Anda di halaman 1dari 9

KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG

REGISTRASI KARTU PRABAYAR PADA


TELEKOMUNIKASI

KELOMPOK IV:
1. Samsul Hadi
2. NurIslamiyati
3. Adian Eka Kartika
4. Muhammad
5. Irawan
6. Munjirul Khair
SIM CARD

 SIM Card ini merupakan kartu yang kita gunakan sebagai berlangganan pada
satu operator seluler. SIM merupakan
singkatan dari Subscriber Identity Module.
 Kartu pintar ini bersifat Removable, dapat dipindah-pindah dari satu
handphone ke handphone yang lainnya selama handphone tersebut tidak
terkunci pada satu operator seluler tertentu. Dengan SIM Card resmi yang
dikeluarkan oleh penyedia jasa telekomunikasi, pengguna di-autentifikasi
untuk masuk dalam jaringan provider tersebut dimulai dari yang paling basic
yaitu mendapat sinyal dari BTS terdekat
sampai bias terhubung ke jaringan internet.
terdapat dua dua logical component yang berfungsi sebagai identitas
pengguna di dalam core network
penyedialayanan. Kedua komponen tersebut adalah:

ICCD : Integrated IMSI : International Mobil


Circuit Card Identifier e Subscriber Identity

ICCD ialah nomor IMSI (International Mobile


registrasi manufaktur dari Subscriber Identity) IMSI
SIM Card. Bisa dilihat di adalah tanda pengenal unik
belakang SIM Card, terdapat pelanggan operator seluler
19 digit nomor yang diprint yang disimpan dalam bentuk
64bit field di SIM Card
disitu
dimana ini dikirimkan oleh
handphone ke jaringan
seluler.
KERESAHAN YANG TERJADI DI MASYARAKAT

Registrasi ulang kartu sim card yang didengunkan oleh pemerintah


dalam hal ini Kementrian komunikasi dan informasi akhir akhir ini menuai
banyak kontroversi. Ada yang setuju, adapula yang tidak setuju. Registrasi
yang katanya terintegrasi dengan e-KTP dimungkinkan untuk mengurangi
tindak kejahatan berbasih seluler atau yang lebih kita kenal dengan "mama
minta pulsa“
Berbagai opini muncul terkait registrasi ulang sim card tersebut, ada
yang beranggapan bahwa mereka takut apabila nantinya datanya bocor dan
diperjual belikan, ada yang berangggapan bahwa terkait pilkada 2019 dan
wacana wacana lainnya yang berdedar.
Sudah banyak keresahan- keresahan yang timbul dimasyarakat yang
sebenarnya tidak perlu diresahkan. Sebuah Kebijakan idealnya memberi
ketenangan, bukan keresahan. Masyarakat pun sulit percaya karna akhir-akhir
ini banyak berita hoax.
UNDANG-UNDANG YANG MENGATUR

Registrasi ulang kartu SIM prabayar menggunakan alas hukum:


Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No 12 Tahun
2016 yang telah diubah dengan Permen Kominfo No. 14 Tahun
2017 tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi, dengan
payung hukum UU No. 36 Tahun 1999. Jadi sebenarnya jelas,
bahwa "perintah" untuk melakukan registrasi ulang kartu SIM
prabayar ada dasar hukumnya. Meski demikian tetap saja muncul
beberapa angapan-anggapan masalah registrasi ulang kartu
simcard ini.
TANGGAPAN BERSIFAT SANKSI
Karena registrasi ulang kartu SIM Kemudian banyak orang
prabayar bersifat wajib tentu ada membandingkan dengan
sanksi yang menyertainya. Utama
adalah sanksi pemblokiran nomor "kewajiban" serupa
pelanggan setelah tanggal 28 sebelumnya dimana
Februari 2018 dengan tahapan- pelanggan harus
tahapan. Tentu yang melakukan mencantumkan identitasnya
pemblokiran adalah perusahaan berupa NIK saat registrasi
jasa atau provider jaringan
telekomunikasi. Bila provider lalai (perdana). Namun banyak
dan abai atas ketentuan ini, maka yang mengabaikan dan tidak
perusahaan itu dijerat dengan ada
sanksi administratif dalam Pasal 22
Permen Menkominfo No 12 Tahun
2016. Sanksi terberatnya adalah
pencabutan izin
TANGGAPAN TENTANG BANYAK ORANG TIDAK BER-KTP

Data resmi yang dikatakan oleh Mendagri, bahwa sampai saat ini masih ada
sekitar 9,39 juta penduduk yang belum memiliki KTP elektronik Dari sekitar
261 juta penduduk, sebanyak 184 juta diantaranya telah wajib memiliki e-KTP.
Dari jumlah itu hingga kini baru sekitar 175 juta yang sudah memiliki e-KTP.
Atau 95% penduduk Indonesia yang sudah memiliki e-KTP.

Hanya 5% yang belum memiliki e-KTP. Sekali lagi, ini dalam katagori e-KTP
bukan KTP (manual). Pasti jumlahnya dibawah 5%. Sebab dalam KTP
(manual) sekalipun NIK tetap dicantumkan. Contohnya, saudara saya yang
belum memperoleh e-KTP tetapi baru memiliki KTP (manual) bisa melakukan
registrasi ulang kartu SIM prabayar dengan identitas NIK di KTP manual
tersebut. Lalu mengapa kita mempersoalkan angka "dibawah 5%" dan abai
atas penduduk mayoritas "diatas 95%"?

Pertanyaan lainya, apakah seorang yang punya NIK dan KK yang sama boleh
memiliki nomor SIM Card yang beda dan dapat diregistrasi? Jawabnya: boleh
dengan batas 3 (tiga) nomor MSISDN. (vide Pasal 11 ayat (1)). Hanya
penjahat "mama minta pulsa" yang dapat memiliki ratusan nomor SIM Card.
TANGGAPAN TENTANG KEBOCORAN "PRIVACY RIGHTS"

Ada anggapan bahwa privacy rights itu dapat dibocorkan dan disalahgunakan.
Pertanyaannya, apakah pemerintah memberi jaminan untuk melindungi data
pribadi pelanggan jasa telekomunikasi? UU No. 36 tahun 1999, Pasal 40
menegaskan hal itu. Pasal 40 menyatakan dengan tegas frasa "setiap orang",
artinya siapapun (tidak hanya pemerintah atau provider) yang melakukan
penyadapan atas informasi akan mendapat sanksi pidana penjara paling lama
15 tahun (vide Pasal 56).

Artinya perbuatan "setiap orang" untuk membocorkan data pelanggan dapat


dipidana maksimal 15 tahun. Meskipun upaya "membocorkan" data pelanggan
dikecualikan dalam Pasal 43 untuk kepentingan proses peradilan pidana.
Maksudnya penyidik dan penuntut dapat meminta kepada provider dan
pemerintah untuk memberikan data pelanggan sebatas dalam proses peradilan
pidana.
KHAMSAHAMNIDA ^^
HAVE A NICE DAY