Anda di halaman 1dari 26

FARMAKOTERAPI

PENYAKIT KULIT
KELOMPOK :
WILDHAN ALVIAN HAKIM
(3311141136)
AMDES NUR SUPRIHATI
(3311141140)
LUTHFI FAUZIYYAH
(3311141142)
SYAHZINAN SYAHNAZ A.
(3311141156)
EVA SITI SHOHIPAH
(3311141157) 2
1. HERPES SIMPLEKS
Infeksi virus herpes simpleks merupakan penyakit infeksi
yang disebabkan oleh virus herpes simpleks I (HSV-1) dan
virus herpes simpleks II (HSV-2). Virus herpes simpleks tipe
1 ditularkan melalui oral ke oral sehingga menyebabkan
infeksi di sekitar mulut (herpes labialis). Virus herpes
simpleks tipe 2 merupakan penyebab infeksi herpes genitalia
yang paling banyak (70-90%), meskipun studi terbaru
menunjukkan peningkatan kejadian dapat disebabkan oleh
HSV-1 (10-30%). 3
Diagnosis herpes genitalia ditegakkan berdasarkan anamnesis


dan gambaran klinis. Gejala klinis lokal herpes genitalis berupa
nyeri, gatal, disuria, discharge vagina dan uretra serta nyeri
kelenjar inguinal. Gejala sistemik umumnya berupa demam,
nyeri kepala, malaise, dan myalgia. Gambaran klinis dapat
ditemukan papula dan secara progresif berkembang menjadi
vesikel, pustula, dan ulkus yang nyeri. Pemeriksaan
laboratorium untuk membantu diagnosis herpes genitalis antara
lain Tzank test, isolasi virus, deteksi DNA HSV dengan PCR,
deteksi antigen HSV secara enzyme immunoassay (EIA) dan
peningkatan titer antibodi anti-HSV pada serum, yang
bermanfaat pada episode pertama infeksi.
4
Pengobatan herpes genitalis secara umum dibagi 3 bagian yaitu:


terapi episode pertama, terapi rekurensi, dan terapi pencegahan
rekurensi. Pasien dengan herpes genitalia dapat diobati dengan
Asiklovir, Famsiklovir, dan Valasiklovir. Obat ini mencegah
multiplikasi virus dan memperpendek lama erupsi. Pengobatan
hanya untuk menurunkan durasi perjangkitan dan pengobatan
secara simtomatik dengan kompres, antibiotik topical dan obat-
obat untuk menghilangkan nyeri.

5
Farmakoterapi Herpes
◈ Asiklovir
◈ Aktif terhadap virus herpes, tapi tidak bisa mengeradikasinya. Asiklovir
dapat digunakan untuk terapi sistemik Varicella zoster serta terapi
sistemik dan lokal untuk mengatasi infeksi herpes simpleks pada kulit
dan membran mukosa. Obat ini digunakan secara oral untuk infeksi
stomatitis herpetik berat. Salep mata asiklovir digunakan untuk infeksi
herpes simpleks pada mata, yang dikombinasikan dengan terapi sistemik
untuk zoster optalmik.
◈ Dosis : oral: Pengobatan herpes simpleks: 200 mg ,5 kali sehari, selama
5 hari. ANAK di bawah 2 tahun, setengah dosis dewasa. Di atas 2 tahun
berikan dosis dewasa. Pencegahan herpes simpleks kambuhan, 200 mg 4
kali sehari atau 400 mg 2 kali sehari, dapat diturunkan menjadi 200 mg 2
6
atau 3 kali sehari dan interupsi setiap 6-12 bulan.
Farmakoterapi Herpes
◈ Famsiklovir
◈ merupakan prodrug pensiklovir dan memiliki aktivitas yang sama
dengan asiklovir. Diindikasikan untuk herpes zoster dan herpes genitalis.
Tidak seperti asiklovir, famsiklovir hanya perlu diberikan 3 kali sehari.
◈ Dosis : Herpes zoster, 250 mg 3 kali sehari selama 7 hari, atau 750 mg
sekali sehari selama 7 hari. Herpes genitalis, episode pertama, 250 mg 3
kali sehari selama 5 hari. Infeksi kambuhan, 125 mg 2 kali sehari selama
5 hari. ANAK, tidak dianjurkan.

