Anda di halaman 1dari 13

PNEUMONIA OLEH: Tahtawi Rifai Ridho

(030.10.264)
P E MB IMB IN G : D R . S U K A E NAH B T S H E BU BAK AR, S P.P
EPIDEMIOLOGI
Insidensi tahunan : 5-11 kasus per 1.000 orang dewasa;
15-45% perlu di rawat dirumah sakit (1-4 kasus), dan 5-10% diobati di ICU.
Insidensi paling tinggi pada pasien yang sangat muda dan usia lanjut.
Mortalitas: 5-12% pada pasien yang dirawat di rumah sakit; 25-50% pada pasien
ICU. Di United States, insidensi untuk penyakit ini mencapai 12 kasus tiap 1.000
orang dewasa. Kematian untuk pasien rawat jalan kurang dari 1%, tetapi kematian
pada pasien yang dirawat di rumah sakit cukup tinggi yaitu sekitar 14%.
Di negara berkembang sekitar 10-20% pasien yang memerlukan perawatan di
rumah sakit dan angka kematian diantara pasien tersebut lebih tinggi, yaitu sekitar
30-40%. Di Indonesia sendiri, insidensi penyakit ini cukup tinggi sekitar 5-35%
dengan kematian mencapai 20-50%.3
DEFINISI
Pneumonia adalah peradangan parenkim paru dimana asinus terisi oleh cairan
radang, dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke dalam interstitium.
Secara klinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang
disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). Pneumonia yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis tidak termasuk,
Peradangan paru yang disebabkan oleh penyebab non infeksi (bahan kimia, radiasi,
obat-obatan) lazimnya disebut pneumonitis.
KLASIFIKASI

Menurut Menurut Klinis Menurut Menurut


Penyakit dan Gambaran Predileksi Klinis
Bawaan Epidemiologi Klinis
Community Acquired Typical Pneumonia
Pneumonia Pneumonia Lobaris
Pneumonia Primer
Hospital Acquired Atypical Pneumonia
Pneumonia
Bronkopneumonia
Aspiration Viral Pneumnia
Pneumonia
Pneumonia
Sekunder Pneumonia pada Pneumonia
immunocompromised Fungi Pneumonia interstitial
COMMUNITY ACQUIRED PNEUMONIA (CAP)

Etiologi :
o Klebsiella pneumoniae 45,18%
Definisi : o Streptococcus pneumoniae 14,04%
Adalah pneumonia yang didapat di o Streptococcus viridans 9,21%
luar rumsh sakit atau yang terjadi di o Staphylococcus aureus 9%
rumah sakit dengan rawat inap < 48 o Pseudomonas aeruginosa 8,56%
jam. o Steptococcus hemolyticus 7,89%
o Enterobacter 5,26%
o Pseudomonas spp 0,9%
DIAGNOSIS
 Batuk-batuk bertambah
 Perubahan karakteristik dahak / purulent
 Suhu tubuh > 38o C / riwayat demam
 Pemeriksaan fisis : ditemukan tanda-tanda konsolidasi, suara napas bronkial dan ronki.
 Leukosit > 10.000 atau < 4500.
PORT SCORE
CURB-65
TERAPI
Pengobatan terdiri atas antibiotik dan pengobatan suportif. Pemberian antibiotik
pada penderita pneumonia sebaiknya berdasarkan data mikroorganisme dan hasil
uji kepekaannya, akan tetapi karena beberapa alasan yaitu :
1. Penyakit yang berat dapat mengancam jiwa
2. Bakteri patogen yang berhasil diisolasi belum tentu sebagai penyebab
pneumonia.
3. Hasil pembiakan bakteri memerlukan waktu.
Maka pada penderita pneumonia dapat diberikan terapi secara empiris. Secara
umum pemilihan antibiotik berdasarkan bakteri penyebab pneumonia dapat dilihat
sebagai berikut.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Sebelumnya sehat dan


tidak menggunakan
antibiotik dalam 3
bulan sebelumnya.
• Macrolide (azithromycin,
clarithromycin, atau
erythromycin)
• Doksisiklin
PNEUMONIA NOSOKOMIAL

Pneumonia nosokomial (HAP) adalah pneumonia yang terjadi


setelah pasien 48 jam dirawat di rumah sakit dan disingkirkan
semua infeksi yang terjadi sebelum masuk rumah sakit.

Ventilator associated pneumonia (VAP) adalah pneumonia yang


terjadi lebih dari 48 jam setelah pemasangan intubasi
endotrakeal.
DIAGNOSA BANDING

TB Paru

Atelektasis

Efusi Pleura