Anda di halaman 1dari 13

TRANSITION ZONE

“LEAP FROG DEVELOPMENT”


ANALISIS LOKASI POLA RUANG - 2017
KELAS B

Yusril Ramadhan (135060600111039) Satriya Fauzan A (135060601111005)

Muammal (135060600111047) Wage Roro Yuli H (135060601111027)

Kartika Septi K (135060601111002) Moch. Thomas S (135060601111030)

Nadhia Maharany S (135060601111003) Akhmad Beny Z (135060601111033)


• 1 Pendahuluan

• 2 Pengertian Urban Sprawl

OUTLINE • 3 Proses Urban Sprawl

Dampak Dari Fenomena


•4 Leapfrog Development

• 5 Studi kasus
Sejarah Terjadinya Leapfrog Development

Sehingga menjadi salah satu faktor timbulnya kantong-kantong


kurangnya koordinasi dalam melakukan pengembangan
pembangunan yang tersebar di beberapa daerah terpisah
pembangunan

Fenomena urban sprawl tidak berhenti pada


kasus di Amerika, akan tetapi fenomena ters penyebab terjadinya urban sprawl di Indonesia yaitu ledakan jumlah penduduk
ebut menyebar dan saat ini sedang marak di dan pertambahan penduduk tiap tahunnya yang tidak diikuti dengan kesiapan
beberapa kota besar di Indonesia. dari pemerintah Indonesia

sehingga hal tersebut menyebabkan tinggal jauh dari pusat kota dan segala permasalahan yang timbul akibat perang dunia kedua
penduduk memilih untuk tinggal di menjadi impian penduduk Amerika untuk menghindar dari masalah yang muncul
rumah yang jauh dari pusat kota

Perang dunia kedua


mengakibatkan seperti timbulnya kemacetan, polusi, sistem instalisasi pengelolaan air limbah (IPAL) yang tidak bekerja maksi
kekacauan di mal dan tidak mampu mengelola sistem pembuangan limbah di kota, sedangkan pemerintah kota tidak mampu
mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut
perkotaan Amerika
Sehingga dapat menyebabkan
Berkembang kawasan perumahan yang tersebar, tidak teratur dan
tidak terintegrasi sehingga muncul ruang kosong antar kawasan
Pengertian

“Urban Sprawl” atau dikenal


dengan pemekaran kota merupakan

Urban bentuk bertambah luasnya kota


secara fisik secara terus menerus,
sehingga menyebabkan konversi

Sprawl lahan di daerah pinggiran kota.


Perluasan kota disebabkan oleh
semakin berkembangnya
penduduk dan semakin tingginya
arus urbanisasi”

Wilson, 2002 & Mattern, 2005


• • •

Perembetan Konsentris Perembetan Memanjang Perembetan yang


(Concentric Development (Ribbon development/ meloncat (leap frog
/Low Density Continous linear development/axial development/checkerboard
Development) development) development)

Yunus (2005)
Leap frog development
Yunus, 1987 & Yunus, 2002
Perkembangan lahan kekotaannya Pembiayaan pembangunan
terjadi berpencaran secara sporadis dan tumbuh jaringan-jaringannya sangat tidak
di tengah-tengah lahan pertanian. Tipe ini sangat sebanding dengan jumlah
cepat menimbulkan dampak negatif terhadap penduduk yang diberi fasilitas.
kegiatan pertanian pada wilayah yang luas Khususnya apabila dibandingkan
sehingga penurunan produktivitas pertanian dengan penduduk yang tinggal di
akan lebih cepat terjadi. areal perkotaan yang kompak.

Keadaan ini sangat menyulitkan Tipe perkembangan ini oleh


pemerintah kota untuk membangun prasar kebanyakan pakar lingkungan
ana-prasarana Dianggap paling merugikan,
fasilitas kebutuhan hidup sehari-hari. tidak efisien dalam arti
ekonomi, tidak mempunyai
nilai estetika dan tidak
menarik.
Mengurangi area hutan, lahan petanian dan ruang terbuka hijau s
1 ehingga Mengganggu ekosistem dan habitat alami makhluk hidup
(Wilson, 2002)

Dampak Dari
ketergantungan terhadap mobil/kendaraan bermotor menjadi ga

Fenomena 2 ya hidup yang ditandai dengan meningkatnya konsumsi energi f


osil dan gas emisi yang ditimbulkannya (Wilson, 2002)

Leapfrog 3
Membuat perjalanan menjadi semakin panjang sehingga mening
katkan kemacetan lalu lintas dan dan mengurangi waktu yang te
rsedia untuk bekerja dan keluarga bagi masyarakat, karena oran
Development g cenderung bertempat tinggal lebih menyebar dan bukannya di
pusat kota, biaya pelayanan masyarakat (pemadam kebakaran,
polisi, sekolah) di daerah sub urban akan meningkat (Wilson, 20
02)
Perkembangan pemukiman yang meluas menyebabkan semakin
4 meluasnya polusi Air (Wilson, 2002)

