Obat dan Toksin
- Bruselosis - Alkoholik
- Ekinokokus
- Skistosomiasis
- Amiodaron
- Toksoplasmosis - Arsenic
- Hepatitis virus ( hepatitis B , hepatitis C, - Obstruksi bilier
hepatitis D, sitomegalovirus) - Penyakit perlemakan hati non
alkoholik
Penyakit keturunan dan metabolic - Sirosis bilier primer
- Difisiensi alfa1- antitrypsin - Kolangitis sclerosis primer
- Sindrom fanconi Penyebab lain atau tidak terbukti
- Galaktosemia
- Penyakit gaucher
- Penyakit usus inflamasi kronik
- Penyakit simpanan glikogen - Fibrosis kistik
- Hemokromatosis - Pintas juejunoileal
- Intoleransi fluktosa glikogen - Sarkoidosis
- Tirosinemia herediter
- Penyakit Wilson
KLASIFIKASI

Sirosis secara
Klasifikasi Sirosis
konvensional di
berdasarkan
Mikronodular,
penyebabnya : Sirosis
Makronodular,
Alkoholik, Sirosis
Campuran (yang
Biliaris, Sirosis pasca
memperlihatkan
nekrotik, Cardiac
gambaran mikro-dan
Cirrhosis
makronodular)

Sirosis fungsional: Sirosis hati


kompensata, Sirosis hati
dekompensata
PATOGENESIS
Alkohol  akumulasi lemak
Peningkatan tekanan vena
Sirosis berlebih  menurunkan
cava inferior dan vena
oksidasi asam lemak 
hepatica  akumulasi Laenec
nekrosis sel hati menciut,
abnormal di hati  udem
keras & tidak memiliki
hati
parenkim normal.

Sirosis
Sirosis
pasca
cardiac
Necrotik

Terjadi setelah nekrosis


Stasis empedu 
berbercak pada jaringan hati
penumpukan empedu Sirosis  hepatosit terpisah oleh
didalam hati Kerusakan Biliaris jaringan parut >>
sel hati dimulai dari sekitar
kehilangan sel hati
duktus biliaris  ikterik, hati
membesar , keras,
bergranula halus dan
MANIFESTASI KLINIS

asite
Produksi protein yang rendah, s
gangguan hormon

diafragm
a
menyempit

nafas
DIAGNOSIS
 kriteria Soedjono dan Soebandiri tahun 1973, yaitu bila
ditemukan 5 dari 7 keadaan berikut:
1. eritema palmaris,
2. spider nevi,
3. vena kolateral
4. asites dengan atau tanpa edema,
eritema palmaris
5. splenomegali,
6. hematemesis dan melena,
7.rasio albumin dan globulin terbalik

spider nevi
Vena kolateral
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes fungsi hati meliputi aminotransferase (AST), alkali
fosfatase, gamma glutamil transpeptisida, bilirubin,
albumin, dan waktu protombin
2. Pemeriksaan urin
3. Pemeriksaan Darah
4. Pemeriksaan radiologis
5. Biopsy hati
PENATALAKSANAAN
 diet yang mengandung protein 1 g/kgBB dan kalori 2000-
3000 kkal/hari
 Asites : tirah baring dan diawali diet rendah garam konsumsi
garam sebanyak 5,2 gram atau 90 mmol/hari spinorolakton
dengan dosis 100-200 mg sekali dan terjadinya penurunan
berat badan 0,5 kg/hari).tanpa dengan adanya edema kaki 1
kg/hari Terapi spinorolakton dapat dikombinasikan dngan
furosemide dengan dosis 20-40 mg/hari apabila terapi
spinorolakon tidak adekuat.
 Peritonitis Bakterial Spontan : Terapi diberikan 10-14 hari,
norfloksasin (400mg/hari) dapat mencegah rekurensi atau
relaps.4
 Sindrom hepatorenal dilakukannya transplantasi hati hal ini
dikarenakan terapi obat-obatan yang digunakan seperti
dopamin dan analog prostaglandin
 Ensefalopati Hepatika : Sirup laktulosa dapat diberikan
dengan dosis 30-50 mL setiap jam. Pemberian neomisin
dengan dosis 0,5 – 1 g s
Komplikasi yang sering dijumpai antara lain peritonitis bacterial spontan

KOMPLIKASI
Pada sindrom hepatorenal terjadi gangguan penurunan perfusi
ginjal yang berakibat pada penurunan filtrasi glomerulus

Hipertensi portal adalah varises esophagus mengakibatkan


pendarahan.

Ensefalopati hepatic, merupakan kelainan neuro psikiatrik akibat


disfungsi hati. selanjutnya dapat timbul gangguan kesadaran yang
berlanjut sampai koma.

Pada sindrom hepatopulmonal terdapat hidrotoraks dan hipertensi


portipulmonal.2
PROGNOSIS

CHILD A CHILD B CHILD C


100 % 80 % 45 %

Tabel 2. Klasifikasi Child Pasien Sirosis Hati dalam Terminologi


Cadangan Fungsi Hati.2
Derjat kerusakan Minimal Sedang Berat
Bil. Serum <35 35-50 >50
(mu.mol/dl) >35 30-35 <30
Alb. Serum (gr/dl) Nihil Mudah dikontrol Sukar
Asites Nihil Minimal Berat/koma
PSE/ensefalopati Sempurna Baik Kurang /
Nutrisi kurus
DAFTAR PUSTAKA
1. Teguh Karjadi, Felix Firyanto Widjaja. Pencegahan Perdarahan
Berulang pada Pasien Sirosis Hati. J Indon Med Assoc, Volum: 61,
Nomor: 10, Oktober 2011
2. Nurdjanah S. Sirosis hati diambil dari Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid I Edisi 5. Aru W sudoyo dkk.2009. Jakarta : FK UI.Halaman 668-
673
3. Price Sylvia A, Wilson Lorraine M, Sirosis Hati diambil dari buku
Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Volume 1, Edisi
6,2006,Halaman 493-501
4. Bacon Bruce R.Cirrhosis and its Complication diambil dari buku
Harrison’s Principle of Internal Medicine 18th Edition. Lewis
dkk.2011.USA : McGraw Hill.Halaman 2592-2602
5. Amie Vidyani, Denny Vianto, dkk. Faktor Resiko Terkait Pendarahan
Varises Esofagus Berulang Pada Penderita Sirosis Hati. J Peny
Dalam, Volume 12 Nomor 3 September 2011
Gejala Kegagalan Fungsi Hati Gejala Hipertensi Porta

Ikterus Varises esophagus

Ginekomastia Splenomegali

Eritema Palmaris Asites

Alopesia (Kerontokan rambut) Caput medusa


dada dan aksila
Spider naevi Murmur Cruveilhier-Baungarten
(Bising daerah epigastrium)
Asites
Prognosis (klasifikasi Child-Turcotte-Pugh )
PARAMETER NILAI
1 2 3
Ensefalopati Tidak ada Terkontrol Kurang
dengan terapi terkontrol
Asites Tidak ada Terkontrol Kurang
dengan terapi terkontrol
Bilirubin <2 2-3 >3
Albumin > 3,5 1,8-3,5 <2,8
Waktu < 1,7 1,7-2,2 > 2,2
protrombin/INR

Memprediksi angka kelangsungan hidup pasien dengan sirosis tahap lanjut