Anda di halaman 1dari 38

PERTEMUAN KE 14

Torsi/Puntir Pada Balok

Konstruksi Beton Bertulang I 1


1. Torsi/Puntir pada Balok

Gambar 14-1 . Jenis momen puntir

Konstruksi Beton Bertulang I 2


Gambar 14.2 Balok dengan beban puntir

Konstruksi Beton Bertulang I 3


(+)

Ts
(+)
(+) (+)
(+)
Vt max

(+)

Gambar 14.3 Distribusi tegangan torsi pada penampang balok

Konstruksi Beton Bertulang I 4


2. Perencanaan untuk PUNTIR
1. Pengaruh puntir dapat diabaikan bila nilai momen
puntir terfaktor Tu besarnya kurang daripada :
(a) untuk komponen struktur non-prategang:

......(14 – 1)

(b) untuk komponen struktur non-prategang yang


dibebani gaya tarik atau tekan aksial:

......(14 – 2)

Konstruksi Beton Bertulang I 5


dimana :
Acp : luas yang dibatasi oleh keliling luar
penampang beton, mm2
pcp : keliling luar penampang beton, mm.
Nu : beban aksial terfaktor yang terjadi bersamaan
dengan Vu, diambil positif untuk tekan, negatif
untuk tarik, dan memperhitungkan pengaruh
tarik akibat rangkak dan susut, N
Ag : luas bruto penampang, mm2. Untuk penampang
berongga, Ag : luas beton saja dan tidak
termasuk luas rongga.
f : faktor reduksi torsi = 0,75 (SNI-2002)

Konstruksi Beton Bertulang I 6


3. Perhitungan momen puntir terfaktor Tu
(1) Bila momen puntir terfaktor Tu pada suatu
komponen struktur diperlukan untuk
mempertahankan keseimbangan, dan nilainya
melebihi nilai minimum yang disyaratkan, maka
komponen struktur tersebut harus direncanakan
untuk memikul momen puntir.
(2) Pada struktur statis tak tentu dimana dapat terjadi
pengurangan momen puntir pada komponen
strukturnya yang disebabkan oleh redistribusi gaya-
gaya dalam akibat adanya keretakan, momen puntir
terfaktor maksimum Tu dapat dikurangi menjadi:

Konstruksi Beton Bertulang I 7


1) untuk komponen struktur non-prategang

......(14 – 3)

2) untuk komponen struktur non-prategang yang


dibebani gaya aksial tarik atau tekan:

......(14 – 4)

Konstruksi Beton Bertulang I 8


4. Kuat lentur puntir
(a) Dimensi penampang melintang harus memenuhi
ketentuan berikut:
1) untuk penampang solid

......(14 – 5)

2) untuk penampang berongga

......(14 – 6)

Konstruksi Beton Bertulang I 9


dimana :
ph : keliling dari garis pusat tulangan sengkang
torsi terluar, mm

Aoh : luas daerah yang


dibatasi oleh garis
pusat tulangan
sengkang torsi
terluar, mm2

Konstruksi Beton Bertulang I 10


(b) Jika tebal dinding bervariasi di seputar garis
keliling penampang berongga, maka pers. (14-6)
harus dievaluasi pada lokasi dimana ruas kiri
pers. (14-6) mencapai nilai maksimum.
(c) Jika tebal dinding adalah kurang daripada
Aoh /ph, maka nilai suku kedua pada pers. (14-6)
harus diambil sebesar

......(14 – 7)

dengan t adalah tebal dinding penampang berongga


pada lokasi dimana tegangannya sedang diperiksa.
Konstruksi Beton Bertulang I 11
(d) Kuat leleh rencana untuk tulangan puntir non-
prategang tidak boleh melebihi 400 MPa.
(e) Tulangan yang dibutuhkan untuk menahan puntir
harus ditentukan dari:

......(14 – 8)

dengan Tu adalah momen puntir terfaktor pada


penampang yang ditinjau dan Tn adalah kuat
momen puntir nominal penampang.

Konstruksi Beton Bertulang I 12


(f) Tulangan sengkang untuk puntir harus
direncanakan berdasarkan persamaan berikut :

......(14 – 9)

dengan Ao, kecuali ditentukan berdasarkan


analisis, dapat diambil sebesar 0,85Aoh.
Nilai θ tidak boleh kurang daripada 30o dan tidak
boleh lebih besar daripada 60o.