7
Farmakoterapi Herpes
◈ Valasiklovir
◈ merupakan ester asiklovir yang diindikasikan untuk herpes zoster dan
herpes simpleks kulit dan membran mukosa (termasuk herpes genitalis).
Selain pada dewasa, juga diindikasikan untuk mencegah sitomegalovirus
pasca transplantasi ginjal pada anak di atas usia 12 tahun. Famsiklovir
atau valasiklovir merupakan alternatif bagi asiklovir untuk lesi mulut
akibat herpes zoster.
◈ Dosis : Herpes zoster, 1 g tiga kali sehari selama 7 hari. Herpes
simpleks, episode 1 : 500 mg dua kali sehari selama 5 hari; infeksi
kambuhan, 500 mg dua kali sehari selama 5 hari. Herpes simpleks,
suppression, 500 mg sehari dalam 1-2 dosis terbagi. Pencegahan
sitomegalovirus pasca transplantasi ginjal, 2 g empat kali sehari biasanya
8
selama 90 hari.
2. LUKA BAKAR
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang
mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam. Berdasarkan perpindahan energi dari sumber
panas ke tubuh melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik.
a. Luka Bakar Suhu Tinggi (Thermal Burn)
b. Seperti Gas,cairan, bahan padat (solid)
c. Luka Bakar Bahan Kimia (hemical Burn)
d. Luka Bakar Sengatan Listrik (Electrical Burn)
e. Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury)
Berdasarkan perjalanan penyakitnya luka bakar dibagi menjadi 3 fase, yaitu :
a. Fase akut : Pada fase ini problema yang ada berkisar pada gangguan saluran napas karena adanya cedera
inhalasi dan gangguan sirkulasi. Pada fase ini terjadi gangguan keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit
akibat cedera termis bersifat sistemik.
b. Fase sub akut : Fase ini berlangsung setelah shock berakhir. Luka terbuka akibat kerusakan jaringan
(kulit dan jaringan dibawahnya) menimbulkan masalah inflamasi, sepsis dan penguapan cairan tubuh
disertai panas/energi.
c. Fase lanjut : Fase ini berlangsung setelah terjadi penutupan luka sampai terjadi maturasi. Masalah pada
fase ini adalah timbulnya penyulit dari luka bakar berupa parut hipertrofik, kontraktur, dan deformitas
lainnya. 9
Manifestasi Klinik
Derajat I (superficial) Derajat III
a. Lapisan luar epidermis terbakar a. Mengenai seluruh lapisan kulit
b. Edema Kulit kering b. Warna merah tua, hitam, putih atau cokelat
c. Permukaan kering dan edema
c. Pucat saat ditekan
d. Kerusakan jaringan lemak terlihat
d. Eritema ringan hebat

Derajat II (parsial) Derajat IV


a. Mengenai epidermis a. Mengenai seluruh jaringan dibawah
b. Bila dibersihkan tampak homogen kulit
c. Pucat bila ditekan b. Kerusakan jaringan seluruh lapisan kulit
d. Kemerahan dan kulit melepuh c. Mengenai muskulus dan tulang
e. Sensitif terhadap dingin

10
Patofisiologi
1. Respon kardiovaskuler
Perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler melelui kebocoran kapiler mengakibatkan
kehilangan Na, air dan protein plasma serta edema jaringan yang diikuti dengan penurunan curah jantung
Hemokonsentrasi sel darah merah, penurunan perfusi pada organ mayor edema menyeluruh.

2. Respon Renalis
Dengan menurunnya volume inravaskuler maka aliran ke ginjal dan GFR menurun mengakibatkan keluaran
urin menurun dan bisa berakibat gagal ginjal.

