Anda di halaman 1dari 18

PERPINDAHAN MASSA DIFUSIONAL

Jurusan Teknik Kimia


Politeknik Negeri Sriwijaya

Dr. Ir.H. Muhammad Yerizam, M.T


Minggu ke : 4
Pertemuan ke : 4
LAMA PERKULIAHAN = 16 MINGGU

Minggu ke 1 : Pengantar Perpindahan Massa


Minggu ke 2-4 : Difusi
Minggu ke 5 : Perpindahan Massa Antar Fasa
Minggu ke 6 : Koefisien Perpindahan Massa
Minggu ke 7-8 : Absorpsi
Minggu ke 9 : UTS
Minggu ke 10-13 : Ekstraksi Cair-cair
Minggu ke 14-16 : Ekstraksi Padat-Cair (Leaching)
Minggu ke 17 : SEMESTER
MATERI
PERPINDAHAN MASSA DIFUSIONAL

DIFUSI

1. DIFUSI MOLEKULER DALAM MINGGU KE-3


GAS

2. DIFUSI MOLEKULER DALAM MINGGU KE-4


CAIRAN

3. DIFUSI MOLEKULER DALAM


LARUTAN BIOLOGI DAN GELS
MINGGU KE-5
4. DIFUSI MOLEKULER DALAM
PADATAN
DIFUSI MOLEKULER DALAM CAIRAN
TERDIRI
DARI :

• Pendahuluan
• Persamaan difusi cairan
• Koefisien difusi cairan
• Contoh soal
• Latihan
PENDAHULUAN
Difusi zat terlarut (solute) di dalam larutan sangat penting
dalam banyak proses industri dan proses alami.

1. Terjadi pada Ekstraksi


Cair-Cair
Proses Industri 2. Terjadi pada Absorpsi
Gas
3. Terjadi pada Distilasi

1. Terjadi pada Oksigenasi


dari sungai dan Danau
Proses Alami oleh Udara
2. Terjadi Difusi dari garam-
garam dalam Darah
PERSAMAAN DIFUSI DALAM CAIRAN
Dengan mempertimbangkan rumus gas ideal, maka larutan ideal dapat ditulis

Pt n ρ
C   ...........(35)
R.T V BM
Untuk larutan ideal:
cA
 xA ...........(36)
C
Sehingga pers.(20) dapat ditulis sbb:

N A D AB ρ N A / N A  N B  - x A2
NA    ln
 M av N A / N A  N B  - x A1
...........(37)
N A  NB Z

Dimana : ρ = Densitas larutan, kg/m3


BM=M = Berat molekul cairan, kg/kmol
x = Fraksi mol larutan
1,2 = pada titik awal dan titik akhir
1. DIFUSI A MELALUI B YANG DIAM
PADA STEADY STATE
NA = KONSTAN NB = 0
D AB  ρ  D AB .Cav
NA    ( x A1 - x A2 )  ( x A1 - x A2 ) ...........(38)
Z.x BM  M av (Z 2 - Z1 ).x BM

x B2  x B1
x BM  ...........(39)
(x B2 /xB1 )
ln

x A1  x B1  x A2  x B2  1 Untuk larutan encer xBM = 1,0 dan c = konstan


maka persamaan (38) menjadi

D AB (c A1 - c A2 )
NA  ...........(40)
z 2 - z1
2. DIFUSI A MELALUI B YANG BERLAWANAN
PADA STEADY STATE
NA = - NB
D AB (c A1 - c A2 ) D AB .c av ( x A1 - x A2 )
NA   ...........(40)
z 2 - z1 z 2 - z1

ρ ρ ρ 
c av      1  2  2 ...........(41)
 M av  M1 M2 

Dimana : cav = Konsentrasi total rata-rata dari A+B, kgmol/m3


ρ = Densitas larutan, kg/m3
M = Berat molekul cairan, kg/kmol
x = Fraksi mol larutan
1,2 = pada titik awal dan titik akhir
Contoh : 3
100 kg Laturan Ethanol(A)-Air(B) dalam bentuk lapisan tipis dengan ketebalan 2
mm pada 293 K berkontak dengan suatu pelarut organik. Dalam hal ini etanol
larut, sedangkan air tidak larut. Sehingga NB = 0. kelrutan ethanol pada titik awal
16,8%wt dengan densitas larutan ρ1= 972,8 kg/m3. pada titik akhir konsentrasi
ethanol 6,8%wt dengan densitas larutan ρ2= 988,1 kg/m3 .. Difusivitas ethanol
sebesar 0,740x10-9 m3/s. Hitung fluks NA pada steady state!

Dik : MA=etanol = 46,07 kg/kmol MB=Air = 18,75 kg/kmol


Pt = 101,3 kN/m2 z = 0,002 m
T = 293 K DAB = 0,740x10-9 m3/s
ρ1= 972,8 kg/m3 ρ2= 988,1 kg/m3
Dit : NA ?
Penyelesaian
Rumus yang digunakan : Pers. (38)
D AB  ρ  D AB .Cav
NA    ( x A1 - x A2 )  ( x A1 - x A2 )
Z.x BM  M av (Z 2 - Z1 ).x BM

Konsentrasi awal ethanol 16,8%wt, maka xA1 adalah:


16,8/46,05 0,3613
x A1    0,0732
16,8/46,05  83,2/18,02 0,3613  4,6171
x B1  1- x A1  1  0,0732  0,9268