Konstruksi Beton Bertulang I 13


(g) Tulangan longitudinal tambahan yang diperlukan
untuk menahan puntir tidak boleh kurang
daripada:

......(14 – 10)

dengan θ adalah nilai yang sama dengan nilai


yang digunakan dalam pers. (14-9) dan At /s
harus dihitung dari pers. (14-9),

Konstruksi Beton Bertulang I 14


(h) Tulangan untuk menahan puntir harus
disediakan sebagai tambahan terhadap tulangan
yang diperlukan untuk menahan gaya-gaya geser,
lentur, dan aksial yang bekerja secara
kombinasi dengan gaya puntir.

Dalam hal ini, persyaratan yang lebih ketat untuk


spasi dan penempatan tulangan harus dipenuhi.

Konstruksi Beton Bertulang I 15


5. Ketentuan detail tulangan puntir:
(1) Tulangan puntir harus terdiri atas batang tulangan
longitudinal atau tendon dan salah satu atau lebih
dari hal-hal berikut:
a) Sengkang tertutup atau sengkang ikat tertutup,
yang dipasang tegak lurus terhadap sumbu
aksial komponen struktur, atau
b) Jaringan tertutup dari jaring kawat las dengan
kawat transversal dipasang tegak lurus terhadap
sumbu aksial komponen struktur,
c) Tulangan spiral pada balok nonprategang.

Konstruksi Beton Bertulang I 16


(2) Tulangan sengkang puntir harus diangkur dengan
cara-cara berikut:
a) menggunakan kait standar 135o, dipasang di
sekeliling tulangan longitudinal,
b) atau untuk daerah dimana beton yang berada di
sekitar angkur dikekang terhadap spalling oleh
bagian sayap penampang atau pelat atau
komponen struktur sejenis.
(3) Tulangan puntir longitudinal harus mempunyai
panjang penyaluran yang cukup dikedua ujungnya.
(4) Pada penampang berongga, jarak dari garis tengah
tulangan sengkang puntir ke permukaan dalam bagian
dinding rongga tidak boleh kurang daripada 0,5 Aoh /ph.

Konstruksi Beton Bertulang I 17


6. Ketentuan tulangan puntir minimum
(a) Luas minimum tulangan puntir harus
disediakan pada daerah dimana momen puntir
terfaktor Tu melebihi nilai yang disyaratkan
(b) Bilamana diperlukan tulangan puntir, maka luas
minimum tulangan sengkang tertutup harus
dihitung dengan ketentuan:

......(14 – 11)

Konstruksi Beton Bertulang I 18


(c) Bilamana diperlukan tulangan puntir, maka luas
total minimum tulangan puntir longitudinal
harus dihitung dengan ketentuan:

......(14 – 12)

Konstruksi Beton Bertulang I 19


7. Spasi tulangan puntir
(a) Spasi tulangan sengkang puntir tidak boleh
melebihi nilai terkecil antara ph / 8 atau 300 mm.
(b) Tulangan longitudinal yang dibutuhkan untuk
menahan puntir harus didistribusikan di sekeliling
perimeter sengkang tertutup dengan spasi tidak
melebihi 300 mm. Batang atau tendon longitudinal
tersebut harus berada di dalam sengkang. Pada
setiap sudut sengkang tertutup harus ditempatkan
minimal satu batang tulangan atau tendon
longitudinal. Diameter batang tulangan longitudinal
haruslah minimal sama dengan 1/24 spasi
sengkang, tetapi tidak kurang daripada 10 mm.

Konstruksi Beton Bertulang I 20


(c) Tulangan puntir harus dipasang melebihi jarak
minimal (bt + d) di luar daerah dimana tulangan
puntir dibutuhkan secara teoritis.

dimana :
bt : lebar bagian penampang yang dibatasi oleh
sengkang tertutup yang menahan puntir

Konstruksi Beton Bertulang I 21


8. Langkah-langkah disain untuk balok yang
dibebani TORSI, GESER dan MOMEN
Langkah 1 :
Tentukan gaya geser, momen dan diagram torsi.
Pilih “b” dan “d” berdasarkan momen Mu.
Check defleksi dan rubah “ d ” jika dibutuhkan.
Dimensi penampang dapat dirubah jika penampang
tidak kuat terhadap geser. Penampang persegi
sangat baik untuk menahan momen torsi.