3. Respon Gastro Intestinal


Respon umum pada luka bakar > 20 % adalah penurunan aktivitas gastrointestinal. Hal ini disebabkan oleh
kombinasi efek respon hipovolemik dan neurologik serta respon endokrin terhadap adanya perlukaan luas.
Pemasangan NGT mencegah terjadinya distensi abdomen, muntah dan aspirasi.

4. Respon Imonologi
Sebagian basis mekanik, kulit sebgai mekanisme pertahanan dari organisme yang masuk. Terjadinya
gangguan integritas kulit akan memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam luka.
11
Klasifikasi
American Burn Association menggolongkan luka bakar menjadi tiga kategori, yaitu:
1. Luka bakar mayor
a. Luka bakar dengan luas lebih dari 25% pada orang dewasa dan lebih dari 20% pada anak-anak.
b. Luka bakar fullthickness lebih dari 20%.
c. Terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum.
d. Terdapat trauma inhalasi dan multiple injuri tanpa memperhitungkan derajat dan luasnya luka.
e. Terdapat luka bakar listrik bertegangan tinggi.

2. Luka bakar moderat


a. Luka bakar dengan luas 15-25% pada orang dewasa dan 10-20% pada anak-anak.
b. Luka bakar fullthickness kurang dari 10%.
c. Tidak terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum.

3. Luka bakar minor


a. Luka bakar dengan luas kurang dari 15% pada orang dewasa dan kurang dari 10 % pada anak-anak.
b. Luka bakar fullthickness kurang dari 2%.
c. Tidak terdapat luka bakar di daerah wajah, tangan, dan kaki.
d. Luka tidak sirkumfer.
e. Tidak terdapat trauma inhalasi, elektrik, fraktur. 12
Terapi
Luka Bakar Ringan
Luka bakar segera di kompres dengan es yang di bungkus dalam kain sampai rasa sakit hilang, hindari
penggunaan salep luka dan soda masak. Bila kulit menggelembung sebaiknya ditutup dengan kain steril dan
jangan di pecahkan. Dan bila korban dalam keadaan sadar, beri larutan ½ SDT soda masak dan 1 SDT
garam dapur dalam ¼ liter air, minumkan larutan ini pada korban sebanyak ½ gelas tiap 15 menit untuk
mengganti cairan tubuhnya yang hilang, hentikan pemberian cairan bila korban muntah.

Luka Bakar Berat


Jika pakaian dalam keadaan terbakar, padamkan nyala api itu dengan jas, selimut, atau permadani kecil lalu
biarkan korban berbaring untuk mengurangi syok. Potong dan buang pakaian dari daerah yang terbakar.
Bila pakaian yang terbakar menempel pada luka, jangan menariknya, biarkan dan potonglah sekitarnya saja.
Cuci tangan anda dengan bersih untuk mencegah kontaminasi. Tutup luka dengan kain kasa yang tebal,
sehingga dapat memisahkan dari udara, kontaminasi oleh debu dan mengurangi rasa sakit. Bila tidak ada
kain kasa dapat digunakan sprei atau handuk yang bersih.

13
Terapi
Resusitasi Cairan
Tujuan utama dari resusitasi cairan adalah untuk menjaga dan mengembalikan perfusi jaringan tanpa
menimbulkan edema. Kehilangan cairan terbesar adalah pada 4 jam pertama terjadinya luka dan akumulasi
maksimum edema adalah pada 24 jam pertama setelah luka bakar. Prinsip dari pemberian cairan pertama
kali adalah pemberian garam ekstraseluler dan air yang hilang pada jaringan yang terbakar, dan sel-sel
tubuh. Pemberian cairan paling popular adalah dengan Ringer laktat untuk 48 jam setelah terkena luka
bakar. Output urin yang adekuat adalah 0.5 sampai 1.5mL/kgBB/jam.