Konsentrasi akhir ethanol 6,8%wt, maka XA2 adalah


6,8/46,05 0,1477
x A2    0,0277
6,8/46,05  93,2/18,02 0,1477  5,17

x B2  1- x A2  1  0,0277  0,9723

Sehingga nilai XBM adalah:


x B2  x B1 0,9723  0,9268
x BM    949
(x B2 /xB1 ) ln(0,9723/ 0,9268)
ln
Menghitung M1 dan M2
100 kg ρ1 972,8
M1   20,07   48,4704
(0,0732  4,6171) M1 20,07
ρ2 988,1
100 kg   52,6987
M2   18,75 M2 18,75
(0,1477  5,17)

ρ ρ ρ 
Sehingga  c av      1  2  2  (48,474  52,6987)  50,6 kgmol / m3
 M av  M1 M2 
Maka laju difusivitas ethanol (NA) dalam air adalah

D AB ρ D AB .Cav
NA    ( x A1 - x A2 )  ( x A1 - x A2 )
Z.x BM  M av (Z 2 - Z 1 ).x BM

(0,740x10 -9
)(50,6)(0, 0732  0,0277)
NA 
(0,022)(0, 949)

N A  8,99x10 kgmol/s.m
7 2
KOEFISIEN DIFUSIVITAS CAIRAN (DAB)
Koefisien difusivitas cairan (DAB) dapat ditentukan dengan
beberapa rumus empiris yang telah dilakukan oleh peneliti. Untuk
cairan nonelektrolit yang encer dapat dipergunkan pendekan
rumus yang dilakukan oleh Wilke and Chang.

(117,3x10 )( MB )0,5 T


-18
D AB
o
 ...........(42)
μ.ω0,6
A

Dimana : = D AB
o
= Konsentrasi total rata-rata dari A+B, kgmol/m3
MB = Berat molekul cairan, kg/kmol
T = Temperatur, K
 A = Volume molal solut pada titik didih normal, m3/kmol
= 0,0756 untuk air sebagai solut
 = faktor asosiasi untuk solven
= 2,26 untuk air sebagai solven
= 1,9 untuk methanol sebagai solven
= 1,5 untuk ethanol sebagai solven
= 1,0 untuk solven yang tidakterasosias, misal Bnezen dan ethyl ether

 A Dapat dicari menggunakan tabel 2.3 Treybal


Faktor asosiasi (ϕ) untuk solven hanya bisa diukur melalui
eksperimen. Jika (ϕ) tidak ditemukan, maka korelasi empiris dari
Scheibel dapat dipergunakan sebagai D. Ada juga beberapa
keraguan diatas terhadap persamaan (42) untuk menangani
solvent viskositas tinggi, semisal 0,1 kg/m.s (100 cP).

Difusivitas dalam larutan konsentrat berbeda dari yang larutan


encer dikarenakan adanya perubahan viskositas dengan
konsentrasi dan juga disebabkan perubahan derajat nonideal dari
larutan.
 d log A 
D A μ (D o
BA μ A ) (D
xA o
AB μB ) xB
1  ...........(43)
 d logxA 
Dimana : D AB
o
= Difusivitas A pada pengenceran yang tak terbatas dalam B
D BA
o
= Difusivitas B pada pengenceran yang tak terbatas dalam A
A = Koefisien aktivity

_
pA y P
Sedangkan, A   A t ...........(44)
xA pA xA pA
Contoh : 4
Perkirakan difusivitas mannitol, CH2OH(CHOH)4CH20H, C6H14O6
dalam larutan encer air pada 20oC. Bandingkan dengan nilai
observasi 0,56x10-9 m2/s.
Penyelesaian
Dari tabel 2.3 Treybal C6H14O6, ϑA = 0,0148(6) + 0,0037(14) + 0,0074(6) = 0,185

Untuk air sebagai solven, maka ϕ = 2,26, MB = 18,02, T = 293 K.


Untuk larutan encer, viskositas μ bisa diambil sebagai air, 0,001005 kg/m.s

(117,3x10 )( MB )0,5 T


-18
D AB
o

μ.ω0,6
A

(117,3x10 )[2,26(18, 02)]


-18
(293)
0,5
D o
AB 
0,001005(0 ,185)0,6

D AB
o
 0,601x10 9 m 2 /s
Contoh : 5
Perkirakan difusivitas mannitol, CH2OH(CHOH)4CH20H, C6H14O6
dalam larutan encer air pada 70oC. Bandingkan dengan nilai
observasi 1,56x10-9 m2/s.
Penyelesaian

Pada suhu 20oC nilai observasi DAB = 0,56x10-9 m2/s,


viskositas μ = 1,005x10-3 kg/m.s. Pada suhu 70oC viskositas
air adalah 0,4061x10-3 kg/m.s.
Maka persamaan (43) menunjukkan bahwa DAB.μ/T
menjadi konstan.

D AB (0,4061x10 3 ) (0,56 x10 9 )(1,005 x10 3 )



70  272 20  272

D AB  1,62x10 9 m 2 /s pada 70 o C
LATIHAN
1. Perkirakan divusifitas cairan :
a. Larutan encer air pada 10oC
b. Karbon tetraklorida di dalam larutan encer methanol pada
15oc (Nilai observasi DAB = 1,69x10-5 cm2/s
2. Hitung laju difusivitas NaCl pada 18oC melalui lapisan tipis air
yang stagnan 1 mm. Bila konsentrasinya masing-masing pada
awal 20% dan akhir 10%.
3. Difusivitas Bromoform dalam larutan encer aceton pada 25oC ,
DAB = 2,90x10-5 cm2/s. Perkirakanlah difusivita asam benzoat
dalam larutan encer aceton pada 23oC.
4. Hitung laju difusivitas asam asetat (A) yang berada dalam air (B)
yang diam berjarak 1 mm pada 17oC. Konsentrasi awal asam
asetat 9%wt dan pada akhir 13%wt. DAB = 0,95x10-9 m2/s