Langkah 2 :
Torsi dapat f. f  A 2 '

diabaikan jika : Tu  . cp c
 ….(a)
12  p cp 

Konstruksi Beton Bertulang I 22
Langkah 3 :
Check dimensi penampang balok, untuk penam-
pang solid : jika,

….(b)

 perbesar dimensi penampang


Penampang kritis dari torsi dan geser berada
sejarak “ d ” dari muka tumpuan

Konstruksi Beton Bertulang I 23


Untuk penampang hollow (berongga):

….(c)

Langkah 4 :
Tentukan luas tulangan untuk momen lentur,
dan luas tulangan geser untuk geser vertikal.
Luas penulangan geser dapat dituliskan dalam
bentuk Av /s (luas tulangan geser per unit
panjang), sehingga dapat dikombinasikan
dengan luas tulangan geser yang dibutuhkan
untuk torsi.

Konstruksi Beton Bertulang I 24


Vu
Hitung : Vs   Vc ….(d)
f
Av Vs
Hitung :  ….(e)
s f y .d
Langkah 5 :
Tentukan luas tulangan torsi dalam bentuk At /s :
At Tu
 ….(f)
s 2.f. f yv . Ao. cot 
Gunakan f = 45o dan fyv < 400 MPa.
Ao sama dengan 0,85 kali luas yang dibatasi
oleh sengkang terluar.

Konstruksi Beton Bertulang I 25


Langkah 6 :
Untuk ukuran sengkang tertentu, jumlahkan luas
tulangan yang dibutuhkan untuk geser dan torsi.
Untuk sengkang dengan 2 kaki :
Av , total  Av   2. At 
    ….(g)
s  s   s 
Tentukan ukuran tulangan, dan hitung jarak sengkang yang
dibutuhkan.
Spasi tulangan tidak boleh melebihi ph/8 atau 300 mm.

Jika hanya dibutuhkan sengkang dengan 2 kaki, hanya


sengkang terluar yang harus tertutup. Tulangan puntir harus
dipasang melebihi jarak minimal (bt + d) di luar daerah dimana
tulangan puntir dibutuhkan secara teoritis.

Konstruksi Beton Bertulang I 26


Jarak maksimum sengkang, didasarkan pada
gaya geser Vu , dimana :

s  d/2 jika Vs  , tidak melebihi 600 mm

s  d/4 jika Vs  , tidak melebihi 300 mm

Langkah 7 :
Check luas minimum tulangan sengkang :

….(h)

Konstruksi Beton Bertulang I 27


Langkah 8 :
Hitung luas tulangan torsi longitudinal :

….(i)

Jika baja tulangan sengkang dan longitudinal


mempunyai mutu yang sama dan  diambil 45o,
maka pers. diatas dapat ditulis :

 At 
Al  p h .   ….(j)
 s 

Konstruksi Beton Bertulang I 28


Tetapi Al tidak boleh lebih kecil dari :

….(k)

Tulangan longitudinal harus di-distribusikan merata


sekeliling penampang balok, harus mempunyai
diameter minimum 1/24 spasi sengkang atau 10 mm.

Langkah 9 :
Gabungkan tulangan longitudinal untuk torsi
dan tulangan lentur dan tentukan tulangan

Konstruksi Beton Bertulang I 29


Contoh : Disain balok untuk Torsi, Geser dan Momen
Diketahui suatu balok kantilever dengan dimensi sbb :
U 200 U

U = 1,2D + 1,6L
= 20 kN/m’
l =3 m
d
Mu = ½.U.l2
Vu = 1/2 .20. 32
= 90 kNm
(-)
Mu
Beban merata U bekerja 200 mm
dari titik berat penampang.
Tu fc’ =25 MPa, dan fy = 400 MPa

Konstruksi Beton Bertulang I 30


Solusi :
1. Tentukan tinggi minimum balok (dimana lendutan tak perlu dihitung)
l 3000
hmin    375mm
8 8
 ambil h = 400 mm , b = 200 mm dan d = 360 mm