Antimikroba
Dengan terjadinya luka mengakibatkan hilangnya barier pertahanan kulit sehingga memudahkan timbulnya
koloni bakteri atau jamur pada luka. Bila jumlah kuman sudah mencapai 105 organisme jaringan, kuman
tersebut dapat menembus ke dalam jaringan yang lebih dalam kemudian menginvasi ke pembuluh darah dan
mengakibatkan infeksi sistemik yang dapat menyebabkan kematian. Pemberian antimikroba ini dapat secara
topikal atau sistemik. Pemberian secara topikal dapat dalam bentuk salep atau cairan untuk merendam.
Contoh antibiotik yang sering dipakai : Salep : Silver sulfadiazine, Mafenide acetate, Silver nitrate,
Povidone-iodine, Bacitracin (biasanya untuk luka bakar grade I), Neomycin, Polymiyxin B, Nysatatin,
mupirocin , Mebo.
14
3. MILIARIA
Miliaria atau dalam istilah sehari-hari disebut pula biang keringat, adalah
kelainan pada saluran kelenjar keringat ekcrine yang sering terjadi pada
kondisi panas dan kelembaban yang meningkat. penyumbatan saluran
keringat ini menyebabkan kebocoran kelenjar keringat ekcrin dan masuk
ke dalam lapisan epidermis atau dermis. Hal ini merupakan kondisi yang
cukup sering ditemukan pada kondisi panas dan lembap, dan paling
mudah menjangkiti bayi. Biasanya, dalam kondisi seperti itu, pakaian
bayi yang terlalu hangatlah yang kemudian menyebabkan suhu badannya
meningkat sehingga mengeluarkan keringat yang berlebih.

15
Miliaria Kristalina
Pada miliaria kristalina, penyumbatan duktus paling dangkal terjadi pada stratum korneum. Secara klinis,
bentuk penyakit ini menghasilkan vesikula kecil yang rapuh. Bila titik kebocoran ada di stratum korneum
atau tepat di bawahnya, ada sedikit pembengkakan yang menyertai, dan lesi bersifat asimtomatik.

◈Timbul jaringan kulit abnormal yang berbentuk benjolan, tampak seperti lepuhan pada kulit luar yang
berdiameter kurang lebih 1-2 mm dan tersebar pada bagian tubuh tertentu.

◈Jaringan kulit yang terkena penyakit ini akan terkonsentrasi pada bagian tubuh tertentu, tanpa
warna kemerahan di sekitarnya.

◈Pada bayi, hal ini biasanya terjadi pada bagian kepala, leher, dan badan.
◈Pada orang dewasa, hal ini lebih sering terjadi pada badan.
◈Benjolan pada kulit yang terkena penyakit ini dapat pecahdengan mudah.

16
Miliaria Rubra
Pada miliaria rubra, penyumbatan terjadi lebih dalam di dalam lapisan epidermis dan menghasilkan papula
eritematosa yang sangat pruritus. Kebocoran keringat ke lapisan subkornea menghasilkan vesikel spongiotik
dan infiltrasi sel inflamasi periduktal kronis pada dermis papiler dan epidermis bawah.

◈Kulit yang terkena penyakit ini terlihat penonjolan disertai dengan kemerahan dan benjolan yang mudah
pecah.

◈Jaringan kulit yang terkena penyakit ini tidak terkonsentrasi pada bagian tubuh tertentu, namun disertai
dengan warna kulit kemerahan.

◈Pada orang dewasa, gejala seringkali muncul pada kulit yang tertutup akibat gesekan, seperti leher, kulit
kepala, badan, dan lipatan-lipatan

◈Pada tahap akhir, tubuh penderita tidak akan dapat mengeluarkan keringat secara normal. Jika sudah
begitu,maka tubuh tidak akan dapat mendinginkan diri. Hal ini menyebabkan panas berlebihan pada tubuh
yang dapat berakibat fatal.