Dampak Dari
Perkembangan kota semakin meluas sehingga dapat menimbul

Fenomena 5 kan kesulitan pengadaan sarana dan prasarana kehidupan sert


a menyebabkan Ketidakefisienan penyediaan infrastruktur kare
na biaya pengadaannya cukup besar (Yunus, 2002)

Leapfrog
Menyulitkan pemerintah kota untuk membangun prasarana-pras
Development 6 arana fasilitas kebutuhan hidup sehari-hari. Pembiayaan pemba
ngunan jaringan-jaringannya sangat tidak sebanding dengan ju
mlah penduduk yang diberi fasilitas (Yunus, 1987)
Keterbatasan lahan di
Kota Semarang meny Studi Kasus
ebabkan terjadinya pe
rkembangan kota men •Urban Sprawl Kota Semarang Pada Kabupaten
jalar ke wilayah lain di Demak Tahun 2003 - 2012
sekitarnya, salahsatun
ya ke arah Kabupaten
Demak, hal tersebut ju
ga dikarenakan lokasi
Fenomena urban spra Dibandingkan dengan
Kabupaten Demak ya
wl terjadi pada kota – kabupaten lain yang m Berikut merupakan pe
ng berbatasan langsu
kota besar, salahsatun engalami alih fungsi p rkembangan lahan ter
ng dengan Kota Sema
ya pada kawasan Meg enggunaan lahan pali bangun yang ada pad
rang.
a Urban Semarang. ng tinggi adalah Kabu a Kecamatan Mrangg
paten Demak yang da en pada tahun 2003, t
pat dilihat pada Keca ahun 2007 dan tahun
matan Mragen. 2012.

Mujiandri, (2014)
Studi Kasus

Pada tahun 2012 perkembangan guna lahan


Perkembangan guna lahan yang terjadi antara juga mengarah ke Kecamatan Sayung yang
tahun 2003 – 2007 yaitu semakin mendekat ke bergerak dengan pola leapfrog development
arah Kota Semarang dengan pola leap frog dan ribbon pattern yaitu pergerkan guna lahan
development dikarenakan pemanfaatan lahan yang mengikuti perkembangan pembangunan
oleh developer dengan mencari hunian atau jalan dan juga tetap memperhatikan nilai lahan
lahan yang
Google Earthmemiliki nilai lahan yang murah.
Series 2003 murah
Google Earth Series 2007yang memungkinkan
Googleuntuk
Earthdibangun
Series 2012
sebagi perumahan atau utilitas lainnya.
Studi Kasus
Posisi Kabupaten Demak
Fenomena urban sprawl Secara historis penduduk yang cukup strategis yaitu
pada Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak dilalui jalan regional Semar
dilihat dengan munculnya merupakan masyarakat ang – Purwodadi dan
permukiman dan perubaha yang hidup dari pertanian Semarang – Kudus yang
n guna lahan baru di yang bergeser pada sektor juga berdekatan dengan
sepanjang koridor jalan usaha perdagangan dan Kota Semarang yang
yang menghubungkan Kota jasa dan industri (non keadaan lahan nya terus
Semarang dengan pertanian) serta perubahan berkurang dan minim
Kabupaten Demak. penggunaaan lahan dari sedangkan penduduknya
lahan pertanian menjadi semakin bertambah.
non pertanian.

Mujiandri, (2014)
Referensi
• Mattern, Lauren. 2005. Sustainability of Today’s Communities: Exa
mining “Smart Growth” as an Alternative to Urban Sprawl.
• Mujiandri, Reni. 2014. Perkembangan Urban Sprawl Kota Semaran
g pada Wilayah Kabupaten Demak Tahun 2003-2012. Jurnal Wilay
ah Dan Lingkungan Volume 2 No2, Agustus 2014, 129-142
• Mungkasa, Oswar. 2012. Pembangunan Perumahan pada Penerap
an Model ‘Compact City’ di Jakarta. Jakarta
• Wilson, Emily Hoffhine etc. 2002. “ Development of Geospatial mod
el to quantify, describe and map urban growth”.
• Winarno, Budi. 2007. Kebijakan Publik :Teori dan Proses. Yogyakart
a :Med Press ( Anggota IKAPI )
• Yunus, Hadi Sabari . 2005. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
• Yunus, Hadi Sabari. 1987. “Permasalahan Daerah Urban Fringe da
n Alternatif Pemecahannya”. Yogyakarta. Fakultas Geografi UGM