2. Disain tulangan lentur : Mu = 90 kNm ,  disain tulangan tunggal


 . f y 
M u  f .  .b.d . f y 1  0,59. '
2

 fc 
  .400 
90 x 106  0,8 .  .200.360 2.400 1  0,59. 
 25 
diperoleh : 1 = 0,0123 (dipakai ) dan 2 = 0,0937 (tdk dipakai)

As = . b. d = 0,0123 x 200 x 360 = 885,6 mm2


Konstruksi Beton Bertulang I 31
3. Check apakah torsi dapat diabaikan :
Torsi akibat beban luar : (sejarak d = 360 mm)

Tu = (3-0,36)/3 x 20 x 3 x 0,2 = 10,56 kNm


Torsi dapat diabaikan, jika :

f . f c'  Acp2  0, 75. 25  200 x 4002 


Tu  .  , Tu  .    1,67 kNm

12  p cp   12  200 x 2 2 x 400 
Karena Tu = 10,56 kNm > 1,67 kNm  Torsi harus diperhitungkan

4. Tentukan tulangan geser :

 25 
, Vc   . 200.360  60 kN

 6 
Konstruksi Beton Bertulang I 32
Geser akibat beban luar : (sejarak d = 360 mm)

Vu = (3-0,36)/3 x 20 kN/m x 3 m = 52,8 kN


52,8
Vu 54,6
Vs   Vc   60  12,8 kN
f 0,75 10,4
Av Vs 12,8 x1000
   0,089 mm2 / mm
s f y .d 400.360 0,072

Dalam bentuk : At /s ,

At Av 0,036
  0,0445 mm 2 / mm
s 2s

Konstruksi Beton Bertulang I 33


5. Tentukan tulangan yang dibutuhkan untuk TORSI :
10,56
At Tu 10,92 x10 6
   0,474 mm2 / mm
s 2.f . f yv . Ao. cot  2.0,75.400.120.320 0,45
6. Gabungkan tulangan geser dan torsi :
At 0,036 0,45 0,486
 0,0445  0,474  0,5185 mm2 / mm
s
Jika dipakai f10, maka : At = 157 mm2

s = (157)/(0,486) = 323,05 mm : Gunakan s = 100 mm

Spasi maksimum : 300 mm atau ph/8 = 2 (120+320)/8 = 110 mm,


sehingga spasi 100 mm cukup, dan dipasang pada sepanjang
balok

Konstruksi Beton Bertulang I 34


7. Chek tulangan minimum :

Av 2 At 75. f c' .bw


 
s s 1200. f yv

0,072 0,45 0,972


0,089  2.(0,474)  1,037  0,9375 …..OK

8. Hitung luas tulangan longitudinal untuk TORSI :


 At  0,45 396
Al  p h .    2.(320  120).0,474  417,12 mm 2
 s 
Spasi maksimum untuk tulangan torsi longitudinal adalah 300 mm,
maka Al dibagi menjadi 3 bagian (atas , tengah dan bawah )

Konstruksi Beton Bertulang I 35


396
Al 417,12 132
diperoleh : As    139,04 mm2
3 3

Karena diameter minimum tulangan longitudinal db = 1/24.s

 db = 1/24 . 75 mm = 3,125 mm
Gunakan 2 bh tulangan diameter 10 mm, As = 157 mm2 > 132 mm2
untuk tulangan bawah dan tengah
Untuk tulangan atas, tulangan longitudinal dan lentur
dikombinasikan dari As = 885,6 mm2 menjadi
As = 885,6 mm2 + 132 mm2 = 1017,6 mm2

Gunakan tulangan D22, diperoleh n = 3bh


Ambil tulangan 3D22, dengan As = 1140 mm2 … OK

Konstruksi Beton Bertulang I 36


3D22
D10 - 100
2D10

2D10

3D22

Detail penulangan
2D10

400 D10 - 100

2D10

200

Konstruksi Beton Bertulang I 37


9. Check tulangan minimum :

10. Check dimensi penampang balok,


untuk penampang solid :

Kesimpulan :
Tulangan Lentur + Torsi : 3D22
Tulangan geser : D10-100
Tulangan Torsi : 2D10 (bawah dan tengah)
home
Konstruksi Beton Bertulang I 38