17
Miliaria Rubra
Pada miliaria rubra, penyumbatan terjadi lebih dalam di dalam lapisan epidermis dan menghasilkan papula
eritematosa yang sangat pruritus. Kebocoran keringat ke lapisan subkornea menghasilkan vesikel spongiotik
dan infiltrasi sel inflamasi periduktal kronis pada dermis papiler dan epidermis bawah.

◈Kulit yang terkena penyakit ini terlihat penonjolan disertai dengan kemerahan dan benjolan yang mudah
pecah.

◈Jaringan kulit yang terkena penyakit ini tidak terkonsentrasi pada bagian tubuh tertentu, namun disertai
dengan warna kulit kemerahan.

◈Pada orang dewasa, gejala seringkali muncul pada kulit yang tertutup akibat gesekan, seperti leher, kulit
kepala, badan, dan lipatan-lipatan

◈Pada tahap akhir, tubuh penderita tidak akan dapat mengeluarkan keringat secara normal. Jika sudah
begitu,maka tubuh tidak akan dapat mendinginkan diri. Hal ini menyebabkan panas berlebihan pada tubuh
yang dapat berakibat fatal.

18
Miliaria Profunda
Pada miliaria ini, penyumbatan duktus terjadi di persimpangan dermal-epidermal. Keringat bocor ke dalam
dermis papiler dan menghasilkan papula berwarna tanpa gejala asimtomatik. pelepasan keringat ke dermis
papiler menghasilkan infiltrasi limfositik periduktal substansial dan spongiosis pada saluran intra-
epidermal.

◈Terdapat penonjolan kulit berwarna daging yang berdiameter 1-3 mm dan tersebar merata.
◈Kelainan kulit ini terjadi terutama pada bagian badan, tetapi dapat muncul di bagian ujung tubuh seperti
tangan dan kaki.

◈Gejala jenis ini biasanya bersifat sementara dan terjadi setelah penderita melakukan aktivitas yang
merangsang keringat di lingkungan yang panas dan lembap. Gejala akan bertahan kurang dari 1 jam setelah
kondisi panas yang berlebihan berakhir.

◈Pada kasus yang parah, hal ini dapat menyebabkan suhu tubuh sangat meningkat, pusing, kelemahan,
pusing, hingga kolaps.

19
Terapi
Penanganan pada penyakit ini bertujuan untuk mengurangi dan menghilangkan gejala yang timbul. Selain
itu, pengobatan juga ditujukan untuk mencegah keluarnya panas tubuh yang berlebihan. Berikut adalah
beberapa obat yang dapat diberikan pada penderitanya :
1. Losion yang mengandung kalamin, menthol, dan asam borat, lanolin
Efektif untuk menghilangkan rasa tidak nyaman yang timbul pada penderita.

2. Steroid topikal dengan resep dokter


Pada kasus tertentu, dokter akan meresepkan steroid topikal ringan yang dapat memberikan kelegaan pada
kulit guna mengurangi gejala penyakit ini.

3. Antibiotik
Untuk mencegah pertumbuhan bakteri kulit terutama Staphylococcus epidermidis yang dapat memperparah
penyakit.

20
4. LUKA IRIS, LUKA SERUT
Luka iris adalah luka karena benda tajam dengan pinggir-pinggir luka yang rapi.
Luka serut (gesek/abrasi) adalah suatu cedera pada permukaan kulit, disebabkan
oleh permukaan kasar yang bergesekan dengan kulit.

Gejala :
– Sobekan pada kulit yang mungkin membuat cedera jaringan kulit di bawahnya
– Perdarahan yang sedikit sampai sedang yang akan berhenti sendiri
– Sakit/nyeri Komplikasi
– Luka terbuka
– Perdarahan banyak bila mengenai pembuluh darah besar (arteri atau vena)
– Infeksi bakteri (demam, radang, pembentukan nanah).

