Anda di halaman 1dari 26

Referat

Poliomyelitis

Oleh:
Mimba Wibiyana
NIM. 1611901027

Pembimbing :
dr. Cherlina, Sp.A

KEPANITRAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RSUD BANGKINANG
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ABDURRAB PEKANBARU
2017
PENDAHULUAN
 Poliomyelitis: penyakit menular akut yang disebabkan
oleh virus dan sering dikenal dengan nama flaccid
paralysis acute (AFP).
 Polio virus disebabkan oleh virus dengan genus
enterovirus tipe 1,2 dan 3 dan semua tipe dapat
menyebabkan kelumpuhan.
 Penyakit polio dapat menyerang semua usia, namun
kelompok umur yang paling rentan adalah usia 1-5 tahun.
Definisi
 Penyakit polio adalah penyakit kelumpuhan akut yang
menular disebabkan oleh virus polio.
 Predileksi virus polio pada sel kornu anterior medula
spinalis, batang otak dan area motorik korteks otak, →
kelumpuhan dan atropi otot.
Etiologi
 Poliomielitis disebabkan: infeksi virus dari genus
enterovirus yang dikenl sebagai poliovirus (PV).
 Virus yang tergolong virus RNA ini biasanya berada di
traktus digestivus.
Epidemiologi
 Infeksi virus polio terjadi di seluruh dunia, untuk Amerika
Serikat transmisi virus polio liar berhenti sekitar tahun
1979.
 Negara-negara Barat, eliminasi polio global secara
dramatis mengurangi transmisi virus polio liar di seluruh
dunia, kecuali beberapa Negara yang sampai saat ini
masih ada transmisi virus polio liar yaitu India, Timur
Tengah dan Afrika.
Patofisiologi
Daerah yang biasanya terkena lesi pada poliomyelitis ialah:
 Medulla spinalis (kornu anterior)
 Batang otak pada nucleus vestibularis
 Serebelum terutama inti-inti pada vermis
 Midbrain terutama masa kelabu, substantia nigra dan
kadang-kadang nucleus rubra
 Talamus dan hipotalamus
 Palidum
 Korteks serebri, hanya daerah motorik
Manifestasi Klinis
 Masa inkubasin adalah 3-6 hari, dan kelumpuhan terjadi
dalam waktu 7-21 hari.
 Kelumpuhan serta atrofi otot
 Infeksi virus polio dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Minor illnesses (gejala ringan): seperti malaise, anoreksia,
nausea, muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorok, konstipasi
dan nyeri abdomen.
2. Major illnesses (paralitik, maupun non-paralitik):
Non-paralitik
 Nyeri kepala, nause, muntah gejala ini timbul 1-2 hari
 kemudian remisi demam atau masuk dalam fase kedua
dengan nyeri otot belakang leher, tubuh dan tungkai
dengan hipertonia disebabkan oleh lesi pada batang otak,
ganglion spinal dan kolumna posterior.
 Bila anak berusaha duduk dari posisi tidur, maka ia akan
menekuk kedua lutut ke atas sedangkan kedua tangan
menunjang kebelakang pada tempat tidur (Tripod sign)
dan terlihat kekakuan otot spinal, Kaku kuduk terlihat
secara pasif dengan Kernig dan Brudzinsky yang positif.
Paralitik
 Kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet.
Bentuk spinal
 Dengan gejala kelemahan/paralysis/paresis otot leher,
abdomen, tubuh, diafragma, toraks dan terbanyak
ekstremitas bawah.
Bentuk bulbar
 Insufisiensi pernafasan, kesulitan menelan, tersedak,
kesulitan makan, kelumpuhan pita suara dan kesulitan
bicara.
 Saraf otak yang terkena adalah saraf V, IX, X, XI dan
kemudian VII.
Bentuk bulbospinal
 Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan
bentuk bulbar
Bentuk ensefalitik
 Dapat disertai gejala delirium, kesadaran yang menurun,
tremor dan kadang-kadang kejang
Diagnosis banding :
 Pseudoparalisis non neurogen : tidak ada kaku kuduk,
tidak ada pleiositosis. Disebabkan oleh trauma/kontusio,
demam reumatik akut, osteomielitis.
 Polyneuritis: gejala para plegi dengan gangguan
sensibilitas, dapat dengan paralysis palatum molle dan
gangguan otot bola mata.
 Poliradikuloneuritis (Guillain Barre Sindrom): Biasanya
diawali demam, paralysis tidak akut tapi perlahan-lahan,
bilateral simetris.
 Miopatia (kelainan progresif dari otot-otot dengan
paralysis dan kelelahan disertai rasa nyeri).
Diagnosis
 Pemeriksaan virologik dengan cara membiakkan virus
polio baik yang liar maupun vaksin.
 Pengamatan gejala dan perjalanan klinik. Gejala lumpuh
layu yang termasuk Acute Flaccid Paralysis.
 Pemeriksaan khusus: Pemeriksaan hantaran saraf dan
elektromiografi dapat merujuk secara lebih tepat
kerusakan saraf secara anatomic.
 Pemeriksaan Residual Paralisis: Dilakukan 60 hari setelah
kelumpuhan, untuk mencari deficit neurologik.
Pemeriksaan Penunjang
 Darah tepi perifer
 Cairan Serebrospinal
 Pemeriksaan Serologik
 Isolasi Virus
Terapi dan Pengobatan
 Tidak ada obat untuk polio, hanya bisa dicegah dengan
imunisasi.
 Tujuan pengobatan adalah mengontrol gejala selagi
infeksi berlangsung.
1. Silent infection : istirahat
2. Poliomielitis abortif : istirahat 7 hari, bila tidak terdapat
gejala apa-apa.
Fase Pre-paralitik
 Semua penderita dengan gejala sistemik yang tak
spesifik→ terjadi paralisis
 Tirah baring: untuk menjaga terjadinya footdrop.
 Bila gelisah: dapat diberikan sedatif ringan.
 Pada otot yang sakit: dikompres buli-buli panas.
 Bila demam→ antipiretik
Fase paralitik
 Fase akut→ analgetik
 Masa konvalesens→ dianjurkan fisioterapi untuk
menjegah kontraktur.
 Fase akut lewat→ fisioterapi aktif.
fase akut
 Antibiotik untuk mencegah infeksi pada otot yang
flaccid
 Analgetik untuk mengurangi nyeri kepala, myalgia,
dan spasme
 Antipiretik untuk menurunkan suhu.
 Foot board, papan penahan pada telapak kaki, agar
kaki terletak pada sudut yang tetap terhadap tungkai
fase post-akut
 Kontraktur, atrofi dan atoni otot dikurangi dengan
fisioterapi. Tindakkan ini dilakukan setelah 2 minggu.
Penatalaksanaan fisioterapi yang dilakukan.
 Exercise (active/passive) terutama pada ekskremitas yang
mengalami kelemahan atau kelumpuhan
 Breathing exercise jika diperlukan
Vaksin Polio
 Vaksin OPV adalah adalah virus yang dilemahkan, yang
bisa mengalami mutasi sebelum dapat bereplikasi dalam
usus dan diekskresi keluar.
 Vaksin ini digunakan secara rutin sejak bayi lahir dengan
2 tetes oral.
 Imunisasi dasar umur 2-3 bulan yang diberikan tiga dosis
terpisah dengan interval 6-8 minggu. Satu dosis sebanyak
2 tetes (0.1 ml) diberikan per oral pada umur 2-3 bulan
dapat diberikan bersama vaksin DPT dan Hib.