21
Terapi
Farmakologi
Obat yang mengandung povidon iodine
Kegunaan :
Sebagai antiseptik dan desinfektan pada kulit, luka, sebelum dan sesudah operasi
Cara pemakaian :
Dioleskan pada luka dengan kapas yang dibasahi obat
Sebagai pencuci diencerkan dengan 40 bagian air. Dipakai beberapa kali sehari
Perhatian :
Hentikan pemakaian bila terjadi kemerahan, pembengkakan. Dapat timbul iritasi pada kulit

Non Farmakologi
– Cuci luka di air yang mengalir (di bawah kran air) dan keringkan dengan kertas tisu yang bersih
– Ambil kotoran, gelas/beling atau partikel lain di dalam luka dengan pengait yang– Hentikan perdarahan
dengan cara menekan di atas luka dengan kasa selama beberapa menit
– Bila luka kecil, biarkan terbuka supaya cepat pulih. Bila luka besar, tutup dengan kasa pembalut.
– Periksa dokter bila terdapat komplikasi. Pergi ke unit gawat darurat dirumah sakit terdekat bila terdapat
perdarahan hebat misal : darah memancar dari luka, perdarahan tidak berhenti dengan tekanan, atau sudah
kehilangan sekitar 1-2 cangkir darah
– Perhatikan untuk selalu mencuci tangan sebelum merawat luka. 22
5. PITIARIASIS CAVITIS
Pitiariasis cavitis atau Ketombe merupakan suatu kelainan yang
ditandai oleh skuama yang berlebihan pada kulit kepala (scalp)
berwarna putih atau abu-abu yang tersebar pada rambut,
terkadang dapat disertai rasa gatal, dengan atau sedikit disertai
tanda-tanda inflamasi ringan serta menimbulkan gangguan
estetika. Tanda-tanda tersebut terjadi akibat adanya perubahan
pada stratum korneum yang menunjukkan terganggunya kohesi
corneocyte dan hiperproliferasi sel.

23
Etiologi
Aktivitas kelenjar sebasea
◈ Kelenjar sebasea merupakan tipe kelenjar holokrin yang terdapat pada dermis yang mensekresikan
sebum menuju folikel rambut, aktivitas kelenjar ini berhubungan dengan peningkatan kejadian ketombe
pada usia remaja dan dewasa muda dan menurun pada umur lebih dari 50 tahun..

Metabolisme Mikroflora
◈ Pada kulit manusia terdapat flora normal seperti yang ditemukan pada organ tubuh lain. Salah satu flora
normal pada kulit adalah Malassezia sp. yang amat berperan pada kelainan yang terjadi pada kulit kepala
salah satunya ketombe. Malassezia sp. menimbukan kelainan apabia jumlahnya berlebih.

Kerentanan Individu
◈ Salah satu faktor dalam perkembangan ketombe ialah kerentanan individu.Namun, belum diketahui pasti
bagaimana kerentanan individu dapat mempengaruhi ketombe.Diduga hal ini disebabkan karena
perbedaan dari fungsi barrier stratum korneum, perbedaan respon imun dari protein dan polisakarida
yang berasal dari Malassezia sp. dari setiap individu

24
Patofisiologi dan Gejala
◈Terdapat beberapa urutan patofisiologi terjadinya ketombe :
1. Ekosistem Malassezia dan interaksi Malassezia pada epidermis
2. Inisiasi dan perkembangan dari proses infamasi
3.Proses kerusakan, proliferasi, dan diferensiasi pada epidermis
4. Kerusakan barrier secara fungsional maupun structural

◈ Gejala :
1. rasa gatal
2. iritasi
3. rasa kering pada kulit kepala
4. skuama kecil berwarna putih atau abu-abu yang tidak melekat erat pada kulit
kepala

25
Terapi
◈Bentuk pengelupasan yang parah jika disertai dengan pengelupasan atau
penskalaan pada bagian tubuh lainnya, sebaiknya ditangani oleh dokter kulit.

◈Shampoo anti ketombe yang mengandung Zinc pyrithione aktif.


◈Shampoo anti jamur yang mengandung bahan aktif Ketoconazole.
◈Sifat antijamur Tea tree oil telah dilaporkan bermanfaat dalam pengobatan
ketombe.

26